
Barack masih memeluk tubuh luna di atas ranjang rasanya dia tidak ingin beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
"Setelah ini kamu ingin kita pergi kemana bulan madunya?" bisik barack.
"Jangan waktu dekat ini ya, , aku sebentar lagi juga wisuda" sejenak dia berhenti berucap untuk memberikan waktu agar barack berfikir.
"Perusahaan mu juga sudah membaik, , jadi bisa kan ikut aku pulang untuk menghadiri acara wisudaku nanti?" nada bicara luna terdengar seperti sedang memohon pada barack.
"Coba nanti, akan aku usahakan" barack melepas pelukannya dan mengubah posisi tidur yang tadinya miring kini menjadi terlentang sambil menyilakkan rambutnya ke atas kepalanya.
"ko gitu!!" dengan sigap luna langsung naik ke atas pinggang barack sambil menahan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Aduh!" barack melenguh ketika tanpa sengaja menduduki miliknya barack.
"Uuppsss, , maaf, , tidak sengaja" luna berusaha menahan senyumnya.
Barack bergerak cepat bangun dari tidurnya dan memeluk tubuh luna yang masih duduk di pangkuannya.
"Kamu sengaja kan!" wajah barack terlihat sangat bernafsu.
"Kamu ternyata nakal juga ya" tambahnya.
Luna hanya terkekeh mendengar perkataan barack.
Barack berusaha menarik selimut yang menutupi tubuh luna namun dengan sigap luna langsung beranjak dari atas pangkuan barack dan berlari ke arah kamar mandi.
"Hei, , dasar. Tanggung jawabnya mana ni? sengaja bangunin dia, malah ditinggal pergi" kata barack sambil tertawa.
Luna hanya menjulurkan lidahnya berusaha mengejek barack.
Saat akan beranjak dari ranjangnya untuk mengejar luna, ponsel barack yang di atas meja bergetar.
drreettt, , drreeet, ,
Barack mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya itu.
Terlihat di layar ponselnya kalau satya sedang memanggil.
"Halo?" barack mengangkat panggilannya.
"Sorry nih ganggu liburannya, tapi para founder ingin bertemu dengan mu. Mereka memaksa menunggu di ruang rapat"
__ADS_1
Barack menghela nafasnya dengan pelan setelah mendengar kabar dari satya.
"Oke aku akan ke sana".
Barack langsung beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke arah kamar mandi tamu, karena dia tahu kalau menunggu luna pasti malah lebih tambah lama.
Keluar dari kamar mandi luna berusaha mencari barack yang sudah tidak ada di kamarnya.
"Barack??" luna berusaha mencarinya keluar dari kamar.
Akhirnya dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi tamu.
"Barack??, , kamu mandi di sini?" tanya luna sambil mengetuk pintu ruang kamar mandi.
Barack pun kelur dari kamar mandi.
"Maaf, tapi aku harus berangkat ke kantor hari ini" wajah barack penuh dengan penyesalan.
Luna terlihat murung dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya ketika barack tidak ada di rumah.
"Masak aku di rumah sendirian?" luna mulai merengek seperti anak kecil.
Barack duduk di sofa dan meraih tangan luna sambil memeluk paha luna yang berdiri di depannya.
"Kalau bisa memilih aku juga tidak akan berangkat ke kantor"
Luna mendudukkan dirinya di kaki barack yang sedang duduk di atas sofa. Sambil melingkarkan ke dua tangannya ke leher barack.
"Ikut?" barack mengulangi pertanyaan luna untuk memastikannya.
"Mm" luna menganggukkan kepalanya.
"Yakin?, , aku lama lo, , kalau kamu bosan gimana?" kata barack sambil menyilakkan rambut luna ke arah belakang telinganya.
"Intinya boleh atau tidak, udah gitu aja" nada suara luna mulai terdengar jengkel.
"Iya, , tapi ada satu syarat" barack mencoba bernegosiasi dengan luna.
Mata luna terlihat mengerucut .
"Apa?" luna mulai curiga dengan ucapan barack. Seperti ada sesuatu yang terselubung di dalamnya.
Dengan cepat barack langsung menyodorkan bibirnya ke arah luna.
"Jadi syaratnya harus nyium??" kata luna memastikan, terlihat luna tersenyum mengembang di ke dua pipinya ketika melihat barack mengucir bibirnya.
Namun ketika luna akan memenuhi keinginan barack, dengan cepat barack malah melumat bibir luna.
__ADS_1
Barack hanya menciumnya sebentar, karena tahu dia harus segera pergi ke kantornya.
Sesampainya di kantor, barack langsung turun dari mobilnya dan menggandeng tangan luna menuju ke arah dalam ruang kerjanya.
"Kamu tunggu di sini dulu, , tidak apa apakan??" barack diliputi rasa bersalah karena di hari cuti pernikahnnya seharusnya mereka bersenang senang, tetapi yang ada malah mengajak luna untuk pergi bekerja.
"Iya aku tidak apa apa" luna meraih wajah barack dan mendaratkan ciumannya di kening barack.
"Ingat jangan kemana mana" nada bicara barack terdengar seperti sedang mengancam.
"Iya iya, , sudah sana pergi" peeintah luna.
Barack pun pergi meninggalkan ruang kerjanya, namun terlihat sekali dari raut mukanya kalau dia benar benar merasa berat hati harus meninggalkan luna di ruang kerjanya sendiri.
Di ruang meeting, barack menemui para founder yang sedari tadi menunggunya.
Lagi lagi mereka membahas masalah keuangan.
Namun barack sudah memastikan kalau ke adaan perusahaan kini sudah membaik dan bagian operasional juga sudah bekerja dengan lancar.
"Baiklah, sesuai dengan perjanjian, karena kamu bisa mengembalikan keadaan keuangan perusahaan kembali normal, maka kami akan mengurungkan niat kami untuk menarik kembali dsaham kami" kata salah satu founder yang hadir di rapat itu.
Di ruang kerja barack, luna merasa bosan, dia berjalan mengitari ruangan itu.
Dan menghentikan langkahnya di jendela kaca bersar yang menghadap langsung ke arah jalan utama.
Dari lantai atas luna melihat stand penjual es di seberang jalan.
Wajah luna nampak sangat gembira seperti anak kecil saat itu.
Dia berlari keluar dari ruang kerja barack dan masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai dasar.
Sesampainya di lantai dasar dia langsung ke luar dari lobi, berlari menyeberangi jalan raya.
Luna tidak sabaran, dia menyebrang tanpa memperhatikan rambu rambu lalu lintas di depannya.
Lampu saat ini yang menyala adalah lampu hijau jadi kendaraa. masih berlalu lalang di depan matanya
"tinttttiiiinnnn"
__ADS_1
Luna merasa kaget ketika melihat mobil melaju dengan kencang ke arahnya.
***