
Bersamaan dengan itu perhatian Juliette teralihkan ke luar. Melihat kerumunan orang-orang yang berlari berbondong-bondong menuju ke satu titik yang membuatnya penasaran. “Apa yang sedang terjadi di luar sana?”
Ucapan Juliette mengacaukan pikiran Xander. Seketika dia menyimpan kalung ke dalam saku jas kemudian ikut mengalihkan pandangannya ke luar. Benar saja jumlah orang yang berkerumun di sana semakin bertambah jumlahnya. Tak luput mereka yang berada di dalam mobil juga ada yang turut serta gabung berkerumun.
Xander tak begitu peduli dengan keributan apa yang terjadi di luar sana. Tapi reaksi Juliette yang histeris saat melihat siapa yang menjadi sasaran orang-orang tersebut membuatnya mau tidak mau mengikuti perempuan itu. “Juliette?!! Apa yang sedang kau lakukan! Kita harus segera pergi!”
Benar saja lampu hijau sudah menyala tapi jalanan menjadi macet karena insiden itu.
Tin tiiiiiinn!! Suara klakson mobil di bagian belakang bersahutan karena belum ada satu mobil pun yang bergerak
“Xander kita harus menolongnya?” Juliette hendak berlari mendekati kerumunan tapi Xander menghentikannya.
“Tunggu!” dia menahan tangan Juliette, agar tak terbawa arus ombak orang-orang di sana yang akan membuatnya sulit keluar jika sudah terlanjur masuk. “Kau pikir apa yang sedang kau lakukan? Tubuh kecilmu ini bisa saja terinjak-injak di sana! Kau ingin membuat dirimu sendiri dalam bahaya?” meskipun jelas sangat mengkhawatirkan Juliette, Xander mampu berucap dengan tenang. Mengendalikan diri untuk tidak bersikap berlebihan. Pembawaannya yang selalu tenang menjadikan Xander selalu memikirkan segala sesuatu sebelum mengambil tindakan. Akan tetapi aura di sekitarnya yang berubah gelap membuat Juliette mengetahui seberapa besar kekhawatiran seorang Xander terhadap dirinya. Kejadian ini sangat jarang sekali terlihat.
“Tapi kita harus menyelamatkan gadis itu, dia pasti ketakutan dikerumuni banyak orang.” Juliette paham apa arti tatapan Xander yang berubah sedikit tajam kepadanya. “Aku tahu kau tidak suka kalau harus ikut campur dengan urusan orang lain tapi, Xander... aku tidak tega melihat idolaku diperlakukan seperti itu!”
Hah?! Ternyata Juliette kekasih Xander itu sangat mengidolakan Juliet sejak dulu. Itu sebab dia tidak tega melihat Juliete yang sepertinya tidak nyaman dan ketakutan. “Xander, aku mohon tolong Juliet!” ucapnya penuh harap.
Xander terpaku melihat raut kesedihan di wajah kekasihnya. “Juliet??” tanyanya.
“Iya! Juliet Fladimer artis remaja... dia idolaku sejak dulu saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar! Please Xander... tolong dia. Aku yakin dia pasti syok karena di kerumuni banyak orang seperti ini!”
Xander mengalihkan pandangannya menelisik mencari keberadaan artis yang bernama Juliet seperti yang sudah kekasihnya itu ceritakan. Hanya perlu membuat dirinya fokus, seakan membuat keadaan sekitar yang begitu riuh ramai berisik mendadak berubah hening, sepi tak ada suara apa pun yang dia dengar kecuali rintihan Juliet yang sedang menangis ketakutan. Maka saat itu juga kedua matanya yang memiliki keindahan bak lautan di saat senja nan tajam seketika menangkap sosok Juliet yang berada di tengah-tengah kerumunan.
Hiks... hiks.... “Biarkan aku lewat, tolong!” rintihan tangisnya menggema jelas di rongga telinga Xander.
‘Apa ini?’ Xander merasakan aura aneh dari tubuh Juliet. Sebelumnya dia pernah merasakan hal yang sama, tapi saat mencoba mengingat kembali tiba-tiba suara Juliette memecah lamunannya.
__ADS_1
“Xander?!! Xander!! Kau harus cepat pergi menolong Juliet!” serunya sembari mengguncang lengan kekasihnya.
Setelah pikirannya kembali dari alam bawah sadar, Xander dengan tenang berucap kepada Juliette. “Aku akan menolong gadis itu, tapi sekarang kau harus kembali ke mobil!” perintahnya lembut.
“Uhm!” Juliette mengangguk patuh.
Setelah melihat kekasihnya masuk dan duduk di dalam mobil, Xander mulai kembali fokus kepada Juliet yang berada di tengah pusaran sana.
Kakinya mulai bergerak melangkah menuju kerumunan. Postur tubuhnya yang tinggi melebihi kebanyakan orang di sana membuatnya mudah menentukan titik keberadaan Juliet secara pasti. Dilihat dari sikapnya yang teramat santai tak sedikit pun ragu bahkan terbebani lelaki itu terus melangkah. Tanpa ada perlakuan kasar ataupun berebut untuk mencapai posisi keberadaan Juliet, Xander membelah kerumunan orang dengan sangat mudah.
Tanpa menyentuh dan menyingkirkan mereka satu persatu, aura yang terpancar dari dalam tubuhnya membuat semua orang dengan sendiri menyingkir seolah memberi jalan kepada Xander. Bagai kutub utara yang saling berjauhan ketika salah satu dari mereka mendekat, maka itulah yang terjadi saat ini. Semua orang menjauhi Xander ketika lelaki itu berjalan di antara mereka.
“Aku mohon biarkan aku pergi!” tak henti-hentinya Juliet memohon kepada mereka, tapi percuma tak ada seorang pun yang mendengarkan ucapannya. Sampai pada akhirnya di mana Xander telah berhasil mencapai titik pusat tepat di mana Juliet berada. Hiks.... hiks....
Xander terdiam berdiri mematung tepat di depan Juliet dengan ekspresi wajah datarnya. Gadis remaja itu tengah terisak-isak, jelas terlihat bahwa dia sedang menahan tangisnya dan hanya bisa diam menggigit bibir sambil terus memohon kepada semua orang.
Juliet baru saja menginjak remaja, tingginya mungkin sangat jauh berbeda dari Xander yang memiliki postur tubuh cukup tinggi 188cm. Hal itu membuat Juliet terlihat sangat pendek dan kecil dibandingkan dengan Xander.
“Kau sudah aman!” suara berat itu berasal dari lelaki yang berdiri tepat di depan Juliet. “Ayo, ikutlah denganku!” Xander mengulurkan tangannya.
Juliet sempat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, karena setelah kemunculan sosok lelaki di depannya itu tiba-tiba saja dia tak mendengar suara bising baik dari mereka yang ribut meminta foto bersama atau suara dari kendaraan yang berlalu lalang di jalan. ‘Apa yang terjadi? Kenapa secara tiba-tiba aku tidak bisa mendengar suara apa pun!’
“Kau tidak perlu khawatir!” lagi-lagi suara berat Xander mengalihkan perhatian Juliet. “Kemarilah ikut denganku!” Xander mengulurkan tangannya kearah Juliet.
Tanpa berpikir panjang setelah melihat kedua mata Xander yang sangat indah, Juliet seakan terhipnotis dengannya. ‘Dari mana datangnya lelaki pemilik sepasang mata indah ini?’ matanya menggambarkan pemandangan lautan dari kejauhan yang tampak biru di kala senja, kedua mata itu seakan menghipnotis Juliet. Tanpa sadar dia menuruti semua perintah Xander, membalas uluran tangannya.
Deg! Untuk pertama kalinya terjadi kontak fisik di antara mereka. Juliet melangkahkan kakinya mengikuti Xander yang terlebih dulu berjalan memberi petunjuk jalan untuk keluar kepada Juliet.
__ADS_1
Anehnya semua orang yang berebut meminta foto dengan Juliet tak satu pun dari mereka yang mengejar meskipun tahu gadis itu tengah melarikan diri. Dengan mata kepalanya sendiri Juliet menyaksikan mereka tengah berteriak dengan mengarahkan ponsel kearahnya mengambil foto mengabadikan momen itu tapi anehnya lagi Juliet tak mendengar suara mereka.
Hening, hanya suara deru nafasnya sendiri dan detak jantungnya yang di dengar. ‘Aneh... kenapa aku merasa seperti masuk ke dalam mimpiku?’ Juliet merasa suasana saat itu sangat familiar, seperti bukan pertama kalinya Juliet berada dalam situasi aneh seperti di mimpi yang sudah lama tak pernah muncul dalam tidurnya.
Sampai mereka berhasil keluar dari kerumunan ponsel milik Juliet pun bergetar. Dreeeeetttt !!!! Getaran ponsel yang berada di genggaman tangannya seperti membangunkan Juliet dari mimpi.
Tiiiiin tiiiiiiin !!!
Dalam sekejap dia bisa mendengar lagi kebisingan yang sebelumnya sempat menghilang tak terdengar. Bahkan ketika Juliet menoleh ke belakang semua orang yang sempat mengerumuni dirinya mulai sadar dan kembali riuh saat mengetahui dirinya tak lagi berada di antara mereka.
“Di mana Juliet?”
“Ke mana perginya Juliet? Aku bahkan belum sempat berfoto dengannya!”
Dari semua keanehan yang baru saja Juliet lalui, ada satu kejadian lagi yang tak masuk akal menurut dirinya. Ketika mereka sadar bahwa dirinya telah menghilang semua orang berusaha mencari keberadaannya.
Jelas-jelas di mana posisi Juliet berdiri itu tak jauh dari mereka yang mulai menyebar. Tidak hanya satu bahkan beberapa dari mereka melihat Juliet berdiri di samping mobil milik Xander yang posisinya berada di barisan depan dekat dengan zebra cross, garis melintang di tengah jalan yang biasa digunakan untuk para pejalan kaki menyeberang.
‘Apa yang sebenarnya terjadi?’ Juliet sempat panik ingin bersembunyi tapi tak satu pun dari mereka yang melihat Juliet berlarian menghampiri dirinya. ‘Ini? Ada apa dengan mereka? Aku yakin mereka melihat kearahku, tapi... kenapa mereka bersikap seolah tak melihatku?’ Juliet sempat kontak mata dengan beberapa orang di sana. Tetapi tak satu pun ada yang berlari mendekat. Ini adalah kejadian teraneh setelah beberapa tahun Juliet tak dihantui mimpi buruk.
“Juliet? Masuklah kau bisa bersembunyi di dalam!” seru Juliette yang memilih keluar dari mobil dan membuka pintu bagian belakang mempersilakan idolanya masuk ke sana.
Juliet sempat ragu namun ketika melihat senyumnya dia bisa merasakan ketulusan yang begitu dalam. “Terima kasih!” Juliet pun masuk.
Xander menutup pintunya kemudian menatap Juliette dengan mata tajamnya. Bukan kemarahan yang Juliette rasakan hanya saja dia tahu lelaki itu menunggu penjelasan darinya. “Bukankah aku memintamu untuk tetap berada di dalam mobil?” ucapnya dengan nada berat namun tetap tenang.
“Maaf sayang, aku hanya terlalu bahagia melihat kau menolong idolaku. Aargh! Ya Tuhan ini seperti mimpi seorang Juliet berada dalam satu mobil denganku!” gumam Juliette sembari melangkah kembali menuju kursi depan.
__ADS_1
Xander berdiri mematung menatap kekasihnya begitu bahagia saat kembali masuk ke dalam mobil. Setelahnya pandangannya berpindah ke Juliet yang duduk di kursi belakang.
Meskipun terhalang kaca mobil Xander bisa melihat jelas raut sedih, ketakutan bercampur bingung menghiasi wajahnya. Tidak lama setelah itu Xander masuk ke dalam mobil.