
Suasana di pantry semakin tegang, entah bagaimana Bunga harus menjawab pertanyaan dari Davien. Kenapa lelaki itu bisa menanyakan tentang pernikahannya dengan Marvel, padahal ada Juliet. Dengan adanya anak itu seharusnya bisa membuat Davien yakin kalau mereka memang sudah menikah. Apa yang membuat Davien meragukan pernikahan mereka?
“Jawab aku, Bunga?!” Davien merasa tak sabar ingin segera mengetahui yang sebenarnya dari Bunga.
“A.aku” jawabnya terbata. Perlahan tangannya yang sempat bertahan di pipi Davien mulai melemah bergerak turun.
Melihat raut wajahnya yang bingung membuat Davien semakin yakin apa yang dikatakan Juliet tentang hubungan mereka. “Pertanyaan yang sangat mudah, Bunga! Tapi... kenapa kau sampai bingung menjawabnya?” Davien tidak marah ataupun kesal, dia bahkan berucap dengan lembut. Hal yang paling ingin dia dengar adalah jawaban dari mulutnya, karena nantinya itu akan menentukan sikap Davien. Antara melepaskan Bunga, merelakan perempuan yang dia cintai sampai saat ini hidup bahagia dengan lelaki lain atau akan melanjutkan perjuangan mendapatkan Bunga kembali ke sisinya tergantung bagaimana Bunga memberikan jawaban. “Bunga?!”
“Aku... dan kak Marvel, kami....” ucapannya terhenti ketika ponselnya berdering. Bunga mengambilnya kemudian melihat layar memastikan siapa yang menghubunginya saat itu. Dia mendapat panggilan dari Marvel.
Davien bisa melihat keraguan di wajahnya saat Bunga hendak mengangkat panggilan itu, membuat Davien yakin kalau yang sedang menelepon ke nomornya adalah lelaki yang sedang mereka bicarakan. “Siapa?” tanyanya seketika.
“He?” Bunga terkejut, merasa tak enak hati menerima panggilan itu di depan Davien, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan panggilan dari Marvel. “Sebentar, aku harus mengangkat panggilan ini dulu.”
Baru saja beranjak dari kursi belum sempat melangkah pergi, Davien meraih pergelangan tangannya kemudian mengambil alih ponsel dari tangan Bunga. Tanpa memastikan terlebih dulu siapa yang menghubunginya, Davien tak ragu mematikan ponselnya hingga nanti tidak akan ada panggilan kedua atau ketiga dari Marvel.
Bunga menoleh ke ponselnya yang diletakkan di atas meja oleh Davien. “Ka.kau kenapa ponselku dimatikan?” karena satu tangan masih berada dalam cengkeraman Davien, Bunga berusaha mengambil ponselnya menggunakan tangan satunya lagi. Namun ternyata Davien pun melakukan hal yang sama mencengkeram tangannya sebelum sempat menyentuh ponsel itu. Kini kedua tangan Bunga tengah tertahan tak bisa bergerak. “Davien??” keningnya berkerut melihat sikap Davien yang menurutnya berlebihan. “Kenapa denganmu?”
“Hanya ini kesempatanku berbicara denganmu! Aku tidak tahu lagi kapan aku bisa bertemu denganmu lagi. Bisa jadi... setelah ini kau menghilang tanpa jejak!” Davien tak pernah melepaskan pandangannya dari Bunga.
Sempat ingin marah saat Davien menahan kedua tangannya tapi setelah mendengar ucapannya, Bunga tak sanggup menepis tangannya.
Seperti kehilangan semangat Davien berucap dengan suara lemah. “Kau bisa menemui Marvel dan mengobrol sepanjang waktu dengannya! Tapi aku? Aku harus memikirkan cara agar bisa bicara dan memiliki waktu berdua seperti ini! Aku mohon Bunga... kali ini biarkan aku hidup tenang setelah memastikan semuanya.”
“Apa? Apa yang ingin kau pastikan?” Bunga pun sama, suaranya terdengar lemah tak bertenaga. Sebelumnya Bunga harus mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi Davien, tapi dia tak menyangka kalau bertemu dengannya membuat tenaga yang tadinya terisi penuh kini mulai habis seakan diserap oleh lelaki itu hingga Bunga tak bisa menolak apa pun yang Davien lakukan padanya.
“Kalian! Benar-benar sudah menikah?” mata yang tadinya sempat kering, kini terlihat merah dan berkaca lagi.
Bunga sempat ingin menyangkal, tapi jika dia mengatakan yang sebenarnya kepada Davien, hatinya belum terlalu siap menghadapi sikap lelaki itu yang nantinya pasti akan membuat Bunga mengingat kejadian yang sudah berlalu. Meskipun memang sudah bertahun-tahun dan sudah memaafkannya bahkan bekas luka di hatinya telah tertutup, Bunga masih takut kejadian lalu membayanginya lagi. “Ya!” jawabnya singkat. Meskipun berat hati, Bunga harus melakukannya. Menatap wajahnya yang sangat sedih, Bunga bisa merasakan apa yang Davien rasakan saat ini. Berusaha keras menahan tangis, tapi tetap saja air matanya tak bisa berhenti menetes. “Iya, aku... dan kak Marvel, kami menikah di Amerika dulu!” tambahnya.
Detak jantungnya seakan berhenti bersamaan dengan aliran darah yang seolah membeku membuat dadanya sesak tak bisa bernafas, terasa berat seperti ingin meledak saat itu juga. Tetapi tidak semudah itu Davien menerima pengakuan dari Bunga karena dia pernah mendengar cerita dari Juliet bahwa mereka hanya berteman. Untuk lebih yakin Davien melontarkan pertanyaan yang mengganjal hatinya tentang hubungan Bunga dan Marvel. “Lalu... kenapa kau menangis? Kalau memang kau dan Mervel sudah menikah bukankah itu kabar gembira? Kenapa kau mengatakannya padaku sambil menitikkan air mata?” ucapnya lembut karena tak ingin membuat Bunga terluka lagi jika dia menghadapi permasalahan itu dengan emosi.
“Aku....” Bunga menunduk sembari mengusap matanya yang basah tapi Davien menahannya.
Menggunakan kedua tangan yang diletakkan di pipi kanan dan kiri, Davien menahan agar perempuan itu tidak menyembunyikan wajahnya. “Kau tidak perlu menyembunyikan wajahmu.” Ibu jarinya bergerak membantu Bunga mengusap pipinya yang basah. “Ya, anggap saja aku percaya kau dan Marvel menikah... dan pertanyaan kedua yang harus kau jawab!” tangan Davien perlahan bergerak turun, meraih tangan Bunga lalu mengangkatnya mengarahkan jari-jemarinya tepat di depan matanya.
Bunga sempat terkejut membelalakkan sedikit matanya seakan tahu apa yang menjadi pertanyaan lelaki itu.
__ADS_1
Masih dengan nada yang sama lemah lembut, Davien melanjutkan kalimatnya. “Bagaimana kau menjelaskan cincin ini?” ucapnya merujuk pada cincin pemberiannya yang melingkar di jari manis Bunga.
Bibirnya semakin kelu, otaknya bekerja keras mencari alasan yang tepat untuk mengelak. “Davien! Kau salah... ini cincin pernikahanku dengan kak Marvel.
“He? Benarkah? Lalu... apa kau keberatan jika aku melihatnya sebentar?”
Bunga tahu jelas apa yang ingin dilakukan lelaki itu. “Tidak bisa Davien, aku sudah berjanji kepada kak Marvel kalau aku tidak akan melepas cincin ini. Maaf!” melihat Davien terdiam melepaskan genggaman tangannya, Bunga memilih pergi bermaksud ingin menghampiri Juliet.
Sebenarnya dia ingin lebih percaya dengan info yang didapat dari Juliet, tapi entah kenapa mendengar pengakuan Bunga seketika menghancurkan keyakinannya kalau Bunga telah berbohong. Rasa cintanya kepada Bunga seakan membutakan pikirannya. “Tunggu!”
Langkahnya terhenti seketika, Bunga berdiri membelakangi Davien. Raut wajahnya kembali tegang karena yakin lelaki itu masih memiliki pertanyaan lain. Bunga bersiap menjawab pertanyaan lagi darinya.
Davien sempat tertunduk, kini perlahan kepalanya kembali terangkat menatap punggung Bunga. “Pertanyaan terakhir dariku!”
“Ya, katakan! Aku ingin segera sesi tanya jawab ini selesai!”
“Juliet Fladimer!! Kenapa kau memakai nama yang telah aku siapkan untuk putri kita sebagai nama Juliet? Putrimu dan Marvel??” untuk satu ini, Davien seakan tidak bisa terima. Karena dia mendapat nama itu saat perjalanan dulu ke luar negeri bersamaan dengan dia mendapat liontin untuk Bunga. “Kau bisa menjawab pertanyaanku kali ini? Kau dan Marvel bisa memakai nama lain, kenapa harus nama yang sudah kusiapkan?” untuk kali ini dadanya tak bisa menahan rasa kesal yang teramat.
Lagi-lagi Bunga terdiam membisu, bibirnya seakan terpaku tak bisa bergerak. Dada pun sesak hingga rasanya teramat sulit untuk bernafas. ‘Bagaimana bisa aku menghadapi lelaki ini? Jika hatiku saja mudah lemah melihat kesedihan di wajahnya.’ Itu sebab Bunga tak memutar tubuhnya, dia hanya menolehkan sedikit kepalanya ke samping. “Itu hanya sebuah nama Davien! Jangan terlalu mendramatisi, lagi pula semua orang juga bisa memakai nama itu tanpa harus meminta izin darimu, bukan?” tak ada sahutan dari arah belakang, Bunga hendak melanjutkan langkahnya.
Bunga masih diam berdiri di tempat semula tak bergerak sedikit pun.
Davien melangkah cepat lalu berdiri di depan Bunga menghadap kearahnya. “Kenapa Bunga? Kenapa kau harus memakai nama itu?!!”
Perempuan itu menatap wajah Davien yang terlihat semakin memerah. Dia tak menyangka apa yang dia lakukan akan semakin menyakiti perasaannya.
Sebisa mungkin Davien mengendalikan diri agar tubuhnya tak dikuasai amarah dan emosi yang akan membuatnya kehilangan akal. Setelah merasa agak tenang dia kembali berucap. “Kenapa kau diam? Setidaknya beri aku alasan... apa tujuanmu? Apa kau sengaja ingin membuatku lebih sakit? Belum puaskah kau membuatku menderita bertahun-tahun?” berkali-kali air matanya menetes, tapi Davien berusaha agar tidak menangis sampai terlihat urat halus di pelipis ketika menggertakkan giginya kuat saat berkali-kali rasa sakit bercampur amarah yang seakan sudah memenuhi dadanya memaksa untuk segera di luapkan keluar. “Kau masih ingin menyiksaku lagi?”
“Davien?”
“Kau berhasil Bunga, kau berhasil membuatku sakit hati. Kau berhasil membalas semua rasa kecewa di hatimu dengan menghancurkanku... berkali-kali. Tenang saja... aku tidak marah, aku tidak dendam karena sadar mungkin itu hukuman yang harus aku terima. Tapi... kenapa seakan kau tidak puas, apa harus melihat hidupku sampai menderita?”
“Davien, dengar–,”
“Setelah pernikahan... lalu cincin, kenapa kau harus memakai cincin yang sama, dengan cincin yang kuberikan padamu, untuk pernikahan kalian? Dan sekarang nama? Kenapa kau diam Bunga?”
“Maaf Davien!”
__ADS_1
“Lebih baik kau pukul aku! Kau penjarakan aku karena kesalahanku! Atau kalau perlu kau hajar aku sampai kau puas!! Aku tidak akan melawan, Bunga!” Davien meraih tangannya menuntun Bunga memukul pipinya. “Pukul aku sampai kau puas! Buat wajahku hancur sampai orang tak mengenaliku!”
“Hentikan Davien!” Bunga mencoba menarik tangannya, merasa bersalah tapi bibirnya seakan terasa berat ketika ingin berucap yang sesungguhnya.
“Kenapa? Bukankah kau puas setelah melihatku menderita? Aku bisa menahan sakit bekas pukulan, Bunga. Jadi kau bisa melakukannya berkali-kali. Tapi haruskah sampai sejauh ini?” nafasnya semakin berat kala mengingat Bunga memakai nama itu untuk anak mereka. “Dadaku sakit Bunga!” Davien sampai kesulitan saat berucap, nyaris suaranya tak keluar dari tenggorokan. “Sakit sekali rasanya! Kenapa harus nama itu? Kenapa?”
Davien tak bisa lagi menahan dadanya yang semakin panas seakan membakar tubuhnya. Dia kemudian melangkah mengambil gelas bekas dia minum. Karena tidak mungkin juga dia mengamuk di depan Bunga, Davien memilih meluapkan amarahnya dengan gelas itu. Mencengkeramnya, mengerahkan seluruh kekuatan yang dia miliki sampai akhirnya gelas itu pecah di tangannya.
Prak!
Mendengar suara pecahan gelas yang sedikit terdengar aneh, Bunga menoleh cepat kearah belakang. “Davien?” tangannya bergerak membungkam mulutnya yang menganga mendapati tangan Davien tengah berdarah.
Pecahan gelasnya berjatuhan di lantai begitu juga dengan darahnya yang mengalir deras.
Bunga mengambil langkah cepat meraih kain apa pun yang dilihat untuk membungkus luka di tangan Davien, tetapi seakan belum puas lelaki itu mengambil gela yang baru kemudian melakukan hal yang sama.
Entah seperti apa rasa sakit yang di rasakan oleh Davien. Sisa pecahan kaca yang masih menempel di telapak tangannya belum hilang, malah dibuat menancap lebih dalam lagi ketika meremas kuat gelas yang kedua. Belum lagi luka sayatan saat tergores pecahan yang tajam.
Prak!! Gelas kedua seketika pecah dengan mudah,
“Aaa!!!” Bunga menjerit ketakutan. Tapi dia berusaha keras menghentikan Davien. Tangisnya mulai pecah melihat darahnya semakin banyak. “Hentikan Davien! Tanganmu terluka... kau mengeluarkan banyak darah!” Bunga sangat takut melihat Davien terluka. “Please... Davien!” Bunga menangkupkan kedua tangannya memohon kepada Davien agar berhenti melukai dirinya saat melihat gelas ketiga sudah berada di genggaman tangannya.
Justru dengan santai Davien malah menenangkan Bunga. Dia bahkan memamerkan raut wajahnya yang datar. “Jangan memohon Bunga, aku sedang membantumu agar kau bisa merasa lebih puas, aku juga sedang berusaha melampiaskan kekesalanku karena aku tidak bisa menahannya lagi, aku tidak kuat menahan semuanya!” telapak tangannya nyaris hancur saat gelas ketiga pecah.
Prak!
“Aaah! Davien STOP! Davien aku mohon, Davien hentikan! Aku salah iya aku mengaku salah!” Bunga tak bisa lagi melihat Davien menyiksa dirinya. Tangannya sudah berubah warna menjadi merah, darahnya sebagian mengalir ke telapak dan punggung tangannya. “Aku salah, sebenarnya tidak ada pernikahan, dan cincin ini... ini juga bukan cincin pernikahan!” Bunga berucap dengan cepat karena Davien tengah mencengkeram gelasnya yang keempat. Berharap setelah mendengar pengakuannya, Davien akan berhenti melukai diri sendiri.
Lelaki itu terdiam, tangannya yang masih mencengkeram gelas pun terpaku di udara. Pandangannya beralih menatap Bunga, kedua matanya nampak sangat merah. “Jadi... kau dan Marvel....”
“Aku dan kak Marvel tidak pernah menikah!” Bunga berusaha mengatur nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
Davien menghela nafas panjang, mengendalikan detak jantungnya yang tak beraturan. Akhirnya dadanya terasa sedikit lega. “Lalu... kebohongan apa lagi yang belum aku ketahui?”
“Alasan kenapa aku memakai nama itu... karena Juliet adalah putrimu!”
Pyar!!!! Gelas keempat terlepas dari tangannya jatuh ke lantai pecah berserakan di sana.
__ADS_1