
David meletakkan tubuh Aileen di kursi yang ada di depan rumah itu. Rumah tua namun seperti ada pemiliknya, karena rumah itu terlihat sangat terawat.
"Permisi??" David menyelidik ke setiap sudut rumah itu.
"Permisi!!" dia semakin mengeraskan suaranya karena kalau tidak, suaranya akan tertelan oleh suara hujan yang semakin deras.
Tak lama seorang laki laki paruh baya terlihat hanya membuka pintunya sedikit dari arah dalam.
Pak tua itu nampak mengintip mengawasi tubuh David dan Aileen yang sudah basah kuyup.
"Permisi, , maaf sudah menganggu. Kami kehujanan, bolehkan menumpang untuk berteduh sebentar?" David berucap sambil menatap waspada kearah laki laki itu.
Brak!!!
Pak tua itu membuka lebar pintunya.
"Masuklah" suara berat yang keluar dari bibir pak tua itu membuat Aileen sedikit ketakutan.
David mengalihkan pandangannya kearah Aileen, perempuan itu terlihat sedikit merasa ragu untuk masuk kedalam rumah itu.
"Ayo, kemarilah aku akan membantumu berjalan" David meraih tangan Aileen dan memapah perempuan itu perlahan masuk kedalam.
Ada guratan kekhawatiran di wajah Aileen, namun ketika melihat David berada di sampingnya memeluknya dari arah samping, membuat Aileen sedikit merasa nayaman.
Aileen mencengkeram kaos yang menutupi dada David dengan sangat kuat hingga bagian lehernya tertarik dan memperlihatkan sebagian dadanya.
David menunduk melihat kearah dadanya yang sedikit terekspos.
"Kamu bisa pegangan di pinggangku kalau mau!" bisiknya.
Aileen mengarahkan pandnagannya kearah dada David yang sedikit terbuka karena ulahnya.
"Ooh, , maaf, he he, , aku tidak bermaksud untuk sengaja melakukannya" Aileen menarik kembali tangannya. Kini seperti arahan David, perempuan itu melingkarkan lengannya di pinggang David.
Pak tua itu terlihat keluar dari dalam kamar dengan membawa sebuah handuk.
"Pakailah untuk mengeringkan tubuh kalian!" wajahnya terlihat garang, namun laki laki itu sepertinya sangat baik.
"Kalian bisa bermalam di kamar ini, aku sudah membersihkannya!" tambahnya.
David dan Aileen hanya saling lempar pandang. Mereka tidak bermaksud menginap, karena jika hujan sudah reda mereka ingin melanjutkan perjalanan pulang.
"Maaf, kalau merepotkan. Tapi apa Anda punya obat untuk mengobati luka?" David membantu Aileen untuk duduk di bibir ranjang. Setelah itu dia membantu mengeringkan rambut Aileen dengan handuk yang sudah di persiapkan oleh pak tua itu.
"Akan aku ambilkan!" Pak tua itu sempat melangkah keluar, namun seketika dia langsung menghentikan langkahnya.
"Aku akan mencarikan baju bekas milik Istriku. Siapa tahu muat untuk Istrimu" tambahnya. Kemudian dia pergi keluar dari kamar.
Aileen sedikit mendongak kearah David yang jauh di atasnya mereka kembali saling melempar pandang setelah mendengar ucapan Pak tua itu. Pipi mereka pun bersemu kemudian.
"Aku bisa melakukannya sendiri" tangan Aileen bergerak meraih handuk yang berada di atas kepalanya. Namun tak sengaja tangannya malah menyentuh tangan David, hingga akhirnya David memaku gerakan tangannya yang sedang mengeringkan rambut Aileen.
Prempuan itu kembali menarik tangannya, dia merasa malu dan membiarkan David mengeringkan rambutnya kembali.
Tak lama Pak tua itu kembali dengan membawa kotak P3K komplit dengan isinya.
__ADS_1
"Cepat bersihkan luka Istrimu, sebelum infeksi" ucapnya sembari meletakkan kotak P3K ke atas nakas.
David sempat menyelidik ke kotak itu, dia merasa sedikit aneh ketika Pak tua itu memiliki P3k lengkap di sana.
"Di sini sering terjadi kecelakaan sperti ini, maka dari itu aku selalu menyediakan P3K yang lengkap" ucapnya seola bisa membaca pikiran David.
"Oh ya ini" Laki laki itu memberikan setelan pakaian pria untuk David dan semacam kain untuk Aileen.
"Baju bekas milik istriku ternyata sudah lusuh semua, maklum dia sudah meninggal cukup lama. Sebagian juga sudah di rusak. Hanya tinggal ini" Pak tua itu memberikan sebuah kain lembaran di atas tumpukan baju pria.
"Terima kasih, , maaf sudah merepotkanmu" David membungkuk kearah Pak tua itu.
"Buat diri kalian senyaman mungkin, aku sudah menyuruh anakku untuk mengirim pesan ke penjaga di bawah sana" Pak tua itu berucap dengan nada berat, dia tak pernah tersenyum, hingga membuat Aileen yang melihatnya selalu merasa tidak nyaman.
♡♡♡
David mengambil setelan baju pria yang sudah di persiapkan untuknya. Namun ketika ingin membuka kaosnya dia melirik kearah Aileen yang terlihat salah tingkah.
"Aku akan keluar jika kamu tidak nyaman denganku!" Aileen berusaha berdiri, namun kakinya tak sanggup menopang tubuhnya dengan baik.
"Tetaplah di tempatmu!!. Aku merasa nyaman nyaman saja, kalau kamu mau melihatnya aku juga tidak keberatan" David mengulas senyum manis di bibirnya, dia telah berhasil membuat Aileen malu hingga pipinya bersemu.
David mulai membuka kaosnya hingga membuat dadanya yang bidang itu terekspos tepat di depan Aileen.
Laki laki itu seolah dengan sengaja memperlambat untuk mengganti bajunya.
Sementara Aileen terlihat menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu. Jika kakinya tidak terluka mungkin Aileen sudah lari keluar dari kamar itu.
Setelah selesai menganti bajunya David melangkah mendekati Aileen, tangannya langsung bergerak meraih kancing baju Aileen bagian atas tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu.
"Membantumu melepas baju" Ucapnya tanpa rasa berdosa.
"Tidak perlu!!, , aku bisa melakukannya sendiri" Aileen mengambil alih untuk membuka kancing bajunya.
Sementara David membantu mengambil kain untuk Aileen. Dia sedang membentangkan kain itu di hadapan Aileen.
"Bagaimana cara memakai kain ini??" ucapnya kemudian. Keningnya mulai berkerut ketika melihat kain itu.
Aileen menyelidik kearah kain yang sedang di bawa oleh David.
"Berikan padaku, aku bisa menyelimuti tubuhku dengan kain ini sambil menunggu bajuku mengering"
"Apa kamu perlu bantuanku?"
"Tidak perlu!!, , sekarang putar tubuhmu. Aku akan, , akan, , melepas bajuku!" bibir Aileen terlihat bergetar ketika ingin berucap.
"Kenapa aku harus memutar tubuhku??, , aku saja tidak keberatan ketika kamu melihatku berganti baju!!"
"Daavvviiidddd!!" Aileen merasa sedikit jengkel ketika David terus menggodanya.
"Ya ya, , aku akan memutar tubuhku" David pun memutar tubuhnya membelakangi Aileen.
Ketika Aileen beru sempat melepas bajunya, tiba tiba David kembali memutar sebagian tubuhnya.
"Sudahkah?" ucapnya hingga membuat Aileen langsung mengalihkan pandangan kearahnya.
__ADS_1
"Aaaaa!!!" teriak Aileen, salah satu tangannya terlihat bertahan di sana untuk memutupi bagian dadanya. Sementara satu tangannya lagi berusaha melempari David dengan bantal.
Sambil terkekeh geli David kembali memunggungi Aileen.
Saat itu juga Aileen mempercepat menutup tubuh bagian atas dengan kain.
"Sudah!!" ucapnya mempersilakan David untuk kembali berbalik.
Laki laki itu bergerak mendekati Ailen, matanya terlihat menyelidik kearah celana yang masih membalut kaki perempuan itu.
"Kamu tidak melepas celanamu??"
Aileen merasa bingung, karena dia memiliki alasan tertentu untuk tidak melpas celananya. Yang pertama karena kakinya yang terluka, dia tidak ingin ketika melepas celananya malah akan menyentuh bagian yang terluka. Yang kedua karena dia tidak bisa melepas celana itu sendirian, ketika kedua tangannya menggenggam erat kain yang menyelingkupi tubuhnya agar tak terlepas.
"Tidak perlu di lepas, biarkan begini saja!" ucap Aileen.
David pun bergerak meraih kotak P3K yang ada di atas nakas, kemudian menekuk kedua lututnya di hadapan Aileen.
"Kamu?" Aileen sedikit merasa terkejut ketika David tunduk di hadapnnya.
Laki laki itu mendongak mengalihkan pandangannya kearah Aileen.
"Aku akan membantumu membersihkan lukanya" David sedikit merasa ragu ketika ingin menyentuh kaki Aileen yang sudah berlumuran darah.
"Pelan pelan" Aileen menggerakkan sedikit kakinya agar David tak salah sentuh di bagian yang terluka.
"Kamu tenang saja, aku akan melakukannya dengan hati hati" David mengambil gunting dan memotong celana Aileen yang sudah terkoyak sampai kebagian atas paha.
"Kenapa kamu memotongnya sampai bagian sini??" Mata Aileen terlihat membulat,ketika David memotong celanya menjadi dua dari bagian bawah sampai atas pahanya.
David tak bergeming, di malah memotong celana bagian satunya lagi.
"Sekalian membantumu agar mudah melepasnya!" David berucap seolah dia tahu kenapa Aileen tak melepas celananya.
Pipi Aileen kembali bersemu merah, ketika pahanya yang putih itu terekspose di depan mata David.
Setelah berhasil membuka celana Aileen, betapa terkejutnya dia ketika luka di kaki Aileen terlihat sangat lebar dan sedikit membuka. Lukanya terlihat lebih parah dari perkiraannya.
Jika di tangani tim medis luka Aileen pasti sudah di jahit, namun David mengakalinya dengan peralatan seadanya dan semampunya.
David mengalihkan pandangannya kearah Aileen sebelum mengguyur lukanya dengan alkohol.
"Kamu bisa menahannya?"
Aileen terlihat sedikit ragu namu dia akhirnya menganggukkan kepala.
Setelah mendapat kepastian bahwa Aileen bisa menahannya, David perlahan menyiram luka Aileen dengan Alkohol. Setelahnya membersihkan sisa tanah dan darah yang berada di sekitar luka itu.
Ujung mata David nampak mengerucut kearah jemari Aileen yang sedang mengepal dengan erat di atas paha.
David merasa tidak tega ketika ingin meneruskan membersihkan luka itu.
"Aku tidak apa apa" ucap Aileen, ketika melihat David sedikit ragu.
"Lanjutkan saja!!" Aileen menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
David mangambil kapas dan membersihkan lukanya kembali, namun paha Aileen yang terbuka lebar itu seolah menghipnotis David. Hingga beberapa kali dia terlihat tak konsentrasi karena pandanngan matanya sesekali teralihkan kesana.