Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#2 PENOLAKAN LAGI


__ADS_3

Pagi itu Luna berjalan melewati koridor menuju kelasnya, kelas bahasa asing. Kelas masih sepi belum terlalu banyak anak yang datang.


Saat akan memasuki ruang kelas Luna menghentikan langkahnya di depan pintu masuk, dia terkejut melihat sosok lelaki yang sedang duduk di bangku barisan belakang. Tanpa berpikir panjang dia melangkahkan kakinya mundur ke belakang perlahan.


Bersembunyi di balik tembok untuk mengintai lelaki itu.


"Itu benar dia, bukan? aku tidak salah lihat, 'kan?" gumamnya, Luna mengedip matanya dan sesekali membenarkan kaca mata lalu dia kembali mengintip dari sela jendela kaca perlahan.


"Hayooo!!!" Cici tiba-tiba datang menepuk pundaknya mengejutkan Luna, seketika buku yang tertata rapih di tangannya berhamburan jatuh ke lantai.


"Iiihhhh, , , kau sengaja ingin membuatku cepat?! sengaja ingin membuat jantungku meledak ya? dasar, kau membuatku terkejut?!" Luna marah sembari membereskan bukunya yang berjatuhan.


"Ya sorry... Lagi pula kenapa kau berdiri di depan pintu tidak jelas seperti ini? seperti orang bodoh...kau sedang menguntit siapa?" Cici bertanya penasaran sambil mencoba membuang pandangannya ke dalam ruang kelas.


"Itu... coba lihat, itu benar Aryo, bukan? atau aku yang salah lihat? apa perlu aku mengganti kaca mataku?" ucapnya sembari melepas kacamatanya, membersihkan dan terus memakainya lagi.


Hhuuuft! Cici menghela nafas panjang terlihat sangat kesal karena Luna masih tak bisa move on dari lelaki itu. "Iya memang bener itu Aryo, kenapa memangnya?" Cici membenarkan ucapan Luna sambil mengerutkan dahinya.


"Yeessss... Tuhan benar-benar tahu apa yang di inginkan hambanya" Luna berucap dengan penuh kegembiraan sambil menghentakkan kaki layaknya seorang anak.


Memang dasar Luna, sifat bucinnya mulai bergejolak. Kemana Aryo mengambil kelas Luna selalu mengikuti. Tapi karena cita-citanya ingin menjadi desainer berkelas dia memilih tambahan kelas bahasa asing untuk menunjang karirnya nanti. Untuk kelas yang satu ini Luna benar-benar tidak tahu kalo Aryo juga ikut kelas bahasa asing. Maka dari itu dia merasa histeris saat mengetahui Aryo juga berada di kelas yang sama dengannya.


"Aduh-aduuh seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru, kau sama sekali tidak pantang menyerah sama yang satu ini! kalau aku menjadi dirimu sudah aku hempas jauh-jauh itu lelaki playboy dari dulu! yang lain masih banyak, 'kan?" Cici merasa kesal melihat tingkah Luna yang begitu memuja Aryo .


"Seharusnya kau bangga memiliki sahabat yang pantang menyerah seperti diriku! kau seharusnya memberiku semangat... kau tidak suka melihat temanmu ini bahagia?" Luna mulai cemberut.


"Lagi pula ya, coba kau lihat perempuan yang berada di sekutar Aryo, mereka selalu mengekor kemana pun dia pergi, mereka terlihat–," ucapnya terhenti, Cici tak tega melanjutkan kalimatnya saat melihat wajah Luna mulai murung.


"Iya-iya! aku tahu aku jelek, penampilanku buruk! aku tidak bisa berdandan, aku tidak bisa merawat diri, terus apa lagi!" Luna mulai jengkel, mengumpat untuk dirinya sendiri.


"Em... itu, sebenarnya bukan begitu maksud, Lun... tapi–," Cici mencoba menenangkan luna.

__ADS_1


"Tapi kau lihat saja nanti, aku akan berusaha menjadi seperti apa yang Aryo inginkan!" ucapnya menyemangati diri sendiri.


"Bagaimana? kau akan berubah menjadi cantik? pergi ke salon misalnya? iya?" cibir sahabatnya itu agar Luna mau pergi ke salon, bawasannya dia memang tergolong perempuan yang malas dan cuek soal penampilan.


"Hahh!! Kenapa harus ke salon? kau tahu sendiri kalau aku benar-benar sangat malas pergi ke tempat seperti itu. Tapi lihat saja nanti aku tidak akan menyerah kalau menjadi diri sendiri tidak bisa membuat Aryo menyukaiku, maka aku harus menjadi seperti orang lain, maksutku harus berubah cantik!"


"Itu sama saja!! dasar bodoh iiihhh" Cici yang mulai kesal saat melihat Luna yang selalu mengagung-agungkan Aryo.


"Kita lihat saja" Luna penuh percaya diri.


Dia pun melangkahkan kakinya perlahan memasuki kelas, sebelumnya dia sempat berhenti dan meletakkan tumpukan buku itu di atas mejanya, tidak lama setelah itu dia kembali berjalan perlahan menuju meja dimana Aryo dan teman-temannya sedang bercanda gurau.


Sementara itu Cici hanya diam dan menggelengkan kepala. Serta melihat tingkah Luna dari arah mejanya.


Jantungnya mulai berdegub kencang, aliran darahnya dari kaki menuju kepalanya terasa mulai semakin memanas, Luna terus mencoba mengatur nafas perlahan saat semakin lama semakin dekat posisinya dengan Aryo.


"Hei!" Luna memberanikan diri menyapa.


"Kenapa aku merasa dejavu?!" hal itu mengingatkan kejadian di masa lalu. Aryo kemudian bangkit berdiri dari tempat duduknya. Dia sama sekali tidak menatap ke arah Luna. Setelah mengambil tas ranselnya dia mulai berjalan melawatinya begitu saja.


Lelaki itu memutar tubuhnya, kemudian berjalan mendekati Luna. "Kenapa?? Kau bertanya padaku kenapa? kau tidak sadar kau bersikap seperti ini sejak SMP?, kau tida bosan apa! aku saja muak melihat tingkahmu. Kalau aku menyukaimu sudah sejak dari dulu aku melahapmu. Dan kau bertanya padaku kenapa? Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri kenapa seorang lelaki... oh bukan, bahkan seekor lalat pun tidak mau menghinggap di rambutmu itu, dan kau masih bertanya padaku kenapa aku tidak mau menatapmu? ahh... ya ampuunn apa kau tidak sadar kau begitu terlihat menji–,"


"Cukup hentikan!!!" sahut Cici memotong pembicaraan.


Aryo pun menoleh ke arah suara itu berasal.


plak!!! Cici menampar Aryo dengan sangat keras.


Aryo hanya tersenyum tipis sembari memegangi pipinya yang masih terasa panas setelah mendapatkan tamparan.


"Ucapanmu itu sudah keterlaluan! Inikah sikap seorang lelaki yang di puja-puja oleh kaumnya?? kalo kau tidak suka, ya bilang saja tidak suka. Selama ini dia berjuang untukmu! tidak setahun dua tahun... tapi bertahun tahun! Bagiku kaulah yang lebih menjijikkan!!" nada bicaranya begitu dipenuhi emosi saat melihat temannya di perlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Dasar kurang ajar kau!" salah satu teman Aryo berusaha membalas tamparan Cici namun di halau oleh Aryo.


"Berhenti!" Aryo menahan tangannya dengan kuat.


"Au, Aryo kau terlalu kuat mencengkram, tanganku sakit" rintih temannya, sembari berusaha melepaskan paksa tanganya.


"Kenapa?? Kenapa kau menghentikannya? biarkan dia membalas tamparanku? atau kau ingin melakukannya sendiri? kau ingin menamparku hm?? nih... silakan!!!" Cici tak memiliki rasa takut sedikitpun, dia bahkan mempersiapkan diri melangkah mendekati wajah Aryo dan mendekatkan pipinya tepat di depan wajah Aryo.


Aryo terpaku, bukannya membalas tamparan itu kini justru pikirannya buyar karena aroma wangi dari tubuh Cici menyerbak tercium bebas olehnya.


"Kenapa kau diam saja!" suara Cici membuyarkan lamunanya.


Aryo bergidik, setelahnya kembali fokus dengan permasalahannya. "Dengar ya!! kau berhutang satu tamparan denganku! Dan bilang pada temanmu itu untuk berhenti mengejarku!" ucap Aryo sambil berlalu.


"Dulu kau sendiri yang bilang kalau kau mengijinkan aku agar bisa terus mendekatimu! sampai bisa membuatmu menyukaiku, tapi" ucapnya terhenti karena dadanya terasa sesak. Luna berusaha dengan keras untuk bersabar dan membela diri, Aryo pun menghentikan langkahnya.


"Kau pikir aku serius mengatakan itu?" Aryo memotong ucapan Luna sembari berjalan mendekat ke arahnya, kemudian menghela nafas panjang. "Aku benar-benar sudah muak dengan tingkahmu yang seperti ini, jadi lebih baik kau menyerah" tambahnya sambil berlalu meninggalkan Luna.


Begitu juga dengan para perempuannya yang terus mengekor di belakang sambil membuang senyum sinis ke arah Luna.


"Gila ya! lihatlah sikap lelaki yang selama ini kau perjuangkan, parah!!" Cici mulai menenangkan Luna yang sedari tadi hanya diam mendengar ucapan Aryo saat menghina dirinya.


"Lun? Luna! Kau tidak apa-apa, 'kan? Lun? jangan diam saja!" Cici mencoba berbicara pada Luna yang terus melamun.


Pandangan Luna mulai kosong, dia menutup matanya yang berkaca dan kini air itu mulai menetes. Dia jatuh terduduk di kursi yang ada di belakangnya.


"Kau sudah mendengar semuanya, kan'? ucapan dari lelaki yang paling kau puja! Sudahlah Lun, tidak usah memikirkan lelaki seperti itu. Lebih baik kau fokus, fokus dan fokus dengan masa depanmh" Cici menunduk sambil memegang tangan Luna mencoba meyakinkannya.


"Kau benar, aku tidak boleh seperti ini terus" Luna mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Benar, kau harus terus fokus dengan–," Cici mengepalkan tangannya penuh semangat namun ucapannya terputus.

__ADS_1


"Aku harus terus fokus kepada diriku sendiri untuk lebih bertekad berubah menjadi cantik seperti yang Aryo inginkan" ucap Luna penuh dengan semangat menggebu-gebu.


"Hhaaaaa???" Cici mulai putus asa karena sahabatnya itu. "Luna apa kau sudah gila!? kenapa kau jadi semakin bersemangat mengejarnya!!!" Cici mengacak-acak rambutnya sendiri, karena mulai frustasi dengan sikap sahabatnya yang tidak pernah mau menyerah dengan Aryo.


__ADS_2