
"Lun?" suara Cici terdengar dari arah belakangnya. Luna mengalihkan pandangan ke arah sahabatnya itu.
"Maaf kalau aku terlambat, aku tadi menyelesaikan kerjaanku dulu" Cici meraih kursi di sebelah Luna dan duduk di sana.
Leo dan Klara pun melempar senyum ke arah Cici.
Mereka menghabiskan jam makan siang bersama.
Setelah urusannya dengan Luna selesai, Leo dan Klara berpamitan untuk pergi terlebih dulu.
Sementara Luna dan Cici masih berada di restoran. Karena Cici sempat mendapat chat dari Adrian kalau dia akan menemui mereka di restoran itu.
"Kamu bawa desainmu?" Cici melirik ke arah Luna sambil menyeruput secangkir teh.
"Ya nggak lah!, , kamu bilang dia mau ngajak ketemu aja barusan. Aku cuma bawa laptopku!" Luna mengeluarkan brang elektronik berlayar 14inc itu dari dalam tasnya.
"Itu saja sudah cukup!" Cici mendaratkan tatapan matanya ke arah leher Luna yang terlihat memerah.
"Luna!!" teriaknya.
"Apaan sih, orang aku di sini juga nggak kemana mana. Kenapa teriak coba!" Luna meraih daun telinganya seolah suara sahabatnya itu benar benar membuat rongga telinganya berdengung.
Cici mengambil sebuah kaca dan memberikannya ke pada Luna.
"Lihatlah lehermu yang penuh dengan noda" cibirnya.
"Noda??" Luna mengulangi ucapan sahabtanya itu dengan nada bertanya.
Mulutnya nampak menganga lebar saat melihat bagian samping lehernya banyak tanda merah di sana.
"Baraaaaacck!!!"
"Aduh!!, , gimana ci. Kalau sampai Pak Adrian datang" Luna nampak gelisah dia berfikir bagaimana caranya menutupi bekas merah di bagian leher samping.
"Lepas saja ikatan rambutmu!"
"Oah.,. iya ya" Luna melepas ikatan rambutnya, manata serapih mungkin agar bisa menutupi bagian lehernya.
drrrtttt, drrrtttt
Ponsel Luna berdering, dia mendapat panggilan dari suaminya.
Setelah meraih ponsel dari dalam tasnya dia menjauh dari Cici untuk menjawab panggilan dari Barack.
"Hallo?"
"Kamu masih di sana?, belum pulang?" Barack meluangkan waktunya untuk menelpon Luna di sela sela waktu saat menemani kliennya belanja.
"Mm, belum. Ini juga Pak Adrian minta ketemu secara mendadak. Jadi spertinya aku pulang agak sorean"
Barack tak menyahut ucapan Luna. Di seberang sana dia tengah memilih warna baju yang sesuai dengan Helena dan itu semua karena paksaan dari perempuan itu.
"Terserah yang mana saja cocok!" ucapnya kepada Helena. Namun Luna bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apanya yang cocok?. Aku sedang berbicara denganmu Barack!" Luna merasa agak kesal karena Barack tidak menanggapi ocehannya.
"Maaf. Iya tidak apa apa, kalau pulangnya sore nanti aku jemput saja ya?"
Luna menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kamu sedang dimana?" dahi Luna berkerut setelah mendengar suara keramaian di sekitar Barack dari arah telepon.
"Mm, aku sedang di luar. Menemani klien" Barack ingin mengatakann kalu dia sedang menemani Helena berbelanja. Namun Luna ingin bertemu dengan rekan kerjanya jadi dia mengurungkan niatnya itu takut kalau bisa merusak mood Istrinya nanti.
"Sebentar lagi juga pulang ke kantor"
"Oowhh" ada guratan kekecewaan di wajah Luna pasalnya dia tahu kalau klien suaminya kali ini seorang perempuan.
"Hati hati ya" suara Barack seketika memecah lamunan Luna.
"Kenapa?"
"Soalnya Adrian ganteng!"
"Terus??? apa hubungannya?"
"Takut kamu kecantol"
"Ih hati hati kalau ngomong, suka jadi kenyataan loh!"
"Ih ih, , jangan dong!!"
Luna seketika tertawa saat mendengar Barack terus berucap menyesali perkataannya.
Di sisi lain, nampak seorang Laki laki keluar dari ruangan khusus dan menuju ke arah meja di mana Cici sedang duduk.
Mata Cici langsung tertuju ke arah laki laki itu.
"Pak Adrian?" Cici berdiri sambil mengulurkan tangannya ke arah laki laki itu.
Adrian membalas uluran tangan dari cici.
"Temanmu??"
"Oah, iya sebentar dia sedang ada panggilan"
Akhirnya Adrian duduk di kursi untuk menunggu Luna.
Luna nampak sedang berjalan kembali ke arah meja setelah menutup panggilan dari suaminya.
"Maaf" Luna nampak memerah wajahnya karena sudah membuat orang yang di tunggu tunggu tengah menunggu dirinya, setelah melihat soksok laki laki yang sedang duduk dari arah belakang.
"Lun, ini Pak Adrian" Cici memperkenalkan laki laki itu kepada sahabatnya.
Luna pun kembali ke tempat duduknya dan membuang pandangannya ke arah laki laki yang ada di sampingnya.
Wajahnya memaku saat melihat bahwa Adrain adalah laki laki yang sudah menolongnya tadi.
"Kakimu sudah baikkan?" pertanyaan Adrian memecah lamunan Luna seketika.
"Ee, , iya. Oah ya terima kasih tadi bantuannya" Luna masih merasa gugub saat bertemu dengannya lagi.
"Luna" dia mengulurkan tangannya ke arah Adrian.
"Adrian" laki laki itu membuang senyum ke arah Luna sambil membalas uluran tangannya.
Cici berdehem untuk mengambil perhatian Luna.
"Maaf Ci, tadi sebenarnya Pak Adrian sempat menolongku sebelumnya" Luna berusaha menjelaskan seolah dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
Sambil mengangguk pelan mulut Cici membulat namun tak mengeluarkan suara.
"Oh iya maaf aku tidak membawa lamaran kerjaku"
"Tidak perlu, aku tidak membutuhkan itu" laki laki itu memotong pembicaraan dan tersenyum ke arah Luna.
"Kalau kamu belum menyiapkan desainmu juga tidak apa apa. Bisa lain kali" tambahnya.
"Oh, aku hanya menyimpannya beberapa di laptopku" Luna mengarahkan layat digital itu ke arah Adrian.
Dengan senang hati Adrian langsung melihat desain milik Luna.
Dua orang di hadapan cici nampak sangat akrab saat membicarakan masalah desain itu. Seolah sudah mengenal sangat lama.
Sesekali mata Adrian melihat ke arah rambut Luna yang sudah tergerai, pasalnya tadi dia sempat melihat kalau rambutnya di ikat rapih.
Dia tahu sepertinya perempuan yang tengah sibuk menjelaskan desainnya itu sedang menutupi bekas merah di lehernya.
Adrian pun tersenyum tipis.
Sementara Cici dia menyangga kepalanya dengan malas.
"Berasa obat nyamuk. Tahu gini tadi aku ikuti saran dari Luna untuk meninggalkannya"
Cici menatap malas ke arah Luna.
Dan sahabatnya itu menyadari kalau Cici seolah seperti tak di anggab. Luna langsung menarik kembali laptopnya dan menutup pelan.
"Maaf hanya itu yang bisa aku perlihatkan, mungkin selebihnya"
"Tidak perlu" ucap laki laki itu memotong pembicaraan.
"Aku sudah cukup puas dengan ini, tapi kalau kamu ingin memperlihatkan padaku yang lainnya bisa bawa besok, sekalian kita bahas kontrak kerjanya" ucapnya seraya melihat ke arah jam di tangan kirinya.
Luna dan Cici hanya saling melempar pandang satu sama lain.
"Maaf tapi aku harus segera pergi, besok tempat dan waktunya akau akan chat kamu ya" Adrian melihat ke arah Cici.
"Iya pak" Cici masih terlihat sedikit terkejut dan tak percaya. Dia merasa sangat senang dan berloncat loncat kecil setelah Adrian pergi.
"Ci aku nggak salah dengar kan??, , barusan dia bilang masalah kontrak??"
"Aku pikir cuma aku yang salah dengar. Aaaaaaaa!!!" Cici dan Luna speechless mendengar ucapan Adrian. Karena mereka sebelumnya tidak mengira akan dengan semudah itu mendapatkan kontrak kerja dengannya.
♡♡♡
Cici harus kembali ke kantor karena ponselnya tertinggal di laci meja sore itu.
Dia berjalan ke arah ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Aryo dan seorang perempuan di dalam ruangan itu.
"Pelan pelan ya!, , sakit soalnya, perih lagi"
Suara perempuan itu terdengar seperti sedang merintih kesakitan.
Tubuh Cici memaku, wajahnya semakin memerah padam karena menahan emosi.
"Jangan di paksa Pak, nanti lecet" suara perempuan itu semakin menggila di telinga Cici.
"Iya sabar, aku juga sedang berfikir bagaimana caranya agar tidak sakit!" mendangar suara Aryo Cici dada Cici semakin memanas.
__ADS_1