Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#157 Laki laki berbahaya


__ADS_3

Luna melangkah ke arah ruang kerja Adrian, sejenak dia menghentikan langkahnya untuk meyakinkan diri sebelum membuka pintu dan masuk ke dalan ruang itu.


Dia berjalan mendekat ke arah meja. Tatapannya menyelidik ke setiap sudut ruangan. Baginya ini pertama kali dia berbuat seperti pencuri hanya karena ingin mencari kebenaran.


Setelah Luna meletakkan map ke atas meja. Dia mulai bergerak dengan mencari kaset yang di maksud Barack. Tangannya membuka pintu pintu kecil yang berada di sebuah almari.


Satu per satu dia membukanya. Namun di sana tia tak mendapatkan apa pun.


Luna menghela nafas sebelum kembali mencari kaset itu.


Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Berasaha mencari tempat yang memungkinkan untuk Adrian menyimpan suatu barang yang penting.


Luna melangkah mendekat ke arah bifet kecil yang berada di sisi lain.


Dia menekuk ke dua lututnya untuk mempermudah dirinya membuka bifet itu.


Luna terus mencari di setiap sudut ruang. Tetepi dia tetap tidak mendapatkan kaset atau apa pun yang mencurigakan di tempat itu. Satu jam lebih Luna menghabiskan waktunya di sana. Dia melirik ke arah jam tangan kemudian.


"Jam istirahat makan siang sudah lewat"


"Ini juga sudah terlalu lama, 7 tahun lebih. Apa masih dia menyimpan barang itu. Jika memang dia yang menjebak Barack???"


Perempuan itu terlihat seperti sudah menyerah. Namun di saat dia berdiri di balik meja. Matanya tertuju pada sebuah laci di bawah meja itu.


Belum sempat membukanya, Luna telah memaku tangannya di udara karena dia mendengar suara langkah kaki seseorang yang menuju ke ruangan itu.


Dia yakin bahwa itu adalah Adrian. Luna mulai panik, dia tak dapat menemukan tempat untuk dirinya bersembunyi.


"Gimana ini. Adduuhh!!!"


Ckelk!!!


Adrian telah membuka pintu ruang kerjanya. Wajahnya terpaku ketika melihat Luna tengah berdiri di sana.


"Luna??" Laki laki itu berjalan masuk mendekati Luna.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sni?" ucapnya sambil melihat Luna dengan tatapan menyelidik.


"Eee mmm, , ini" Luna memberikan map yang ada di tangannya, map yang sebelumnya telah dia letakkan di atas meja.


"Aku ingin mengantar berkas ini" Luna memberikan map itu kepada Adrian. Untung sebelumnya dia sempat memebreskan barang barang yang sudah dia acak acak.


Adrian menatap map yang sudah ada di tangannya, setelah itu dia bergantian menatap ke arah Luna.

__ADS_1


"Kenapa kamu yang mengantarnya?" pandangan Adrian mulai terlihat mengawasi ke arah Luna.


"Tadi, , sekretarismu, , sedang istirahat makan siang. Jadi, , jadi aku yang mengantarnya!" Luna terlihat sangat panik. Dia takut Adrian mencurigainya. Perempuan itu benar benar buruk dalam menyembunyikan perasaannya.


"Kamu sedikit pucat Luna. Apa kamu baik baik saja??" Adrian menyentuh kening Luna dengan punggung tangannya. Memastikan keadaan perempuan itu baik baik saja.


"Se, , sepertinya aku, , . Aku lapar! iya aku belum sempat makan siang" ucapnya dengan terbata. Dia mencoba mencari alasan yang tepat.


Adrian tersenyum kemudian.


"Ikutlah denganku, , kita makan siang bersama. Kebetulan aku juga belum makan"


"E, , ??? iya"


Adrian menggerakkan tangannya, seolah dia sedang mempersilahkan Luna untuk berjalan keluar terlebih dulu.


Laki laki itu pun mengikuti dari arah belakang.


Namun dia menghentikan langkahya di tengah tengah pintu. Memalingkan wajahnya ke arah almari yang ada di dekat meja. Dia melihat salah satu pintu tidak tertutup rapat di sana


Adrian yakin bahwa sebelum pergi, tadi dia sudah menutup semua pintu itu dengan rapat.


Pandangan Adrian terlihat mulai menajam, dia mengalihkan pandangannya ke arah punggung Luna yang sudah jauh melangkah.


♡♡♡


Perempuan itu sedang menikmati semangkuk sup hangat.


"Iya, di cuaca sedingin ini sup hangat paling cocok menemani kita, itu membuat tubuh kita menghangat" pipi Luna bersemu ketika dia berusaha menyuapi sesendok sup ke dalam mulutnya.


Ekspresi wajah Adrian terlihat datar, namun matanya menajam dan penuh arti ke arah Luna.


Laki laki itu mememerkan senyum ketika Luna kembali melihat ke arahnya. Namun seketika senyum itu juga menghilang saat Luna tak lagi menatapnya.


Adrian mencurigai sesuatu dari diri Luna. Dia merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya.


♡♡♡


Setelah selesai makan siang, Adrian bergegas kembali ke dalam ruang kerjanya. Tangannya bergerak mengunci pintu, setelahnya melangkah mendekati meja, dia membuka laci yang ada di bawah sana.


Dia menghela nafas penuh kelegaan ketika melihat sebuah kepingan CD masih tertata rapih di laci. Tangannya meraih CD itu dan menyimpannya ke dalam saku jas


♡♡♡

__ADS_1


Satya terlihat berjalan tergesa gesa ke arah ruang kerja Barack. dia membuka pintu dan langsung melangkah masuk ke dalam.


Seketika kedatangan Satya menarik perhatian Barack, hingga membuat laki laki yang sedang berbincang dengan Helena itu mengalihkan pandangan matanya.


"Ada apa dengamu?" Barack nampak terganggu dengan ekspresi wajah Satya yang terlihat tegang.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengamu"


"Adrian???" Barack mencoba menebak bahwa Satya akan membicarakan masalah laki laki itu.


Satya mengangguk, dia melihat ke arah Helena kemudian.


"Oke, sepertinya ini sangat penting. Aku akan keluar dulu. Barack kita lanjutkan nanti saja" Helena berucap seolah dia tahu, kalau mereka berdua ingin membicarakan masalah itu hanya empat mata.


Helena keluar dari ruangan Barack, Tetapi dia tak langsung pergi begitu saja. Keberuntungan kali ini berpihak pada perempuan itu. Dia bisa menguping pembicaraan mereka dari luar. Karena ruang kerja Barack yang di kelilingi tembok kaca itu gordennya tertutup rapat sehingga dia dengan leluasa bisa menguping pembicaraan tanpa terlihat dari arah dalam.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? sampai harus mennyuruh Helena keluar??" ucap Barack. Dia sangat penasaran dengan info yang akan di berikan oleh Satya.


"Mereka menemukan info lain tentang Adrian. Mereka bilang bahwa Adrian pernah terseret kasusu kematian Istrinya" ucapnya merujuk kepada orang suruhan Barack.


Laki laki itu sengaja menyuruh orang untuk mencari informasi tentang Adrian.


Seketika Barack langsung menatap tajam ke arah Satya. Keningnya berkerut, dia seperti sedang mencerna ucapan Satya.


"Publik tidak tahu kalau akhirnya pengadilan menutup kasusu itu karena mereka telah salah memberikan dakwaan kepada orang lain atas meninggalnya Istri Adrian. Dan lagi mereka pernah melihat seseorang mengikuti Luna. Tak lain laki laki itu adalah kaki tangan Adrian"


"Kamu yakin?"


"Mereka mengikuti Laki laki itu sampai depan rumah adrian. Apa itu belum cukup bukti bagimu bahwa Adrian menyuruh orang untuk mengikuti Luna?" Satya berucap untuk meyakinkan Barack.


Itulah mengapa malam di mana Luna menginap di rumah Barack, Adrian bisa sampai mengetahuinya.


"Dan mengenai kasus Adrian itu. Kamu harus mencari orang dalam untuk mendapatkan info lebih tentangnya. Dia bukan orang biasa Barack. Laki laki itu sangat berbahaya!"


"Sial!!, , waktu itu kenapa aku harus menyuruh Luna untuk mencari buktinya sendiri. Kalau sampai Luna nekat masuk ke ruang kerja Adrian. Laki laki itu pasti akan mencurigainya. Aku terlalu menyepelakan laki laki itu.??"


Barack mengepalkan tangannya.


"Dengan mencari bukti bahwa dialah yang telah menjebakku malam itu di depan Luna. Itu tidak akan cukup. karena Adrian pasti akan terus mengejar Luna. Atau malah akan berimbas pada keselamatannya" Barack menatap lekat wajah Satya.


"Kalau kamu ingin menjauhkan Luna dari Adrian, kamu harus menjauhkan laki laki itu dari kehidupannya. Atau dia akan berbuat lebih kepada Luna" sambung Satya, dia mencoba meyakinkan Barack.


"David??" pikiran Barack langsung tertuju kepada Putranya.

__ADS_1


Dia mengambil ponsel dari dalam saku jas, dan memghubungi seseorang.


"Bisakah kita bertemu??" ucapnya kepada seseorang di seberang sana.


__ADS_2