Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#56 Malu


__ADS_3

 


Di rumah sakit di mana klara masih di rawat, terlihat leo terus terusan duduk di bibir tempat tidur dimana klara masih terbaring koma.


 


Di raihnya tangan klara yang ada di sebelah pahanya dan di genggamnya dengan erat.


Menatapi wajah klara yang masih tidak pernah berubah ekspresinya, serta tubuhnya yang masih diam dan tidak bergerak.


Terbesit di pikirannya sesaat, saat mendengar suara luna teman masa kecilnya dari ponselnya tadi saat sedang mencoba menghubungi barack.


"Aku tidak mungkin merusak kebahagiaannya, , , jadi, klara, aku mohon sadarlah, , , aku akan terus menjagamu" kata leo dalam hati.


 


Angin laut malam itu tidak begitu terasa dingin, namun sangat lengket di kulit bila terus terusan berada di dekat laut.


 


Di dalam kamar mandi, luna melepas semua bajunya yang basah dan bau air laut itu untuk di berikan kepada pegawai loundry di tempat itu.


Sementara luna harus memakai handuk kimono yang sudah tersedia di penginapan.


Kebetulan yang dekat dengan laut itu hanya penginapan, ada sebenarnya hotel yang lebih nyaman lagi untuk mereka singgahi sementara, namun mereka harus keluar dari area laut itu dan lumayan cukup jauh jaraknya.


Namu bagi mereka penginapan itu cukup nyaman untuk mereka singgahi sementara sampai menunggu baju luna mengering.


Terlihat barack sedang melihat layar ponselnya, sambil terus memainkan jempolnya naik turun menggeser layarnya.


Barack mencoba menghubungi teman kerjanya yang di paris setelah dia mendapat sebuah pesan singkat via wa.


"Halo?, , bukannya aku sudah menandatangani berkas berkas yang kemarin kamu bawa itu, kenapa bisa mereka menolaknya?" kata barack dengan menahan sedikit rasa emosinya.


"Aku kan sudah bilang mereka ingin kamu juga datang kemari, tapi kamu malah menyuruhku membawa berkasnya kesana, dan saat aku ajukan ke mereka, mereka tidak mau menandatangani perjanjian itu, makanya mereka meminta kita membuat salinan berkas berkas pejanjian yang baru, setelah itu mereka maunya ditandatangani secara bersamaan, dan kamu harus hadir saat itu.


Aku sudah mengupayakan dengan berusaha semampuku, namun mereka tetap menolaknya.


Dan mereka memberi kita waktu hanya 3 bulan terhitung dari hari kemarin waktu aku datang ke apartementmu!" kata teman kerjanya dari ujung ponsel barack.


Terlihat barack menghela nafas dengan pelan, di barengi kerutan yang keluar dari keningnya itu.


"Oke, nanti aku akan atur ulang jadwalku, sebisa mungkin kamu ulur waktunya oke" barack langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja dekat tempat tidur.


Wajahnya terlihat sekali kalau dia benar benar memikirkan masalah tadi, dia mengusap wajahnya sendiri dengan lembut sambil menyilakkan rambutnya yang sudah layu ke arah belakang karena efek krim pengeras rambut sudah mulai menghilang.


Kemudian dia berjalan ke arah sofa di dekat tempat tidur dan meraih remot yang ada di atas meja untuk menyalakan tv.


Dia mengganti chanel tv berulang ulang kali namun tidak menemukan acara yang menarik baginya.


Dan barack pun mematikan tv nya kembali.


 


Dilihatnya luna keluar dari kamar mandi sambil mengaitkan ikat pinggang handuk kimono berwarna putih itu.


 


Luna mengambil handuk kecil yang melingkar di lehernya yang kemudian di gunakannya untuk mengeringkan rambutnya yang basah sehabis di cuci karena lengket terkena air laut tadi.


Dia berjalan ke arah sofa di mana barack berada.


"Aku bantu kamu keringkan rambutmu, sini" barack menawarkan.


Luna pun melirik ke arah barack dengan penuh ke raguan.


"Memangnya kamu bisa?" kata luna mragukan kemampuan barack.


Barack hanya nyengir mendengar pertanyaan luna.


Diraihnya tangan luna yang masih memegang handuk itu.


Barack mengambil alih handuk yang ada di tangan luna.


Luna pun tersenyum dan bermaksut untuk duduk di sebelah barack, namun barack dengan sengaja menyelonjorkan satu kakinya ke atas sofa.


Sehingga membuat luna kebingungan, karena dia harus duduk di sebelah mana.


"Ayo duduk" kata barack sambil menepuk pelan sisa sofa di sela sela kakinya itu.


Luna pun merasa malu, saat barack memintanya duduk di depannya.


Dengan sigap luna malah langsung duduk di lantai di bawah sofa dimana barack sedang duduk.


Namun barack langsung mengangkat tubuh luna yang duduk di lanti dan menarik badannya agar mau duduk di sofa yang sudah barack persiapkan untuknya.

__ADS_1


Luna hanya diam karena merasa kaget saat barack menarik tubuhnya agar berdekatan dengan tubuh barack.


Luna pun tidak habis fikir bagaimana bisa dia duduk sambil berebut sofa yang sempit itu dengan barack.


"Jangan banyak bergerak" perintahnya sambil mulai mengeringkan rambut luna yang masih basah itu.


Luna merasa tidak enak hati kalau harus menempelkan tubuhnya ke tubuh barak yang tepat ada di belakangnya.


Dengan pelan luna menyeret bagian tubuhnya yang menempel di sofa itu ke depan sedikit demi sedikit berharap agar menjauh dari tubuh barack.


Namun barack menyadari hal itu.


Terlihat dari wajah barack kakau dia senang menggoda luna, dia selalu menikmati setiap detik perubahan di wajah luna saat sedang merasa malu.


Sambil mengeringkan rambut luna dari arah belakang, Sesekali barack memajukan sedikit wajahnya dari arah samping untuk melihat ekspresi wajah luna.


Dan ternyata luna sedang menutup ke dua matanya rapat rapat sampai terlihat kerutan di sekitar mata dan dahinya.


Barack pun menahan tawa gelinya di barengi dengan menggigit bibir bagian bawah, sampai terlihat giginya yang putih bersih dan rata itu.


Dengan sengaja barack menyelipkan ke dua tangannya melewati sela sela lengan dan tubuh luna kemudian melingkarkan ke dua tangannya memutari pinggang luna.


Di tariknya tubuh luna ke arah belakang agar kembali mendekat bahkan menempel ke tubuh barack.


Mata luna terbelalak, wajahnya terlihat syok ketika barack menariknya.


"Kenapa jauh jauh begitu?" bisik barack di telinga kiri luna.


Luna pun menggeliat menahan rasa geli yang ada di telinganya.


Dia tidak menjawab pertanyaan barack, namun dia terus berusaha mencoba berulah agar barack melepas tangannya yang melingkar di pinggang luna.


"Jangan bergerak terus, bisa diam tidak?" kata barack sambil masih terus memeluk tubuh luna dari arah belakang.


"Ya udah tapi lepas dulu tangannya" kata luna sambil terus bergerak dan tidak mau diam.


"Kalau kamu terus bergerak, nanti bisa membuatnya bangun loh!" barack berbisik lagi di telinga luna sambil terus mencoba menggodanya dengan sedikit mengancam.


Spontan luna pun mengerti apa yang sedang di bicarakan barack.


Dengan cekatan luna pun langsung memaku tubuhnya


Sedangkan barack terus menahan tawanya, sambil menarik kembali salah satu tangannya untuk menutupi mulutnya yang tidak bisa menahan tawanya karena melihat sikap luna yang bagi dia sangat menggemaskan.


Dengan segera dia meneruskan untuk mengeringkan rambut luna.


Luna hanya diam, dan tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Terlihat dari ekspresi wajahnya kalau dia benar benar merasa sangat malu.


Tok tok tok, , terdengar seseorang mengetok pintu kamar mereka dari arah luar.


Dengan sigap luna langsung berdiri.


"Biar aku yang membuka pintunya!" kata luna sambil berjalan menuju ke arah pintu.


Barack hanya tersenyum melihat sikap luna yang sedang berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


Terlihat sekali di wajah luna kalau dia merasa lega, baginya 'aman aman' kata itu sempat terbesit di benaknya, sambil mengelus dadanya dengan pelan.


"Siapa?" tanya luna sebelum membuka pintunya.


"Pegawai sini mbak" terdengar suara perempuan menjawab pertanyaan luna dari balik pintu.


Luna pun langsung membukakan pintu untuknya.


"Iya kenapa mbak?" tanya luna.


Perempuan itu membawa meja rolling yang sudah terisi penuh dengan berbagai macam makanan.


"Loh, memangnya barack memesan semua ini?" luna bertanya tanya sambil mempersilakan perempuan itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya kembali.


Luna berjalan mendekati barack yang masih duduk manis di atas sofa.


"Kamu memesan semua ini?" tanya luna.


"Mm" narack mengangguk pelan.


"Kamu kan suka makan banyak, jadi aku sengaja memesannya" sambungnya.


Terlihat mata luna berbinar binar melihat berbagai macam makanan dari seafood, ayam goreng, dan yang pastinya tidak lupa dengan es krim yang membuat matanya selalau tertuju ke salah satu makann favoritnya itu.


Barack hanya tersenyum ketika melihat luna merasa kegirangan saat melihat hidangan yang sudah tertata rapi di meja depan tv.


Barack pun berdiri sambil mengeluarkan dompet untuk mengambil beberapa lembar uang dan di berikannya kepada pegawai perempuan itu.

__ADS_1


"Ini buat kamu mbak, terimakasih ya" kata barack sambil memberikan uang itu.


"Iya mas sama sama, selamat menikmati makan malamnya ya" kata pegawai itu sambil membawa keluar meja rollingnya yang sudah kosong.


Dengan sigap, luna langsung melahap satu persatu hidangan di atas mejanya.


Barack membiarkan luna untuk menikmati semuanya, dia tidak ingin menganggu luna yang tengah asyik makan.


"Membuat kamu bahagia itu ternyata mudah ya, , " kata barack.


"Kenapa?, , recehan banget ya?" jawab luna.


"Tidak, , tapi aku suka melihat kamu seperti ini, kamu yang apa adanya" kata barack.


Luna pun mengarahkan tangannya ke arah mulut barack dengan memegang sebuah udang yang sudah di kelupas kulitnya oleh luna.


Luna memberi isyarat kepada barack agar memakan udangnya dengan mengangkat kedua alisnya tersebut.


Barack pun tersenyum sambil memegangi tangan luna, kemudian melahap udang sekaligus jari luna yang penuh dengan saus itu.


Dikulumnya jari luna sampai saos yang di jarinya itu bersih tak tersisa.


Mata luna terbelalak di buatnya.


pipinya memerah dan dengan segera dia menarik kembali tangannya itu.


Terlihat barack masih terus memandangi luna yang terlihat tersipu malu.


 


Luna memang suka makan tapi tidak semua makanan sebanyak itu bisa masuk ke dalam perutnya.


 


Setelah selesai makan luna mencuci tangannya dan segera berjalan menuju tempat tidur.


Namun dia merasa kaget saat mendapati barack sudah terlebih dulu berada di atas tempat tidur.


"Kamu??, , kenapa disini?" tanya luna kebingungan.


"Ya mau tidurlah, , masa mau berenang?" jawab barack sambil menahan senyumnya.


"Kenapa disini?" tanya luna.


"Kenapa memangnya? kan aku yang memesan kamarnya masak aku harus tidur di sofa" kata barack sambil merebahkan tubuhnya.


Luna pun menghela nafasnya dengan pelan.


Kemudian dia mengambil sebuah bantal dan berjalan ke arah sofa.


Dia menata bantal yang akan di tidurinya di atas sofa itu.


Perlahan dia merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Barack pun bangkit dari atas tempat tidur, dan berjalan mendekati Sofa.


Dia terdiam sejenak melihat luna yang tidur membelakanginya dengan ke dua matanya masih terlihat terbuka.


Barack segera menggendong luna dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Barack!!, , mau apa kamu?" kata luna yang merasa kaget saat barack tiba tiba menggendongnya.


Barack tidak menjawab pertanyaan luna.


Dia langsung melempar pelan tubuh luna ke atas tempat tidur.


Dia mencoba menekuk salah satu lututnya di atas ranjang sambil mendekati luna yang masih terduduk.


wajahnya selalu di penuhi dengan senyum saat melihat wajah luna yang ketakutan itu.


Luna menyeret tubuhnya ke arah belakang menjauhi barack sambil memeluk tububnya sendiri, seperti berkata kepada barack kalau jangan sampai melewati benteng ini.


Barack hanya mengambil bantalnya dan kemudian dia membiarkan luna sendiri di atas tempat tidur.


Dia berjalan menuju ke arah sofa, merebahkan badanya di sana.


Terlihat wajah luna merasa lega saat itu, dia merebahkan tubuhnya dengan pelan di atas tempat tidur, sambil sesekali melihat ke arah barack untuk berjaga jaga, karena dia merasa takut kalau tiba tiba barack mendekatinya lagi.


*****


YANG SUDAH BACA JANGAN LUPA LIKE.NYA


GRATIS KOK..


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2