
Dari kejauhan leo melihat wajah teman kecilnya itu di penuhi dengan kebahagiaan.
Terlihat barack sedang memakaikan cincin ke jari manis luna.
Kemudian diraihnya tangan luna, dia mendaratkan sebuah ciuman di jari manisnya yang terdapat sebuah cincin pertunangan mereka.
Suara tepuk tangan menambah suasana pesta malam itu begitu meriah.
Tawa bahagia dari wajah luna sekejap membuatnya lupa akan kondisi klara saat itu.
"Maaf klara, , aku tidak bisa melakukannya" kata leo dalam hati.
Barack meraih kepala luna lalu mencium keningnya dengan lembut, di lanjutkan dengan menempelkan dahinya ke dahi luna.
Aura kebahagiaan di sekitar mereka begitu kental dan kuat.
Cici berjalan menghampiri mereka berdua.
"Selamat ya, , iiiihhhh aku jadi iri melihat kalian" nada bicaranya terlihat sedang menggoda pasangan kekasih itu.
Luna tertawa saat mendengar kata kata yang keluar dari mulut cici, tanpa sengaja dia melihat leo berada di barisan rerumunan orang.
Seketika senyumnya menghilang.
Barack menyadari akan hal itu, dia pun mengarahkan pandangannya ke arah di mana luna sedang melihat.
Dia melihat leo sedang tersenyum ke arah luna.
"Boleh aku menemuinya?" suara luna terdengar sedikit memohon kepada barack.
Terlihat barack hanya mengangguk dengan pelan ke arah luna.
Luna melepas genggaman tangan barack dan berjalan menuju ke arah leo yang terlihat sedang berdiri dan sengaja menunggunya.
Luna langsung memeluk tubuh leo dengan erat, pastinya pelukan seorang sahabat.
"Kamu kemana saja?, , sejak malam acara itu aku tidak pernah melihatmu lagi" mata luna berbinar binar melihat leo berdiri di depannya.
Wajah leo nampak tidak seperti biasanya, kali ini terlihat seperti sedang kelelahan, seperti sedang menanggung beban berat di ke dua pundaknya.
"Bagaimana bisa ekspresi wajahmu seperti ini saat mengetahui sahabatmu sedang berbahagia?, , apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" luna meraih tangan leo dan menggenggamnya dengan erat.
Wajah luna berubah menjadi sedikit khawatir saat melihat leo terus saja diam.
"Kamu, , kenapa diam saja?, , apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" luna terus menghujaninya dengan pertanyaan.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tambahnya.
Luna mulai mencoba menerka nerka lewat ekspresi wajah leo.
"Aku hanya takjub, , dengan kecantikanmu malam ini luna, , selamat atas pertunangan kalian, aku ikut bahagia melihatmu terus tersenyum seperti ini" leo meraih ke dua pipi luna.
__ADS_1
"Apa pun yang terjadi, , kamu harus tetap bahagia" kata leo sambil terus memandang mata luna.
Diraihnya tangan leo yang berada di pipinya itu.
"Jangan menghilang lagi seperti kemarin ya?, , " kata luna sambil terus menggenggam tangan leo.
Leo hanya tersenyum sambil menyilakkan anak rambut luna yang terus bergerak menghalangi mata luna karena terpaan angin malam itu.
Terlihat barack berjalan ke arah mereka. Namun aura wajah barack kali ini berbeda dengan biasanya, dia nampak santai saat leo memperlakukan luna lebih dari seperti seorang sahabat baginya.
"Terimakasih, , sudah mau datang ke sini?" kata barack sambil mengulurkan tangannya.
Luna merasa kaget, dengan segera dia melepas tangan leo yang dari tadi di genggamnya.
Dia juga melihat tatapan mata barack yang sedikit berbeda, tidak terlihat sengit seperti saat tadi dia bertemu dengan aryo.
Leo menyambut uluran tangan barack, sambil melempar senyum yang sangat tipis ke arah barack.
dreeett, , dreettt, , ponsel leo bergetar.
Dia mendapat pesan singkat dari dokter.
"Kondisinya memburuk lagi" isi pesan singkat itu.
Terlihat kerutan di wajahnya, dia merasa panik dan segera bergegas pergi meninggalkan pesta pertunangan itu.
"Maaf luna, tapi aku harus pergi" kata leo kepada luna.
Dia pun bergegas pergi meninggalkan luna.
Luna menyimpan berbagai pertanyaan kepada leo, namun dia belum sempat menanyakan hal itu kepadanya.
Barack melirik ke arah luna yang terus menatap ke arah perginya leo.
"Kenapa?" tanyanya.
"Eeee, , aku, hanya sedikit merasa khawatir, apa, , kamu marah denganku?" tanya luna, pandangan matanya seseskali di arahkan ke mata barack yang terus menatapnya.
Barack hanya menghela nafanya dengan pelan.
"Untuk?".
"Tadi waktu aku dan leo, , e, , sebenatnya aku hanya" kata luna terbata bata.
"Tidak, , aku tidak marah" barack menjawabnya dengan pasti.
Luna melihat ke arah mata barack dengan tatapan aneh.
"Serius?" tanyanya.
"Aku tahu cintanya bukan untukmu, , jadi aku tidak perlu susah payah untuk membuang tenagaku karena harus cemburu dengan kalian!" kata katanya penuh dengan keyakinan.
Luna terlihat kebingungan dengan kata kata barack.
"Dari mana kamu tahu?" mata luna terus menatap ke arah barack.
"Malam itu, malam dimana kita bertemu di depan gedung serbaguna, aku melihat mu keluar dari arah belakang gedung, , wajahmu seperti habis melihat sesuatu yang seharusnya tidak kamu lihat. Aku penasaran makanya aku pergi ke belakang gedung itu, , dan seperti yang kamu lihat, aku juga melihatnya, aku juga mendengar apa yang kamu dengar" barack mencoba menjelaskan kepada luna.
"Jadi kamu tahu, , kalau leo pernah behubungan dengan klara?" wajah luna masih di penuhi dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Mmm, , "barack hanya mengngguk dengan pelan.
"Jadi kamu menerima cintaku karena, kamu tidak bisa menerima kalau klara parnah berhubungan dengan leo?" tanya luna.
"Justru karena leo ada di sampingnya, , makanya aku bisa meninggalkannya dengan tenang" jawab barack.
"Maksudmu?" luna bertanya lagi.
"Dulu aku bermaksut untuk mengajaknya kembali menjalin hubungan yang dulu sempat terputus, , namun dengan adanya kehadiran mu, aku baru tersadar kalau ternyata rasa yang aku miliki untuk klara tidak seperti dulu lagi, hanya sebatas aku satu satunya orang yang selalu bisa di andalkan untuknya. Dia sudah tidak punya siapa siapa lagi, , jadi hanya aku saat itu yang bisa di andalkannya, karena sekarang ada leo, makanya aku bisa meninggalkannya dengan tenang." kata barack.
"Jadi kalau tidak ada leo, kamu akan terus berada di sampingnya begitu?" nada bicara luna sudah mulai meninggi dan terdengar ada kesan sengit di dalamnya.
"Bukan begitu, lebih ke, , akan memberinya sedikit waktu untuk bisa menerima kenyataan bahwa hatiku sudah bukan untuknya lagi" kata barack.
"Lalu kamu akan membiarkanku menunggumu sampai dia benar benar mau melepasmu?, , itu namanya egois!! lagi pula, , kenapa kamu benar benar yakin kalau aku akan menunggumu, seandainya jika memang benar benar itu terjadi??" wajah luna mulai terlihat jutek malam itu.
Barack mencoba terus menahan senyumnya kepada luna.
"Aku yakin, , , karena kamu, adalah luna" suara barack mulai terdengar berat di telinga luna.
"Terus kenapa kamu selalu lebih memilihnya di banding aku ketika kita sedang berdua?" luna masih terus menghujani barack dengan pertanyaannya.
"Kenapa kamu tidak bertanya kepada dirimu sendiri?, , apakah waktu itu kamu tidak sedang membuatku cemburu!" kata barack.
Barack meraih ke dua pipi luna dengan tangannya.
Menatap mata dan bibirnya secara bergantian.
Perlahan barack mendekati wajah luna.
"Eeeeaaaaaa, , jangan di sini dong kalau mau menciumnya, , kasihan tahu yang jomblo seperti dia" suara cici begitu terdengar nyaring di telinga mereka sehingga membuat luna merasa malu.
"Siapa?" tanya barack sambil menarik kembali ke dua tangnnya.
"Tuh" kata cici sambil menunjuk ke arah aryo.
"Memangnya kamu juga tidak jomblo, , jomblo sejati malahan sepertinya" kata luna kepada cici.
Luna dan cici pun tertawa terbahak bahak.
Suasana perusahaan wibowo pagi itu kembali seperti biasa, hari senin adalah hari sibuk bagi para pekerja setelah seharian libur bekerja.
Maka berbagai pekerjaan dan laporan laporan mulai menumpuk di atas meja mereka.
Mobil barack berhenti di depan lobi utama, kakinya yang jenjang itu terlihat melangkah keluar dari dalam mobilnya.
Dia berjalan masuk kedalam lobi dengan langkah yang pasti.
Nampak satpam penjaga pintu setia memberinya salam setiap dia masuk ke dalam kantornya.
Barack menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa seorang laki laki sedang berdiri dan sengaja menunggunya di ruang tamu lobi itu.
Matanya mengarah pada laki laki yang berdiri di dampinya.
Laki laki itu adalah leo, dia sengaja menunggunya dari tadi hanya untuk bertemu dengannya.
__ADS_1
***