Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#47 Sandi


__ADS_3

 


Sesampainya di kafe seberang luna langsung memarkirkan mobilnya dan berlari ke arah pintu masuk.


 


Dia membuang pandangannya ke setiap pojok ruangan itu.


Namun dia tidak bisa menemukan cici dan barack.


Luna berjalan menuju setiap sudut untuk memastikan dimana barack barada.


Dari arah lain cici melihat luna sedang mencoba mencarinya sambil melihat ke orang orang yang duduk di setiap kursi.


"Luna, , lun, lunaaa!" kata cici dengan manaikkan nada suaranya dan mencoba melambai lambai agar luna dapat melihat keberadaanya.


Luna pun melihat saat cici melambaikan tangannya.


Dia segera menghampiri cici yang sedang duduk di sebelah barack yang tengah tidak sadarkan diri.


"Ini bagaimana ceritanya dia bisa mabuk?, , lalu kamu,!!! kenapa coba ada di sini?" kata luna sambil melotot ke arah cici.


"Biasa, dia kan sering curhat sama aku sebenarnya, biasanya sih, juga lewat wa" kata cici.


Luna pun mengernyutkan dahinya dan menyipitkan kedua matanya ke arah cici.


"Yailaaaah, , begitu banget ngelihatinnya? tidak percaya?" kata cici.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita sama aku coba?" kata luna.


"Dia yang melarang aku buat cerita sama kamu lun, lagi pula dia itu cinta mati sama kamu, suer beneran, cuma yaaaa begitulah" kata cici.


"halllaaah, , bohong, emang iya dia bilang begitu?" kata luna smabil menahan senyumnya.


"Serius lun, cuma ya dia masih bingung bagaimana caranya dia memberi tahu klara" kata cici.


Luna pun membuang pandangannya ke arah barack yang masih tidak sadarkan diri.


"Yaudah kamu coba bangunkan dia, aku siapkan mobil dulu" kata luna.


"Bagaimana ceritanya aku bangunkan dia, orang dari tadi nih ya, aku ciprat air saja dia tidak bangun" kata cici.


"Terus bagaimana donk, masak iya harus gendong dia, memangnya kamu kuat?" kata luna sambil menunjuk ke arah cici.


"Lah, , minta tolong sama mas mas yang kerja di sini sana, aku akan tunggu dia di sini" kata cici.


"Ih, , kebalik tahu, sana kamu yang cari orang, mabuknya sama kamu juga, aku yang repot!" kata luna sambil duduk di sebelah barack.


"Yaelah, begitu banget sih bu, , hadeehhh" kata cici sambil beranjak dari tempat duduknya.


Dilihatnya barack yang masih tertidur di atas sofa, wajahnya terlihat memerah dan polos, tidak segalak saat dia sadar.


Luna mencoba meraih anak rambut barack yang menghalangi keningnya, disingkirkannya anak rambut itu oleh luna.


Pandangannya selalu ke arah mata barack, namun entah mengapa matanya seolah olah bergerak sendiri menuju bibir barack yang terlihat sangat seksi di matanya.


Luna pun mengerjapkan mata dan bergidik untuk menyadarkan dirinya.


"Apaan sih lun, orang masih pingsan juga, heh! dasar mesum" kata luna kepada dirinya sendiri sambil menepuk jidatnya.


Tidak lama kemudian seorang pegawai membantu merangkul barack untuk berjalan sampai ke parkiran di mana mobil luna berada.


Luna menyuruh pegawai itu untuk meletakkan barack di kursi belakang.


Setelah selesai, luna meraih dombet berwarna pink miliknya yang ada di dalam tas dan memberikan beberapa lembar uang pada pegawai itu.


"Terima kasih ya mas" kata luna sambil memberikan uang itu.


"Sama sama mbak, saya tinggal dulu ya" kata pegawai kafe itu.


Luna mengalihkan pandangnnya ke arah cici yang masih berdiri sambil bersandar di mobilnya.


"ci kamu pulang bawa mobil barack ya, aku antar dia pulang ke apartementnya pakai mobilku saja" kata luna.


"Ya udah, tapi, , mana kuncinya?" kata cici.


"Laaahhh???, , aku juga tidak tau!" kata luna sambil melirik ke arah barack yang tertidur di kursi belakang.


"Di saku jasnya kali, sebenetar aku ambilkan" kata luna sambil mendekati tubuh barack.


Luna merunduk dan masuk ke dalam mobil untuk mendekati tubuh barack, dia meletakkan salah satu tangannya di kursi untuk menopang badanya saat akan mendekati tubuh barack yang tertidur di bawahnya.


Diraihnya jas barack yang masih tertidur pulas itu, luna mulai merogoh satu persatu saku satu jasnya, dari yang kanan hingga yang sebelah kiri menggunakan satu tangannya lagi.


Namun dia tidak menemukannya.

__ADS_1


Luna pun mengalihkan pandangannya ke arah saku celana milik barack.


Wajah luna terlihat ragu saat harus merogoh ke saku celana barack.


Terlihat kalau celana barack sangat ketat dan melekat ke kulitnya.


Pipinya terlihat memerah, dia berusaha mengumpulkan keberanian untuk itu, perlahan di arahkannya tangan luna ke arah celana barack, nampak sesekali luna merasa ragu saat akan memasukkan tangannya ke saku celana barack.


Dia terus berusaha memasukkan tangannya perlahan ke dalam saku, pelan pelan dengan penuh hati hati luna terus memasukkan tangannya sedikit demi sedikit, dan semakin lama semakin dalam.


Dia menggerakkan jari jarinya di dalam saku itu, luna tidak menyangka kalau aksinya itu malah membuat suara lenguhan pelan dari mulut barack.


"Hhhmmmmhhh" suara lenguhan lembut terdengar dari mulut barack.


Wajah luna semakin memerah dan merasa geli sendiri saat mendengar itu.


Jantungnya pun tak mau kalah, juga ikut berdebar semakin kencang.


Dengan cepat luna mengambil kunci mobil yang ada di dalam saku itu.


Dan akhirnya luna pun berhasil mengambil kunci mobil milik barack.


Luna pun segera menarik tangannya kembali dan segera keluar dari mobil itu.


Dia berusaha terus mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat detak jantungnya yang berdetak kencang.


"Kamu kenapa lun? kok ngos ngosan?" tanya cici yang melihat luna sedang mengatur nafasnya.


"Habis sport jantung tahu tidak? " kata luna sambil megulurkan kunci mobil barack kepada cici.


"Nih, besok biar di ambil sama supir barack ke rumahmu" kata luna.


"Oke, ya sudah kamu hati hati ya" kata cici kepada luna.


"Iya kamu juga" kata luna smabil masuk ke dalam mobil.


Dia pun segera pergi dari kafe itu. Di sepanjang perjalanan menuju apartemnet barack, luna terus melihat ke arah barack melalui sepion depan.


Dilihatnya sesekali wajah barack yang sangat polos saat tertidur pulas.


Tidak lama kemudian meraka sampai di basment apartement barack, luna melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya, dia pun menyandarkan tubuhnya ke dinding kursi.


Sesekali nampak luna tengah menghelas nafasnya perlahan.


Luna segera turun dari mobil dan bergegas pergi ke pos satpam yang tidak jauh dari parkiran mobil, untuk meminta bantuan satpam.


Dilihatnya satpam sedang duduk manis sambil menikmati kopinya.


"Pak, bisa minta tolong tidak?" kata luna kepada pak satpam.


"Kenapa neng? bantu apa?" tanya satpam itu kepada luna.


"Tolong bantu aku membawa barack ke atas ya pak, soalnya aku tidak kuat" kata luna.


"Ooh siap atuh neng sok mangga, memangnya pak barack kenapa neng?" saut pak satpam itu dengan nada penuh semangat.


"Mabuk dia" jawab luna sambil berjalan ke arah mobilnya.


"Naaah, masak pak barack mabuk, , se umur umur setiap dia pulang di mari, tidak pernah saya mlihat pak barack mabuk" kata satpam itu.


"Saya juga tidak tahu pak" jawab luna.


kemudian pak satpam membantu barak berdiri dari mobil merangkulkan sebelah tangan barack ke pundak satpam tersebut.


Walaupun mulai tersadar sedikit namun barack tidak kuat untuk jalan sendiri, langkah kakinya terlihat sangat lemas sehingga sesekali kadang kaki barack tidak kuat untuk menopang badannya sendiri.


Sedangkan luna membantu satpam untuk membuka pintu lift dengan memencet tombol di pintunya.


Sampainya di lantai 5 satpam tersebut terus membantu barack berjalan sampai ke depan apartement barack.


"Sebentar ya pak, aku buka pintunya dulu" kata luna mencoba memencet tombol nomor nomor yang ada di pintu masuk apartement barack.


Luna mencoba memencet angaka angkanya.


"14101990"


tittit tit**tit** , , bunyi alarm pintu, karena luna salah memasukkan sandinya.


"Kokk tidak bisa sih" kata luna.


Kemudian dia mencoba sekali lagi


"14101990"


tittit tit**tit**, , alarm pintu berbunyi lagi.

__ADS_1


"Lah kok salah lagi?" kata luna.


Diapun mengarahkan pandangannya ke arah satpam yang sudah terlihat kecapean memapah barack.


"Ya sudah pak, letakkan saja barack di sini biar aku yang membantunya masuk nanti" kata luna.


"Ya sudah neng" kata satpam itu sambil membantu barack duduk di lantai dan menyenderkan tubuhnya ke tembok.


Luna pun mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya ke pak satpam tersebut.


"ini buat pak satpam, terima ksaih ya pak" kata lina sambil memberikan uang tersebut


"Iya neng sama sama, ini juga terima kasih ya, saya tinggal dulu ya neng?" kata pak satpam sambil berlalu.


"Iya pak" jawab luna.


Luna pun masih terus berusaha memikirkan sandi apartement barack.


"Jangan jangan sudah di ganti lagi?, , haduuh mana dia tidak bisa di bangunin juga" kata luna sambil mendekati barack.


Dia mencoba meraih pipi barack dan menepuknya pelan.


"Barack?, , barack?, , hei bangun, , sandinya berapa ini? haduuuhhh kita tidak bisa masuk" kata luna sambil terus menepuk pipi barack dengan pelan.


Luna pun berfikir mungkin dia menyimpan sandi di ponselnya.


Dia segera mencari di mana ponsel barack.


Di rogohnua saku jas barack kanan dan kiri namun dia tidak menemukannya.


Di saku celana barack dia juga tidak melihat ponsel itu di sana.


Luna pun melirik ke arah kemeja barack dan membuka jasnya dengan pelan, berharap ponsel itu ada di saku kemejanya.


Dibukanya dengan sangat pelan jas barack yang menutupi bagian saku kemejanya, dan ternyata dia mendapati ponsel itu ada di saku jas bagian dalam bukan di kemeja.


Diraihnya dengan pelan ponsel itu, dan akhirnya luna bisa mendapatkan ponsel barack.


Saat akan membuka layar ponselnya, wajahnya terlihat sangat kecewa, bahwasannya ponsel barack juga menggunakan kode.


"Ya ampuuunnn, ini juga pakai kode?, , haaddeeehhh, , masak iya mau bermalam di sini?, , " kata luna sambil terus menepuk jidatnya.


Diapun berjalan mondar mandir untuk mencari ide yang mungkin di gunakan barack untuk sandinya yang baru.


"Tunggu jangan jangan?, , " kata luna, dia pun segera memencet tombol angka pintu masuk lagi.


"02121988" luna mencoba memencet tombol nomor.


tittit tittit, , alarm pintu pun berbunyi lagi.


"Bahkan tanggal lahirnya juga salah???, , iiiiiiih barack bangun doooonk!!!" kata luna sambil duduk di sebelah barack dan menggoyang goyangkan badan barack.


Sehingga badan barack jatuh dan bersandar di badan luna yang ada di sampingnya.


"Yaelaaah, , pakai acara nyender lagi, , barack! bangun woy!" kata luna sambil melihat ke arah wajah barack yang sangat dekat di depannya.


Namun barack tetap masih saja tidak mau bangun.


"Iya kali, kita bermalam di sini, , " kata luna sambil menutup matanya dan menghela nafas dengan pelan.


Namun tiba tiba mata luna terbuka dengan lebar.


flash back on, ,


"Dia yang melarang aku buat cerita sama kamu lun, lagi pula dia itu cinta mati sama kamu, suer beneran, cuma yaaaa begitulah" kata cici.


"halllaaah, , bohong, emang iya dia bilang begitu?" kata luna smabil menahan senyumnya.


"Serius lun, cuma ya dia masih bingung bagaimana caranya dia memberi tahu klara" kata cici.


flash back off, ,


Dengan pelan luna menyenderkan kembali badan barack ke tembok dan dia segera kembali mencoba memencet tombol angka itu .


Dengan penuh keraguan dia mencoba sekali lagi.


"01011994"


ckelek, , , dan akhirnya pintu apartement barack berhasil di buka.


Terlihat sekali mata luna berbinar binar saat mengetahui bahwa barack memakai tanggal lahirnya.


Senyum luna terlihat sangat bahagia malam itu.


***

__ADS_1


__ADS_2