
Davien masih terdiam menatap tangannya yang terpaku di udara.
"Teman?, ,baiklah. Aku ikuti semua keinginanmu"
Davien mengulurkan tangannya menyambut Bunga dengan ekspresai wajahnya tak terbaca. Bahkan senyum manis tak nampak sedikit pun mewarnai bibirnya.
Tak ada cara lain selain menjadi temannya agar Davien selalu bisa berada didekat Bunga.
Berbeda dengan Bunga, dia tersenyum manis ketika Davien membalas uluran tangannya.
Davien menarik kembali tangannya, dengan nada tenang kemudian dia berucap.
"Kemarikan ponselmu?" dia bermaksud ingin menyimpan nomornya di ponsel Bunga.
Tetapi raut wajahnya seketika berubah masam.
"Ponsel??"
"Iya!, kemarikan ponselmu, aku akan menyimpan nomorku di sana. Bukankah kita teman? Jika kamu membutuhkanku kamu bisa menghubungi ke nomorku nanti!" laki laki itu mengangkat ke dua alisnya.
"Mm, aku, , ee, ,ponselku" ucapnya terbata.
"Kenapa?" sahutnya memotong pembicaraan, Davien merasa sudah tak sabar menunggu Bunga memberikan ponselnya.
"Kemarin aku tak sengaja manjatuhkannya dan"
"Baikkah! hari ini aku akan pulang lebih awal. Kita akan pergi membeli ponsel untukmu!" Davien kembali membuka berkasnya yang sempat dia lupakan setelah Bunga masuk ke dalam ruangannya.
Bunga terkejut mendengar Davien berucap.
"Tapi Pres Dir"
"Anggap saja ini sebagai hadiah dari seorang teman!" Davien menggunakan penanya kembali unuk menandatangani berkasnya. Dia tak ingin lagi mendengar sanggahan dari Bunga, maka dari itu Davien lebih memilih mengakhiri percakapan mereka.
"Keluarlah, aku masih harus menyelesaikan semua pekerjaanku"
Bunga terdiam sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala.Dia memutar tubuh kemudian melangkah menuju pintu dan keluar dari ruangan itu.
♡♡♡
Bunga melamun ketika sdang mencuci gelas, pandangannya terlihat ksosong. Nampak tak fokus dengan apa yang sedang dia lakukan ketika memikirkan ajakan Davien untuk mengajaknya membeli ponsel baru.
"Apa aku mengambil keputusan yang salah dengan menganjaknya berteman??"
Bunga menghela nafas panjang, tak sadar bahwa sedari tadi dia membiarkan air terus mengakir keluar dari keran.
__ADS_1
" Hei Bunga!!" Loria yang nampak memperhatikannya sedari tadi pun mulai penasaran. Die menepuk pundaaknya untuk mengembalikan kesadaran Bunga.
"Kak Liora!" Bunga terperanjet kaget, dia berucap dengan nada kesal, seolah tak senang dengan apa yang di lakukan okeh Loria karena telah mengagetkannya.
"Siapa suruh melamun!, kamu tidak sadar apa yang sedang kamu kakukan.? sejak dari tadi kamu membuang buang air hanya untuk mencuci satu gelas saja!" Liora terus mengomel karena sikap Bunga.
Sementara Bunga hanya tersenyun geli karena sikapnya sendiri. Dia meletakkaan gelas bersih kembali ketempatnya kemudian berjalan mendekati Loria yang sedang duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.
"Ka?, , hari ini jika aku ijin pulang lebih awal apakah kamu mengijinkanku" Bunga terlihat ragu ketika ingin berucap, tak mungkin baginya untuk mengatakan secara gamblang kenapa dia meminta ijin untuk pulang terlebih dulu.
"Apa Pres Dir sudah tahu kalau kamu akan pulang lebih awal?, , seharusnya kamu meminta ijin kepadanya terlebih dulu"
"Dia tidak perlu melakukannya!" suara berat itu terdengar dari arah luar. Davien kini telah berdiri di tengah pintu dengan kedua tangan yang tersimpan di saku celananya.
Bunga dan Loria yang melihatnya pun langsung bergegas beranjak berdiri dari bangku.
"Pres Dir?" Loria menganggukkan kepala memberi hormat.
Davien menatap, menyelidik ke Bunya.
"Kamu belum bersiap siap?" ucapnya kemudian.
Perempuan itu masih berdiam diri mendengar pertanyaan dari Davien.
"Mm, , aku" Bunga terbata, kebingungan menjawab pertanyaannya karena merasa tak enak hati dengan Loria.
"Kamu bebas melakukan apa pun di perusahaan ini!, tanpa perlu meminta ijin kepada siapa pun"
"Pres Dir" Loria menyela pembicaraan.
"Termasuk kamu!" ucapnya seketika. Davien langsung menatap Loria, seolah meminta perempuan itu untuk berhenti berbicara.
"Bunga tidak perlu meminta ijin kepadamu jika dia ingin melakukan sesuatu, aku yang memberi kewenangan penuh kepadanya untuk melakukan apa pun yang dia mau!" Davien kembali mengalihkan pandangannya ke Bunga.
"Tapi Pres Dir ini terlalu"
"Cepat ganti pakaianmu" Davien memotong pembicaraan. Meminta agar Bunga segera pergi berganti baju.
"Pres"
"Aku tidak ingin mendengar penolakan!!" sekali lagi dia menegaskan, bahwa tak ingin mendengar Bunga menolaknya lagi.
Perempuan itu melangkah menuju ruang ganti, sementara Davien masih berdiri menunggu Bunga berganti baju.
"Pres Dir silakan duduk" Loria bergerak menyingkir mempersilakan Davien duduk di sana.
__ADS_1
Laki laki itu menghela nafas panjang sembari duduk., melirik ke Loria yang sedang menatap aneh ke arahnya.
"Ada yang aneh dengan wajahku?" ucapnya seketika membuat Loria terperanjat kaget.
"E, , tidak Pres Dir, , maaf" tentu saja laki laki itu terlihat sangat aneh bagi Loria, ini kali kedua Davien masuk ke pantry hanya untuk menemui Bunga.
Tak lama Bunga keluar dengan mengenakan pakaian semula, dia nampak malu ketika Davien ternyata masih menunggunya di sana.
Davien beranjak berdiri dari kursi.
"Kamu sudah siap?" dia mengukurkan tangannya ke arah Bunga.
Perempuan itu hanya diam melihat tangan Davien yang sedang menanti untuk di sambut olehnya. Karena merasa tak sabar, Davien akhirnya meraih tangan Bunga menggenggamnya erat. Menariknya memaksa Bunga mengikuti langkahnya. Mereka berjalan beriringan melangkah keluar dari pantry.
Sementara di sisi lain Loria nampak terkejut hingga membungkam mulut dengan tangannya.
"Astaga!, , apakah aku sedang bermimpi, bagaimana Pres Dir, , , dengan Bunga??" Loria memukul dadanya yang tarasa sesak ketika sempat melihat pemandangan di depan matanya.
"Aku tidak percaya ini" rengeknya seperti anak kecil.
♡♡♡
Sepanjang perjalanan suasana mobil terasa sangat hening. Tak satu pun dari mereka yang membuka mulut untuk memulai pembicaraan.
Bunga terlihat gugup ketika ternyata Davien tak main main denagn ucapannya untuk mengajak dirinya pergi membeli ponsel.
Tetapi berbeda dengan Davien, dia sesekali melihat ke arah Bunga untuk mengawasi ekspresi wajahnya ketika sedang berdekatan dengannya.
Tak lama Davien menghentikan mobilnya tepat di sebuah toko elektronik terbesar di kota itu. Dia melangkah turun berjalan ke sisi lain, membukakan pintu untuk Bunga. Bersaman dengan itu ketika Bunga melangkah turun dengan tiba tiba, wajahnya berpapasan dengan dada Davien yang bediri tepat di depannya. Bunga dengan jelas bisa mencium aroma wangi khas dari Davien yang menyerbak ke dalam hidungnya.
Matanya sedikit membulat ketika menyadari lipstiknya sedikit menempel di kemeja Davien hingga nampak terlihat meninggalkan sedikit bekas di sana.
"Maaf Pres Dir, aku tidak sengaja" Bunga berusaha membersihkan bekas itu dengan tangannya, tatapi lipstik yang nenempel di kemeja itu malah semakin melebar.
"Astaga!!" Bunga menutupi bibir dengan salah satu tangannya.
"Kemeja ini pasti sangat mahal!, , bagaimana ini?"
Bunga menangis di dalam hati meratapi nasib sialnya.
Davien terkekeh geli melihat ekspresi Bunga yang ketakutan karena telah membuat kemejanya kotor. Tangannya bergerak meraih tangan Bunga yang masih bertahan di dadanya. Kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Tidak perlu khawatir, aku memiliki banyak kemeja di rumah"
Bunga menengadah melihat ke arah wajahnya, dia lupa jika Davien adalah orang kaya. Kehilangan satu kemeja pun tak akan berpengaruh baginya. Berbeda dengan Bunga yang selalu setiti dengan apa yang dia miliki. Bahkan baju yang belum benar benar lusuh pun masih akan terus di pertahankan olehnya.
__ADS_1
Davien kembali menggandeng tangannya, menuntun Bunga melangkah masuk ke dalam. Bunga semakin di buat terpesona dengan perlakuan Davien. Berkali kali dia menolak laki laki itu, tetapi Davien tetap berusaha memperlakukannya dengan baik. Meski pun sempat membuatnya jengkel karena sikap dinginnya.