
Luna mengalihkan pandangan matanya ketika melihat pintu bergerak membuka dari arah luar.
Beberapa staf Samnun nampak berdatangan, mereka duduk di kursi mereka masing masing.
Dia menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada mereka.
Setelahnya perempuan itu kembali memgalihkan pandangan matanya ke arah pintu lagi, dan betapa terkejutnya ketika melihat Satya masuk ke dalam ruang itu.
"Dia??"
Terlebih lagi ketika dari arah belakang Satya di susul oleh Barack.
Matanya membulat, tubuhnya menegang. Bibirnya memaku kemudian.
Dadanya berdebar kencang, nafasnya terus memburu. Dia berusaha keras mengendalikan perasaannya.
Dadanya terasa panas, darahnya secara tiba tiba mendidih dan langsung menjalar keseluruh tubuh.
Itu pasti sangat sulit baginya, bagaimana mungkin dia langsung bisa menetralkan perasaannya begitu saja ketika melihat mantan Suami yang selama 8 tahun di hindari dan secara tiba tiba kini muncul di depan matanya.
Luna tidak pernah menduga akan hal itu.
Laki laki itu sangat di bencinya, namun juga masih sangat dicintainya. Dilihat dari wajahnya yang sedikit pucat, Adrian yang berada di sampingnya pun tahu betapa kerasnya perempaun itu menahan rasa tertekannya saat berada di posisi itu.
Tidak jauh berbeda dengan Luna, Adrian juga merasa terkejut ketika melihat Barack muncul di sana. Dia juga tidak menduga sebelumnya.
Barack berjalan dengan sikap arogannya, matanya tajam tertuju ke arah depan. Tak sedetik pun dia melihat ke arah Luna. Namun sebenarnya laki laki itu juga merasakan gugub hebat di dalan dadanya.
Dia berdiri di podium dan memperkenalkan dirinya sebagai Ceo baru dari Samnun.
Adrian semakin terkejut, namun laki laki itu terlalu pintar untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang nampak kecewa. Dia tersenyum dan bertepuk tangan setelah mendengar sedikit sambutan dari Barack.
Sementara perempuan yang duduk di sebelahnya, masih terdiam. Masih mengumpulkan keberanian di dalam hatinya. Untuk menatap mata Barack. Tangan Luna basah karena keringat dingin, jantungnya pun serasa mau copot saat itu.
Barack beranjak dari podium, dia mempersilakan Satya untuk memberi sambutan selanjutnya di sana. Barack berjalan melanglah ke arah kursi, laki laki itu duduk di seberang meja dan berhadap hadapan dengan Luna.
Dengan angkuhnya Barack tetap berusaha bersikap tenang layaknya seorang yang tak mudah terpengaruh dengan keberadaan Luna.
Adrian melirik ke arah perempuan di sampingnya, dia melihat Luna yang terus menunduk menatap ke arah map di depan mejanya.
Tangannya bergerak meraih tangan Luna dan menggenggamnya. Seolah dia sedang memberi ketenangan kepada perempuan itu.
Luna memalingkan wajahnya ke arah Adrian, dan tersenyum kecut ke padanya.
Di sisi lain, Barack nampak membenamkan punggungnya ke dinding kursi, sementara salah satu tangannya menyangga dagu yang bertumpu di tepian kursi.
Matanya bergerak melirik ke arah tangan Luna yang sedang di genggam oleh Adrian.
Tangan yang semula menyangga dagunya, kini nampak mengepal erat di sana. Namun dengan sebisa mungkin Barack mencoba menguasai dadanya yang bergemuruh.
Adrian melihat ke arah Barack, seolah dia ingin melihat ekspresi wajah Barack ketika tahu dirinya sedang menggenggam tangan Luna.
Dan saat itu juga mata Barack beralih menatap ke arah depan, dia mengalihkan pandangan matanya ke arah Satya yang sedang sibuk memberikan sambutannya sembari menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaannya.
Selang beberapa menit kemudian giliran Adrian memberikan sambutan serta mengambil alih untuk mempresentasikan program progam mereka kedepannya.
Ketika Adrian tengah sibuk berucap di atas podium, Barack melirik ke arah Luna yang nampak sibuk memperhatikan Adrian di depan sana.
Luna menyadari bahwasannya Barack masih terus melihat ke arahnya. Namun dia berusaha keras untuk tidak mengalihkan pandangannya ke arah laki laki itu.
Tetapi sepertinya hati dan perasaannya tak bisa bekerja sama dengan baik.
Luna sempat menunduk sebelum ujung matanya bergerak melihat ke arah Barack.
Hingga mata mereka bertemu di sana.
Darah Luna berdesir, jantungnya serasa mau meledak ketika berdetak semakin kencang dan cepat hingga menimbulkan rasa nyeri.
Tak lama, hanya beberapa detik Luna kembali mengalihkan pandangannya lagi.
Dengan santainya Barack hanya menarik salah satu ujung bibirnya, laki laki itu tersenyum sangat tipis ketika melihat ekspresi wajah Luna.
Adrian yang sedang berdiri di podium pun merasakan atmosfer aneh di antara mereka berdua.
Dia melihat ke arah Luna dan Barack secara bergantian. Laki laki itu kini menatap Barack dengan tatapan datar dan ekspresi wajah yang tak terbaca.
__ADS_1
Selesai meeting Barack masih berdiam diri di kursinya, sementara Luna dan Adrian segera bergegas pergi dari ruang itu.
Keinginan untuk beranjak dan melangkah mendekati Luna sangat besar di hati Barack. Namun laki laki itu sadar bahwa dirinya tak bisa melakuka hal itu dan lebih memilih untuk bersikap tenang.
"Terimakasih, , kami harus segera pergi untuk menghadiri acara lain" ucap Adrian. Dia ingin sekali membawa Luna cepat cepat pergi dari tempat itu.
Barack tak bergeming dia lebih memilih diam dan menatap map yang ada di depannya. Dia sengaja mengalihkan perhatian ke sana seolah tidak peduli dengan kepergian Luna.
Setelah Luna dan Adrian pergi, wajah Barack memerah. Dia seakan menahan emosi yang terpendan di dalam dadanya dengan teramat.
Matanya pun nampak memerah dan berkaca.
Setelahnya dia menghela nafas untuk menetralkan perasaan.
"Kamu baik baik saja?" Satya meraih pundak Barack, dia mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"M, , aku baik baik saja. Terima kasih"
♡♡♡
Di dalam mobil, Luna nampak melamun. Dia membisu semenjak keluar dari Perusahaan Samnun.
Ada rasa kecewa, amarah dan senang berkecamuk menjadi satu di dalam hatinya.
Adrian sesekali nampak melihat ke arah Luna, memastikan keadaan perempuan itu.
"Kamu ingin makan apa siang ini?" ucapnya mencoba memecah keheningan di dalam mobil.
"Mm, , aku tidak lapar. Maaf tapi, , apakah aku bisa pulang sekarang?. David masih demam, dan aku tidak enak harus meninggalkannya terlalu lama" ucapnya dengan nada memohon.
Adrian tahu kenapa sebenarnya Luna tiba tiba berubah. Namun perempuan itu sengaja menyebut nama David sebagai alasannya.
"Aku akan mengantarmu pulang"
♡♡♡
Barack menghentikan mobilnya di depan sebuah mini market. Laki laki itu mematikan mesin dan membenamkan tubuhnya di dinding kursi. Pandangan matanya terlihat kosong, dia menunduk mengingat kejadian di mana ketika dirinya bertemu dengan Luna tadi.
Matanya kembali memerah ketika dia berusaha keras menetralkan perasaannya.
Kini dia melihat ke arah luar, manatap kursi yang ada di depan minimarket itu.
Dia mengingat kembali dimana pertama kali dirinya bertemu dengan David, anak kecil yang menggemaskan itu.
Barack melangkah keluar dari mobil dan membeli sebuah minuman kaleng.
Matanya mengawasi ruang dalam bagian minimarket dan arah luar secara bergantian.
"Mm, , apa kamu melihat anak kecil yang biasa ke sini?" ucapnya kepada seorang kasir dalam bahasa inggris.
"Mm, , maksudmu David?" tanya kasir kepada Barack untuk memastikan.
"Iya"
"Owh, dia belum terlihat dari tadi pagi, biasanya sebentar lagi pasti datang, silahkan duduk saja, kamu bisa menunggunya"
Barack keluar dan duduk di kursi. Matanya menyapu sepanjang jalan yang ada di depannya, berharap akan bertemu anak kecil itu lagi.
Namun hampir satu jam lebih dia menunggu, dan Barack tak kunjung melihat batang hidungnya. Akhirnya Laki laki itu memutuskan untuk pergi.
♡♡♡
"Demammu sudah turun sayang?" ucap Luna. Perempuan itu melangkah dan duduk di tepi ranjang. Tangannya bergerak meraih kening David untuk memastikan suhu tubuh putranya.
David hanya menganggukkan kepalanya.
Luna memandang wajah David dengan lekat, dia mengingat kembali akan kejadian dimana dirinya bertemu dengan Barack hari ini.
"Andai saja, dulu semuanya berjalan dengan mulus. Kita bertiga pasti akan berkumpul. Dan Ayahmu akan menjagamu dengan baik ketika kamu sedang sakit"
Mata Luna mulai berkaca, sementara tangan David bergerak meraih pipi Luna dan mengusap air mata perempuan itu.
"Mamah menangis?, aku baik baik saja mah
Jangan khawatirkan keadaanku. Besok juga pasti sudah bisa berangkat sekolah lagi" ucapan yang keluar dari mulut David sangat memberi ketenangan di hati Luna.
__ADS_1
Perempuan itu tersenyum dan mengusap habis air matanya.
"Maaf ya sayang. Mamah pasti akan memberikan yang terbaik untukmu" Luna menghadiahi David sebuah kecupan di keningnya.
"Mbak Luna, ada kiriman bunga untukmu" Lilis berjalan masuk ke dalam kamar dengan membawa rangkaian bunga mawar merah di tangannya.
Dahi Luna berkerut, matanya menyelidik ke arah kertas berbentuk persegi kecil yang terselip di antara bunga itu.
Dia mengambil kertas itu dan membukanya.
Ekspresi wajah Luna nampak datar, setelah mengetahui bunga itu kiriman dari Adrian.
"Simpan saja, taruh di vas ruang tv ya"
♡♡♡
"Kamu baik baik saja?" Luna berjalan mendekat ke arah Adrian. Laki laki itu sedang duduk dan memendam wajahnya di antar lengan yang bertumpu di atas meja.
Adrian mengangkat kepalanya, matanya melihat ke arah Luna yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Bagaimana kalau kita batalkan saja kerja sama dengan Grub Samnun?"
Luna terdiam, ekspresi wajahnya tak terbaca saat itu.
"Kamu yakin?" ucapnya kemudian.
"Aku, , aku hanya"
"Kalau kamu merasa tidak enak denganku, tolong jangan pikirkan diriku. Aku bisa mengendalikan diriku sendiri. Lebih baik kamu perhatikan perusahaanmu saja. Bukankah kamu bilang kalau kita sangat membutuh Samnun"
Adrian memaku bibirnya, dia menatap mata Luna dengan lekat.
"Aku tidak ingin kamu tertekan nantinya. Karena kedepannya kita akan sering bertemu dengan pemilik Samnun yang baru" ucapnya merujuk kepada Barack.
Luna terlihat menghela nafas panjang. Dia seolah sedang mencerta ucapan Adrian.
"Aku tidak akan mencampur adukkan masalah pekerjaan dan hal pribadi. Jadi kamu tidak perlu memikirkan hal itu"
♡♡♡
Mobil Barack bergerak pelan menyusuri tepi jalan menuju ke arah minimarket. Dia sengaja melakukan hal itu, berharap akan melihat David di sana.
Dan takdir seakan memenuhi keinginannya, akhirnya Barack melihat David kembali. Dia melihat seorang anak kecil sedang berjalan menuju ke sebuah minimarket dari arah belakang.
Tin tin!!
Laki laki itu membunyikan klakson mobilnya untuk menarik perhatian david.
Dan akhirnya anak kecil itu memalingkan wajahnya ke arah Barack.
Senyum lebar menghiasi wajah David ketika melihat Barack ada di dalam mobil itu.
"Ayah!!!" teriaknya. Seketika David langsung memaku tubuhnya seolah dia tersadar bahwa baru saja dirinya berteriak ke pada laki laki itu dengan memanggilnya Ayah.
Barack mendengar sehutan dari mulut David, senyum yang semula menghiasi bibirnya tiba tiba menghilang begitu saja ketika David memanggilnya Ayah.
Laki laki itu turun dari mobil dan berjalan menghampiri David.
Matanya nampak menyelidik ke arah anak kecil itu.
David menelan ludahnya dengan susah payah.
"Maaf Om, aku kira tadi itu Ayah. Ternyata aku salah lihat" ucapnya seketika. David berusaha menyembunyikan rasa gugubnya.
Barack pun tersenyum. Laki laki itu kini tengah menekuk kedua lututnya di depan David.
"Kamu tahu, Om juga punya anak seusiamu"
"Ooooohh, , lalu dimana dia Om" David berusaha menetralkan perasaannya. Seolah dia merasa baik baik saja. Padahal jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
"Dia, , dia. Sebenarnya Om tidak ingin membahas hal itu denganmu" Entah mengapa Barack tiba tiba lebih tertarik dengan anak itu ketimbang membicarakan masalah dirinya.
"Bolehkah Om mentraktirmu makan?"
Ekspresi wajah David seketika langsung berubah. Anak kecil itu terlihat sangat senang ketika Barack menawari ajakan untuk makan siang.
__ADS_1