
Bunga ingin menolaknya, tetapi merasa tidak enak hati dengan Roland yang sudah berniat baik ingin mengajaknya jalan.
"Anggap saja jalan seperti biasanya. Saat bersama dengan teman!, , eh, , iya ya memang jalan sama teman!, , mikir apa coba otakku!"
Bunga menepuk jidatnya sendiri, merasa seperti orang bodoh yang sudah berfikir terlalu jauh.
Dia bahkan sempat memakai make up tetapi akhirnya menghapusnya lagi dan kini hanya memilih memakai lipgloss.
Ting tong!
Bunga segera merapihkan rambut dan baju yang dikenakannya. Setelahnya berlari kecil menuju pintu, berdiri sejenak menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaannya. Dadanya berdebar kencang merawa was was bertatap muka dengan Roland.
Tangannya meraih gagang pintu kemudian membukanya.
Betapa terkejutnya Bunga ketika membuka pintu dan Davien telah berdiri di sana. Bunga terpaku matanya masih menatap Davien sengan penuh tanda tanya.
"Davien?, , apa yang dia lakukan di sini"
Pandangannya menyelidik ke sekitar.
"Roland tidak akan datang kemari!" Davien berucap dengan nada tenang, sementara ekspresi wajahnya tak bisa ditebak.
"Dari mana"
"Ikut denganku!" Davien memotong pembicaraan, dia meraih tangan Bunga dan memaksa ikut bersama dengannya. Bunga merasa kelabakan saat Davien menarik tangannya tetapi satu tangannya lagi berusaha menuntup pintu. Bunga pun masuk ke dalam mobil.
"Davien!"
"Diam" Davien berucap dengan lirih, membungkuk memasukkan setengah badannya ke dalam mobil untuk membantu memasangkan sabuk pengaman.
Davien menoleh menatap wajah Bunga yang tepat ada di depannya.
Bunga menunduk menghindari tatapannya, dadanya berdebar ketika nafas Davien yang hangat menyapu wajahnya.
Davien semoat mendengar percakapan Bunga dan Roland ketika di kantor. Maka dari itu dia kini menyuruh laki laki itu untuk lembur dan menyelesaikan tugas yang dia berikan. Sengaja untuk membatalkan rencana Roland mengajak Bunga berkencan.
Davien menutup pintu kemudian berjalan ke sisi lain untuk masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesinnya lalu mengemudikan mobilnya dengan perlahan.
♡♡♡
Suasana hening, hanya suara mesin mobil yang memenuhi kabin mobil saat itu. Bunga membisu, membuang pandangannya ke arah luar dari balik kaca.
"Maaf"
"Aku tidak ingin membahasnya!" sahut Bunga dengan tegas. Dia ingin melupakan kejadian itu tetapi Davien selalu mengingatkannya.
"Aku sudah melupakan hal itu!, , jadi aku mohon jangan pernah membahasnya!" Bunga masih menatap ke luar. Mencoba menghindari untuk bertatap muka secara langsung dengan Davien.
"Aku harap kamu bisa perlakukan aku seperti pegawai lain, aku tidak tahu kenapa kamu sangat membenciku dari awal. Aku sudah meminta maaf soal waktu kejadian yang lalu, aku juga berencana membayar kembali uang yang kamu berikan. Hanya saja aku ingin tahu, kenapa kamu sangat membenciku!"
Mendengar ucapan Bunga, Davien seketika memelankan dan menepikan mobilnya. Setelah berhenti dan menaraik handrem Davien sejenak terdiam menatap kedepan. Davien tidak bisa menjelaskan kenapa dia membencinya. Ketika dua hal yang berlainnan sedang mengganggu jiwanya, Davien tak tahu harus berbuat apa.
Selama ini perasaannya hanya terpaut kepada Essie. Dan ketika dihadapkan dengan perempuan lain Davien merasa sangat bingung.
__ADS_1
"Lupakan masalah itu!" ucapnya seketika.
"He?" Bunga mengalihkan pandangannya ke Davien. Laki laki itu menengadah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Sementara matanya menatap Bunga dengan lekat.
"Lupakan sola uang itu!" Davien terdiam, mengangkat kembali kepalanya. Pandangannya masih terarah kepada Bunga.
"Kenapa kamu tiba tiba datang dalam kehidupanku?" suaranya melemah, terdengar sangat rendah.
"Apa?" Bunga terpaku, masih berusaha keras mencerna ucapan Davien.
"Kamu nengganggu pikiranku!!" Davien mendorong tubuhnya mendekati Bunga, membuat perempuan itu menjauh dengan menarik tubuhnya kebelakang.
"Kenapa kamu senang sekali mengganggu pikiranku!!" tambahnya.
Sebelum Bunga menghindar lagi Davien menggerakkan tangannya meraih belakang kepala Bunga kemudian mencium bibirnya.
Lagi, kali ini Davien sadar melakukannya. Sadar bahwa Bungalah yang sedang diciumnya.
Bibirnya terasa lembut dan hangat, permukaan kulit wajahnya sangat harum.
Harum khas akan aroma Bunga.
Yang semula Davien membenci aroma itu melekat di tubuh Bunga, kini sedikit demi sedikit mulai terbiasa dan menyukainya.
Davien tak pernah membayangkan akan melakukan hal itu lagi. Tetapi semenjak malam itu Davien tak bisa melupakan kemanisan bibir Bunga. Seperti heroin yang selalu membuatnya ingin mincicipi terus dan terus.
Davien tak menghiraukan tangan Bunga yang sedang memukuli dadanya. Dia hanya fokus dengan bibirnya.
Davien ******* bibirnya denga lembut, perlahan sengaja membuat Bunga menikmatinya.
Tubuhnya menegang, darahnya berdesir hingga memanas dan menjalar ke seluruh permhkaan kulitnya.
Bunga tak bisa menolaknya, untuk beberapa saat dia membuang jauh jauh pikiran murahan yang sempat dia lontarkan untuk dirinya sendiri.
Bunga mencengkeram jasnya dengan erat, matanya tertutpu rapat. Tak tahu lagi akan menghujat dirinya sendiri dengan sebutan apa nantinya. Baginya saat ini Davien membuatnya terhipnotis hingga terbawa suasana kemanisan biburnya.
Davien mendorong kepalanya untuk memperdalam ciuman, menyesap bibir Bunga dengan perlahan.
Ciuman itu terjadi Lumayan lama, membuat Bunga hampir tak bisa merasakan bibirnya yang sudah mulai sedikit membengkak.
Dreeet dreett!!
Davien seketika membuka matanya, bibir mereka masih saling berpagutan. Davien melepaskan ciumannya, menarik tubuhnya kebelakang menjauhi Bunga.
Bunga terpaku, pipinya merona. Sadar bahwa barusaja telah menikmati ciuman yang seharusnya tak boleh terjadi lagi untuk yang kedua kalinya.
Davien mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas. Matanya meneyelidik ke layar ponsel dan mendapati Keiko sedang memanggilnya. Davien lupa bahwa malam ini dia sudah berjanji untuk makan malam dengannya.
Davien menoleh melihat Bunga yang sedang terdiam sambil memegangi bibirnya yang memerah.
Dia menghela nafas panjang sebelum mengangkat panggilan dari Keiko.
"Halo Keiko?" suaranya terdengar rendah dan lembut.
__ADS_1
Bunga yang mendengarnya langsung menoleh. Menyelidik ke ekspresi wajah laki laki yang sedang berbicara dengan perempuan lain di seberang sana.
"Keiko??, , astaga. Sesaat aku lupa dengan perempuan itu".
Bunga mengusap wajahnya perlahan, menyimlan rambut yang sempat menghalangi wajahnya ke bagian belakang kepala dengan kedua tangannya.
Bunga menghela nafas menetralkan perasaannya. Tiba tiba dadanya terasa sesak saat Davien menyebut nama perempuan itu.
"Maaf, aku sedang ada di luar. Aku tidak lupa. Sebentar lagi aku akan menjemputmu" Davien memutus panggilannya.
"Jika ingin pergi dengannya!, , lalu untuk apa menemuiku dan mengajakku keluar!"
Entah mengapa Bunga jengkel mendengar Davien akan pergi menemui perempuan itu. Dia segera melepaskan sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuhnya.
"Aku akan mengantarmu pulang terlebih dulu" ucap Davien yang telah bersiap menyalakan mesin mobilnya.
"Tidka perlu!, , aku bisa pulang sendiri" Bunga membuka pintu dan melangkah turun menjauh dari mobil.
Davien terdiam sesaat, menatap Bunga dan mencerna ekspresi wajahnya. Bunga hanya diam memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak lama setelah itu Davien kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Dengan segera dia melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan Bunga.
Wajahnya memerah jengkel, matanya menatap mobil Davien yang semakin menjauh. Ya Bunga sangat bodoh. Untuk yang kedua kalinya dia menjadi perempuan terbodoh karena Davien.
Kenapa dia tak bisa menolaknya.
Bunga menekuk kedua lututnya kemudian berjongkok. Memegangi kepalanya dengan kedua tangannya di sisi kanan dan sisi kiri.
"Bagaimana laki laki itu bisa membodohiku untuk yang kedua kalinya!! ada apa denganku ini!! kenapa aku tidak bisa menolak ketika dia menciumku!"
Bunga beranjak berdiri, menghentak hentakkan kakinya seperi anak kecil ke jalan.
"Bodoh! bodoh! Bunga bodoh!!" umpatnya kepada diri sendiri.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Marvel melangkah turun dan menghampiri Bunga.
"Kak Marvel??" Bunga menatap heran ke arahnya.
"Kenapa kamu ada di sini?" Marvel nampak khawatir melihat raut wajah Bunga yang terlihat menyedihkan.
"Aku baru saja dari rumahmu"
"Kak Marvel mencariku?"
"Iya" Marvel berucap sembari merapihkan anak rambut Bunga yang berantakan.
"Aku ingin mengajakmu makan malam"
"Makan malam?" Bunga mengulangi ucapannya, kebetulan perutnya juga sudah mulai lapar.
"Iya, temanku kembali dari Amerika. Kita akan menyambut kedatangannya dengan makan malam. Makanya aku datang untuk menjemputmu, maukan menemaniku makan malam?" ucapnya dengan nada menunutut berharap Bunga tak akan menolaknya.
"Mmmmm, , boleh." senyumnya mengembang di setiap sisi. Membuat perempuan itu terlihat lebih manis.
"Ayo" Marvel tersenyun, tangannya mengusap lembut ujung kepala Bunga. Dia berjalan ke sisi lain untuk membukakan pintu dan mempersilahkan Bunga masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1