
"Menyebalkan!" ucap bunga yang masih dalam keadaan terpejam. Perempuan itu mengigau lagi sambil menggenggam erat lengan David.
"Kamu benar-benar laki-laki yang sangat menyebalkan! menyebalkan" Bunga Terus berucap dengan nada yang semakin melemah di akhir kalimat. Tapi tangannya masih dengan kuat menggenggam meremas kemeja lengannya.
Laki-laki yang masih mengenakan kemeja putih serta duduk di bibir ranjang itu nampak terdiam, pandangannya kembali tertuju kepada jari-jemari Bunga kemudian perlahan beralih ke wajah perempuan yang kini telah berhenti mengigau. Sepertinya Bunga sudah kembali terlelap.
Senyum tipis nampak menghiasi bibirnya hingga mimik wajahnya berubah terlihat begitu gembira. Davin menggerakkan satu tangannyauntuk meletakkan handuk, sementara satu tangannya lagi dia gunakan untuk meraih kening bunga dan mengusap lembut di sana.
Davin mendekatinya, perlahan mengecup kening kemudian setelahnya mempertahankan posisinya di mana wajah mereka saling berdekatan. Matanya tak pernah lepas ketika memandang wajah perempuan itu.
Perlahan pandangannya menurun hingga berhenti di bibir mungil yang merona. Laki-laki itu terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menggerakkan kepalanya dan bermaksud untuk mencium bunga.
Akan tetapi dengan tiba-tiba perempuan itu malah membuka matanya lebar hingga membuat Davin terpaku, padahal jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa inci saja, bibir mereka pun nyaris bersentuhan. Dia hampir berhasil mencium perempuan. Pandangannya kini beralih kepada dua mata yang nampak memerah.
Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika Bunga seakan seperti sedang memergoki dirinya. Namun tak lama kemudian Bunga dengan perlahan kembali menutup matanya.
Dan saat itu juga Davien menarik tubuhnya ke belakang, nafasnya sedikit memburu. Dia merasa seperti seorang penjahat yang baru saja mencari kesempatan dalam kesempitan. Bahkan dia sempat berdehem dengan perlahan untuk mencairkan suasana canggung.
Perlahan Davien menolehkan kepalanya melihat bunga untuk memastikan bahwa perempuan itu kembali terlelap. Setelahnya dia beranjak berdiri berjalan sambil melepaskan kancing bajunya satu per satu.
Davin membuka kemudian melemparkan kemejanya sembarangan. Tubuh tegap putih dan maskulin serta kulitnya yang nampak bersih itu seakan sudah tak sabar untuk segera ingin dihujani air dari shower.
Davien melangkah masuk kedalam kamar mandi sambil menutup pintu tanpa menguncinya. Setelah berhasil melepaskan celananya dan laki-laki itu bertelanjang bulat dia menggerakkan tangannya memutar kran. Seketika Davin yang sedang bersiap-siap dibawah shower pun memejamkan matanya menikmati setiap tetesan air yang menghujan di kepalanya.
Bunga terbangun, seketika dengan cepat dia duduk di atas ranjang pandangannya terlihat tak terarah dan tak menentu, dia sesekali terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya hingga terlihat kerutan kasar di dahinya seolah dia sedang merasakan betapa kerasnya dia menahan rasa sakit kepala yang teramat akibat pengaruh alkohol.
"hoek" Bunga merasa semua isi di dalam perut ingin segera dimuntahkan saat itu juga. Tanpa berpikir panjang dia melompat dari atas ranjang kemudian berlari ke arah kamar mandi.
Bunga membuka pintunya kemudian duduk di lantai sementara satu tangannya membuka penutup closed.
"hoek" berkali-kali bunga memuntahkan semua isi di dalam perutnya hingga hampir tak tersisa.
Davien yang baru saja sadar bahwa seseorang telah masuk ke dalam kamar mandi pun langsung mematikan shower-nya. Kedua bola matanya seketika tertuju kepada Bunga yang sedang terduduk dengan setengah badannya membungkuk karena sedang bersusah payah mengeluarkan semua cairan yang ada di dalam perutnya.
Bunga masih terus muntah hingga habis tak tersisa kini yang keluar dari dalam perutnya hanya cairan yang sedikit mengental dan berwarna kuning serta terasa pahit di rongga mulutnya.
Bunga menghela nafas mengatur dadanya agar bisa kembali bernafas dengan normal setelah muntah hingga kehabisan nafas. Perempuan itu duduk menyadarkan punggungnya di tembok sementara kepalanya menengadah dengan kedua mata yang tertutup rapat.
__ADS_1
Davin masih berdiri termangu menatap bunga yang pucat. Menyadari bahwa sepertinya perempuan itu tidak sadar bahwa ada dirinya yang masih telanjang bulat, Davien yang raut wajahnya tegang dari tadi pun perlahan menggeser kakinya untuk mempermudahkan diri ketika ingin meraih handuk.
Davien menelan ludahnya dengan susah payah berharap Bunga akan membuka matanya ketika nanti dia sudah menutup sebagian tubuhnya. Namun apa yang ditakutkan pun akhirnya terjadi, perempuan itu seketika membuka matanya perlahan.
Dan ketika matanya terbuka lebar, Davien dengan cepat menarik handuk yang sudah diraihnya untuk menutupi tubuh bagian bawah.
Wajahnya terpaku pemandangan yang seharusnya tak boleh dilihatnya itu nyaris terlihat jelas di depan matanya. Posisi Davien yang berdiri sementara bunga yang duduk di samping kloset membuatnya dapat melihat jelas apa yang sedang berusaha ditutupi oleh Davin.
"Aaaaa....!!!" Bunga berteriak sekencang-kencangnya sembari menutup mata dengan kedua tangannya. Dia dengan cepat beranjak dan bergegas lari keluar.
"Bunga!" ucap Davien mencoba menenangkan bunga yang telanjur berlari naik ke atas ranjang, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga tak ada satupun bagian yang terlihat.
Dengan sikap tenang Davin berjalan keluar kamar mandu, kemudian meraih handuk piyama lalu memakainya.
Ketika dia sibuk mengikat tali pinggang pandangan matanya terarah kepada bunga.
"Hei! kenapa kamu menutup tubuhmu seperti itu?" seru Davien yang kini mulai berjalan mendekati ranjang.
Bunga yang merasa bahwa Davien sedang berjalan kearahnya pun berteriak sambil mempertahankan kedua tangannya yang masih mencengkeram selimut dengan erat.
Salah satu tangannya telah menarik selimut yang menutupi Bunga hingga perempuan itu terkejut dan seketika dengan cepat dia menutup kedua matanya.
Davien yang melihat tingkah bunga pun cekikikan dengan gayanya yang elegan.
"Kenapa kamu menutupi matamu? lihatlah aku sudah menutupi tubuhku" laki-laki itu kini telah berhasil duduk di tepi ranjang.
Davin mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum tipis. Perlahan bunga menurunkan kedua tangannya namun pandangan matanya tak terarah karena sengaja menghindar dari tatapan tajam laki-laki yang tepat berada di depannya.
"Bersihkan tubuhmu aku akan menyiapkan baju dan minuman untuk membantu menghilangkan rasa nyeri di kepalamu" Davien beranjak dari ranjang kemudian meraih kepala bunga lalu mengusapnya dengan lembut.
Jantungnya hampir lepas ketika sempat melihat Davin tepat di depannya, laki-laki itu terlihat lebih tampan dan seksi ketika rambutnya yang basah dan berantakan menutup kening dan sebagian matanya. Bunga hampir dibuat tak berdaya dengan laki-laki itu.
Davien lalu pergi menuju pintu dengan gayanya yang santai namun berkarismatik. Bunga menghela nafas dengan kasar seolah dia merasa lega setelah melihat laki-laki itu menghilang di balik pintu.
"Tungg!" Bunga baru tersadar, kini pandangannya menyapu seluruh ruangan di mana dia berada.
Dia memaku wajahnya Ketika menemukan sebuah lukisan berukuran besar tepat berada di depan matanya.
__ADS_1
Lukisan berwarna hitam putih itu membuatnya tak bisa berkata-kata. Di sana wajah tampan serta tubuh atletis Davien terpampang nyata. Bentuk setiap lekuk di lengan dan perutnya yang sixpeck membuat Bunga semakin berkhayal dan menganga.
Perempuan itu bergidik untuk mengembalikan kesadarannya, Bunga terkejut kedua tangannya menutupi mulut yang menganga tak percaya.
"... ini kamar Davien?" bola matanya berputar untuk memastikan sekali lagi.
"Sejak kapan aku di sini?" Bunga menghela nafas dengan kasar.
"Aduh kepalaku!" sambil memijat kecil kepalanya dia mengingat apa yang sebelumnya terjadi hingga kini dia harus berakhir di kamar itu.
Bunga akhirnya memilih beranjak dari ranjang kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
Sementara di dapur Davien tengah sibuk membuatkan minuman untuk bunga. Laki-laki itu seketika memangku tangannya setelah beberapa saat mengaduk-aduk minuman.
Wajahnya terpaku seakan Dia sedang memikirkan sesuatu, tak lama dia terlihat membuka sebuah almari di dalam suatu kamar yang segala sesuatunya bernuansa pink di sana.
Dia tengah sibuk memilih baju yang nantinya akan dia berikan kepada bunga.
ceklek
Bunga membuka pintu kemudian melangkah keluar dari kamar mandi. Pandangan matanya langsung tertuju kepada gaun yang sudah tertata rapi di atas ranjang, gaun berwarna pink dengan aksen bunga transparan akan terlihat sangat manis jika bunga memakainya.
Bunga melangkah keluar dari kamar mandi, setelahnya memaku langkah kakinya tepat di samping ranjang di depan gaun itu. Dia sempat memandangi gaun beberapa detik dan berfikir apakah ini gaun yang sengaja di siapkan oleh Davien untuknya.
Bunga menggerakkan tangannya meraih gaun itu memandanginya dengan penuh arti entah apa yang dia pikirkan seolah dia merasa ada sesuatu dengan gaun itu tapi dia tak ingin memikirkan lebih.
Davin masih sibuk mengaduk segelas minuman di dapur, tak lama pandangannya langsung tertuju kearah bunga yang baru masuk kesana.
Laki-laki Itu terdiam terpaku sejenak menatap bunga yang telah berhasil memakai gaun pink yang sengaja dia siapkan untuknya.
Senyuman tipis terlihat menghiasi bibirnya hampir tak terlihat. Laki-laki itu kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah cangkir yang ada di atas meja.
"Kemarilah,... minum ini, ini akan membantumu sedikit mengurangi rasa pusing yang ada di kepalamu" Davien meminta bunga untuk mendekat, kemudian dia menyodorkan Gelas itu perlahan ke arah nya setelah bunga berhasil duduk di kursi.
Belum sempat Bunga meminumnya, Davien kembali sebuah kalimat yang membuatnya terpaku hingga nyaris mati di tempat.
"Kamu mau menikah denganku?"
__ADS_1