Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#27 TRIMAKASIH


__ADS_3

 


Paginya barack terbangun dari tidurnya, dia membuka matanya dan mendapati dirinya berada di dekapan luna. selang beberapa detik luna pun terbangun.


 


"Kamu sudah bangun?, , udah baikan??" tanya luna sambil mengusap usap matanya.


", , kamu kok ada di tempat tidurku?" barack mencoba menggoda luna saat itu.


Mendengar kata barack luna langsung beranjak dari tempat tidur barack.


"Ah! ya ampuuun,. cepat banget kamu amnesia!" kata luna sambil berjalan ke arah dapur, tapi saat turun dari tempat tidur lututnya terasa sedikit linu lagi.


"Aduh" luna berjalan dengan sedikit pincang.


Barack hanya tersenyum tipis melihat tingkah luna, dia pun mengikuti luna ke arah dapur.


"Aku hanya bercanda" kata barack sambil mengambil kotak p3k di laci bifet.


"Kamu tidak bisa ya bilang terima kasih!" kata luna sambil membuka kulkas dan mengambil susu murni lalu menuangkannya ke dalam gelas kemudian memberikan susu itu kepada barack.


"Terima kasih" kata barack dengan nada datar sambil meraih gelas yang di berikan oleh luna.


Bukannya langsung meminum susu itu dia malah berjalan mendekat ke arah luna.


Luna terkejut saat itu, matanya sedikit melebar saat barack mencoba meraih pinggangnya dan mengangkat tubuhnya ke atas meja. "Mau ngapain kamu?".


Barack tidak menjawab pertanyaan luna, dia mengacungkan salep pereda nyeri ke arah wajah luna.


Berharap luna mengerti kalau dia ingin mengobati luka di lututnya.


"Buat kaki kamu yang sakit, , , gara gara aku semalem ya, kamu jatuh?" kata barack mengoleskan salep itu ke lutut luna yang mulai membiru.


"Mm, , semalam sebenarnya aku cuma pengen mengambil gaun, tapi waktu aku panggil panggil kamu, kamunya tidak menyaut, yang aku dengar malah suara gelas pecah, ya sudah aku masuk aja ke kamar kamu, oh ya itu pecahan gelasnya belum di beresin, sebenarnya kemarin kamu makan apa? sampai radangmu bisa kumat seperti itu??" tanya luna sambil turun dari meja.


Barack menegug dengan cepat suau yang tadi audah di siapkan oleh luna.


Jakunnya terlihat naik turun ketika dia menelan cairan putih berbau apek itu ke dalam tenggorokannya.


"Tidak makan apa apa, ya sudah aku mau mandi dulu".


"Aku ambil gaunnya habis itu aku langsung pulang ya" kata luna berjalan ke arah ruang tv.


Barack hanya diam ketika luna mengungkit ungkit soal gaun.


"Lun?" barack memanggil namanya.


"iya?" jawab luna.


Namun barack hanya diam, wajahnya ingin sekali mengatakan sesuatu, namun tidak tahu kenapa dia seperti kebingungan, tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.


"Kok malah diem??" kata luna lagi.


"Mmm tidak jadi" barack ingin sekali memberi tahu tentang klara namun dia merasa kalau hal itu tidaklah terlalu penting.


Barack pun berjalan menuju kamar arah mandi.


Luna mulai membereskan gaunnya lalu dia segera pergi dari apartement barack.


Sesampainya di bestmen luna memasukkan gaunnya ke dalam mobil di kursi bagian belakang.


Dan luna pun segera kembali ke kursi depan dan mengendarai mobilnya keluar dari besment itu.


Saat luna keluar dari bestmen, mobil klara memasuki bestmen apartemen barack.


Setelah memarkirkan mobilnya klara langsung naik ke lantai 5 dan menuju ke apartemen barack.

__ADS_1


Saat di depan pintu klara mencoba memencet tombol tombol angka di pintu masuk.


"Empat belas sepuluh sembilan belas sembilan puluh" kata klara.


ceklek , , pintu terbuka dengan sendirinya.


Terlihat senyum lebar di wajah klara karena sampai sekarang barack masih memakai tanggal lahir dirinya sebagai sandi apartement.


Klara menyusuri setiap ruangan di apartemen itu,dia merasa sedang bernostalgia waktu jaman sma saat bersama barack.


Benar saja apartement milik barack itu adalah hadiah ulang tahun barack dari ayahnya saat kelas tiga sma.


Klara menghentikan langkahnya didepan sebuah mesin jahit, wajahnya terlihat sedikit merasa aneh ketika menemukan barang itu ada di dalam apartementnya.


Wajahnya memaku saat melihat sisa potongan kain di sela sela mesin jahit itu.


klara pun mengambilnya.


"Masak iya barack menjahit? , ada ada saja" nada bicara klara seperti sedang menenangkan dirinya sendiri.


Kemudian dia melanjutkan langkahnya ke arah kamar barack.


Klara membuka pintu, dan memasuki kamar barack, dia mendengar suara gemericik air yang tidak lama setelah itu kemudian menghilang.


Lalu dia duduk menunggu barack selesai mandi di atas sofa.


Barack mendengar seseorang membuka pintu kamarnya, dia pun segera menyelesaikan mandinya dan memakai handuk dan melingkarkannya di pinggang.


Dia pun segera keluar dari kamar mandi.


"Kenapa kamu balik lagi" kata barack kemudian dia membuang pandangannya kearah klara yang sedang duduk.


Barack pun kaget ketika orang yang dia lihat bukan luna melainkan klara.


"Sejak kapan kamu di situ?" tanya barack merasa jantungan.


",Mm bukan siapa siapa!, kamu bisa keluar dulu? aku mau ganti baju" kata barack. Raut wajahnya terlihat seperti sedang menahan rasa bersalahnya.


"Oke, aku tunggu di ruang makan" kata klara sambil beranjak dari sofa dan pergi ke ruang makan.


Di dapur klara membuka kulkas, dan dia terkejut melihat kulkas barack penuh dengan berbagai macam makanan ringan.


"Maaf menunggu lama" kata barack yang baru saja datang.


Klara hanya membuang senyum ke arah barack.


"Hari ini kamu mau kerja?" kata klara.


"Iya" jawab barack pendek.


"Ayolaaah, ini hari pertamaku di indonesia setelah beberapa tahun aku tidak pulang, masak kamu mau ninggalin aku kerja sih" klara merengek.


"Heh, kamu bukan anak kecil lagi kan" kata barack.


"Tapi hari ini aku butuh bantuan mu, katanya kalau aku butuh bantuan, kamu dengan senang hati siap membantuku" klara terus merayu barack.


"Oke oke, aku bantu kamu" jawab barack.


"Sekarang kita ke galeri ya, tapi aku naik mobilmu, mobilku tinggal sini saja ya?" kata klara meraih lengan barack.


Barack hanya menghela nafas dengan kasar.


"Terserah kamu saja" tidak tahu barack jarua berbuat apa, namun dia merasa sudah kehabisan akal.


"Ya sudah ayo jalan" kata klara sambil menggandeng lengan barack.


Mereka pun pergi ke galeri milik klara.

__ADS_1


Siangnya dirumah luna, dia baru saja selesai mandi.


"Gila tubuhku penuh dengan aroma barack" kata luna smabil menghela nafas.


Dan segera dia berganti baju, setelah selesai ganti baju dia pergi ke dapur.


"Mbak kemarin ada yang nyariin" kata mbak ratmi yang sedang membuatkan teh manis untuk luna.


"Siapa?" kata luna sambil melahap kue yang ada di atas meja.


"Aduh lupa nanya namanya, tapi yang pasti ganteng mbak" kata mbak ratmi.


"Hah, bisa aja kamu mbak paling juga si aryo itu" kata luna sambil menyerutput tehnya.


Dari balik kaca mbak ratmi melihat mobil yang semalem datang kerumah untuk mencari luna.


"Nah nah, itu mbak mobil orangnya yang semalem nyariin mbak luna, mbak luna semalem tidak pulang nginep dimana?" kata mbak ratmi mengagetkan luna.


Luna pun tersedak karena mulutnya penuh dengan roti.


"Uhuk, uhukuhuk, uhuk" luna terbatuk batuk.


"Pelan pelan mbak, sebentar saya tak bukain pintu buat mas ganteng itu ya" kata mbak ratmi sambil berjalan ke arah pintu.


Diapun mempersilahkan aryo untuk masuk ke dapur menemui luna.


"Hei"sapa luna.


"Semalam kemana? udah janjian juga aku bakal anter kamu, kamunya malah ngilang!" kata aryo.


"Maaf, kamu tidak kuliah" kata luna.


"Tidak, aku pengen nganter kamu ke galeri buat nganter gaunnya" kata aryo.


"Boleh, oke bentar ya, aku siap siap" kata luna mengahabiskan rotinya dan segera pergi ke kamar untuk berdandan.


Sesaat kemudian dia turun kebawah menemui aryo.


"Ayok, gaunnya ada di mobilku kok" kata luna menuju ke garasi mobil.


Dia pun mengambil gaunnya dan memindahkan ke mobil aryo.


Lalu mereka berdua pun pergi menuju ke galeri milik klara 'klara colletion'.


 


Di sisi lain barack sedang menemani klara yang tengah sibuk merapihkan galerinya, sembari berbincang bincang dengan dua peserta lain yang memenangkan kompetisi itu.


 


Wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu, dia hanya terus duduk dan diam melihta klara terus mondar mandir sibuk dengan yang lain.


Klara berjalan ke arahnya dengan wajah penuh kegembiraan.


"Kenapa wajahmu di tekuk begitu?, , tidak suka ya menemaniku di sini?" dia berbicara seolah olah meminta perhatian dari barack.


Barack hanya menghela nafas dengan pelan.


Dan tidak menjawab pertanyaan klara.


"Selesai ini, nanti temani aku makan ya" sambungnya.


Ekspresi wajah barack tidak bisa di tebak. Mungkin diam adalah jawaban yang terbaik saat itu.


Dia hanya mengangguk dengan pelan ke arah klara.


***

__ADS_1


__ADS_2