Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#168 Jalan lain


__ADS_3

Ting tong!!


Lilis menyelidik ke arah layar interkom dari bali tembok sebelum dia membukakan pintunya.


Dia melihat Cici dan Aryo berdiri di depan sana.


Dia pun membukakan pintu untuk mereka.


"Mbak Luna dan Mas Barack ada di ruang keluarga" ucap Lilis setelah Mereka berdua masuk kedalam.


♡♡♡


"Kamu baik baik saja??" Cici terlihat duduk di samping sahabatnya, dia merangkul pundak Luna. Mencoba menghibur perempuan yang terlihat murung itu.


"Iya" Luna tersenyum dia memilih untuk menyembunyikan masalahnya, kini dia ingin fokus dengan Cici


"Lalu bagimana denganmu??, , kamu sudah hamil?"


Raut wajah Cici berubah seketika, karena dia sampai sekarang belum hamil.


Melihat wajah sahabatnya yang bersedih Luna bergantian memeluknya.


"It's ok!!, , nanti juga ada saatnya ko!" Luna berucap untuk memberi semangat kepada Cici.


Di sisi lain Aryo dan Barack terlihat duduk di bangku teras belakang. Dengan kopi panas yang menemani pembicaraan mereka.


"Kamu sungguh beruntung, mendapatkan Luna dan David dalam hidupmu!" ucap Aryo.


"Lalu apa kamu berfikit bahwa hidupmu tidak beruntung?,"


"Buka begitu, kehidupan kalian sudah sempurna dengan adanya David, , aku juga bersyukur karena telah mendapatkan Cici. Tetapi mungkin memang belum saatnya aku dan dia dikaruniai seorang anak seperti kalian" Raut wajah Aryo terlihat murung ketika harus membahas masalah keturunan. Aryo termasuk anak dari seorang keluarga yang sangat kaya. Tak mungkin baginya untuk tidak memiliki keturunan yang akan mewarisi kekayannya nanti.


Kehidupan tak simple seperti yang dilihat orang lain, orang akan menilai kehidupan orang lain dengan sangat mudah.


Seperti Aryo yang menilai kehidupan Barack, mereka terlihat sangat bahagia. Aryo tidak tahu kalau orang yang baginya terlihat sangat bahagia itu sedang memperjuangkan kebahagiaan itu sendiri.


Namun Barack tak ingin nemperlihatkan itu semua di depan orang lain. Dia lebih memilih untuk tak membahasnya


"Kamu tahu kenapa sampai sekarang Istrimu belum hamil??" Barack berucap dengan penuh teka teki.


Ujung mata Aryo mengerucut ke ara laki laki di depannya.


"Apa?"


"Karena dulu masa mudamu, kamu selalu membuang buang benih yang sangat berharga. Jadi sekarang hanya tinggal ampasnya saja!!"


"Sialan!!!, , " Aryo melayangkan pukulan ke lengan Barack. Seketika tawa mereka berdua pun pecah hingga menarik perhatian Luna dan cici yang ada di dalam rumah.


"Ya ampuunn!!, , apa yang sedang mereka bicarakan hingga tawanya terngiang di telingaku!" Cici menggeleng tak percaya


"Biasa, meraka sudah lama tidak bertemu. Sekalinya bertemu paati membahas hal hal aneh" Luna beranjak dari sofa, dia berjalan ke arah dapur untuk membantu Lilis mempersiapkan makan malam.


"Makan nalam disini ya! kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama. Lagi pula besok juga kamu harus kembali kan ke Tokyo!"


"Iya, kamu tidak perlu mengatarku, aku datang kesini juga sekalian berpamitan"


♡♡♡


"Aku dengar kamu mengambil alih kedudukan Adrian??" Aryo memulai pembicaraan yang menuju ke arah serius.


"Mmm, , iya!! kenapa?, , "

__ADS_1


"Aku tidak percaya kamu melakukan hal itu. Bagimu keuntungan parusahaan Dirga setiap bulan tak ada sejumput jumputnya dengan BS!, , untuk apa kamu membuang buang banyak uang untuk perusahan itu?"


Barack tersenyum penuh arti ke arah Aryo. Sebelum menjawab pertanyaannya dia menyempatkan untuk menyesap kopinya yang mulai dingin.


"Hanya itu caraku untuk kembali dekat dengan Luna. Sekaligus" Barack menghentikan pembaicaraan. Dia tidak mungkin menceritakan kalau dia membeli Dirga untuk membalas kekesalannya kepada Adrian.


"Lupakan!!, , lalu bagimana denganmu , perusahaanmu di Tokyo, sudah bangkrut kah??" tambahnya.


"Brengsek!!, ,pertanyaanmu tidak ada yang lebih menyakit lagi apa?" mereka kembali tertawa.


♡♡♡


Setelah menghabiskan makan malam, Cici dan Aryo berpamitan untuk pulang.


Luna menyuruh Lilis untuk menemani David di kamarnya, sementara dia pergi ke dapur menyiapkan minuman untuk Barack.


Laki laki itu terlihat sedang mengahabiskan waktunya di ruang kerja. Dia masih berfikir keras dengan permintaan Luna. Namun baginya, tidak mungkin dia akan mengikuti keinginan Luna.


Adrian bukan laki laki yang akan diam begitu saja ketika dia tahu dia telah kalah.


Tetapi tingkah Adrian malah akan semakin menggila.


Dia terlihat sedang menghubungi seseorang dengan ponselnya.


Barack menghubungi Natahan, karena dia ingin laki laki itu lebih ketat dalam menjaga David ketika Putranya itu berada di luar rumah.


"Aku akan melakukannya dengan baik. Setiap hari aku selalu memastikan bahwa supirnya menjemput setelah jam sekolah selesai" suara berat Nathan terdengar dari ujung ponselnya.


Sementara salah satu tangan Barack memegang ponsel, tangan lainnya tengah sibuk dengan tombol tombol yang ada di alat digital yang ada di atas meja.


"Terima kasih Nathan" Barack pun mematikan ponselnya.


Kini dia mulai kembali fokus dengan laptop. Barack tengah membaca email dari Anak buahnya.


Ujung matanya teralihkan ke arah pintu, ketika seseorang membukanya dari arah luar.


Dia melihat Luna berdiri di sana dengan membawa sebuah cangkir. Kepulan asap dari minuman yang masih panas itu terbang terbawa angin dari arah pintu menyeruak masuk ke dalam hidungnya.


"Kopi??" ucapnya sambil menggerakkan tangannya untuk menutup layar laptop. Aromanya sangat menusuk ke dalam hidung Barack hingga mempermudah dirinya menebak isi cangkir yang di bawa oleh perempuan itu.


Luna mengulas senyum di bibirnya, dia berjalan mendekat. Meletakkan secangkir kopi itu di atas meja.


"Maaf, , " ucapnya kemudian.


Barack menarik tubuhnya ke arah belakang, membenamkan punggungnya di sandaran kursi empuk yang memberikan kenyamanan baginya.


Laki laki itu menepuk pahanya dengan pelan.


"Kemarilah!" perintahnya, meminta Luna untuk duduk di sana.


Luna mengikuti keinginan Barack, dia duduk di pangkuan laki laki itu.


Barack melingkarkan kedua tangannya di pinggang Luna, setelahnya menyandarkan kepalanya di pundak.


"Minta maaf untuk apa?" Ucapnya dengan lembut.


"Karena sudah membuatmu khawatir, dan membuatmu marah. Karena harus memenuhi keinginanku" Luna tertunduk, menyimpan wajahnya yang murung.


Barack menggunakan tangannya untuk meraih dagu Luna dan menuntun perempuan itu untuk menghadap ke arah wajahnya.


"Tidak perlu minta maaf, aku juga tidak marah kepadamu. Aku hanya jengkel karena Laki laki itu kembali berusaha mendekatimu lagi" Barack menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Apa dia sempat"


"Dia tidak menyentuhku!" Luna memotong pembicaraan, seolah dia tahu kemana arah pembicaraan Barack.


Laki laki itu terkekeh geli, kemudian kembali menatap Luna dengan lekat.


Mereka saling melempar pandang satu sama lain, hingga tak terasa wajah mereka saling berdekatan.


Hindung mereka kini saling bersentuhan, nafas mereka saling menyapu wajah masing masing. Barack tersenyum ketika Luna menundukkan kepalanya.


Laki laki itu menggunakan keningnya untuk mendorong kepala Luna agar perempuan itu kembali mengangkat kepalanya.


Seterusnya menggunakan hidungnya untuk mengangkat wajah Luna dan mempertahankan agar perempuan itu tidak kembali menunduk.


Barack sempat memainkan hidung Luna yang kecil dan mancung itu dengan hidungnya.


Sebelum akhirnya dia mencium bibirnya, bibir mungil nan manis itu dilumatnya dengan sangat lembut. Hingga memberikan sensasi tersendiri di hatinya.


Barack menggerakkan tangannya ke arah tengkuk Luna. Mendorong kepalanya untuk semakin memperdalam ciuman mereka.


Barack telah berhasil menyesap bibir Luna, memaksa perempuan itu membuka mulutnya. Dan kini dia membiarkan lidahnya menari di dalam sana.


Mungkin efek obat dari dokter masih bekerja sehingga Luna merasa masih lemas, dia hanya membiarkan Barack menciumnya tanpa dia membalasnya.


Barack tahu, tetapi dia tidak memeprmasalahkan itu, malah sengaja ingin membuat Luna menikmati ciumannya.


Hingga tanpa sadar Luna mendengar lenguhan lirih yang kekuar dari mulut Barack.


"Mmmmhhh!!"


Luna membuka matanya lebar lebar, seketika saat itu Barack juga membuka matanya hingga mata mereka pun saling bertemu.


Barack menyadari kalau Luna mendengar lenguhannya sesaat tadi.


Dan mereka akhirnya saling melempar senyum sama lain tanpa harus menghentikan ciumannya.


Ketika mendengar suara pintu terbuka lagi, dengan cepat Luna menarik kepalanya, memaksa Barack yang sedang menikmati bibirnya harus menelan kekecewaan, dia melompat dari pangkuan dan bersikap seolah mereka tidak melakukan apa pun.


Setelah melihat David yang membuka pintu itu, Barack dan Luna hanya saling melempar pandang dan menahan senyum mereka.


David tak sengaja melihatnya, namun dengan cerdik Anak kecil itu berpura pura mengusap kedua matanya dan berucap.


"Aku sudah ngantuk Mah, kapan kita akan tidur? aku ingin tidur bersama kalian" Gumamnya.


Luna melangkah cepat menghampiri David.


"Baiklah kita akan tidur sekarang, ayo. Ayah harus menyelesaikan kerjaannya terlebih dulu nanti Ayah akan menyusul oke" ucapnya berusaha memberikan pengertian dengan penuh kasih sayang.


David pun menganggukkan kepalanya.


"Kemarilah?" ucap Barack.


David melangkah memenuhi perintah Ayahnya. Laki laki itu mengecup kening Putranya sebelum kembali ke kamar.


"Tidurlah bersama Mamah, nanti Ayah akan menyusul!"


"Baikalah"


Setelah mereka berdua melangkah keluar dan Luna menutup kembali pitunya. Barack segera menghubungi Anak buahnya.


"Hallo!!, , besok kita bertemu. Aku akan mengirimkan alamatnya. Kita akan cari dia!! secepat mungkin kita harus menemukan Ernest sebelum Adrian menemukannya terlebuh dulu" Barack menutup panghilannya. Dia menarik tubuhnya dan menggunakan kedua tangannya yang saling bertautan untuk menyangga kepala dari arah belakang.

__ADS_1


Laki laki itu memejamkan mata, menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaannya.


__ADS_2