
Barack ingin sekali meghampiri luna saat itu juga, namu saat melihat aryo ada di sampingnya dia pun mengurungkan niatnya itu.
Klara melihat kalau barack sedang berdiri di depan pintu gedung serbaguna, makanya dia berjalan untuk menghampiri barack.
"Kamu kenapa ada disini?" klara melihat ke arah wajah barack, namun barack hanya diam dan sedang melihat ke arah lain.
Klara pun membuang pandangannya ke arah di mana barack melihat.
Dan dilihatnya luna sedang bersama dengan teman temannya.
Pandangan klara kembali ke arah wajah barack. Dia merasa ada yang aneh saat melihat wajah barack, wajahnya terlihat seperti menggambarkan bahwa dia sedang melihat orang yang di cintainya bersama laki laki lain.
"Kamu tidak menemui sepupumu?" tanya klara sambil meraih lengan barack.
Barack tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah klara yang berdiri di depannya.
"Mmm, tidak perlu, mereka sedang bersenang senang, nanti aku malah mengganggu mereka" kata barack, diapun kembali masuk ke dalam gedung itu dan meninggalkan klara.
Sedangkan klara terus melihat ke arah barack yang pergi meninggalkannya.
Klara tidak mengikuti barack masuk ke dalam gedung, namun dia malah pergi untuk menemui luna.
Di hampirinya luna saat sedang menikmati es krim bersama aryo.
Namun saat ingin memanggil nama luna, tiba tiba leo datang dan menarik tangan klara.
Klara pun menengok ke arah leo yang sudah berada di depannya sambil terus memegang tangan klara.
Mata klara terbelalak saat melihat ke arah wajah leo, sesekali dia melihat ke arah pintu masuk gedung, takut kalau kalau barack kembali lagi.
"Leo?" kata klara dengan nada rendah.
"Ikut denganku" kata leo sambil menarik tangan klara dan membawanya pergi dari situ.
Di sisi lain luna yang sedang menikmati es krimnya secara tidak sengaja melihat leo sedang menggandeng klara dan mengajaknya pergi.
"Leo??, , , , klara?" kata luna dengan wajah penuh pertanyaan.
Karena luna sangat merasa penasaran dia pun mengikuti mereka berdua.
"Luna?, , kamu mau kemana?" tanya aryo yang dari tadi duduk di sebelahnya.
"Ee, , sebentar aku kesana dulu" kata luna sambil berjalan meninggalkan aryo.
Dia pun berjalan terus mengikuti leo dan klara.
Terlihat kalau mereka sudah berjalan jauh di depan luna, luna terus mencoba mengikuti sambil melewati rerumunan orang di sana.
Karena jaraknya yang terlalu jauh dia kehilangan jejak mereka.
"Kemana mereka?" tanya luna dengan nafas yang sedikit tersengal sengal.
Luna terus berjalan sampai ke pojok taman di mana leo dan klara terakhir dilihatnya.
Sambil mengatur nafasnya, dia terus berjalan ke arah belakang gedung pertemuan, dengan pelan dia memastikan kalau di sana dia pasti akan menemukan mereka.
Namun ternyata sama sekali tidak ada siapa pun.
Saat luna akan pergi dari belakang gedung itu, dia mendengar suara leo sedang berbicara dari arah gudang yang terlihat pintunya membuka sedikit.
Perlahan luna meraih gagang pintu dan membukanya dengan pelan.
Dia mendengarkan leo dan klara berbicara dari balik tumpukan kardus di sana.
"Aku tidak bisa!" kata klara.
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku?, , aku berusaha memberikan semua yang kamu inginkan, aku mohon kembalilah bersamaku" kata leo.
"Mereka pernah punya hubungan?" kata luna dalam hati.
"Aku berterima kasih karena dulu kamu menolongku saat kecelakaan, tapi kamu tidak bisa memaksakan cintaku, , , maaf leo aku tidak bisa?" kata klara.
"Aku tahu, aku memang tidak bisa memaksamu, tapi" kata leo.
"Berberapa hari yang lalau, barack mengajakku menemui ayahnya" kata klara.
Mendengar kata kata klara dada luna terasa sesak dan sakit sekali, dia terus memegangi dadanya dan mencoba mengatur nafasnya.
Dia berharap yang di ucapkan klara saat itu semuanya tidak benar, namun itulah kenyataannya.
Luna tidak mendengar bagaian terakhir dari kalimat klara, karena dia buru buru keluar dari gudang di belakang gedung itu, setelah mendengar kata klara bahwa barack mengajaknya menemui ayahnya.
"Aku memang menolak ajakannya untuk menemui ayahnya, karena aku belum bisa bertatapan secara langsung dengan orang tuanya" kata klara.
Leo pun memeluk tubuh klara dari arah belakang.
"Sampai kapan pun, pintu hatiku selalu terbuka untukmu" kata leo.
Disisi lain luna terus berjalan kembali ke tempat di mana aryo dan cici berada.
Namun dia bertemu dengan barack saat di depan gedung masuk serbaguna.
Luna menghentikan langkahnya saat melihat sepasang kaki berdiri di depannya.
Dilihatnya kaki itu sambil terus mengurutkan sampai ke bagian atas orang itu, dan dia melihat barack sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
Luna kembali teringat kata kata klara.
flash back on
"Berberapa hari yang lalu, barack mengajakku menemui ayahnya" kata klara.
flash back off
Kata kata klara itu terus terngiang di telinga luna, pasalnya barack pernah bilang bahwa dia ingin mengajak klara menemui ayahnya agar bisa menerimanya kembali. Itu artinya hubungan barack dan klara sepertinya akan kembali berjalan dengan mulus.
Tatapan mata mereka terus saling bertemu, terlihat dari mata mereka sebenarnya mereka ingin sekali mengucapkan sesuatu namun entah kenapa mulut mereka semuanya membisu.
Tanpa mengatakan sesuatu luna pun pergi begitu saja meninggalkan barack.
Sedangkan barack ingin sekali meraih tangan luna namun dia tidak kuasa, tangannya melemah dan membiarkan luna pergi begitu saja.
Esok harinya luna terbangun dari tidurnya yang sangat tidak nyenyak itu.
Matanya akhir akhir ini terus terlihat sembab.
Dia mengusap wajah dengan ke dua tangannya,
"Ya amppuuunnn, , kenapa aku jadi seperti ini sih, , !" kata luna kepada dirinya sendiri.
Dia beranjak dari tempat tidurnya dan kembali menatap dirinya di depan cermin.
"Aku harus kembali seperti dulu, , aku harus kembali seperti dulu! aku harus terus bersemangat dan tidak mudah putus asa" kata luna.
Namun dia kembali teringat percakapan klara dan leo malam itu.
"Jadi benar mereka dulu pernah punya hubungan??, , pantas saja saat makan malam waktu itu, pandangan matanya kepada klara benar benar telihat aneh, , hmmmm bisa saja sebenarnya aku memberi tahu barack soal hal ini, agar dia bisa menjauh dari klara dan dengan mudah aku bisa mendapatkan cintanya" kata luna sambil melamun
Membayangkannya saja membuat luna bergidik.
"Kenapa aku jadi menyedihkan seperti ini ya, , benar kata leo, aku yang sekarang memang seperti bukan aku yang dulu" kata luna dalam hati.
"Tidak boleh, , aku bukan wanita yang licik, aku hanya ingin mendapatkan cintanya dengan caraku sendiri, sebelum aku mendengar dia mengatakan kalau dia menyukaiku, atau malah sebaliknya, maka aku akan terus maju" kata luna dengan penuh semangat.
Luna pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dan segera membersihkan dirinya.
Saat di kampus, dia kembali mengikuti kelas dan fokus ke materi materi yang di berikan oleh dosen.
Cici sesekali melihat ke arah luna yang sedang fokus mengikuti kelas.
Dia hanya bertanya tanya kenapa luna sikapnya benar benar aneh, beberapa hari ini dia banyak melamun, dan semalam sepertinya dia juga terlihat sedih, namun hari ini sudah seperti biasanya.
Setelah jam kelas selesai luna segera membereskan buku bukunya dan memasukkan ke dalam tas.
"Lun? kamu sehat kan?" tanya cici.
"Mmm, tidak kenapa napa sih, soalnya kemarin kemarin kamu, sering melamun apa lagi semalam" kata cici.
"Ya sudahlah, tidak usah di bahas! owh iya nanti malam kamu datang kan?" kata luna.
"Gimana yaaaa" kata cici.
"Jahat yakin, kalau kamu sampai tidak datang!" kata luna.
"Iya nanti malam pasti datang kok, tenang saja" kata cici.
Mereka berdua pun berjalan ke luar dari kelas.
Namun ada seorang mahasiswa yang tiba tiba menghampirinya.
"Luna?, ada laki laki yang mencari kamu tuh, dia menunggu di depan pintu gerbang" kata seorang mahasiswa tersebut sambil berlalu.
Luna dan cici hanya saling melempar pandang, nampak senyum luna mulai mengembang di ke dua pipinya.
Luna pun segera menghampiri laki laki yang di maksud.
Saat sampai di depan pintu gerbang dia melihat ke arah laki laki yang berdiri dan bersandar di mobilnya
Namun senyum luna yang menghiasi wajahnya itu tiba tiba menghilang sedikit demi sedikit.
"Hai" sapa leo, sambil berjalan ke arah luna.
"Ee, , hai, sedang apa kamu di sini?" tanya luna.
"Menjemputmu" kata leo.
Luna sampai sekarang masih merasa aneh setelah dia melihat leo semalam bersama dengan klara.
"Ha??" luna merasa bingung.
"Aku ingin mengajakmu makan, dan aku akan menemanimu saat acara fashion show di mulai nanti malam" kata leo.
"O, , owh, , mm bagai mana ya, , " luna merasa bingung harus menjawab apa.
"Kamu masih berhutang sama aku lo!" kata leo.
"Hutang?" tanya luna.
"Iya, bukannya mau mengajakku kencan?, , sebagai gantinya kamu harus temani aku makan, dan tidak ada kata penolakan!" kata leo sambil menarik tangan luna dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Dari ke jauhan aryo terus melihat ke arah luna saat sedang berbicara dengan leo.
Dan kemudian cici datang membuyarkan pikiran aryo.
"Hei!!!" bentak cici.
__ADS_1
"Harus ya ngagetin???" kata aryo sambil melihat ke arah cici dengan tatapan galak, karena merasa kaget.
"Kenapa melamun?" tanya cici.
"Itu, leo bukan? kapan dia pulang??" tanya aryo kepada cici.
"Iya, aku denger baru beberapa minggu ini dia pulang dari ausi, kenapa? kamu cemburu melihat dia menjemput luna?" tanya cici.
"Ya iyalah pastinya, kamu kan tahu aku suka sama dia, ini kadang pertanyaan kamu tuh, suka aneh tahu!" kata aryo.
"Makanya tadinya kalau benci sama orang jangan suka berlebihan, apa lagi sama lawan jenis, jadinya seperti ini kan, dulu saja luna mengejar ngejar kamu terus, sekarang malah jadi begini, itu namanya karma,tahu" kata cici.
"Kamu kalau bicara memang kadang suka nyebelin yah!" kata aryo.
Cici tertawa mendengar kata kata aryo.
Di sebuah restoran, luna sesekali melirik ke arah leo yang sedang menikmati makanannya.
Dan tanpa sadar leo selalu melihat luna yang hanya mengacak acak makanan yang ada di piringnya.
Leo pun meletakkan sendoknya dan melihat ke arah luna yang sedang menatapnya.
Luna merasa kaget saat leo kembali melihat ke arahnya.
"Kamu kenapa?" suara leo terdengar seperti biasanya, yang penuh dengan kelembutan.
"Ee, , tidak kenapa napa" kata luna sambil mengaduk aduk makanannya lagi.
"Kamu dari tadi cuma mengaduk aduk makananmu terus, kenapa? tidak suka sama makanannya? aku ganti ya?" kata leo.
"Tidak perlu, , aku suka kok, aku akan makan" kata luna sambil memakan makanannya.
Di dalam apartemen barack, dia keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju ke ruang dapurnya.
Diraihnya gagang pintu kulkas, dan mengambil sebotol air mineral, kemudian dia menegugnya perlahan.
Di taruhnya botol itu di atas meja makan, dan dari wajahnya terlihat kalau dia sedang melamun, dia teringat tadi malam saat bertemu dengan luna, malam itu terlihat di wajah luna kalau dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Namun lamunannya terganggu saat ponselnya bergetar.
dreeettt dreeet , , , terlihat di layar ponselnya, klara memanggil.
Barack mencoba mengela nafas dengan pelan.
"Halo?" kata barack.
"Kamu kesini jam berapa? aku sudah mempersiapkan jas untukmu buat nanti malam, jangan terlambat ya" kata klara dari seberang telepon.
Barack hanya diam, dan tidak menjawab pertanyaan klara.
"Barack? , , , kamu mendengarku?" tanya klara lagi.
"Iya, aku akan datang" kata barack kemudian dia menutup teleponnya.
Barack terdiam sejenak, setelah itu dia bergegas pergi ke kamarnya dan mengambil sweeter lali segera memakainya.
Setelah itu dia mengambil kunci mobil di atas meja dekat tempat tidurnya dan bergegas pergi meninggalkan apartementnya.
Terlihat mobil barack melaju dengan kencang keluar dari besment apartementnya.
Mobilnya melaju dengan sangat cepat, dengan sigap dia mencoba menyalip setiap mobil yang ada di depannya.
Sesaat sebelum pergi menemui klara, dia sengaja pergi ke rumah luna untuk kemudian menemuinya.
Kecepatan mobilnya semakin berkurang dan melambat, belum sampai di halaman depan rumah luna, terlihat mobil sedan berwana merah gelap menyalip mobil milik barack.
Barack pun menyadari kalau itu adalah mobil leo.
Dia pun sengaja memarkirkan mobilnya dari kejauhan, agar mereka tidak tahu keberadaan barack.
Dilihatnya leo sedang membukakan pintu untuk luna.
Dan sebelum luna masuk ke dalam rumah, dia melihat leo membelai rambut luna dengan lembut. Terlihat juga bahwa luna membuang senyumnya ke arah leo.
Saat itu juga barack menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya melewati mereka berdua.
Luna yang masih berdiri di depan leo melihat bahwa barack berada di dalam mobil yang melewatinya saat itu.
"barack?" kata luna dalam hati.
Leo pun melihat ke arah di mana luna membuang pandangannya.
Dan dia melihat sebuah mobil hitam namun sudah menjauh dari pendangnnya.
"Siapa?" tanya leo.
"Mmm, , bukan siapa siapa kok" jawab luna.
Dia mencoba menghelas nafas dengan lelan.
Malamnya di gedung serbaguna, sudah nampak orak orang turun dari mobil dan memasuki gedung itu.
Terlihat orang orang yang masuk ke dalam adalah mereka yang mengerti style.
Saat di dalam gedung, di ruang ganti, Klara sedang membantu barack membenarkan dasinya.
Dan dari arah lain luna berjalan masuk ke ruang ganti itu bersama dengan cici dan leo.
***
__ADS_1