
"Apa tidak ada hukuman lain Pres Dir?? tidak ada yang lebih berat dari itu kah?" Bunga terus mencoba melawannya, ketika merasa bahwa Davien seolah bersiap menyiksanya.
"Dua bulan!! masa hukumanmu bertambah karena berani membantah!" Davien tertawa terbahak bahak melihat ekspresi keterkejutan Bunga setelah mendengar ucapannya.
"Astagaaa!! apa apaan ini!!, , aku bahkan tidak tahu apa kesalahan yang sudah aku buat! bisa bisanya menghukumku seperti itu!"
Bunga menghela nafas panjang entah untuk yang keberapa kalinya. Dia mencoba memaku bibirnya agar tak kembali berucap, salah salah bisa saja Davien menambah masa hukumannya.
Davien tersenyum tipis, matanya beralih menatap ke atas nemastikan lift telah sampai di lantai dasar. Kini tangannya bergerak menekan tombol agar lift bergerak kembali membawanya ke lantai atas.
"Ada satu hal lagi hukuman yang harus kemu terima" senyumnya terlihat sangat misterius. Membuat Bunga tak bisa menebak apa hukuman yang akan dia terima.
"Sebelum pintu lrft terbuka, aku akan memberikan hukuman itu"
"Apa?!" keningnya berkerut, matanya terbelalak seketika.
Davien menelusupkan salah satu tangannya kebagian leher hingga tengkuknya. Sementara satu tangan lagi menahan pinggangnya agar Bunga tak bergerak menjauh.
Davien memiringkan kepala ketika mendekati leher Bunga dan mencium di bagian sana.
Matanya semakin terbelalak, darahnya berdesir hingga tubuhnya menegang dan semakin memanas ketika menahan rasa geli yang teramat di bagian lehernya. Nafas Davien terasa sangat hangat ketika menyapu lehernya.
"Davien!" Bunga berucap tegas memanggil namanya. Sementara kedua tangannya telah meraih pundak Davien mencoba mendorong laki laki itu.
Bunga terus berulah ketika merasakan sedikit perih di bagian leharnya.
"Davien apa yang sedang kamu lakukan?"
Davien melepaskan ciumannya. Masih mempertahankan posisi kepalanya di leher Bunga. "Berhenti bergerak Bunga, agar aku bisa menyelesaikannya dengan cepat!."
Seperti perintahnya, Bunga pun berhenti berulah. Kini dia hanya bisa daim menikmati apa yang sedang di lakukan oleh Davien.
Laki laki itu tak hanya menciumnya, dia bahkan mencercap kuat dan menggigit kecil leher Bunga. Layaknya vampire yang sedang kahausan darah, Davien menyesapnya habis habisan hingga meninggalkan jejak merah kehitaman.
Setelah merasa puas, Davien melepas ciumannya dan mengakhiri dengan kecupan. Dia menarik kepalanya menjauh, melempar senyum ke arah Bunga.
"Selesai!" ucapnya kemudian. Davien menarik tubuhnya menjauh dan menyimpan kedua tangan ke dalam saku celana. Sementara pandangannya menyelidik ke wajah Bunga. Perempuan itu masih terlihat syok dengan apa yang baru saja Davien lakukan kepadanya.
Sementara Bunga menyentuh bagian leher yang masih tersasa sedikit perih.
"Davien apa yang kamu lakukan??" tangannya meraba permukaan kulit leher yang kini terasa membengkak dan mati rasa.
"Aku hanya sedang membuat tanda kepemilikan di sana!" Davien meraih ujung kepala Bunga dan mengacak rambutnya layaknya anak kecil. Kemudian mengecup keningnya.
"Kembalilah bekerja!" perintahnya sembari melangkah keluar setelah pintu lift terbuka.
"Kepemilikan??, , aku hanya menyatakan perasaanku saja! bukan berarti aku harus menjadi miliknya kan!!, , entah kenapa kata itu membuatku takut ketika berada di dekat Davien??"
♡♡♡
__ADS_1
Bekerja di rumahnya, membersihkan, melayaninya dan merawat Davien selama dua bulan penuh tanpa hari libur membuat Bunga lelah hanya dengan membayangkannya saja. Belum lagi dia harus bekerja di perusahaannya.
"Ini bukan hukuman! tapi penindasan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Davien!" gerutunya sembari melangkah menuju pantry.
"Tapi aku merasa senang, karena sudah merasa lega"
Bunga menghentikan langkahnya, tangannya bergerak menyentuh bibir. Masih menikmati sisa sisa ciuman yang baru saja mereka lakukan.
"Bunga??" Keiko memanggil namanya ketika baru saja datang dan sengaja menemuinya.
Bunga yang sempat terdiam melamun kini telah mengalihkan pandangannya ke arah keiko. Dengan cepat Bunga langsung bersikap siap. Menangkupkan kedua bibirnya rapat rapat menyembunyikan bibirnya yang sedikit membengkak dan memerah.
"Nona keiko??" sapanya dengan penuh rasa gugub.
Keiko tersenyum ke arahnya sembari berjalan mendekati Bunga.
"Aku sengaja memanggilmu untuk meminta kamu membuatkan aku minuman dengan perbandingan 2/3 antara kopi dengan gula. Dengan suhu air panas, mendidih namun jangan langsung kamu masukkan ke dalam gelas, tunggu beberapa saat sebelum menyampuraknnya dengan kopi dan gula!" perintahnya sembari melempar senyum manis.
"Apa apaan dia!, , mau minum kopi saja ribet. Tinggal seduh dan nikmati saja kenapa harus repot?"
Bunga masih terdiam mencerna ucapannya, bola matanya berputar berfikir keras untuk menyimpan apa yang di perintahkan oleh Keiko dalam otaknya.
"Kamu paham Bunga dengan ucapanku?" ucapnya sekali lagi memaksa Bunga sadar dari lamunanya.
"Mm, , iya Nona saya paham!" jawabnya dengan cepat sambil menegapkan tubuhnya kembali setelah terlihat lesu dengan perintahnya.
Keiko mengepalkan tangan, mencoba menahan perasaan ketika dia mengambil kesimpulan sendiri bahwa Davienlah yang telah melakukannya.
Keiko menghela nafas panjang menetralkan perasaannya sebelum kembali berucap dengan tenang.
"Aku akan menunggu kopiku di ruangan Davien" Keiko berucap dengan penuh percaya diri. Menunjukkan bahwa dia memiliki kekusaan di ruangan itu.
Ekspresi wajah Bunga seketika langsung terlihat murung, dia tersadar bahwa dirinya bukanlah siapa siapa. Tetapi itu tak membuat Bunga mundur karena dia tahu Davien telah memilihnya.
"Baik Nona, saya akan menyiapkan segera. Anda silahkan menunggu di sana" Bunga menundukkan kepala memberi hormat sebelum perempuan itu pergi.
Keiko memutar tubuhnya melangkah menuju lift, aura tubuhnya terlihat dingin dan menggelap. Perempuan itu memejamkan mata setelah berhasil masuk ke dalam. Menggertakkan giginya hingga rahangnya menguat dan terlihat urat halus di pelipisnya, bersamaan dengan itu Keiko mengepalkan tangannya lagi dengan kuat hingga terlihat nemutih di ruas jarinya.
Menghela nafas menahan rasa jengkel bercampur amarah yang tertahan.
Keiko menyempatkan diri untuk menata hati dan perasaan sebelum melangkah keluar dari lift untuk menemui Davien.
♡♡♡
Keiko tersenyum pandangannya tertuju kepada Davien yang terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia bisa melihat laki laki itu dengan jelas karena gorden yang mengelilingi ruangan kaca kerjaanya tak tertutup.
Keiko mempercepat langkahnya tak sabar ingin segera bertemu dengan Davien, dia kemudian mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam.
Tok tok tok!!!
__ADS_1
Keiko membuka pintu, membuang senyum ke arah Davien sembari melangkah mendekatinya.
"Kamu sibuk?" ucapnya seketika, sengaja menarik perhatian Davien.
Laki laki yang sedang tertunduk itu tak lantas mengangkat kepalanya. Dia hanya menggerakkan bole matanya ke atas melihat Keiko yang sedang berjalan semakin mendekat.
"Seperti yang kamu lihat" Davien akhirnya mengangkat kepala. Sementara tangannya bergerak menutup berkas yang belum selesai di bacanya.
Davien memutar sedikit arah duduknya mengikuti gerakan Keiko yang kini tengah berdiri di sampingnya.
"Aku banyak pekerjaan hari ini, kenapa?" Davien menengadah menatap Keiko yang jauh lebih tinggi darinya.
"Bisakah hari ini kamu menemaniku??" ucapnya denga manja. Memohon kepada Davien agar laki laki itu luluh.
"Kenapa dengan nada bicaramu? kamu manja sekali hari ini?" kedua alisnya pun terangkat ke atas.
"Apa yang bisa aku bantu?" Davien tersenyum tipis ke arahnya.
"Aku harus menemui klienku dari spanyol, dia tak bisa berbahasa Inggris sementara aku tak pandai berbahasa spanyol. Bisakah kamu membantuku berkomunikasi dengannya??" Keiko menangkupkan kedua tangannya kearah Davien.
Laki laki itu menanggapinya dengan kekehan lirih.
"Kamu berani membayarku berapa?"
"Ya ampuuunn!! kamu tega meminta bayaran dariku Davien!" rengeknya seperti anak kecil di depan Davien. Laki laki itu menguasai hampir semua bahasa. Karena pekerjaannya yang selalu berhubungan dengan orang lain dari Negara yang berbeda, memaksa Davien harus pandai dalam semua bahasa.
Tawanya semakin terdengar keras hingga memenuhi setiap sisi ruangan. Davien hanya sedang menggoda Keiko, dia tak mungkin meminta bayaran kepada sahabatnya itu.
"Kenapa kamu malah tertawa! aku sedang tidak bercanda Davien!" Keiko menghentakkan kakinya ke lantai layaknya anak kecil yang sedang merengek berusaha mendapatkan keinginnannya.
"Iya iya! aku akan membantumu" Davien mencoba mengendalikan diri ketika sesaat sempat lepas kendali.
Di sisi lain Bunga terlihat berjalan menuju ke ruangannya dengan membawa secangkir kopi sesuai permintaan Keiko.
Tok tok tok!!!
Bunga membuka pintu perlahan, setelahnya masuk ke dalam. Bunga menyadari bahwa Keiko berada didekat Davien. Perempuan itu merunduk sembari melangkah mendekati meja, sengaja tak ingin melihat kedekatan mereka.
Davien menoleh melihat ke arah Bunga, dia paham betul kenapa ekspresi wajah Bunga seperti itu. Bukannya menjauh dari Keiko Davien malah sengaja membuat Bunga semakin cemburu.
"Jadi kamu tidak ingin membayarku jika aku bersedia membantumu??" ucapnya merujuk kepada Keiko.
"M, , katakan apa yang kamu inginkan Davien. Aku pasti akan mengabulkannya!" senyumnya semakin lebar, Keiko merasa tak sabar mendengarkan keinginan Davien.
"Apa pun aku akan menerimanya" bola matanya bergerak melirik ke arah Bunga yang masih berdiri di sana. Davien tersenyum ketika ekspresi wajah Bunga terlihat jengkel mendengar percakapannya dengan Keiko.
"Mmm, , bagaimana kalau aku membayarmu dengan kencan minggu depan?" ucap Keiko dengan semangat, dia sengaja berucap di depan Bunga. Memperlihatkan kepada perempuan itu bahwa dirinya masih jauh lebih penting ketimbang Bunga.
"Uhuk" seketika Bunga terbatuk batuk mendengar permintaan Keiko. Dengan cepat dia meletakkan cangkir kopi milik Keiko sebelum isinya tumpah karena dia terkejut hingga tubuhnya terguncang saat terbatuk.
__ADS_1