
James kembali melangkah masuk ke dalam club mengurus kekacauan yang sudah di lakukan oleh Davien sebelumnya.
Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada pelayan untuk membereskan semua barang barang yang berserakan di lantai.
Sementara di sisi lain Davien terlihat semakin gelisah, tangannya bergerak meraih ponsel dan mencoba mnghubungi Roland untuk menghentikan apa yang akan laki laki itu lakukan, tetapi sayangnya nomornya tak bisa di hubungi.
Davien mendengus kesal, matanya menatap tajam ke depan. Satu tangannya meremas stir mobil dengan kuat. Ingin menghubungi Bunga tetapi Davien tak menyimpan nomornya.
"Sial!!!" umpatnya dengan kesal. Davien membanting ponselnya ke sisi lain hingga berserakan di bawah sana.
♡♡♡
"Jadi setelah Nenekmu meninggal kamu hidup sendirian?" Roland yang duduk di seberang meja terlihat sedang mengiris steak menjadi potongan potongan kecil. Setelahnnya mengambil steak milik Bunga dan menukarkan dengan miliknya.
"Makanlah" ucapnya kemudian.
"Mm, , iya aku hidup sendiri." Bunga meraih garpu untuk membantunya mamakan steak itu perlahan.
"Tenang, sekarang ada aku di sini. Aku jamin kamu pasti tidak akan merasa kesepian lagi. Aku baru bisa mengajakmu keluar untuk makan malam sekarang, pekerjaanku sangat banyak dan, , anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena kemarin aku sempat membatalkan janji mengajakmu kencan" Roland meraih gelas, menegug sedikit minumannya kemuduan meletakkannya kembali.
"Tidak perlu minta maaf. Makan malam ini juga bagiku terlalu berlebihan, kamu tidak perlu mengajakku ketempat mewah seperti ini lagi" senyumnya terlihat getir, Bunga merasa tidak nyaman ketika menyadari bahwa pandangan Roland mulai menelisik setiap jengkal hingga terpaku ke bagian dadanya saat ini.
Bunga menunduk kemudian meraih tengkuk menggunakan tangannya, berusaha untuk menutupi bagia dada dari pandangan matanya.
Padahal Bunga malam itu tak mengenakan gaun, dia hanya memakai setelan kaos dengan potongan leher tunggi yang menutup penuh bagian sana. Memang tak terbuka tetapi kaos berwarna putih dan ketat yang membuatnya terlihat sexi karena di bagian dadanya hingga membuat pandangan Roland selalu terarah ke arah sana.
Roland pun berdehem mentralkan perasaannya, mengalihkan pandangan kemudian berucap untuk mencairkan suasana setelah mengetahui bahwa Bunga merasa tak nyaman.
"Boleh aku tanya sesuatu hal denganmu??"
Bunga terdiam sejenak. Mencerna ucapan Roland yang kemungkinan akan berimbas ke hal hal lain dan lebih intim. Perempuan itu tersenyum tipis.
"Apa pun. Kamu bisa menanyakannya kepadaku"
Roland meletakkan sendok dan garpu di sisi kanan dan sisi kiri piringnya. Menautkan semua jemarinya menjadi satu di atas meja.
"Aku mendengar gosip tentangmu di kantor" sejenak Roland berhenti berucap, dia mencoba menemgamati perubahan ekspresi di wajah Bunga. Perempuan itu kini terlihat diam, tangan yang semula sibuk mengacak acak stek kini terlihat diam terpaku.
"Aku percaya bahwa gosip itu tidak benar"
Bunga seketika mengangkat wajahnya. Matanya berbinar ketika mengetahui ada seorang yang berpihak kepadanya.
"Tapi, , apakah sebenarnya kamu memiliki hubungan spesial dengan Pres Dir?"
"Tidak!" sahutnya dengan cepat. Bunga menghela nafas panjang, menetralkan perasaannya.
"Aku dan Pres Dir tidak memiliki hubungan apa pun" ucapnya memperjelas.
Senyum lebar menghiasa bibirnya ketika mendengar penjelasan dari Bunga.
"Lupakan, , hari ini aku berulang tahun. Jadi aku tidak ingin kamu bersedih. Aku juga ada sesuatu untukmu"
"Apa?, kamu berulag tahun tetapi kamau ingin memberikan sesuatu untukku?" keningnya berkerut halus. Masih berusaha keras menelaah apa yang di katakan oleh Roland.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang memberika badiah untukmu"
"Mungkin itu untuk orang lain, tetapi untukku itu tidak berlaku. Aku lah yang akan memberikan hadiah untukmu!" Roland menatapnya dengan lekat. Sementara tangannya meraih gelas kemudian menghabiskan sisa minumannya.
"Kamu tidak perlu melakukan hal ini Roland, malam ini saja sudah sangat terlalu mewah untukku"
"Kamu tidak boleh menolaknya, karena aku akan memaksamu untuk menerima hadiah itu!" Roland beranjak berdiri dari kursi. Berjalan ke sisi lain untuk mendekati Bunga.
"Ikutlah dengannku" Roland mengarahkan tangannya ke Bunga. Mengangkat kedua alisnya ketika minta perempuan itu menyambut uluran tangannya.
Bunga kebingungan, merasa tak nyaman ketika Roland bersikap sedikit aneh tak seperti biasanya. Terlebih lagi ketika melihat tatapan matanya seperti terlihat menyimpan sebuah hasrat.
"Bunga percayalah kepadaku, , ikutlah denganku"
Bunga merasa tak enak hati ketika menolaknya, dia pun beranjak berdiri. Dengan penuh keraguan menggerakkan tangan meraih uluran tangannya.
Laki laki itu itu tersenyum, menggenggam tangan Bunga dan membawanya melangkah keluar dari restoran.
♡♡♡
Pandangannya menyelidik ke sekitar ketika Roland menghentikan mobilnya di halaman perkir sebuah hotel.
"Kenapa kita kemari?" keningnya berkerut halus. Matanya menatap Roland dengan penuh tanda tanya.
"Aku harus mengambil hadiah itu di kamarku" Roland melangkah turun. Berjalan ke arah sisi lain kemudian membukakan pintu untuk Bunga.
"Ikutlah denganku" Roland seakan penuh dengan misteri.
Tentu saja Bunga tak langsung menuruti keinginannya. Perempuan itu merasa tidak nyaman dengan keberadaannya di sana. Masih terus berfikir dan menimbang apakah akan mengikuti Rolanda atau tidak
"Ini juga sudah terlalu malam. Aku"
"Ayolah Bunga, ini hari ulang tahunku. Kali ini saja turuti semua keinginanku" ucapnya dengan nada memohon. Memperlihatkan wajah memelas kepada Bunga agar perempuan itu luluh.
"Tapi Roland"
"Kali ini saja" Roland memotong pembicaraan.
Bunga merasa tak yakin, hanya saja dia tak enak hati menolsk Roland karena selama ini telah berbuat baik kepadanya.
"Tapi, , tidak lama kan?" tanpa rasa curiga Bunga meraih tangannya dan melangkah turun.
"Hanya mengambil hadiah itu, di lantai atas" ucap Roland sembari mengangkat tangannya menunjuk ke arah atas.
"Setelah itu aku akan mengantarmu pulang" ucapnya dengan tenang.
Roland menuntun Bunga membawanya melangkah menuju pintu lobi. Raut wajahnya semakin rerlihat gelisah ketika masuk ke dalam beriringan dengan seorang lelaki. Terlebih lagi ketika beberapa orang melihat, menatap kearahnya.
Entah apa yang mereka pikirkan tetapi Bunga nerasa tak nyama dengan pandangan yang mereka tujukan kepadanya.
♡♡♡
Pintu lift terbuka, Roland memaku langkahnya ketika Bunga melepaskan genggaman tangannya. Laki laki itu menoleh.
__ADS_1
"Kenapa?" ucapnya kemudian. Roland bisa melihat sedikit rasa ketakutan di wajah perempuan itu.
"Mm, , kamu bisa jalan terlebih dulu. Aku akan mengikutimu dari belakang" Bunga menghindari tatapan matanya. Saat ini Bunga berada di posisi yang sangat terjepit. Ingin menolak dengan halus kebaikan Roland tetapi dia tak sampai hati mengucapkannga. Bunga melangkah kecil mengikuti
Hingga akhirnya kedua pasang matanya tertuju kepada sebuah pintu berwarna hitam yang berdiri kokoh di depannya.
Roland mengarahkan sebuah kartu ke arah mesin kecil yg terletak di tengah tengah pintu. Setelahnya pintu itu terbuka secara otomatis.
"Masuklah," Roland menggerakkan badannya sedikit memiring ketika memohon Bunga untuk masak ke dalam kamar.
Bunga sempat terdiam, menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ee, bagaimana kalau aku menunggu di sini saja" Bunga semakin merasa ketakutan dan resah. Karena sat ini pandangan laki laki itu sedang menatap tubuhnya dengan lancang.
"Tenang saja" matanya sempat mengamati setiap lekukan tubuhnya, tetapi kini Roland akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah dalam kamar ketika Bunga memergokinya.
Kamar itu masih gelap, namun setelah Roland meletakkan kartu akses masuk kamar ke dalam mesin kecil yang terpasang di salah satu tembok dekat pintu, lampu di setiap sisi kamar itu kemudian menyala.
Bunga berjalan perlahan memasuki kamar. Dia melangkah mendekati sebuah meja dan berdiri di sana. Dadanya berdebar kencang tak karuan., raut wajahnya semakin terlihat gugup dan gelisah. Terlebih lagi ketika pandangannya tertuju ke arah sebuah ranjang besar.
"Tunggu sebentar di sini. Kamu bisa duduk di sofa terlebih dulu" Tanpa rasa bersalah Roland membuka kemejanya di depan Bunga.
Perempuan itu menoleh mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku akan membersihkan tubuhku sebentar, setelahnya aku akan mengambilkan hadiah itu untukmu".
Dadanya terekspose di depan matanya. Bunga menunduk berharap Roland segera nasuk ke dalam kamar mandi.
Ceklek!!
Mendengar suara pintu yang tertutup dari arah kamar mandi, Bunga memejamkan matanya erat. Dia terdiam mencoba amenenangkan diri.
Dengan sangat jelas Bunga bisa mendengar suara gemericik air dari dalam sana. Matanya terbuka lebar, menyadari bahwa dirinya kini sedang berada di dalam kamar hanya berdua dengan seorang laki laki.
Bunga tersadar bahwa tak seharusnya berada di sana. Sebelumnya Bunga memang sempat duduk di sofa sebelum akhirnya kini dia beranjak berdiri. matanya menyelidik ke arah pintu kamar mandi.
Bunga terlihat kebingungan sembari berjalan mondar mandir dan menggigit ujung kuku ibu jarinya.
"Ini tidak benar Bunga!, , kamu harus pergi dari sini! untuk apa coba dia membawamu ke hotel??, ya ampuuun kenapa aku merasa tidak nyaman seperti ini!!"
Bunga sempat melangkah menuju pintu, tetapi tubuhnya rerpaku ketika pintu kamar mandi dibuka dari arah dalam.
Roland mengenakan handuk kimono berwarna putih dengan tali yang meligkar di pinggangnya.
"Kenapa Bunga??, , kamu mau mandi juga?"
Dadanya berdebar semakin kencang, tubuhnya bergetar ketakutan.
"Ada apa denganmu?" Roland mendekatinya, tetapi laki laki itu terkejut ketika Bunga melangkah mundur dengan tatapan penuh waspada ke arahnya.
"Bunga???" keningnya berkerut halus.
"Maaf Roland, tidak seharusnya aku berada di sini. Tapi maaf aku harus segera pergi" Bunga beranjak pergi, tetapi Roland mencegahnya dengan merangkup tubuh Bunga ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Roland!!" Bunga menatapnya tajam. Kedua tangannya berada di tengah tengah dada ketika mencoba menahan Roland saat sedang mendekapnya.