Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#140 Rencana lain


__ADS_3

Barack tak menyentuh makanan yang ada di depan mejanya, dia hanya terpaku melihat David yang terus melahap habis semua makanannya.


"Om tidak makan?" David berhenti memasukkan makanan ke dalam mulutnya setelah menyadari bahwa laki laki di depannya itu hanya diam.


"Om tidak lapar. Melihatmu makan sebanyak ini, perut Om ikut merasakan kenyang"


"Kalau Om tidak makan, David juga tidak mau makan ah" Anak itu kini meletakkan sendoknya, dia nampak bersedih ketika Barack tak ikut menghabiskan makanannya.


"O, oke oke. Om akan makan" Barack meraih sendoknya dan memakan hidangan yang ada di atas meja.


Melihat bahwa Ayahnya ikut melahap hidangan di atas meja, akhirnya David kembali tersenyum dan melanjutkan mengahabiskan sisa makanannya.


Dreett drreeet!!!


David meraih ponselnya yang bergetar di saku celana.


Dia terdiam ketika mendapat panggilan dari Lilis.


David memilih menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku.


Barack melirik ke arah David yang dengan sengaja tak menghiraukan panggilan di ponselnya.


"Telpon dari Mamahmu?" ucapnya kemudian.


"Eee??, , iya Om" David sadar, kalau dirinya harus berbohong lagi.


"Kenapa tidak di angkat?"


David meletakkan sendok ke tempat semula, tengannya meraih segelas air dan menegugnya pelan untuk melegakan tenggorkan.


"Karena dia pasti menginginkan aku pulang sekarang. Aku tidak mau, karena aku masih ingin bersamamu Om" Ucap David dengan penuh harap.


"Kemarikan ponselmu" Barack mengulurkan tangannya ke arah David, dia meminta ponsel milik anak kecil itu.


"Mm tapi, untuk apa Om?" David mulai merasa khawatir.


"Tenang saja, Om akan berbicara dengan Mamahmu agar dia merasa tenang, ayo kemarikan ponselmu"


Dengan penuh keraguan David mengambil ponsel yang ada di saku celananya.


"Untung saja semua foto ku dan foto mamah sudah aku pindah ke laptop"


David menghela nafas panjang, sementara tangannya bergerak memberikan ponsel miliknya kepada Barack.


Barack mengusap layar ponsel milik David, dan memilih menu ke kontak. Setelahnya Dia menekan panggilan terkhir dan menghubungi kembali nomor itu.


"Mbak Lilis??" kening Barack berkerut. Ujung matanya melirik ke arah David yang sedang kelimpungan mencari jawaban.


"Mmm itu Om. Dia, , , nama Mamahku"


"Oowh, , oke. Om akan coba telpon Mamahmu"


Barack akhirnya menelpon nomor Lilis dan mengatakan kalau David ada bersamanya.


"Maaf tapi kamu siapa?" suara Lilis yang cempereng terdengar dari ujung ponsel itu.


"Aku temannya David, maaf Mah kamu tidak perlu khawatir" Barack berusaha menggoda Lilis dari balik ponsel.


Lilis terdiam seakan perempaun itu sedang berfikir keras ketika Barack memanggilnya Mamah.


Namun Lilis seperti tak menghiraukan semua itu.


"Dimana anak yang bernama David!!, cepat berikan ponsel yang sedang kamu pegang padanya!!"


Tiba tiba saja David langsung merebut ponsel itu dari tangan Barack.


"Bentar ya mah, batreku lowbath. Setelah ini aku juga mau pulang kok. Oke!" David pun mematikan ponselnya.

__ADS_1


Setelah itu Barack dan David saling lempar pandang, meraka pun tertawa senang seakan berhasil megelabui Lilis.


"Apa Mamahmu tidak akan marah jika kamu melakukan itu?" Barack memastikan ke pada David.


"Tidak akan, Om tenang saja"


"Baiklah"


"Om, kemarin pernah bilang kalau Om Barack pernah tinggal di sini beberpa tahun yang lalu. Jadi apakah di Paris, Om pernah pergi ke tempat yang menurut Om sangat bersejarah untuk kehidupanmu Om?"


"Ada?, , " Barack terdiam. Dia mengingat jembatan itu. Jembatan di mana dirinya dan Luna bertemu kembali setelah sempat beberpa minggu dia menjauh dari perempuan itu.


"Dimana Om!!" David sangat antusias, dia ingin sekali memdengar tampat yang sangat bersejarah bagi kedua orang tuanya.


Tatapan mata Barack menyelidik ke arah wajah David.


"Aku cuma ingin tahu, apakah Om tampanku ini punya kenangan manis dengan seorang perempuan di sini" Ke dua alis David terangkat dengan cepat, dia telah berhasil menggoda Barack hingga laki laki itu kini tertawa riang.


"Pont des arts!!, , Om memiliki kenangan manis di sana" ucap Barack kemudian.


David hanya mengangguk berulang ulang ketik mendengar jawaban dari mulut Barack.


♡♡♡


"Dimana David??" Luna meletakkan tas dan duduk di kursi ruang dapur.


"Dia belum pulang Mbak, katanya sedang bersama temannya" Lilis meletakkan segelas air mineral di atas meja untuk Luna.


"Teman?" Luna meraih gelas itu dan menegug airnya perlahan.


"Tadi orang itu sudah menghubungiku menggunakan ponsel milim Mas David, dia bilang kalau Mas david sedang ada bersamanya, tapi, , kenapa suara temannya terdengar jauh lebih tua darinya ya mbak" Lilis terlihat sedang melamun, dia mencoba mengingat kembali suara orang laki laki itu.


"Lilis!!! bicaralah dengan benar. Kalau itu culik gimana!" Luna mulai merasa khawatir. Tangannya bergerak meraih tas dan mengambil sebuah kunci mobil dari dalam sana.


"Kayaknya sih nggak mbak"


"Pak supir tadi jemput, cuma dia balik lagi tanpa membawa Mas David. Dia bilang mas David nggak ada di sekokahnya"


"Ya ampuuun Liiiissss!!!, , gimana kalau orang itu bener bner mau nyulik David!!" Luna akhirnya memutuskan untuk mencari keberadaan Putranya.


"Mbak Luna mau jemput Mas David bukan? aku ikut ya!" Lilis mengikuti langkah Luna, perempuan itu berhasil melangkah keluar menuju garasi mobil.


♡♡♡


Mobil Luna mengitari jalanan di dekat sekolah beberpa kali, namun dia tidak menemukan keberadaan David di sana. Hingga akhirnya Luna memutuskan untuk mengelilingi jalan yang tidak jauh dari sekolahan, mobilnya bergerka pelan menyusuri jalanan menuju minimarket.


"Biasanya Pak supir suka jemput Mas David di sini Mbak" Lilis dan Luna membuang Pandangannya ke arah luar.


Sementara di sisi lain, nampak David turun dari mobil Barack.


"Kamu yakin mau menunggu supir datang menjemputmu di sini?"Barack berucap, seolah dia merasa khawatir dengan anak itu.


"Tenang Om aku sudah terbiasa menunggu di sini. Jadi sekarang Om pulang saja"


Barack seakan tidak tega membiarkan David berada di sana sendirian. Kini tangannya bergerak menekan tombol untuk melepas pengait sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.


"Om aku mohon, pergilah sekarang. Atau aku tidak akan menemui Om lagi nanti" ucapnya dengan nada memohon. David terpaksa harus mengatakan hal itu karena sebelumlnya dia telah melihat mobil Luna berada tidak jauh darinya.


Mendengar ancaman dari David akhirnya Barack memutuskan untuk memakai kembali sabuk pemgamannya.


"Baiklah, om akan pergi" Barack melempar senyum kepada David sebelum akhirnya meninggalakan anak itu sendirian.


Setelah mobil Barack menghilang di tikungan, mobil Luna pun datang mendekat ke arah David.


"David??" Luna menghentikan mobolnya dan meloncat keluar. Dia mengitari mobil dan berlari ke arah David.


"Sayang kamu baik baik saja?" ke dua alis Luna menyatu, dia namapak sangat khawatir dengan keadaan Putranya

__ADS_1


"David baik baik saja Mah, ayo kita pulang" ujung matanya sesekali melirik ke arah tikungn, di mana mobil Barack sudah tak nampak saat itu.


"Mas David pergi kemana?? dengan siapa tadi?" Lilis berusaha menginterogasi majikannya.


"Mbak Lilis kepo!"


"Sayaaang! nggak boleh berbicara seperti itu dengan orang tua. Ayo bilang apa sama Mbak Lilis? dia kan juga merasa khawatir dengan kamu sayang. Nggak boleh seperti itu ah" Luna berucap dengan lembut, namun penuh dengan penekannan kepada putranya.


"Iya, , Mbak Lilis. David minta maaf ya, karena David udah nggak sopan sama kamu" David pun menekuk wajahnya kemudian.


Sementara Lilis tersenyum penuh kemenangan.


♡♡♡


Luna berjalan ke arah reseptionis ketika dirinya tak menukan Adrian di dalam ruang kerjanya.


"Mm, , kalian bisa memberitahuku dimana Pak Adrian?" ucapnya kepada salah satu pegawai di sana.


Salah seorang reseptioni nampak menekan tombol tombol huruf di keyboardnya.


"Maaf, hari ini Pak Adrian mendadak harus keluar kota"


"Oke, , terima kasih infonya"


"Maaf, tetapi tadi ada panggilan dari Grub Samnun untuk Anda, mereka meminta anda segera membawa desain untuk musim semi. Hari ini juga"


"Baik aku akan mengirimnya lewat email"


"Maaf tapi, ? pihak Samnun meninta Anda untuk membawanya kesana sendiri"


"Apa??" Luna nampak terkejut, gelisah ketika mendengar ucapan dari reseptionis itu.


"Baik, aku akan membawanya sekarang.


♡♡♡


Luna melangkah turun dari mobil, kakinya nampak ragu ketika ingin melangkah masuk ke dalam lobi.


Namun Luna meyakinkan dirinya lagi, bahwa dia pasti bisa melakukanya.


Luna pun berjalan masuk melewati lobi menuju ke arah lift.


Pintu hampir tertutub, namun seseorang menekan tombol buka dari arah luar hingga akhirnya pintu lift pun terbuka kembali.


Luna menunduk ketika melihat pintu Lift terbuka. Matanya melirik ke arah sepasang sepatu kulit berwarna hitam pekat di dapannya. Kaki jenjang itu nampak indah ketika sepatu hitamnya di padu padankan dengan celana berwarna senada dengan sepatunya.


Ujung mata Luna menyapu kaki laki laki itu, matanya bergerak naik hingga ujung kepalanya.


Luna mendongak untuk memastikan pemilik sepasang sepatu yang indah itu.


Matanya membulat seketika, saat melihat laki laki itu adalah mantan Suaminya.


"Kamu paati bisa Lun, tunjukkan kepada laki laki yang di depanmu ini. Bahwa kamu benar benar sudah bisa melupakannya"


Barack pun juga terkejut, namun laki laki itu nampak dengan sangat baik dalam menjaga rasa gugubnya.


Barack dan Luna berada dalam satu lift. Dan hanya ada mereka berdua di sana.


Luna mundur beberapa Langkah untuk menjauh dari Barack. Dan laki laki itu menyadarinya.


Setelah pintu tertutup ingin rasanya laki laki itu melompat ke pada Luna dan memeluk tubuh mungil perempuan yang sangat dicintainya itu dengan erat.


Ruang di dalam lift hening seketika. Hingga detak jantung mereka sampai terdengar di rongga telinga mereka masing masing.


Tangan Luna mengepal, seakan dia berusaha keras untuk menahan perasaannya ketika berada di dalam sana.


Matanya membulat lebih lebar ketika lift itu berhenti secara tiba tiba. Dan itu mengingatkan kejadian yang pernah mereka alami sebelumnya.

__ADS_1


Luna pun berusaha untuk tenang, dan tak bertindak bodoh seperti dulu lagi.


__ADS_2