
"Kamu sudah baikkan?" Barack mengusap rambut Istrinya. Laki laki itu duduk di tepi ranjang sambil memamerkan senyum kepada Luna.
"Aku ingin pulang" perempuan itu nampak terlihat tidak senang karena sudah hampir dua hari dia menghabiskan waktunya di rumah sakit.
"Aku coba konfirmasi ke dokter dulu ya, semoga dia mengijinkanmu pulang" Barack berusaha menenangkan Istrinya. Laki laki itu mengecup kening Luna sebelum beranjak dan melangkah keluar.
♡♡♡
Cici meniup kulit Aryo saat dia mendengar Laki laki itu menahan rasa perih.
"Sakit?" ucapnya. Cici masih berusaha mengoles salep perlahan di bagain dada Aryo yang memerah.
Aryo sedikit menunduk, ujung matanya bergerak melihat ke arah wajah Cici yang ternyata sudah terlalu dekat dengan wajahnya.
Cici berdehem menetralkan perasaan saat hembusan nafas Aryo menyapu wajahnya. Perempuan itu berusaha keras menahan detak jantungnya yang terdengar sangat keras hingga memenuhi rongga telinga.
"Aku bisa mendengar detak jantungmu" ucap Aryo, dia mencoba berinteraksi dengan perempuan itu.
Gerakan tangan Cici terpaku saat mendengar ucapan Aryo.
"Kenapa detak jantungmu keras sekali? kamu gugub?" tambahnya.
Perempuan itu menelan ludahnya dengan susah payah.
"Sedikit lagi ini akan selesai, jadi tolong jangan bergerak terus!" Cici mengalihkan pembicaraan.
Tangan Aryo bergerak meraih lengan Cici, menghentikan tangan perempuan itu saat mengobati lukanya.
"Kamu pikir apa yang sedang kamu lakukan sekarang?" Aryo berucap dengan nada rendah.
"Kamu bilang kamu jijik denganku? kamu tidak mau dekat dengaku. Kamu ingin aku menjaga jarak denganmu. Kenapa sekarang kamu malah datang padaku?" sejenak Aryo berhenti berucap, menanti sebuah jawaban dari cici. Namun perempuan itu hanya menunduk dan membisu.
"Aku sedang berbicara denganmu. Kemana arah arah pandangan matamu!" Laki laki itu berucap lagi berusaha memaksa Cici melihat ke arahnya.
Cici menghela nafas panjang. Dia sempat memejamkan matanya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah mata Aryo dengan tajam.
"Ya!!! aku bilang aku memang jijik denganmu, saat kamu berusaha mendekatiku aku selalu teringat semua perempuan yang selalu berada di sekitarmu! tapi apa itu salahku?"
Aryo melepas tangan Cici, memalingkan wajahnya setelah mendengar pertanyaan yang menyesakkan dadanya.
"Itu masa lalu Ci!" ucapnya lirih.
"Iya aku tahu, itu memang masa lalumu. Aku mengatakan semua yang aku rasakan agar kamu mau memberiku waktu, bukan malah menjauhiku seperti yang sudah kamu lakukan" ucapnya penuh harap.
Aryo kembali menatap mata Cici dengan lekat, pandangan matanya kali ini terlihat lebih dalam, tajam namun melembut.
"Waktu??" laki laki itu mengulang ucapan Cici dengan nada kebingungan. Namun raut wajahnya nampak terlihat senang.
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan? karena kamu sudah memintanya padaku, aku akan memberikannya. Asalkan kamu berjanji suatu saat nanti pastikan kamu bisa menerimaku"
Cici mnunduk, dia tidak bisa memastikan berapa lama hatinya bisa menerima Aryo.
Tangan Aryo bergerak meraih lengan Cici, laki laki itu seakan dengan sengaja mencari perhatian. Salah satu tangannya lagi telah berhasil menelusupi rambut Cici dan meraih tengkuknya.
Aryo menarik tubuh perempuan itu dan mendekatkan bibirnya ke telinga Cici.
Detak jantung Cici semakin kencang, suhu tubuhnya memanas dengan sangat cepat.
__ADS_1
Nafas Aryo terasa hangat saat menyapu leher perempuan itu.
"Aku"
"Aku tidak bisa menahan tubuhku yang merespon dengan sangat cepat saat berada di dekatmu sejak malam itu" Laki laki itu kini menarik nafas dalam dalam menghirup aroma tubuh Cici.
"Aroma ini yang selalu mengganggu pikiranku!" perlahan Aryo mendekatkan bibirnya ke leher perempuan itu.
Sementara Cici masih terdiam, berusaha keras menata perasaannya yang tidak karuan.
Matanya membulat ketika Aryo berhasil mendaratkan sebuah ciuman di lehernya. Namun perempuan itu tak bisa menolak.
Cici nampak menikmati ciuman Aryo hingga tanpa sadar perempuan itu perlahan memejamkan matanya.
Kening Cici berkerut ketika Aryo menyesap, menggigit kecil bagian kulit lehernya.
Beberapa saat kemudian laki laki itu menarik tubuhnya kebelakang mengawasi raut wajah Cici setelah berhasil meninggalkan bekas merah di sana.
"Aku menandai tubuh ini" Aryo mengusap lembut kissmark di leher Cici dengan ibu jarinya.
"Agar semua orang tahu, bahwa kamu sudah menjadi milik seseorang" Aryo menatap lembut wajah Cici, menyandarkan kepalanya di kening perempuan itu, kini bibir mereka saling menempel dan laki laki itu berucap lagi hingga bibir mereka bergesekan satu sama lain.
"Sejak kejadian malam itu aku ingin melakukannya lagi. Bahkan berkali kali dan terus menerus. Hanya dengamu"
Tok tok tok!!!
Suara ketukan pintu membuat Aryo langsung mengurungkan niatnya saat akan mencium bibir Cici. Mereka berdua langsung menarik tubuh mereka saling berjauhan satu sama lain.
Rosa membuka pintun wajahnya memerah, matanya membulat saat melihat Aryo tengah mengancingkan kemejanya.
Dia berusaha menahan senyumnya.
Hingga menciptakan keheningan yang membuat mereka berdua canggung di ruangan itu.
♡♡♡
Luna berjalan ke arah pintu masuk setelah mendengar bunyi bel.
Perempuan itu tersenyum dan langsung mendapat pelukan hangat dari sahabatnya.
"Maaf aku tidak berada di sampingmu saat kamu berada di rumah sakit" ucap Cici. perempuan itu menerobos masuk ke dalam arah dapur, meletakkan semua barang bawaannya yang sengaja dia bawa untuk Luna.
"Kan ada Barack, jangan terlalu khawatir denganku. Aku malah khawatir denganmu" Luna menyandarkan tubuhnya di meja. Matanya menyelidik ke arah Cici yang tengah sibuk mengeluarkan barang belanjaannya dari dalam kantok plastik.
"Aku?" Cici menunjuk dirinya sendiri sambil melirik ke arah Luna. Perempuan itu terkekeh kemudian.
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan denganku. Aku baik baik saja kok" Cici membuka kulkas dan menata semua buah ke dalamnya.
Luna hanya mengangguk, namun ujung bibirnya mengembang saat melihat bekas merah di leher sahabatnya.
"Lalu, gimana dengan hubunganmu sama Aryo" Luna berusaha membuat Cici menceritakan semuanya.
"Nggak gimana gimana"Cici melangkah mendekat ke arah Luna. Dia meraih tangan perempuan itu dan menggenggamnya dengan erat.
"Kamu tahu? aku senang sekali ketika Barack mengatakan bahwa kamu sudah mengingat semuanya, aku sangat bahagia untukmu Luna" Cici memeluk perempuan di depannya dengan erat, seakan membagikan kebahagiaan yang dia rasakan kepada sahabatnya itu.
"Kamu sudah makan? aku membawa sate padang. Kamu mau?" Cici melepas pelukannya dan bergerak meraih kantong plastik. Mengambil sterofom dan membukanya.
__ADS_1
Dahi Luna berkerut, lambungnya tiba tiba terasa penuh. Tenggorakannya seakan menolak makanan itu setelah hidungnya berhasil menghirup aroma bumbu kacang yang kental dan berminyak.
Luna melangkah mundur menjauh dari meja.
Ujung mata Cici mengawasi pergerakan tubuh Luna.
"Kamu kenapa" sahabatnya itu keheranan saat wajah Luna terlihat pucat.
"Aku sedang tidak ada selera makan Ci, maaf tapi bisakah kamu membungkus kembali makanan itu" Luna berucap sembari berjalan ke arah kulkas dan mengambil sebotol air mineral.
"Kamu baik baik saja?" Cici meraih pundak Luna berusaha menenangkan setelah melihat sahabatnya itu nampak gelisah.
"Aku baik baik saja, hanya sedang tidak nafsu makan akhir akhir ini kepalaku juga sering pusing"
"Iya juga sih, kamu terlihat kurusan Lun. Ini tidak ada hubungannya dengan kecelakaan waktu itu kan?" Cici mulai gelisah saat keringat dingin membasahi kening Luna.
"Hasil labnya belum keluar Ci. Aku berharap juga baik baik saja"
Cici menuntun sahabatnya itu duduk di sofa ruang Tv, mengambil tisu untuk mengusap keringat di kening Luna.
"Aku akan menjagamu dan aku tidak akan pulang sebelum Suamimu pulang. Oke?"
Luna membalas senyum Cici, menyandarkan tubuhnya di pelukan perempaun itu.
"Makasih Ci"
"Tidak perlu bilang terima kasih kali! Ini gunanya seorang sahabat" Cici mendaratkan sebuah kecupan di kening Luna. Mereka berdua nampak terlihat seperti saudara kandung yang saling mengasihi satu sama lain.
Ting tong!!!
Luna beranjak dari sofa bermaksud untuk membuka pintu, namun Cici menahannya.
"Biar aku saja yang membukanya, kamu istirahatlah" Cici beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu.
Dia membuka pintunya dan membuang senyum saat menyapa seorang laki laki yang berdiri di depannya dengan sebuah amplop putih di tangannya.
Pandangan Cici menyelidik ke arah amplop itu.
"Maaf, saya hanya mengantar ini untuk Nyonya Barack" ucap laki laki itu.
"Oh iya, aku sahabatnya dia sedang di dalam untuk beristirahat, bisakah aku yang menerima amplop itu?" ucap Cici.
Laki laki itu hanya mengangguk dan langsung mengulurkan tangannya.
"Tolong berikan ini kepada Nyonya Barack, saya petugas dari Rumah Sakit" jelasnya
"Kalau begitu saya permisi dulu" laki laki itu pergi setelah memberikan amplopnya ke pada Cici.
Perempuan itu melangkah kembali ke ruang Tv dan memberikan amplop itu ke pada Luna.
"Dari petugas rumah sakit, itu amplop apa Lun?" pandangan mata Cici menyelidik saat memberikan amplop berwarna putih itu kepada sahabatnya.
"Hasil labku Ci, sebenarnya kemarin aku belum boleh pulang dari Rumah Sakit sebelum ini keluar" ucapnya merujuk pada selembar kertas yang ada di tangannya.
"Tunggu" Cici meraih tangan Luna dan menggenggamnya erat.
"Apa perlu kamu membuka amplop itu?, , aku merasa takut, kalau kalau hasil labnya"
__ADS_1
"Ssssssst, kamu ngmong apa sih? jangan bikin parno ah!" Luna membuka kertas itu dan membacanya urut dari bagian paling atas tanpa ada satu kalimat pun yang dia lewatkan.
Matanya membulat penuh, nafasnya memburu seketika saat membaca diagnosa Dokter tentang kesehatannya.