
Mentari sudah menampakkan sinarnya dengan perlahan cahayanya menembus kaca menyentuh wajah Davien.
Lelaki itu masih tertidur lelap. Hingga kini dahinya terlihat berkerut ketika merasakan hangat sinarnya mentari yang menyapu wajahnya.
Davien kemudian membuka mata perlahan, menolehkan kepala mencoba mencari Bunga yang semalam tertidur di sisinya.
Dia seketika mengubah posisi duduk di atas ranjang dengan cepat saat tak menemukan Bunga di sana. Davien sempat terkejut, takut kalau perempuan itu pergi. Dia bahkan membuang pandangannya ke seluruh ruangan kamar. Wajahnya sempat menegang namun ketika dia mencium aroma kopi dan masakan yang terasa begitu lezat hingga membuat air liur membasahi mulutnya pun seketika membuat Davien menghela nafas penuh kelegaan.
Sebegitu ketakutannya dia kehilangan Bunga namun ketika tahu bahwa perempuan itu sedang berada di pantry Davin merasa tenang. Davien memilih beranjak dari ranajang kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Di samping itu, Bunga terlihat sibuk mengolah bahan makanan, dia terlihat sangat ahli ketika sedang memasak. Jelas saja hal itu dia peroleh dari neneknya dulu.
"Kau sedang memasak apa?" Bunga seketika menoleh ketika mendengar suara Davien. Sempat terpaku sesaat melihat lelaki itu berdiri sambil bersandar di pintu.
Davien terlihat sangat menawan, mengenakan setelan rapi, celana hitam serta kemeja dengan warna yang senada.
lelaki bertubuh jangkung itu kini terlihat sedang menggulung lengan kemejanya hingga siku. Davien tersenyum manis saat menyadari Bunga terus memandang ke arahnya, kemudian berucap. "Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh?" lelaki itu kini berjalan perlahan mendekat ke arahnya.
Seketika Bunga tersadar bahwa sejak dari kedatangan Davien ke pantry dia terus melamun. Bunga bergidik menyadarkan diri kemudian kembali menyelesaikan pekerjaannya. "Mmm... tidak! Tidak ada yang aneh" Bunga gugup, kemudian memilih menyiapkan sarapan diatas meja makan.
Membuatkan kopi untuk Davien setelahnya menyiapkan omelet serta irisan daging di atasnya. "Duduklah habiskan sarapanmu sebelum kau berangkat kerja" ucapnya kemudian.
Ketika Davien berjalan mendekat kearah kursi, Bunga refleks menjauh sambil mencoba melepaskan celemek. Kini pandangan lelaki itu bergerak mengikuti arah gerakan Bunga. "Kau butuh bantuanku?" ucap Davien ketika melihat Bunga bersusah payah melepas ikatan tali celemek yang melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Boleh," jawabnya tanpa rasa curiga.
Davien yang belum sempat duduk di kursi pun berjalan perlahan mendekat. Pandangan matanya kini terlihat menawan bahkan dia memamerkan seringaian senyum yang khas akan seorang Davien.
Namun ketika detik itu juga Bunga menyadari bahwa Davien mulai aktif dan sering menggoda, Bunga pun kemudian berucap. "Tidak perlu! aku bisa melepaskannya sendiri" Bunga menggunakan kedua tangannya yang dihadapkan ke arah Davien, seola meminta lelaki itu berhenti di tempat dan jangan mendekat.
"Bukankah kau bilang kalau kau butuh bantuan?" Davien mengangkat kedua alisnya.
"Aku bisa melakukannya sendiri. Tenang saja kau kembalilah duduk dan segera habiskan sarapanmu atau kau akan terlambat masuk ke kantor" Bunga berusaha melepas ikatan talinya.
"Kau yakin?" sekali lagi Davien bertanya dengan senyum tipis di bibir, seolah dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan itu.
"Iya aku, aku bisa melakukannya sendiri" ucapnya terbata, Bunga mengangguk sementara tangannya berusaha membuka ikatan tali, namun ternyata dari awal dia sudah mengikatnya dengan erat. Sehingga mungkin saat itu dia akan sedikit kesusahan ketika membukanya.
Davien bukannya kembali ke tempat duduk dia malah berdiri di depan Bunga dengan santai sementara kedua tangannya bersedekap seolah sedang menanti Bunga meminta bantuannya. "Aku masih setia berdiri disini menunggumu meminta meminta bantuan dariku membuka talinya" Davien berucap dengan santai. Dia yakin bahwa tak lama lagi Bunga pasti akan menyerah.
Secara tak langsung dia meminta tolong kepada lelaki itu untuk melepaskan ikatan di pinggangnya. Davien tersenyum sembari melangkahkan kakinya memdekat, hingga jarak mereka kini sangat dekat.
Kebetulan saat itu Bunga mengikat rambutnya tinggi cepol di atas kepala hingga membuat bagian leher belakangnya terekspos.
Entah apa yang sedang dilakukan oleh Davien tapi menurut Bunga lelaki itu benar-benar sangat lama ketika membuka ikatannya. Davien sengaja tak langsung membuka sengaja ingin berlama-lama.
"Kalau kau juga tidak bisa membukanya apa kita memerlukan gunting untuk memotong talinya?" Bunga mulai kesal.
__ADS_1
"Sabar, aku sedang berusaha melepasnya" tangan Davien memang tengah sibuk membuka tali, namun pandangannya tertuju ke arah Bunga yang sebagian wajahnya sedikit terlihat dari samping.
"Oh, oke!" ucap bunga Lirih.
"Sepertinya ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama" kini pandangan Davien terarah ke tengkuknya, kulit yang terlihat putih bersih dengan anak rambut yang bergerak malambai-lambai.
Dada Davien berdesir ketika angin menyapu tubuh perempuan itu dan membawa aroma wangi dari tubuhnya menyerbak masuk ke dalam hidung hingga menerobos sampai ke dalam dada.
Davien perlahan membungkuk mendekatkan bibir ke telinganya, kemudian dengan lembut dia berbisik. "Apa kau mandi memakai sabunku?" pertanyaan yang keluar dari mulut Davien membuat Bunga terkejut.
"Ya! Jelas aku mandi dengan sabunmu, kau pikir dengan sabun siapa lagi? Hanya ada sabun itu di dalam kamar mandi masa iya aku harus keluar dulu untuk beli sabun?" Bunga mencoba berucap dengan tenang padahal saat ini dadanya berdebar dengan sangat kencang.
"Ooh" Davien bergerak menjauhkan bibir dari telinga Bunga. "Aku pikir kau memakai yang lain, karena aroma sabun yang ada di dalam kamar mandiku itu berbeda dengan aroma tubuhmu sekarang" tambahnya.
"Maksudmu?" Bunga menolehkan sedikit kepalanya ke arah samping.
"Ya, aroma tubuhmu bahkan lebih wangi ketimbang aroma sabun yang ada di dalam kamar mandiku" Davien kembali membungkuk, dengan cepat dia kemudian mengecup tengkuk Bunga. Bersamaan dengan itu ternyata Davien telah berhasil melepaskan ikatan tali yang melingkar pinggangnya.
Spontan apa yang dilakukan oleh Davien membuat perempuan itu menggeliat menahan geli dan memutar tubuhnya. "Apa yang kau lakukan?" ucap Bunga dengan nada tenang, tapi terlihat jelas dia tersipu malu.
"Tidak ada, aku hanya mencium kekasihku memangnya tidak boleh?" lelaki itu kemudian memamerkan senyuam manis.
"Kekasih?" gumam Bunga dalam hati, pipinya pun merona.
__ADS_1
Tak lama Davien kembali duduk di kursi meraih secangkir kopi dan mencercapnya. Melihat Bunga yang masih berdiam diri di tempat semula dengan pipi merona Davien pun kembali meletakkan cangkir lalu mengerjapkan satu mata kearahnya kemudian tersenyum. "Apa kau masih akan tetap berdiri di situ? atau kau akan duduk lalu habiskan sarapanmu setelahnya kita berangkat kerja bersama?"
Setelah mendengar ucapan Davien, Bunga melepaskan celemek dan menatanya rapi mengembalikannya ke tempat semula. Bunga melangkah mendekat meraih kursi kemudian duduk di samping Davien, mereka berdua pun menghabiskan sarapan bersama.