
Bunga hampir kehabisan nafas kedua tangan yang sebelumnya nampak menyilang di dada kini mencengkeram kuat lengan Davien. Tak bisa berbuat banyak Bunga hanya bisa merasakan bibirnya yang terasa sakit hampir mati rasa karena Davien menciumnya kasar.
Menyesap bibirnya kuat secara bergantian, menggigit kecil lalu menyesapnya lagi tak ada ampun. Davien tidak memberi kesempatan kepada Bunga menghela nafas.
Sangat sulit baginya menjauh ketika Davien mencengkeram leher dengan kedua telapak tangannya yang besar dan kekar.
Bunga berusaha mendorongnya agar menjauh saat merasa dadanya kering karena kehabisan oksigen. Tetapi merasakan otot di lengan Davien begitu kuat dan keras, Bunga tak memiliki kekuatan apapun untuk mengimbanginya. Mencoba melepaskan kedua tangan Davien yang masih membelenggu lehernya saja dia tak mampu.
Davien begitu kuat, alkohol di tubuhnya seolah tak mampu mengurangi kekuatannya meskipun hanya sedikit, yang ada justru alkohol di dalam tubuhnya sudah bercampur dengan darah yang mulai memanas.
Seketika Bunga melemah tak ada lagi kekuatan untuk melawan. Bisa menghirup oksigen di saat ada kesempatan saja sudah seperti menemukan oase di gurun pasir baginya.
Dengan sangat ganas Davien mulai tak bisa mengendalikan diri. Tubuhnya bereaksi setelah mencium Bunga. Tak lagi ditahan Davien memainkan indra perasanya menyelusup masuk secara paksa, menyentuh langit-langit di dalam mulut Bunga.
"Davv–, mh!" Bunga tak dapat berucap Davien sengaja tak memberinya kesempatan. "Dav... mmm! Davien.. ngh... hen, ti... henti... kan!" suaranya semakin lemah.
Davien tak lagi terpacu dengan bibirnya, dia mulai sibuk mengecup leher Bunga meninggalkan jejak basah.
Di saat itu Bunga menghirup udara sepuasnya, memenuhi dadanya yang sempat kering dengan oksigen. Hah! hah! Nafasnya terengah-engah.
Belum selesai, Davin mendorong tubuhnya hingga membentur pintu yang ada di belakang Bunga.
"Ngh! Davieen!" rintihnya, Bunga berusaha berucap untuk menghentikan lelaki itu. Sekuat mungkin mengendalikan diri saat tubuhnya bertubi-tubi dihujani dengan kecupan yang menyerang seluruh syarafnya sehingga otot di seluruh tubuhnya seakan melemah, Bunga seketika merasa kehilangan tenaga.
__ADS_1
Mendengar Bunga berucap, dengan cepat Davien menggunakan salah satu tangannya untuk membungkam mulutnya.
Setelahnya Davien kembali fokus dengan apa yang sedang dia lakukan. Tak hanya mengecup, Davien bahkan mencercap lalu menggigit kecil setiap permukaan kulit di bagian dadanya. Bekas yang ditinggalkan Davien berwarna merah sampai kehitaman. Menandakan betapa kuatnya lelaki itu saat menyesap kulit tubuhnya.
Kedua tangan Bunga mencengkeram kuat lengan Davien. Tak peduli lagi kukunya yang menancap di sana meninggalkan bekas begitu dalam tak luput ada sebagian kulitnya yang merah karena tergores.
Entah apa yang akan dilakukan oleh Davien selanjutnya tetapi, Bunga tahu bahwa malam ini dia terlihat sangat berbeda.
Dengan sekuat tenaga mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang hilang karena tubuhnya lebih merespons apa yang Davien lekukan, Bunga masih tak menyerah berusaha mendorongnya menjauh. "Dav? Davien... apa yang sedang kau lakukan?" nafasnya terengah-engah, akhirnya setelah ke sekian kali Bunga berhasil mendorong Davien menjauh darinya.
Raut wajahnya berubah beringas seperti bukan Davien yang dia kenal.
"Bukankah kau ingin melihat kalau aku tidak main-main dengan hubungan ini?? Apa kau kurang yakin?"
"Aku belum selesai Bunga!!" suaranya meninggi, Davien masih dikuasai oleh amarahnya. Padahal Bunga sudah meminta secara baik-baik untuk membicarakannya dengan kepala dingin. Tapi Davien menolak, pikirannya kalut tak bisa dikendalikan.
Kembali Davien mendekat lalu mengunci perempuan itu dengan kedua tangannya yang bersandar di pintu membuat Bunga tak bisa bergerak. Apa lagi Davien dengan sengaja mendorong tubuhnya menekan tubuh Bunga. Sengaja Davien menekan tepat di bagian sensitif agar Bunga bisa merasakannya.
Nafasnya sempat sesak saat Davien menekan dada Bunga dengan dadanya yang bidang. Tetapi yang lebih menarik perhatiannya adalah, tepat di bagian bawah sana. Matanya membulat ketika Davien dengan sengaja ingin membuat Bunga tahu kalau tubuhnya tak bisa lagi di kendalikan.
"Davin kau!" Bunga tak sanggup melanjutkan ucapannya, ada rasa gugup bercampur marah saat merasa ada sesuatu yang mengeras di bawah sana.
Dengan santai seperti tak ada rasa malu, Davien berucap. "Kenapa? Kau bisa merasakannya, bukan? Kau bisa merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini! Kau sedang membangunkan singa yang tertidur selama bertahun-tahun Bunga! Dan satu hal" Davien berhenti berucap, menundukkan kepala menempelkan dahinya di dahi Bunga, membuat jarak di antara wajah mereka setipis kertas. Nafasnya menderu terasa sangat panas ketika menyapu wajah Bunga.
__ADS_1
"Kau tahu! Satu hal yang aku benci hari ini... aku, tidak suka melihatmu tersenyum kepada lelaki lain! Di saat kau membuatku sakit, kau malah pergi dengannya?!"
Keningnya berkerut, Bunga semakin bersalah setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Davien. "Davien, aku–," lagi-lagi ucapannya terputus, Davien tak memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk membela diri.
"Aku belum selesai Bunga! Berapa kali aku harus mengatakan kepadamu! Siapa yang menyuruhmu berbicara untuk melakukan pembelaan?!" Davien menutup matanya rapat, menghirup aroma wangi yang keluar dari tubuh Bunga.
Seketika darah yang mengalir di tubuhnya kembali berdesir hingga memanas. Dengan cepat Davien kembali membuka matanya menatap tajam mata Bunga.
Sementara itu, Bunga terpaku tak bisa berucap. Dia ketakutan saat melihat ekspresi Davien yang berubah semakin gelap.
"Tubuhku sedang tersiksa Bunga, hanya kau... hanya kau yang bisa mengakhiri siksaan ini!" bisiknya menggambarkan rasa sakit menahan tubuhnya yang tersiksa.
"Aku... tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan Davien! Jika aku melakukan kesalahan atas apa yang aku katakan kemarin... aku minta maaf untuk itu." Bunga benar-benar sedih melihat Davien kecewa karena ucapannya kemarin. 'Sesusah itukah memaafkanku?'
Davien sudah tak bisa lagi mendengarkan ucapannya. Konsentrasinya hanya tertuju kepada bibir merah merekah bak sebuah Cerry yang siap untuk dilahap. Terlebih lagi bibir itu sedikit membesar karena Davien menciumnya dengan kasar.
Tangannya bergerak merangkup wajah Bunga, ibu jarinya perlahan mengusap bibirnya yang basah. Dengan sedikit tekanan membuat bibir milik Bunga itu bergerak sensual, sempat terlihat bagian giginya yang rapi sesaat. Matanya semakin sayu setengah tertutup, suaranya terdengar parau seakan Davien benar-benar tersiksa dengan semua itu.
"Davien aku minta maaf" Bunga masih tak mau menyerah untuk terus meminta maaf.
Suaranya yang lembut menggema di telinga Davien seakan menambah deretan siksaan pada tubuhnya. Dia mulai tak bisa menahan sesuatu yang saat ini sudah menegang keras tak terkendalikan lagi. "Semuanya... sudah terlambat Bunga! Jika aku tidak menyelesaikan ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diriku setelahnya. Tapi apa yang terjadi nanti... ini juga sebagai sebuah bukti bahwa aku memang serius denganmu!"
Tanpa peringatan Davien menyambar bibirnya tanpa ampun. Kali ini Davien seakan merasa kehausan, berusaha menghisap seluruh inti sari di dalam mulut Bunga yang semakin membuatnya lepas kendali tak bisa mengontrol diri.
__ADS_1
Bunga tak bisa berkutik matanya terbelalak. Sepertinya tak ada kesempatan lagi untuk melawan karena ciuman kali ini terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya