Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#173 Akhir


__ADS_3

Barack menghentikan laju mobilnya di garasi. Sejenak dia menyandarkan tubuhnya untuk menenangkan diri sebelum masuk ke dalam rumah. dia sedang memantapkan hati untuk menemui Luna. Entah bagaimana Luna akan menghadapi semuanya jika mengetahui David berada di tangan Adrian. Pasalnya dia sudah meminta dirinya untuk berhentimencari keberadaan Ernest sebekum hal itu terjadi.


Beberapa saat kemudian Barack melangkah keluar dan masuk ke dalam rumah.


Dia berjalan melewati sebuah lorong yang yang menghubungkan langsung ke arah ruang keluarga.


Langkahnya terpaku ketika melihat Luna tengah duduk tertunduk di sofa.


Perasaan tak nyaman mulai menggelayuti hatinya. Ujung mata Barack sempat tertuju ke arah Lilis yang berdiri di ujung sana. Dia melihat perempuan itu sempat menangis sebelum akhirnya menundukkan kepalanya.


Dia kembali melangkah dengan perlahan mendekati Luna. Dia meraih kedua pundak perempuan itu. Namun Luna menepis dengan kasar tangan Barack.


"Lun??, , " ucapnya dengan nada lembut.


Perempuan itu masih tertunduk, tangannya sesekali terlihat menyeka air matanya yang terus mengalir ke pipi.


"Kenapa kamu melakukan itu?, , kenapa kamu masih keras kepala untuk berhubungan dengan Ernest!!!" Luna bangkit dari sofa, dia memutar tubuhnya menghadap kearah Barack. Matanya terlihat sangat merah, seolah dia sudah berjam jam menangis di sana.


Sebelumnya Adrian telah menguhubungi Luna dan mengatakan kalau David ada bersamanya. Dan itu semua dia lakukan karena Barack tak mau mendengar ucapannya.


"Kenapa Barack??, , kenapa kamu keras kepala? kenapa kamu tidak mau mendengarku??, , kalau seperti ini. Apa yang akan kamu lakukan untuk membawa David kembali?? ha!!!" Luna mulai menaikkan nada bicaranya dia sempat tak bisa mengendalikan emosi di dalam tubuhnya.


Luna mulai melempar semua barang yang ada di sekitatnya kearah Barack. Karena saking kesalnya dia sempat mengangkat sebuah vas bunga yang terbuat dari keramik dan ingin melemparkannya kearah Laki laki itu.


Tetapi Luna memaku tangannya dan mengurungkan niatnya untuk melempar vas itu, setelah melihat raut wajah Barack yang juga terlihat sangat terpukul dengan situasi yang sedang mereka hadapi.


Akhirnya Luna membanting vas ke arah lain.


Pyarrr!!!!


"Kenapa diam??, , kamu tidak bisa menjawabku!!, ," Luna melangkah mendekat kearah Barack dia menarik kerah kemeja laki laki itu dengan kedua tangannya.


"Kenapa kamu hanya diam!!, , kenapa kamu tidak berusaha membawa kembali Putraku!!, , " Luna mulai berteriak. Kedua matanya telah banjir dengan air mata.


"Karena dia ingin menukar David dengan dirimu!! dia menginginkan tubuh dan juga jiwamu! kamu pikir aku mau melakukannya!!" Barack yang sempat tersulut api di dadanya pun terpaksa harus mengatakan hal itu. Hal yang sebelumnya tak ingin dia katakan kepada Luna.


Wajah Luna memaku, dia melepas kerah kemeja Barack dan menarik kembali tangannya. Kini perempuan itu melangkah mundur menjauh dari Barack.


Dia menatap laki laki itu dengan tatapan


ragu.


"Baik, ," ucapnya seketika.


Barack langsung membulatkan penuh matanya.


"Apa maksudmu??"


"Bawa aku menemui Adrian!, , kamu bisa menukarku dengan David. Jika itu yang dia inginkan. Yang terpenting bagiku adalah kebebasan David" tatapan Luna terlihat kosong, seolah dia berucap tanpa memikirkannya terlebih dulu.


"Luna! kamu sudah gila!!!" Barack meraih pundak Luna dan mengguncang tubuh perempuan itu untuk mengembalikan kesadarannya.


"Bagiku kamu dan David adalah orang yang paling penting di hidupku!!, , aku tidak akan membiarkan Adrian mengambil kalian berdua!"


"Tapi aku ingin David kembali!!, , " Luna mulai menangis di dekapan Barack, ketika laki laki itu telah memeluknya untuk memberi ketenangan.


"Aku akan membawanya kembali, aku janji. Tapi kamu harus dengarkan aku" Barack melepas pelukannya. Kini dia menatap wajah Luna dengan lekat.


"Jangan pernah berfikir untuk menyerahakn dirimu kepada Adrian!, , kamu mendengarku!!" Barack berucap dengan nada penuh penekanan untuk mengembalikan kesadaran Luna yang sempat kembali melamun.


Perempuan itu memang menatap mata Barack, namun otaknya sedang mamikirkan hal lain.


Barack menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali memeluk tubuh Luna dengan erat.


♡♡♡


Barack terlihat sedang berdiri di balik kaca jendela sambil menatap jauh kedepan, Dia terlihat sangat buruk. Karena semalam tak bisa memejamkan matanya sedetik pun.


Mereka berdua berada di ruang kerja, dia sengaja menutup pintunya rapat agar Luna tak mendengar pembicaraan mereka.


Sementara Nathan, dia sedang duduk sambil menatap lekat ke arah layar ponsel milik Barack yang ada di atas meja.


Dan ketika ponselnya bergetar, seketika Barack langsung mengalihkan pandanganyna. Dia bergerak cepat mengambil ponselnya dan menatap layar itu dengan tajam.


Seperti yang sedang di tunggu tunggu. Adrian saat itu telah menghubunginya untuk memberi tahu lokasi di mana mereka akan bertemu.


"Halo!!, , " Barack berucap dengan dingin, wajahnya terlihat waspada setelah mendengar suara Adrian.


"Yaaa!!!, , ini aku" Laki laki itu sepertinya sedang menyeringai dengan lebar di seberang sana.


"Di mana tempatnya!!" Barack berucap dengan pasti, karena dia tidak ingin mengulur ulur waktu.


"Sabar, , tenang saja. Aku pasti akan memberitahumu di mana kita akan bertemu. Tetapi aku harus memastikan dulu bahwa kamu akan membawa Luna"


Sejenak Barack memaku bibirnya, dia memejamkan matanya dalam dalam Sebelum akhirnya menjawab permintaan Adrian.


"Ya!!, , aku akan membawanya!"


"Sepertinya aku mencium bau bau kebohongan!, , ingat barack David masih ada bersamaku, jangan berani bermain main denganku" ucapnya seperti sebuah ancaman bagi Barack.


"Jangan pernah menyentuhnya. Kalu aku melihat ada Luka segores saja di tubuh Putraku. Maka perjanjian kita batal" Barack mendengar suara kekehan dari mulut Adrian, di seberang sana laki laki itu seakan mengetahui semua rencana Barack.

__ADS_1


"Tenang, aku tidak akan melukai David sedikit pun. Pukul 10 di gedung G lantai dasar. Aku akan menunggumu di sana!" Adrian langsung mamatikan ponselnya.


Barack dan Nathan terlihat sedang saling menatap. Setelahnya mereka bergerak keluar dari ruang kerja. Barack sempat memastikan keadaan Luna yang sedang tertidur pulas karena dia sengaja memberinya obat penenang.


Barack mengalihkan pandangannya ke arah Lilis yang aedang terduduk di kursi sebelah ranjang.


"Jangan biarkan dia keluar dari rumah"


Lilis pun menganggukkan kepalanya.


Setelah mobil Barack keluar dari rumahnya, nampak sebuah mobil sedan silver mengikuti mobil Barack dari arah belakang.


♡♡♡


Barack dan Nathan telah sampai di tempat tujuan. Namun karena mereka tak mengajak Luna seperti keinginan Adrian, akhirnya Barack memutuskan untuk melewati pintu lain. Nathan membawa beberapa anak buahnya untuk membantu Barack melepaskan David.


Mereka terlihat bergerak cepat, karena memang Anak buah Nathan sudah terlatih untuk itu.


Mereka menghabisi anak buah Adrian yang sedang berjaga dari satu persatu. Melewati setiap lorong dan kembali meringkus setiap panjaga di setiap sudutnya, lorong itu membawa mereka agar lebih dekat dengan tujuan.


Adrian memang tidak bodoh, dia sedang mengawasi gerakan Barack melewati CCTV yang sebelumnya sengaja dia pasang di setiap sudut yang memungkinkan bagi Barack akan melewati salah satu jalan lain di tempat itu.


Laki laki itu nampak sedang tersenyum sinis. Sebelum akhirnya memutuskan untuk membawa David keluar dari persembunyian dan menunggu Barack di lantai dasar dari balik pintu.


♡♡♡


Barack nampak menyelidik ke setiap sudut lantai itu, namun dia tak melihat Adrian atau pun David di sana.


Barack masih terus melanjutkan langkah kakinya menuju ruang tengah.


"Aku akan mengawasimu di sini, kamu pergilah menemui Adrian. Sementara anak buahku yang akan menyingkirkan Anak buah adrian di luar sana" Nathan berbisik kepada Barack, dia seolah sedang memberi instruksi kepada laki laki itu agar bersikap tenang.


Setelahnya Nathan memberi perintah kepada anak buahnya untuk menyebar.


Setelah Nathan menganggukkan kepala, seolah dia telah siap, akhirnya Barack melanjutkan langkahnya. Dia berjalan menuju ke tengah ruang.


Barack memutar tubuhnya untuk memastikan keberadaan Adrian.


"Kamu sedang mencariku?" suara Adrian terdengar dari arah belakang Barack. Laki laki itu berjalan kearahnya tanpa mengajak David.


"Di mana David?" ujung mata Barack nampak terlihat sedang menyelidik kearah Adrian.


"Kenapa aku harus membawa David, kamu saja tidak membawa Luna sesuai dengan permintaanku!" Adrian berucap dengan tenang, namun terdengar memprovokasi kepada Barack.


"Kamu pikir aku sudah gila? aku tidak akan memberikan Luna kepadamu!!, , di mana David?" Barack berseru kearah Adrian.


Kini Adrian terlihat berjalan mengitari Barack, matanya mengerucut dan terus menajam kearah Barack.


"Kamu tidak membawa Luna??, , maka aku yang akan membuat perempuan itu datang sendiri" Adrian mengirim sebuah pesan singkat kepada Luna melalui ponsel di tangannya.


"Aku belum puas sebelum melihatmu tersiksa!!"


" Aku tidak pernah berbuat salah denganmu sebelumnya. Kenapa kamu bisa melakukan ini kepadaku!"


Seringaian yang sedari tadi menghiasi wajah Adrian kini tiba tiba menghilang dan berganti guratan amarah.


"Karena kamu mendapatkan seorang wanita yang teramat terlalu mencintaimu!!, keluarga kalian juga terlihat sangat bahagia. Luna perempuan yang sangat setia. Tetapi dia juga mudah goyah. Aku berharap ketika aku bisa menyingkirkanmu, aku akan dengan sangat mudah mendapatkan cintanya. Tetapi aku salah, perasaannya terhadapmu tak bisa aku hapus begitu saja. Hingga akhirnya kamu datang kembali dan menrusak segalanya. Pantasnya kamu harus mati saat itu, , atau saat ini juga?" Adrian meraih pistol dan mengarahkannya ke kepala Barack.


Barack tak bergeming laki laki itu tak memperlihatkan rasa takut sedikit pun, dia masih berdiri tegap di depan Adrian. Dan hal itulah yang membuat Adrian semakin menggila karena dirinya tak berhasil mengintimidasi Barack.


"Kamu ingin membunuhku?" Barack berucap tanpa keraguan sedikit pun.


"Aku tidak akan membuatmu semudah itu untuk menemui ajalmu!!" Adrian mengangkat tangannya, dia memberi perintah kepada Anak buhanya untuk membawa David keluar.


"Ayah!!" suara kecil itu menggema di setiap sudut ruangan.


Barack melihat kedua tangan David telah diikat dengan kuat.


"Jangan berani bergerak selangkah pun" Adrian berucap setelah melihat Barack menggerakkan sedikit tubuhnya ke arah David. Hati Barack seperti di sayat sayat, dia tidak pernah memperlakukan David dengan kasar, dan ketika dia melihat orang lain telah menyakiti Putranya Barack seakan tak bisa menahan perasaannya lagi. Air matanya menetes begitu saja.


Kini tangan Adrian tengah mencengkeram pundak Anak kecil itu dengan kuat.


David terlihat begitu tegar dia seperti sudah bisa mengendalikan dirinya ketimbang kemarin saat pertama kali Adrian membawanya.


"Pilihlah, kamu dulu yang aku tembak, atau Putra tercintamu ini?" Adrian tertawa menikmati ekspresi wajah Barack yang mulai terlihat berubah.


Rahang Barack menguat, dia terlihat berusaha menahan amarah.


"Lepaskan dia!!" teriaknya.


"Singkirkan dulu orangmu yang tidak berguna itu!" ucapnya merujuk kepada Nathan yang sedari tadi telah membidik kearahnya .


"Gerakanmu sudah terbaca Barack, suruh mereka pergi dari tempat ini!! atau aku akan berbuat kasar dengan David!"


Barack memalingkan wajahnya, dia melirik ke arah Nathan yang berada di kajauhan. Dia menganggukkan kepala agar pergi meninggalkan tempat itu.


Namun Nathan terlihat menatap Barack dengan pandangan tak pasti, baginya tidak mungkin meninggalkan Barack di tempat itu sendirian.


Barack menghela nafas sebelum akhirnya menggelangkan kepala ke arah Nathan. Dia memastika bahwa dirinya kan baik baik saja.


Akhirnya nathan meninggalkan tempat iti.

__ADS_1


"Semua keinginanmu sudah aku penuhi dari kemarin. Dan hari ini juga, jadi aku mohon sekarang lepaskan David!" Barack berucap dengan nada memohon.


"Tidak !!, , sebelum Luna datang dan menyerahkan diri kepadaku" Adrian berucap dengan angkuh.


"Adrian!!, , kamu"


"Lepaskan dia!!" Luna yang baru saja muncul dari arah lain memotong pembicaraan.


Hingga membuat Ujung mata Barack tertuju kearahnya.


Barack menggelangkan kepalanya.


"Luna apa yang kamu lakukan di sini?" Barack nampak tak percaya melihat perempuan itu berada ada di sana.


"Lepaskan Putraku!" Luna berjalan mendekat, matanya tertuju kepada David yang sedang tak berdaya.


"Mah??" suara David terdengar sangat lemar, Luna tak kuasa melihatnya. Namun dia berusaha berdiri dengan tegap di deoan Adrian.


"Kemarilah, maka aku akan melepaskan David" Adrian terlihat mengulurkan tangannya ke arah Luna, dia berharap Luna akan menerima uluran tangannya.


"Lepaskan dia, maka aku akan menyerahkan diriku!" Luna menghentikan langkahnya.


"Jangan lakukan itu Luna" Barack berucap dengan lirih.


Perempuan itu terlihat mengacuhkan permohonan Barack.


"Kamu yakin??" ucap Adrian, dia berusaha meyakinkan dirinya.


"Tetapi kenapa aku tidak yakin sebelum aku melihat ekspresimu untuk yang satu ini!" seketika Adrian mengarahkan pistolnya ke arah Barack dan menembak laki laki itu tepat di lengannya.


Dooorrr!!!


"Ayaaaahh!!!" jeritan David melengking di rongga telinga Barack.


Kini darah segar langsung mencuat keluar membasahi jas hitamnya.


Luna yang terkejut pun langsung berlari kearah Barack.


"Barack!!" Luna memeluk tubuh laki laki itu, dan berdiri di depannya seolah dia menjadi perisai untuk Barack.


"Itu hanya permulaan, dan kamu sudah berlari lagi kearahnya??" Adrian semakin terbakar emosi.


Kini dia kembali mengarahkan pistolnya ke arah mereka berdua.


Sementara David, anak kecil itu harus menyaksikan kejadian yang mengerikan tepat di depan matanya.


Barack nampak meringis menahan sakit di lengan kirinya.


"Menyingkir Luna!, atau kamu akan terluka!" Bisik Barack.


Di sisi lain, Nathan terlihat kembali menuju ke ruang itu dengan sebuah senapan di tangannya. Dia memposisikan dirinya dengan sangat baik agar mempermudahnya untuk menembak Adrian.


"Aku akan membunuh kalian semua" Adrian semakin tidak waras, dia sudah tidak bisa mengontrol amarah di dalam tubuhnya ketika melihat Luna lebih memilih untuk berlari kearah Barack.


"Jika aku tidak bisa memiliki Luna, maka tidak akan ada yang bisa memilikinya"


Nathan terlihat sedang membidik kearah Kepala Adrian, baginya laki laki itu harus di tembak mati jika ingin menyelamatkan mereka bertiga.


Kini Adrian sudah mengarahkan pistolnya kearah Luna namun dengan cepat Barack memeluk tubuh perempuan itu dan memutar mengubah posisinya hingga Barack kini telah beganti menjadi perisai untuk Luna dengan memunggungi Adrian.


Doooorrr!!!


Luna yang berada di pelukan Barack terlihat membulatkan penuh matanya. Jantungnya serasa sudah meledak hingga hancur perkeping keping ketika mendengar letupan pistol saat itu. Dia membalikkan tubuhnya untuk memastika keadaan Barack.


Namun laki laki itu masih bisa berdiri dengan tegap, dan tak terdapat luka di bagian tubuhnya.


Mereka berdua pun mengalihkan pandangan mata mereka ke arah Adrian yang tangah berdiam diri, dengan luka tembakan di kepalanya.


Tubuh laki laki itu kini jatuh tersungkur ke lantai begitu saja. Darah segar mulai keluar dari kepala Adrian dan mengalir ke lantai.


Sementara Nathan terlihat mengernyutkan dahi karena dia belum sempat menarik pelatuknya. Namun Adrian sudah terkapar di lantai. Ujung matanya tetuju ke arah lain, dia melihat seorang wanita tengah berdiri di sana dengan membawa sebuah senapan di tangannya yang masih terarah ke tampat di mana Adrian sebelumnya berdiri di sana.


Barack dan Luna segera berlari ke arah David yang terkulai lemah saat itu. Anak kecik itu sudah berfikir bahwa kedua orang tuanya akan terluka berat karena tembakan kedua yang di arahkan Adrian kepada kedua orang tuanya.


Luna menghujaninya dengan kecupan bertubi tubi di seluruh tubuhnya.


Sementara ujung Mata Barack tertuju kearah Perempuan yang sedang melangkah mendekati mereka.


Barack beranjak berdiri, dia menelan ludahnya dengan susah payah.


"Helena???" gumamnya.


"Ya!!, , maaf mengejutkanmu!. Beberapa hari yang lalu aku sempat menguping pebicaraanmu dengan Satya di kantor. Mulai dari saat itu aku juga mengikuti kemana pun kamu pergi. Aku memasang penyadap di dalam mobilmu, , aku mendengar Ernest menceritakan semua tentang kronologi kematian Felis!" Helena berucap untuk menjelaskan semuanya.


"Lalu bagaimana kamu bisa melakukan ini tanpa, , tanpa"


"Tanpa keraguan??" Helana meneruskan ucapan Barack.


"Felis adalah adikku!!, , lebih tepatnya Adik angkat. Ayahku mengadopsinya saat dia berumur 2 tahun. Aku dan dia menjadi sangat dekat saat itu. Aku sangat sangat sangat menyayanginya, aku juga bahagia untuknya saat dia menikah dengan Adrian, karena aku juga tidak tahu kalau dia ternyata memiliki seorang kekasih Sebelum mereka menikah. Karena dia memang sedikit tertutup denganku. Aku benar benar terpukul ketika mendengar kematian Felis secara tiba tiba. Aku juga tidak yakin kalau saat itu Alexlah pelaku utamanya. Maka dari itu aku sangat berterima kasih denganmu karena sudah mau mencari tahu tentang Adrian"


Ujung bibir Barack terangkat.

__ADS_1


"Aku juga berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan Kami!"


Helena menepuk pundak Barack, mencoba memberi ketenangan pada laki laki itu.


__ADS_2