
Aileen menghampiri Koyoko yanh sedang menggendong Putrinya, mereka berada di terminal kedatangan di Bandara itu.
Koyoko tersenyum sambil berbicara kepada Keiko dengan tingkah lucunya.
Anak kecil itu menggerakkan kaki dan tangannya dengan aktif ketika Koyoko mencoba menggodanya.
"Dia belum datang??" suara Aileen seketika membuat Koyoko mengalihkan pandangan kearahnya.
"Mungkin sebentar lagi" Koyoko memilih untuk menghabiskan waktunya dengan Keiko sebelum Jacq datang.
"Kemari sayang, ikut sama Tante yuk" Aileen meraih tubuh kecil Keiko, membawa bayi kecil itu kedalam gendongannya.
"Tayang tayang tayang, , mau ketemu ciapa cih??, , Papah ya, , hmm??" Aileen mencium habis pipi Keiko yang sangat menggemaskan.
Koyoko terkekeh melihat kedekatan Aileen dengan Putrinya.
"Kamu sudah kelihatan luwes, buru buru nikah dong"
"Kamu kalau bicara enak sekali ya, , aku yang menjalaninya setengah mati tahu!!"
"Lalu bagimana nanti dengan hubungan kalian??" Koyoko melihat Aileen dengan tatapan penuh harap.
"Nanti dipikir nanti saja, sekarang yang
terpenting di mana laki lakimu itu!! kenapa sampai sekarang belum juga datang??" Aileen menatap sinis kearah Koyoko.
"Kamu tuh cerewat, pesawatnya juga baru mendarat kan?"
"Koyoko??" suara berat itu terdengar dari arah belakang Aileen.
Membuat Koyoko langsung mengalihkan pandangannya kearah Jacq. Dia beranjak berdiri, melangkah perlahan mendekati laki laki itu.
Jack mempercepat langkahnya, dia ingin cepat cepat memeluk tubuh perempuan itu. Berbulan bulan dia hidup seperti orang gila yang selalu menghabiskan waktunya hanya untuk mabuk.
"Ikutlah pulang denganku?" Jacq melepaskan pelukannya.
"Tapi, , aku tidak sendiri" Koyoko menoleh kearah Keiko.
Putri kecil itu tertawa gemas, menggerakkan tangan dan kakinya seolah ingin minta segera di gendong.
"Aku bersama putriku"
Jacq menatap anak kecil yang berada dalam gendongan Aileen, bibirnya terpaku. Tetapi kakinya bergerak melangkah maju.
"Dia, , apa dia Putriku?" ucapnya sembari menoleh kearah Koyoko.
Perempuan itu menganggug. Tatapannya terlihat mengawasi Jacq, dia ingin sekali melihat reaksi laki laki itu.
"Aku tidak percaya ini, , aku memiliki seorang Putri?" Jacq tersenyum, tangannya meraih tubuh anak kecil itu dan mengangkatnya tinggi. Keiko seolah memiliki ikatan batin dengan Jacq, gayanya yang khas layaknya seorang bayi Keiko menggerakkan tangannya, dengan gembira dia menyambut laki laki itu.
"Jacq!!" Koyoko merasa khawatir ketika laki laki itu mengangkat Keiko ke atas udara lalu menangkapnya kembali. Bersamaan dengan itu, tawa renyah keluar dari mulut Keiko. Membuat orang yang mendengarnya geli dan ikut tertawa kemudian.
"Aku punya seorang Putri, , " Matanya berkaca kaca. Dia menghujani Keiko dengan kecupan di seluruh tubuhnya.
"Kita akan pulang kerumah sayang, , " ucapnya kepada Keiko.
__ADS_1
Aileen dan Koyoko tersenyum, saling melempar pandang. Mereka menikmati pemandangan di depan mata.
Jacq terlihat sangat bahagia, dia tidak menyangka akan mendapatkam seorang bayi sebelumnya. Baginya membawa pulang Koyoko kedalam dekapannya itu sudah merupakan sesuatu hal yang sangat membahagiakan. Terlebih lagi sekarang, dia dikejutkan dengan kehadiran seorang bayi dalam hidupnya. Itu sungguh luar biasa baginya.
Jacq menarik Koyoko kedalam dekapannya bersamaan dengan Keiko. Mengecup kening perempuan itu kemudian berucap.
"Terima kasih, , aku janji, , seluruh hidupku hanya untuk kalian" Jacq mengecup kening Koyoko.
"Kita akan segera menikah" tambahnya.
Mendengar ucapan Jacq, Koyoko mendongak melihat wajah laki laki itu. Dia setengah tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Jacq. Tapi Koyoko meyakini hal itu, kemudian dia membalas pelukannya dengan erat.
♡♡♡
Selang beberapa minggu Jacq memboyong keluarga Koyoko ke Paris.
Tak banyak yang hadir di pernikahan mereka, karena Jack sengaja hanya mengundang keluarga dan teman terdekat. Aileen, David Iris dan Kenzi turut hadir di pesta pernikahan itu.
Jacq membawa Koyoko dan Keiko untuk tinggal di rumah yang sebelumnya telah sengaja di beli oleh laki laki itu.
"Aku membeli rumah ini untuk kalian, kamu bisa membawa Nenek dan Adikmu untuk tinggal di sini" Jacq berucap sambil memberikan kunci rumah itu kepada Koyoko, setelah selesai acara resepsi pernikahan mereka, Jacq langsung membawa Koyoko tinggal di rumah itu.
"Terima kasih, , aku sangat bahagia, aku juga tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya" ucap Koyoko, kemudian memeluk Suaminya.
♡♡♡
Selama berada di Paris ketika menghadiri acara pernikahan Sahabatnya, Aileen tinggal di tempat calon mertuanya. Setiap pagi dia membantu pelayan menyiapkan sarapan untuk semua orang.
"Cieeee, , Calon Istri idaman nih, , " Iris yang baru keluar dari kamar, mencoba menggoda Aileen yang sedang sibuk memasak. Dia kemudian duduk di kursi sambil menunggu Aileen menyiapkan makanan untuknya.
"Tuh kaaaan, mirip banget sama Mamah. kalu masalah ngomel ngomel kamu juara kedua setelah mamah"
Aileen menoleh, melirik Iris yang sedang melahap sarapannya.
"Ya!!, , selama Tante pergi ke luar kota beberapa hari ini, aku akan menjadi Ibu pengganti yang setia mengomelimu setiap pagi!!"
"Terserah deh, , Oh ya, terus bagaimana dengan kuliahmu??"
"Online, , dengan begitu aku bisa melakukannya sambil bekerja" Aileen menguncir rambutnya agar tidak mengganghu ketika dia sedang memasak.
Tak lama Iris mengalihkan pandangannya kearah David yang baru saja datang. Laki laki itu menyuruh Iris untuk diam tanpa memberi tahu kedatangannya kepada Aileen yang sedang berdiri sambil membelakanginya.
Iris mengangguk, memamerkan ibu jarinya kearah David.
"Lalu, sekarang bagaimana hubunganmu dengan Kak David?"
"Kenapa memangnya?, , baik baik saja!" Aileen sempat terpaku, tak lama dia kembali melanjutkan meracik bumbu.
"Apa kamu sangat membenci Kak David??, , tidak bisa ya membiarkan masalah yang sudah lewat, dan memulainya dari awal?, , dulu Kak david sampai masuk"
"Aku tidak bisa!!" Aileen memotong pembicaraan. Seketika suasana di ruang itu hening seketika.
"Aku tidak bisa memaafkan Kakakmu sebelum aku puas membalas rasa sakit yang dia berikan padaku dulu!!" tambahnya.
Iris melirik kearah David yang ada di bawah sana. Memastikan bahwa laki laki itu mendengar ucapan Aileen dengan baik
__ADS_1
"Tidak baik Tahu, , memendam rasa dendam terlaku lama"
"Apa kamu merasakan apa yang aku rasakan??" Aileen dan Iris terdiam.
"Kalau kamu tidak merasakannya, maka diam itu akan lebih baik, tidak perlu mengguruiku. Kecuali kamu merasakan apa yang aku rasakan saat itu!!" Aileen berucap seolah di dalam hatinya luka itu terlalu dalam. Hingga tak bisa begitu saja di sembuhkan.
Iris mengangkat kedua pundaknya kearah David. Dia merasa sudah kehabisan kata kata.
Laki laki itu menggerakkan tangannya, memberi perintah kepada Iris untuk kembali bertanya kepada Aileen.
Iris berdehem untuk menetralkan suasana. Dia mengerahkan keberanian untuk melontarkan pertanyaan terakhirnya.
"Lalu apakah sampai saat ini tak ada sedikit pun sisa cintamu kepada Kakakku??"
Dengan cepat Aileen memutar tubuhnya, detik itu juga David membungkuk menyembunyikan tubuhnya di bawah meja makan.
"Kenapa kamu tidak diam saja, habiskan makananmu lalu berangkat kuliah!" Aileen berucap dengan lambat agar Iris mendengarnya dengan jelas. Perempuan itu sepertinya tak sadar bahwa dia masih memegang pisau di tangannya ketika menunjuk nunjuk kearah Iris.
"Oke oke, , tapi, , bisakah kamu letakkan dulu pisaunya?, , itu sangat membahayakan" Iris terlihat ketakutan saat itu, karena pisau yang di pegang Aileen sangatlah tajam.
Aileen tersadar, dia sendiri juga terkejut saat itu. Aileen kemudian meletakkan kembali pisaunya ke atas meja.
"Maaf, , aku tidak sengaja"
"Oke, , kalau begitu sepertinya aku harus segera pergi" Iris mendekati Aileen perlahan, dia mendaratkan kecupan di pipi calon kakak iparnya. Setelah itu dia bergegas melangkah pergi.
Aileen menghela nafas panjang, dia kembali melanjutkan untuk memasak.
Seorang pelayan yang baru masuk dari arah lain, terkejut dengan Tuan Mudanya yang baru saja bersembunyi di bawah meja.
"Astaga!!"
David langsung menyuruh pelayan itu untuk diam dan pergi dari sana.
"Baik Tuan, " ucapnya dengan lirih, pelayan itu mengangguk, kemudian pergi memenuhi perintah Tuan mudanya.
David bergerak mendekati Aileen, dia memeluk tubuh perempuan itu dari arah belakang.
Aileen sempat terkejut, dia terdiam. Mencium dari aroma tububnya, Aileen langsung bisa menyimpulkan siapa orang yang sedang memeluknya.
Aileen memutar tubuh, seketika dia terlepas dari pekukan itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan!!" Aileen menyipitkan matanya.
"Memelukmu, , memang apa lagi?" David mengangkat tangannya menyentuh pipi Aileen.
"Apaan sih!!" Aileen menepis kasar tangan David. Dia kembali memunggungi laki laki itu.
"Ai, "
"Berhenti memanggilku dengan nama Itu!!, , " Aileen mulai tersulut emosi. mungkin saat ini dia sedang tidak dalam moodnya, apa lagi setelah tadi Iris sempat melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya.
David semakin tak bisa berhenti menggodanya, perempuan itu terlihat menggemaskan ketika sedang marah.
"Ai,, Ai, , Ai" David membisikkan kata itu terus menerus di telinganya dengan lembut.
__ADS_1
Dengan cepat Aileen memutar tubuhnya, dia tak sadar bahwa pisau tajam itu masih melekat di tangannya.