Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
47 S3: Love's Romance Mabuk


__ADS_3

"Apa dia sudah pulang?"


"Tidak mungkin! dia sendiri yang meminta kepadaku untuk menunggunya!"


Bunga pun menutup pintu Kemudian mencoba untuk menghubungi Davin sambil melangkah kembali ke lift.


tut tut tut!!!


Bunga menghela nafas panjang, raut wajahnya mulai terlihat guratan kecewa ketika ternyata ponselnya tak dapat dihubungi.


Perempuan itu masih terlihat melamun dengan pandangan kosong.


"Apa laki-laki itu lupa dengan apa yang diucapkan, atau aku yang terlalu percaya diri menjadi seorang perempuan!!"


Bunga mengepalkan kedua tangannya erat seolah dia benar-benar merasa gemas sekaligus jengkel. Dia sempat berfikir kalau Davien pasti sudah lebih dulu pulang.


"Iiiiih , ,!!!! Menyebalkan! laki-laki bodoh!" Bunga bahkan mengumpat sambil menghentak-hentakkan kaki layaknya anak kecil yang sedang merajuk.


Setelah pintu lift terbuka, dengan ekspresi wajahnya yang musam Bunga melangkah keluar. Dia berjalan menuju pintu untuk mengambil tas dan segera pergi meninggalkan pantry.


"Matikan semua lampu karena beberapa menit yang lalu presdir sudah meninggalkan lokasi" teriak satpam kepada teman lainnya.


"Apa!" bunga terkejut suara penjaga begitu terdengar nyaring hingga menggema di telinganya.


Karena penasaran bunga akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada satpam.


"Benarkah presdir sudah meninggalkan tempat ini?" keningnya terlihat berkerut tipis, ketika dia melontarkan sebuah pertanyaan itu kepada satpam yang masih setia berjaga di pintu lobby.


satpam itu menoleh dan menundukkan kepalanya.


"Ya nona sekitar setengah jam yang lalu beliau meninggalkan tempat ini dengan terburu- buru, Sepertinya ada kabar buruk karena presdir terlihat begitu khawatir tadi "


Bunga terdiam sejenak pandangannya kosong, mendengar penjelasan dari satpam membuat hatinya merasa ada sesuatu yang membuat Dia seolah bahwa dirinya nya seperti perempuan yang tidak berguna.


♡♡♡


"Dokter bilang dia baik-baik saja Tante, hanya sedikit syok dan membutuhkan istirahat. Luka lebam yang ada di kepalanya pun kata Dokter tidak membahayakan" laki-laki itu berdiri di seberang ranjang di mana Keiko terbaring lemah.


sementara di sisi ranjang lain ada Koyok yang sedang Duduk termangu menatap putrinya.


"Terima kasih Devien karena sudah menolong dan membawa keiko" perempuan itu terlihat melamun, tatapan matanya terlihat lurus menatap wajah putrinya yang tepat berada di depan matanya.


Koyoko merasa ketakutan akan kehilangan putrinya ketika mendapatkan kabar bahwa Keiko mengalami kecelakaan.

__ADS_1


"Itu sudah menjadi kewajibanku Tante tidak perlu sungkan" jawab laki-laki itu dengan tenang.


Perempuan paruh baya yang duduk di bibir ranjang itu mengalihkan pandangannya kearah Davin, koyoko melempar senyum tipis kemudian berucap. "Pulanglah, kamu juga butuh istirahat!"


Mendengar ucapan koyoko, Davin seketika mamaku wajahnya. Dia teringat dengan bunga yang sedang menunggunya.


Malam itu bunga berjalan dengan malas menyusuri trotoar, mukanya terlihat kusut dan musam karena telah bercampur kecewa.


"Bodoh!" Bunga menghentikan langkahnya seketika.


"Iiiihh kenapa aku jadi selalu memikirkan pria itu" Bunga mendengus kesal, merasa jengkel dengan sikap Davien yang seperti laki-laki tak bertanggung jawab.


Bunga sempat menundukkan kepala sesaat, setelahnya tak lama kembali menengadah sembari menggerakkan kepala untuk meregangkan otot lehernya.


Tak lama bunga melangkah masuk kedalam sebuah minimarket, perempuan itu berjalan perlahan mengitari setiap lorong dengan penuh belanjaan di sana. Bunga terpaku tepat di samping rak yang penuh dengan bir tertata rapi.


Bunga terdiam sementara ujung matanya terus tertuju ke arah bir itu.


ceklak beeeessh...


Bunga mambuka tutup botol kaleng dengan ujung jarinya hingga menimbulkan suara udara yang keluar bersamaan, dengan itu buih soda meluap melalui bibir botol kaleng hingga membuat perempuan itu dengan cepat menyesap buih bir yang keluar setelahnya meneguk isinya perlahan.


gluk gluk gluk


Mobil Davin berhenti tepat di depan lobby, setelahnya dia melangkah keluar dan berlari cepat masuk ke dalam lobi menuju pantry kemudian.


ceklak


"Bunga!" serunya setelah berhasil membuka pintu. Pandangan matanya menyapu setiap sudut ruangan itu untuk menemukan di mana keberadaan bunga di dalam sana.


"Presdir?" salah seorang petugas yang sedang berpatroli.


"Presdir kembali lagi? apa ada sesuatu yang Tertinggal? "tambahnya.


Davin seketika menoleh mengalihkan pandangannya pada satpam.


"Tidak, aku hanya mencari seorang" ucapnya dengan nada penuh penyesalan. Dia benar-benar lupa bahwa seharusnya memberi tahu kepada Bunga terlebih dulu jika dia harus pergi untuk menyelesaikan urusan lain. tapi sepertinya semua sudah terlambat.


"Apa presdir mencari gadis bernama Bunga pegawai pantry?" tanya satpam.


Davien hanya mengangguk perlahan mendengar ucapan petugas seolah dia membenarkan ucapan laki-laki itu.


"Mmm, , gadis itu sudah pergi meninggalkan tempat ini presdir" jelasnya.

__ADS_1


Tanpa basa-basi Davin langsung pergi kembali ke mobilnya, menyalakan mesin kemudian pergi dari D Entertainment.


Davin menyusuri setiap sisi jalan menuju apartemen Bunga untuk mencari perempuan itu. Terlihat mobilnya mulai berjalan melambat sementara dari arah dalam mobil Davin membuang pandangannya ke arah keluar, dia menghentikan mobilnya ketika melihat sesosok perempuan yang sangat dikenalnya duduk tertidur di atas meja.


Laki-laki itu menghentikan mobilnya di tepi jalan tepat di depan sebuah minimarket. Tak lama setelah melepas sabuk pengamannya dia segera turun dari mobil.


Bunga tak menyadari kedatangan laki-laki itu karena saat ini dia sedang tertidur menyandarkan kepalanya di atas meja.


Davin menghela nafas penuh kelegaan, namun raut wajahnya terlihat sangat dipenuhi rasa kekhawatiran dia mengakui, selain Essie, Bunga lah perempuan yang sanggup membuat Davien khawatir dengan sikapnya.


Bola matanya bergerak melihat beberapa kaleng bir di atas meja Davin dengan yakin bisa menebak bahwa bunga saat ini pasti sedang dalam keadaan mabuk.


"Astaga... Apa yang sedang dia pikirkan, bisa-bisanya mabuk dan tidur di tempat seperti ini benar-benar ceroboh!"


Davien pun segera menggendong Bunga, membawa perempuan itu masuk kedalam mobilnya meletakkan bunga secara perlahan dan hati-hati di kursi agar perempuan itu tak terbangun dan berbuat ulah karena Davin tahu Bunga masih dalam kendali alkohol.


Setelah berhasil memasang sabuk pengaman, dia sengaja mempertahankan posisi setengah badannya yang ada di dalam mobil. Davien mengamati bahwa Bunga benar-benar terlihat polos malam Itu, pipinya semakin memerah karena mabuk dan itu membuat bunga semakin terlihat menggemaskan di matanya.


Davien tak sanggup memandanginya terlalu lama karena hanya akan membuat detak jantungnya berdebar tak beraturan. Davien lebih memilih untuk mengusap lembut kepalanya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening bunga.


Davin membawa perempuan itu pulang ke rumahnya, Dia menggendong Bunga membawa perempuan itu dari mobil berjalan perlahan masuk ke dalam kamarnya meletakkan tubuh perempuan itu di atas ranjang dengan hati hati.


Setelahnya Davin membantu bunga melepaskan kedua sepatunya secara bergantian. Setelah selesai melepas sepatu, Davien duduk di tepi ranjang. Pandangannya tertuju kepada wajah Bunga yang terlihat sangat manis dan polos malam itu.


Ada sedikit guratan kekecewaan serta penyesalan bagi Davien ketika melihat keadaan Bunga sekarang. Dia merasa yakin bahwa apa yang sedang terjadi kepada Bunga saat ini tak lain dan tak jauh itu juga karena dirinya.


"Kenapa? kenapa aku harus dipertemukan dengan wanita ini... kenapa aku harus merasakan hal ini untuk yang kedua kalinya. Tak cukupkah Essie saja yang membuatku ku merasakan kehilangan, aku sepertinya belum sanggup untuk merasakan kehilangan lagi"


"Astaga apa yang sedang aku pikirkan bagaimana mungkin aku bisa memikirkan hal sebodoh itu! aku yakin aku bisa melakukannya kali ini. alAku yakin bahwa bunga tidak akan pergi meninggalkanku" gumamnya sembari meremas rambut dengan kedua tangan.


Devien menolehkan kembali kepalanya setelah merasa sedikit tenang, tak lama pandangannya bergerak menurun ke arah tubuh perempuan itu.


Sempat dia berpikir untuk membantu bunga menggantikan bajunya tetapi Davin mengurungkan niatnya.


Kini dia lebih memilih untuk pergi ke kamar mandi mengambil air dan handuk kecil untuk membersihkan tubuh bunga.


Devin kembali duduk di ranjang kemudian mulai membasahi handuk, dia menggunakan itu untuk membersihkan wajah Bunga.


Laki-laki itu mulai membersihkannya dengan perlahan sengaja agar tidak mengganggu bunga yang terlelap.


"Kamu!" bunga mengigau, kedua matanya masih terpejam, namun tangannya bergerak meraih mencengkeram lengan kemeja David. l


Laki-laki itu memaku tubuhnya sementara bola matanya bergerak beralih melihat ke arah lengannya tak lama dia mengalihkan pandangannya ke wajah perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2