
Karena Bunga tak ingin mendengarkan percakapan mereka lagi, dia memilih untuk pergi keluar dari rumah. Berjalan menyusuri trotoar setelahnya berhenti saat melihat halte bis, perempuan itu duduk di sana.
Berusaha menenangkan pikirannya yang kalud, melamun dengan tatapan kosong. Menyandarkan kepalanya di tiang yang tepat berada di sebelahnya.
"Aku memikirkan hubungan kita"
Ucapkan Keiko terlintas di benaknya. Entah mengapa timb rasa bersalah bahwa kehadiran dirinya kini seperti orang ketiga diantara Keiko dan Davien.
Bunga tidak tahu apa yang harus dilakukan tetapi dia telah berbuay jahat. Mungkin jika dia tidak ada di antara mereka, hubungan Keiko dan Davien akan baik-baik saja, pikirnya.
Davien berjalan keluar dari rumah setelah Keiko pergi. Dia memutuskan untuk mencari Bunga. Davien memakai jaket tebal karena angin malam benar-benar terasa sangat dingin menusuk sampai ke dalam tulang.
Pandangannya menyapu setiap jalan, tak sadar dia telah berjalan jauh mungkin sekitar puluhan meter dari rumahnya tetapi masih belum menemukan Bunga.
"Pergi kemana perempuan itu!" Davien mendengus kesal, kembali melangkah sampai di ujung jalan.
Ada keinginan untuk kembali ke rumah karena cuaca semakin dingin, namun saat memutar tubuhnya tiba-tiba kakinya terpaku.
Ujung matanya melihat bayangan seorang perempuan duduk di halte bis. Ekspresi wajahnya tak terbaca entah apa yang sedang dirasakan oleh Davien namun dia merasa lega karena akhirnya bisa menemukan Bunga di sana.
Perempuan itu masih melamun sambil memainkan kakinya yang menggantung di udara.
"Apa yang kau lakukan malam-malam di sini!" suara berat itu terdengar galak di telinganya. Bunga menoleh melihat Davien dengan tatapan malas.
Seharusnya Bunga bisa bersikap seperti biasa seolah tak mendengar percakapan mereka, namun ternyata dia tidak bisa melakukannya. Dia tidak bisa menutupi rasa cemburunya yang begitu besar.
Bunga beranjak berdiri dari bangku kemudian setelahnya mengangkat tangan memperlihatkan sesuatu yang dia bawa kepada Davien. "Aku hanya keluar sebentar untuk membeli ini" ucapnya dengan nada datar.
Davien tidak mengerti tapi dia merasa sikap Bunga sedikit aneh. Kini mereka saling menatap dengan tatapan yang sangat berbeda dari sebelumnya, tatapan berbeda saat mereka sedang bercumbuh di dalam rumah.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita pulang" Bunga melangkah melewati Davien begitu saja. Sikapnya begitu dingin sedingin cuaca malam itu.
Davien gelisah dibuatnya. "Bunga!" serunya mencoba meminta perempuan itu berhenti melangkah. Dan ketika Davien menoleh Bunga tengah berdiri mamaku langkah, memunggunginya. "Kenapa kau ada di sini? kenapa kau tidak segera pulang kalau sudah mendapat barang yang kau inginkan?" Davien merasa sangat penasaran jika memang perempuan itu keluar untuk membeli sesuatu, kenapa setelah Bunga mendapatkan apa yang dia inginkan dia tidak langsung kembali ke rumah malah duduk di halte bus seperti orang bodoh.
Bunga memutar tubuhnya menatap Davien dengan lekat, perempuan itu bingung saat ingin menjawab pertanyaan darinya. "Tidak apa-apa... aku hanya ingin menikmati sedikit angin malam di sini. Ayo Davien ini sudah larut!"
Davien semakin yakin, dia merasa Bunga sangat berubah sikapnya aneh. Dia menduga apa sebelumnya Bunga sempat kembali dan melihat ada Keiko di sana hingga membuat Bunga bersikap seperti ini. Namun Davien tidak berani untuk membahasnya.
***
Davien menutup pintu setelah berhasil membawa pulang Bunga ke rumah. Tatapannya tertuju kepada Bunga yang langsung berjalan menuju pantry. Davin kemudian mengikuti langkah perempuan itu.
Bunga terdiam terpaku melihat bekas sisa makanan Davien dan Keiko masih ada di atas meja. perasaannya sedikit kecewa, sakit, tetapi Bunga sadar dan kembali lagi ke pemikiran awal bahwa dialah orang ketiga diantara mereka. Meskipun berat dia harus bersikap seperti biasa.
"Sepertinya kau sudah makan jadi aku akan membuang makananku ini" Bunga memamerkan senyum manis ketika dia berucap seolah tak terjadi apa-apa, padahal saat ini hatinya sedang gundah dan gusar dan marah.
"Apa! kenapa kau menyingkirkan semua makanan itu bukankah kau bilang kau akan menyiapkan makan malam untukku!" Davien kemudian duduk di kursi menunggu Bunga menyiapkan makan malam.
"Aku masih lapar!" Davien semakin yakin bahwa sebelumnya Bunga pasti sudah masuk ke dalam rumah, dia bahkan melihat kalau Keiko datang ke rumahnya. Tapi apa yang mereka bicarakan Bunga mendengar atau tidak Davien belum yakin dengan hal itu.
Karena Bunga tidak ingin membuat situasi menjadi kacau dia pun akhirnya memenuhi keinginan Davien. Mengalah untuk suasane tetap tenang, Bunga memanaskan kembali makanan yang sudah dingin. Suasana pantry jadi hening dan canggung bahkan tawa yang sebelumnya mengisi ruangan itu seakan menghilang.
"Apa kau... mendengar semuanya?" Davien memberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan itu. Ujung matanya melirik ke arah Bunga.
Perempuan itu berdiri memunggungi Davien, pura-pura sibuk mengaduk masakan padahal pikiran dan tatapannya benar-benar kosong. "Mendengar apa?" nada bicaranya tenang berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan.
Tak ingin memperpanjang masalah, Davien lebih memilih untuk menyudahi percakapan malam itu. "Lupakan!" Davien beranjak dari kursi setelahnya melangkah pergi meninggalkan Bunga, karena merasa situasi akan semakin berantakan jika dia terus memilih untuk tetap berada di sana.
"Tunggu!" Bunga mematikan kompor setelahnya memutar tubuh menatap lelaki yang kini berdiri memunggunginya."Jangan merasa sungkan denganku, di sini akulah yang bersalah. Seharusnya dari awal aku tidak datang ke perusahaanmu. Aku merasa menjadi orang ketiga di antara Kalian. Aku merasa bersalah dengan Keiko... dia lebih berhak untuk berada di sisimu" ucapan yang keluar dari mulutnya membuat Davien semakin yakin bahwa Bunga sempat mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
Perlahan lelaki itu memutar tubuhnya kemudian melangkah mendekat. "Kenapa kau bicara seperti itu? Aku berjuang mati-matian melawan diriku sendiri untuk mencoba menerima dirimu di kehidupanku, tapi kau seketika malah mematahkan perasaanku! Seharusnya kau senang karena aku memilihmu. Seharusnya kau berfikir bagaimana caranya untuk selalu tetap berdiri di sampingku. Kau tahu jelas aku membutuhkan dirimu Kenapa dengan mudahnya kau berkata seperti itu! Kau bermaksud untuk menyerahkanku kepada Keiko??" Davien tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Ucapannya belum.berakhir, Davien mengeluarkan semua yang tersimpan di pikirannya. "Aku berjuang mati-matian untuk mendapatkanmu Bunga!! Berjuang melawan diriku sendiri! Berjuang melawan egoku hingga akhirnya aku sadar aku memang menyukaimu, aku mencintaimu, aku menyayangimu, Aku membutuhkanmu! Kau tidak tahu betapa sulitnya aku menerima kenyataan bahwa aku bisa membuka hati yang sudah tertutup rapat! Kini... dengan mudahnya kau mematahkan semuanya? Kau membuatku kecewa, Bunga! Kau... seakan mengatakan padaku, kalau mencintaku adalah sebuah penyesalan! Katakan Bunga! Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?" Davien mengerucutkan matanya, meminta penjelasan.
"Bukan begitu Davien, Maaf tapi... aku benar-benar merasa bersalah. Mencintaimu bukan sebuah penyesalan. Aku hanya merasa Keiko lebih pantas berada di sisimu, sejak dulu kalian selalu bersama tapi... ketika aku hadir dalam kehidupanmu kau malah lebih memilih aku yang baru hadir, baru kau kenal, aku hanya merasa–," ucapnya terputus, Davien memotong pembicaraan.
"Jadi! Secara tidak langsung kali ini kau juga ingin menyerah!? Igin memberikanku kepada Keiko! Kau tahu aku tidak menyukainya, aku hanya menganggapnya sebagai adik dan kini kau bilang kau ingin aku bersama dengan Keiko??" ucapnya menegaskan.
Bunga semakin merasa bersalah sebenarnya dia tidak bermaksud seperti itu tetapi Bunga tidak tahu bagaimana harus bersikap dia hanya ingin yang terbaik untuk Davien tetapi apa yang dia lakukan justru membuat lelaki itu terluka.
"Sempat sesaat tadi aku berpikir kau memang benar-benar mau menerimaku Bunga tapi sekarang aku ragu sepertinya kau memang tidak menyukaiku!" suaranya semakin terdengar parau, Davien sangat kecewa dengan sikapnya.
"Tidak, Davien!" Bunga menggerakkan tangannya meraih lengan Davien, tetapi lelaki itu melangkah mundur menghindar darinya dan hal itu membuat Bunga terkejut, menimbulkan rasa sakit saat Davien menghindarinya. "Kenapa? Kenapa kau menghindar?" Bunga sakit hati Devien menolak saat Bunga ingin menyentuhnya.
"Aku baru menghindar darimu dengan cara seperti ini apa kau merasa jengkel? Apa kau merasa sakit hati?" Davien berucap lirih namun nadanya tersirat kalau dia dengan sangat kuat menahan amarah dan kekecewaan.
Bunga terdiam tak dapat terucap karena Davien menebak dengan benar apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Lalu sekarang, apa kau bisa merasakan apa yang sedang aku rasakan?! Kalau kau ingin tahu apa yang aku rasakan saat ini... itu seribu kali lebih dari rasa sakit yang saat ini kau rasakan. Berkali-kali lipat, Bunga!!" Davien berhenti berucap sengaja untuk menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya lagi. "Jika tanpa berucap aku bisa melukaimu, lalu bagaimana dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulutmu. Itu sangat menyakitkan, Bunga! Kau pasti bisa merasakannya!!"
Seketika ruangan itu hening, Davien terdiam menatap perempuan itu dengan pandangan kesal. Sebaliknya dengan Bunga, tertunduk menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi rasa penyesalan.
"Davien aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku menyukaimu Davien, aku menyayangimu. Aku juga menginginkanmu tapi–," ucapanya terputus kesekian kalinya Davien memotong pembicaraan.
"TAPI APA!!!" bentaknya, Bunga sampai terkejut tapi Davien yang terbakar amarah tak peduli lagi. "Kau tidak mau memperjuangkannya? Mendengar ucapan Keiko yang tidak berarti bagiku, kau ingin berhenti sampai di sini!" Davien terdiam sesaat, membiarkan Bunga memikirkan apa yang dia ucapkan. Tapi Davien tak bisa lagi menahan. "Apa kau sebenarnya memang masih ragu dengan perasaanmu sendiri?"
"Davien?" Bunga mencoba menenangkannya.
Davien mengambil sesuatu dari dalam saku mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berwarna hitam pekat. Davien bahkan sudah kehilangan semangat menatap kotak di tangannya. "Seharusnya... malam ini menjadi momen terindah untukku. Aku tahu kau mendengar semua percakapanku dengan Keiko tapi... aku tidak berharap kalau hal ini akan terjadi. Aku sempat berpikir, kalau kau akan lebih menguatkanku untuk bisa memperjuangkan hubungan kita, tapi... yang kau lakukan malah sebaliknya!" Davien tak mampu lagi melihatnya.
__ADS_1
Dia kemudian meraih tangan Bunga meletakkan kotak perhiasan di atas telapak tangannya. "Terima kasih karena sudah membuatku kecewa!" Davien melangkah pergi, namun baru beberapa langkah dia menjauh kakinya terhenti di tengah pintu. "Asal kau tahu, perasaanku tak akan pernah berubah. Sekalipun kau memintaku untuk bersama Keiko... perasaanku tidak akan pernah berubah terhadapmu. Jika memang itu yang kau inginkan maka aku akan menuruti semua keinginanmu!" suaranya melemah, seperti hatinya.
Davien melangkah pergi meninggalkan Bunga yang masih berdiam diri menatap kotak perhiasan yang ada di telapak tangannya.