
Perempuan itu sempat menunduk, namun David meraih dagunya dan memaksa Aileen kembali mengangkat kepalanya.
Dada Aileen berdebar dengan sangat kencang, ini pertama kali baginya berinteraksi dengan lawan jenis sampai sedekat ini.
Aileen sangat awam dalam hal percintaan dan itu sangat bertolak belakang dengan David.
Aileen mencoba untuk meyakinkan dirinya tentang perasaan yang saat ini sedang dia rasakan. Kenapa hatinya bisa berubah dengan cepat, dia merasa senang ketika berada di dekat laki laki di depannya ini.
Tak bisa dipungkiri aura yang dibawa oleh David begitu sangat kuat. Hingga mampu mengubah cara berfikir seorang perempuan terhadap dirinya dalam sekejap.
Aileen mengepalkan kedua tanganya dengan kuat, ketika David memposisikan kepalanya sedikit miring dan semakin mendekatkan wajahnya kearah wajah Aileen.
David seolah sedang mempermudahkan dirinya untuk mencium bibir perempuan itu.
Jantung Ailen semakin bedebar, darahnya serasa memanas hingga menjalar sampai ke ujung kepala. Perempuan itu seakan tak kuasa menolak perlakuan David saat itu, ketika bibirnya baru menempel sedikit saja, David menghentikan gerakannya saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.
Ceklek!!!
Kepala pelayan membuka pintu, dia sempat melangkah masuk namun seketika matanya membulat. Saat itu juga dia mundur kembali dan bersembunyi di balik pintu untuk menyembunyikan wajah keterkejutannya ketika melihat David dan Aileen sedang berdekatan hingga terlihat sangat intim.
David tampak menghela nafas panjang, dia sedikit memalingkan wajahnya kearah samping untuk memastikan Kepala pelayan itu tak melangkah masuk lebih dalam lagi.
"Maaf Tuan, , makanannya sudah siap" ucap kepala pelayan itu, bibirnya pun nampak bergetar karena ketakutan. Dengan cepat dia kembali menutup pintunya.
David melepas tangannya yang sempat melingkar di pinggang Aileen, dia sedikit melangkah mundur sambil mengawasi wajah perempuan itu.
"Ayo!" David meraih tangan Aileen dan menggenggamnya.
"Kamu mau mengajakku kemana??"
"Aku lapar, kamu harus menemaniku makan!" David menaraik tangan Aileen dengan penuh kelembutan. Setelahnya Dia menuntun perempuan itu berjalan kearah dapur.
Sementara Aileen, dia terlihat sedang memeganggi kedua pipinya dengan salah satu tangannya secara bergantian. Dia hanya sedang memastikan kalau pipinya memerah karena terasa menghangat saat itu.
♡♡♡
David menarik kursi dan mempersilakan Aileen untuk duduk di sana. Setelahnya dia menarik kursi untuk dirinya sendiri.
Tangannya bergerak meraih garpu dan pisau untuk memotong motong steik hingga menjadi beberapa bagian. Setelah selesai David mengangkat piring itu dan memberikannya kepada Aileen.
"Makanlah, aku sudah memotongnya menjadi kecil kecil untukmu" ucapnya sambil menukar piring yang ada di depan Aileen dengan piringnya.
Aileen nampak sedikit tidak nyaman, dia baru pertama kali ini diperlakukan dengan sangan manis oleh seorang laki laki.
"Terima kasih" ucapnya kemudian kepada David.
"Mm, , " laki laki itu menganggukkan kepalanya.
"Makanlah, setelah ini aku akan menemanimu tidur!"
Seketika daging yang belum sempat tertelan dengan sempurna itu menyangkut di leher Aileen. Hingga membuat perempuan itu langsung tersedak dan batuk.
"Minumlah" David berucap dengan santai, seolah dia tahu kalau hal itu akan terjadi pada Aileen. Laki laki itu hanya tersenyum sambil mengulurkan tangan dengan segelas air mineral di sana.
Aileen berusaha keras menelan daging itu sambil meraih gelas dari tangan David.
"Aku hanya bercanda" David tersenyum kemudian.
Aileen nampak menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaannya.
Di tengah tengah makan malam, David memilih untuk memulai menanyakan pertanyaan yang sedari tadi sangat mengganggu pikirannya.
"Kamu dapat kartu itu dari siapa?" ucapnya sambil terus fokus memotong sisa steik.
"Hmm??, , kartu apa maksudmu?" Aileen mengalihkan pandangannya kearah David dengan cepat.
"Kartu yang sempat ingin kamu berikan kepadaku, , kartu kredit berplakat emas" David menyuapi dirinya dengan sepotong steik kedalam mulut.
Mata Aileen nampak berputar seperti sedang berfikir, kartu apa yang di maksud oleh Laki laki itu.
Dan setelah dia berhasil mengingatnya, Aileen kembali mengarahkan pandangannya kearah David.
__ADS_1
"Kartu kredit itu??" ucapnya kemudian.
Dengan cepat David mengangkat kedua alisnya.
"Kenapa kamu tiba tiba membahas kartu kreditku?, , kenapa memangnya?" Aileen nampak mengawasi wajah David.
David sengaja tidak menjawab pertanyaan Aileen, dia memilih untuk menghabiskan makanannya terlebih dulu. Setelahnya Menegug setengah air yang ada gelas, mengusap bibirnya dengan kain celemek untuk membersihkan sisa sisa makanan di sana. Setelah itu dia baru kembali fokus dengan pertanyaan Aileen.
"Kenapa kamu menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan??, , jawab saja dulu pertanyaanku" David ingin segera mendengar jawaban dari mulut Aileen, dari mana sebenarnya perempuan itu mendapat kartu ktedit unlimited itu.
"Itu milkku!" jawab Aileen dengan cepat.
"Apa kamu mendapatkannya di tempat kerjamu?, , " ucapan David seketika membuat Aileen semakin mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan ucapan David saat itu.
"Aku tidak mengerti, memangnya ada apa dengan kartu itu. Apa ada yang salah?" ujung mata Aileen semakin mengerucut.
"Itu kartu kredit tak terbatas berplakat emas, hanya orang orang tertentu yang bisa memilikinya. Jadi katakan padaku siapa yang memberikan kartu itu kepadamu?" David mengaitkan semua jarinya untuk menyangga dagu dengan siku yang bertumpu di atas meja.
Kerutan di dahi Aileen terlihat semakin dalam dan kasar setelah mendengar pertanyaan dari David yang menyudutkan dirinya.
"Kamu bekerja di tempat karaoke itu kan??, , lalu siapa yang memberimu kartu itu? kenapa kamu mau menerimanya?, , sementara kamu menolak tawaran dariku. Jika aku memberikan kartu yang nominalnya lebih dari yang orang itu berikan kepamu. Apa kamu juga akan menerima tawaranku?? apa yang sudah kamu berikan kepadanya??, , sampai orang itu mau memberimu kartu kredit berplakat emas itu??" Tatapan mata David terlihat sangat menjengkelkan saat itu.
Ekspresi wajah Aileen terlihat sangat sengit kearah David, bagaimana tidak. Pertanyaan yang dilontarkan laki laki itu lebih kearah tuduhan dan penghinaan bagi Aileen.
Perempuan itu menghela nafas dengan kasar.
"Kamu pikir aku menjual diriku??, , apa itu sebabnya beberapa hari kemarin kamu langsung mengajakku kencan?? apa kamu pikir karena aku wanita murahan??" Aileen berucap dengan tenang namun penuh dengan tekanan di dalamnya.
"Kamu mengajakku pulang kerumahmu juga apa karena hal itu?? kamu pikir kamu bisa memakai tubuhku??, , lalu setelahnya kamu akan membayarku sesuai dengan uang yang kamu tawarkan kemarin??" Aileen sejenak menghentikan ucapannya, untuk memberi kesempatan kepada David menjawab pertanyaannya. Namun laki laki itu hanya diam sambil menatap jengkel kearah Aileen.
"Memang apa yang sudah aku lakukan hingga membuatmu menatapku dengan tatapan seperti itu!!!. Dan seharusnya di sini akulah yang berhak untuk marah!!"
Sebenarnya David marah karena perempuan itu lebih memilih menetima kartu pemberian orang lain, ketimbang tawaran yang dia berikan.
"Siapa pun akan berfikir seperti itu, jika melihat statusmu yang bekerja di tempat karaoke. Apa aku salah?, ,"
"Aku sempat berfikir bahwa kamu laki laki yang tidak akan memandang rendah seorang perempuan dari pekerjaannya. Dan ternyata aku salah. Kamu sama saja!!" Aileen berucap dengan lambat di akhir kalimat, sengaja agar David bisa mendengarnya dengan jelas.
Perempuan itu berjalan kearah kamat dengan raut wajah kesal. Aileen kembali ke kamar David untuk mengambil tasnya.
Dan setelah itu dia memutuskan untuk pergdari tunah David.
"Nona?, , ini sudah lewat tengah malam. Kamu akan pergi kemana?" ucap kepala pelayan yang sengaja menghadang Aileen setelah dari tadi dia selalu mengawasi mereka berdua sejak di ruang dapur.
"Maaf bi tapi aku harus pergi" Aileen berusaha melewati pelayan itu. Namun Pelayan itu berusaha keras menahannya.
"Ini berbahaya, aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu pulang Nona" ucap Kepala pelayan itu dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Tak banyak yang bisa dilakukan oleh kepala pelayan, akhirnya dia membiarkan Aileen melangkah keluar meninggalkan rumah itu.
♡♡♡
Koyoko berjalan keluar dari ruang loker, setelah selesai mengganti bajunya dia bergegas keluar.
Dia berjalan perlahan menuju pintu keluar, ujung matanya terpaku saat melihat Jacq tengah berdiri disamping mobilnya di halaman tempat parkir.
Laki laki itu tersenyum, setelahnya dia membukakan pintu untuk Koyoko.
Koyoko yang melihatnya pun tersenyum sembari berjalan kearahnya.
"Terima kasih" ucap Koyoko yang telah berhasil masuk kedalam mobil.
Jacq mengendarai mobilnya dengan perlahan keluar dari tempat itu.
Dalam perjalanan sesekali mereka tampak terlihat saling melempar pandang.
"Kenapa kamu diam saja?" Ucap jacq seketika memecah keheningan di dalam mobil.
"Mm, , aku tidak tahu apa yang harus aku bicarakan denganmu"
Jacq tersenyum, tangannya bergerak mengusap lembut kepala Koyoko.
__ADS_1
"Apa kamu keberatan jika aku tidak mengantar kamu pulang?" Jacq berucap sambil sesekali melihat kearah jalan. Pikirannya terbagi dua antara fokus ke Koyoko dan Ke perjalanan.
"Maksudmu?, , " pandangan mata Koyoko nampak menyelidik kearah laki laki itu.
Jacq langsung menepikan mobilnya setelah itu, dia menatap wajah Koyoko dengan lekat.
"Aku ingin bersamamu malam ini" tatapan mata Jacq terlihat sangat lembut, hingga membuat perempuan itu seperti sedang tersihir dan dengan sendirinya dia mengangguk tanpa penolakan sedikit pun.
Jacq mendekatkan wajahnya kearah wajah Koyoko, Dia mencium bibir perempuan itu, menyesap dan meluma*nya sejenak. Setelah itu dia kembali menarik tubuhnya menjauh dari Koyoko sambil tersenyum.
Kini Jacq melanjutkan perjalanan kearah lain, dia mengurungkan niatnya untuk mengantar pulang Koyoko. Dan memilih membawa perempuan itu pergi bersamanya.
♡♡♡
Kepala pelayan bergerak cepat menuju dapur untuk menemui Tuannya.
Dia nampak sedikit ragu ketika akan berucap kepada David.
"Tu, , Tuan?, , Nona cantik itu, , sudah pergi meninggalkan rumah ini" ucapnya terbata, ujung bibirnya terlihat bergetar karena menahan rasa ketakutannya.
David tidak bergeming, laki laki itu masih terlihat diam mematung di kursinya.
"Sedikit lagi David, kamu bisa mendapatkannya. Jika kamu bisa mengendalikan perasaanmu untuk tidak membahas kartu itu. Apa yang ada Diotakmu!!"
David menyisir rambut dengan jari jari tangannya dan menariknya kearah belakang kepala.
"Kenapa aku harus merasa marah dan tidak bisa terima, siapa yang memberikan kartu itu pada Aileen??, , jika dia memang perempuan seperti itu. Berapa laki laki yang sudah menyentuh tubuhnya??"
David memejamkan kedua matanya, dia bisa menjadi gila jika memikirkan hal itu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan David??, , jika kamu berhenti disini. Kamu harus mengakui kekalahanmu!"
Laki laki itu merasa berada di titik paling lemah. Dilema karena perasannya terbagi dua. David benci dengan dirinya yang seperti orang bodoh karena menjadi sangat lemah ketika memikirkan perempuan itu.
"Tuan!!" Kepala pelayan itu berseru lagi, hingga membuat David tersadar dari lamunannya.
David melirik kearah pelayan itu dengan tatapan sengit. Setelahnya dia akhirnya pergi untuk mengejar Aileen.
David mengemudikan mobilnya dengan cepat, dia menyusuri setiap jalan untuk mencari perempuan itu.
"Seharusnya dia belum terlalu jauh dari sini!" gumamnya.
Wajah David terpaku ketika melihat bayangan Aileen jauh di depan sana. Dia melihat perempuan itu sedang tertunduk sambil duduk di bangku halte.
"Kamu memang benar benar bodoh Aileen!!, , bagaimana mungkin kamu bisa berharap dari laki laki itu" gumam Aileen, dia masih tertunduk hingga sebagian wajahnya tertutup oleh rambutnya yang tergerai.
"Ai??" ucap David dengan nada lembut.
Ujung mata Aileen terlihat bergerak kearah sepasang sepatu yang berhenti di depannya.
"Kenapa kamu mengejarku!!, , pergi dari sini aku tidak ingin melihatmu!" ucap Aileen dengan nada malas.
"Maaf, , " Sebenarnya David tidak ingin membuang buang buang waktunya hanya untuk hal ini.
"Kalau kamu ingin kembali aku akan mengantarmu!" tambahnya.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" Aileen mengangkat kepalanya. Dia memandang wajah David dengan tajam.
"Kamu!!, , apa telingamu tuli??, , pergi dari sini!!" Aileen mengeraskan suaranya.
"Ah ya ampunnn!!, , perempuan ini benar benar keras kepala"
David menekuk lututnya di depan Aileen, hingga membuat perempuan itu terkejut dan mengalihkan kembali pandangannya kearah laki laki itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" ucap Aileen sambil mengerutkan dahinya.
David mendongak, memandang lembut kearah perempuan itu.
"Maaf, , jika ucapanku menyakitimu" David berucap sambil meraih tangan Aileen. Dan menghujani punggung tangannya dengan kecupan lembut.
Perempuan itu hanya memaku tubuhnya, dia hanya memeprlihatkan ekspresi wajahnya yang tak terbaca.
__ADS_1