Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#94 Sakit


__ADS_3

Barack tiba tiba memaku tubuh luna dari arah belakang menguncinya dengan ke dua tangan yang bertopang kepada meja di sebelah kanan dan kirinya.


Tubuh luna berlonjak kecil karena kaget, dia memutar tubuhnya dengan cepat menghadap ke arah belakangnya yang sudah ada dada barack yang menutupi pandangan matanya.


Luna merapatkan tubuhnya mundur untuk menyender sepenuhnya pada meja, seolah ingin memberi jarak antara dirinya dengan barack.


Namun barack melangkah maju dan merapatkan dirinya dengan tubuh luna.


Luna menelan ludah dengan susah payah, dia benar benar merasa canggung dengan wajah yang menunduk karena menghindar dari tatapan mata barack yang menggodanya.


Mata barack menyapu seluruh wajah luna tanpa ada bagian yang di lewatkan sedikit pun dari pandangannya.


Barack meraih dagu luna, mendongakkan wajah istrinya itu untuk menghadap ke arah wajahnya.


Namun mata luna masih tak mau melihat ke arah barack. Bola matanya masih melihat ke arah bawah untuk menghindari pandangan mata barack.


"Lihat aku" ucap barack dengan lembut. Dia membungkuk untuk menempelkan keningnya di kening luna, menahan kepala luna mendorong sedikit untuk tetap terus memepertahankan wajah luna menghadap ke arahnya.


Kini wajah mereka sangat dekat, hidung mereka saling menempel hingga nafas barack terasa hangat saat menyapu wajah luna, dan memaksa dadanya berdebar dengan kencang.


"Aku merindukanmu" darah barack berdesir memanas menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia menutup matanya menikmati saat kebersamaan dengan istrinya, nafasnya terdengar kasar seolah sedang menahan gejolak di dalam jiwanya yang sedang menggebu gebu, ingin rasanya melampiaskan rasa kerinduannya ke pada perempuan yang kini berdiri di depannya itu.


Namun dia tetap bertahan untuk tidak menyentuhnya, dan lebih bersabar untuk memberi waktu kepada luna.


Batin dan jiwanya sungguh tersiksa saat menahan semua itu.


Luna menoleh menghindari kepala barack yang masih menempel di keningnya.


Barack membuka mata menyadarkan diri karena luna masih belum bisa menerima dirinya.


Barack merangkup pipi luna dengan ke dua tangannya, memaksa luna kembali melihat ke arahnya, hasratnya kembali menggebu ingin sekali mencumbunya saat itu juga.


Namu melihat wajah luna yang tegang, ke dua mata yang membulat seolah memberitahunya kalau perempuan di depannya itu telah menolak bahkan sebelum barack menciumnya.


Barack mendengus kesal kepada dirinya sendiri. Memejamkan matanya kembali, menempelkan hidungnya di hidung luna dan mengecup bibirnya dengan cepat, ingin melumatnya namun dia tak sanggup melakukannya.


Luna hanya memaku wajahnya, pipinya kini juga merona. Dia memang belum bisa mengingat hubungan baiknya dengan barack namun dia juga tidak bisa menolak saat barack mendekati dirinya.


Dada luna bergemuruh sesekali dia memperdalam nafasnya untuk mencium aroma tubuh barack yang menyeruak masuk ke masuk ke dalam indra penciumnya hingga membuat dirinya merasa nyaman.


"Aku akan mandi, buat dirimu senyaman mungkin di sini" ucap barack kemudian.


Lalu pergi meninggalkan luna, berusaha menyembunyikan hasrat keinginannya untuk mencumbu luna yang terlihat jelas di wajahnya.


Luna masih berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan, bahkan seperti sedang berlomba dengan dadanya yang berlompat lompat dengan cepat.


♡♡♡


Barack keluar dari kamar berjalan menuju ke arah ruang tv, sebelumnya dia telah pergi ke ruang dapur namun tak melihat luna berada di sana.


Dia melihat luna tengah tertidur di atas sofa di ruang tv.


Barack berjalan mendekat ke arah luna, duduk bersilah di lantai menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di tepian sofa.


Manikmati wajah istrinya yang nampak terlihat sangat kelelahan, seperti sedang berusaha mengingat masa lalunya di dalam mimpi.


Kening luna berkerut hidungnya mendengus pelan, mencium aroma sampho dari rambut barack yang ada di depannya.


Matanya membuka lebar seketika, wajahnya memaku saat melihat barack tepat di depannya.


"Aku mengganggu tidurmu?" aroma pasta gigi yang segar keluar dari mulut barack, menyeruak ke dalam hidung luna.


Dengan cepat luna mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk di atas sofa.


"Sedang apa kamu di sini!!" ucapnya dengan ketus.


Barack tersenyum.


"Mangganggumu" jawabnya dengan nada menggoda ke arah luna.

__ADS_1


Barack menarik tangannya dan beralih ke paha luna untuk menopang kepalanya.


Tak puas barack memaksa luna membuka ke dua pahanya menarik tubuh luna agar maju lebih mendekat dan menyandarkan kepalanya di perut luna.


Kedua tangannya melingkar di pinggang luna.


Mata luna kembali membulat, entah untuk yang keberapa kalinya.


Berusaha mengatur nafas yang memburu, jantungnya yang terus berdebar kencang seolah mendorong mendesak keluar dari dalam dadanya.


Namun melihat kenyaman di wajah barack, luna mengurungkan niatnya untuk mendorong tubuh barack agar menjauh darinya.


Barack menutup mata, membayangkan perut luna yang seharusnya kini sudah semakin membesar.


Dia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang luna ingin seperti itu terus dan tak ada keinginan untuk melepasnya.


Luna merasa geli ketika barack menggerak gerakkan kepalanya di antara dua paha luna saat sedang mencari posisi yang menyamankan dirinya.


"Bisakah kamu menyingkir dari situ!" ucapnya kemudian.


"Mm??" barack mengubah posisi kepalanya mendongak ke atas dan membiarkan dagunya persis bertopang di atas tulang kema**** luna.


Luna semakin merasa geli, dia mendorong cepat tubuh barack menjauh darinya.


Tubuh barack tersungkur di atas karpet.


"Ada apa?, , apa aku menyakitimu?" ucapnya kawatir saat luna memeganggi bagian bawah perutnya.


Pipi luna merona, namun tiba tiba tangannya bergerak cepat mengambil ponsel milik barack di atas meja, mengangkat dan memakunya di udara.


Seolah sudah siap untuk di lempar ke arah barack, jika barack bergerak lagi untuk lebih mendekat ke arahnya.


"Hei, kenapa denganmu?, , apa aku membuatmu marah?" ucap barack dengan penuh penasaran, pandangan matanya mengawasi ke arah luna karena dengan tiba tiba ekspresi wajah luna berubah, entah marah atau malu, ke duanya bercampur satu padu di wajah luna.


"Jangan mendekat!!" ucap luna dengan nada tinggi, ketika melihat barack bergerak mendekat ke arahnya.


"Aku tidak akan menyentuhmu, tenanglah luna" ucapnya menenangkan.


Dia bergerak pelan untuk meraih ponsel yang ada di tangan luna.


Tetapi spontan tanpa sadar dengan cepat luna malah melempar ponsel yang ada di tangannya ke arah barack hinggga mengenai bibir bawahnya.


Barack meringis menutup matanya, rahangnya menguat ketika mengeratkan giginya saat menikmati rasa ngilu, sakit yang bercampur aduk di bibirnya yang kini langsung berubah memerah dan sedikit terlihat gumpalan darah menghitam di balik kulit bibirnya yang tipis, warnanya sangat kontras dengan warna kulit wajahnya yang putih, hingga terlihat jelas luka di bibirnya itu.


Seketika hati luna tergerak menekuk ke dua lututnya menghampiri barack meraih bibirnya yang baru saja terkena lemparan ponsel olehnya.


Ada rasa penyesalan di hati luna, dia juga tidak bermaksut sampai berbuat sedemikian jahatnya hingga melukai bibir barack.


Barack membuka matanya ketika luna berhasil meraih bibir barack dengan jemarinya.


"Sakit?" tanya luna tersirat akan kehawatiran di dalamnya.


Tatapan mata barack melembut ke pada luna, dia meraih tengan luna dan menggenggamnya menuntuntun tangan luna menuju ke arah dadanya.


"Mm" barack mengangguk pelan.


"Sakit, tak tak sesakit di dalam sini" ucapnya frustasi dan merujuk lada dadanya sendiri.


Luna terdiam, menyesali perbuatannya yang seharusnya tak bersikap kasar seperti itu.


"Tidak apa apa, aku rela kamu menyakiti diriku jika itu bisa membuatmu melihat ke arahku" ucap barack seketika menyadarkan luna.


"Benarkah, kami sudah menikah?, , hingga sikapnya kini berubah drastis padaku??"


Ingatannya akan barack yang sering memilih untuk pergi menemui klara dan meninggalakn dirinya di jalan kembali mencuat di benaknya, ingatan buruk tentang barack selalu hadir meracau pikirannya.


"Seberapa banyak ingatan yang aku lupakan, hingga tak ada sedikitpun yang aku ingat tentang kedekatanku dengannya?? hingga tahu tahu sikapnya telah berubah baik dan kini aku telah menjadi istrinya, lalu apakah benar katanya kalau ingatanku tentang dia meninggalkanku di hari pernikahan itu adalah sebuah mimpi?"


Luna bergidik menyadarkan dirinya dari lamunan sesaat.

__ADS_1


"Kamu baik baik saja?" tanya barack.


Luna tersadar kini dirinya terlalu dekat dengan barack, segera dia beranjak menarik dirinya menjauh dari barack.


"Malam ini aku ingin tidur sendiri" ucapnya seolah ingin memberi tahu barack kalau dia tak ingin tidur di samping suaminya itu.


Luna langsung beranjak pergi menuju kamar.


Barack ingin menghentikan luna, namun ponselnya yang tergeletak di lantai berdering hingga menahannya untuk tetap di tempat.


Di raihnya ponsel itu dan terlihat di layar kalau leo sedang memanggil.


"Hallo?" ucapnya dengan cepat menjawab panggilan dari leo karena dia ingin segera mengejar luna.


"Dia baik baik saja?" leo menjawab dari seberang telepon dengan langsung menanyakan kabar istrinya tanpa basa basi.


Barack berdehem menetralkan perasaan cemburunya.


"Baik!" jawabnya singkat dan jelas.


"Kenapa suaramu terdengar sangat frustasi?" ucapan leo terdengar seperti sedang menggoda barack.


"Apa maksutmu?" pertanyaan barack membuat leo terkekeh.


"Apa kamu sedang menertawaiku sekarang?" tambahnya.


"Mm, , aku menertawakan dirimu" sejenak leo menghentikan ucapannya seolah sedang memberi waktu kepada barack untuk berfikir.


"Sepertinya kamu sudah tidak bisa menahan hasrat terpendammu" tambahnya.


Mendengar ucapan leo barack mendengus kesal.


"Kenapa? apa tebakanku benar?" leo tertawa puas sepertinya dengan benar dia menebak isi hati barack.


"Sial" umpat barack seketika.


"Apa kamu menelponku hanya untuk mengatakan hal itu?" serunya kemudian.


Leo berusaha meredam perasaan atas kepuasannya setelah membuli barack. Dia berdehem untuk menahan tawanya dan kembali melanjutkan pembicaraan.


"Aku bisa membantumu" ucapan leo terdengar menuntut ke pada barack, dan itu semakin membuat barack berfikir yang tidak tidak.


Barack menghela nafas panjang.


"Katakan sebenarnya apa maumu!!" barack berucap dengan nada tegas.


"Ayolah, , jangan serius gitu, hidup kalian sudah penuh kesedihan, , setidaknya relax sedikit biar urat syarafmu tidak tegang"


Barack semakin mendengus dengan kesal rahangnya menguat hingga urat halus di pelipisnya terlihat.


"Oke oke aku akan langsung ke intinya" leo sepertinya tahu kalau barack akan mematikan ponselnya.


"Beri dia obat!" tambahnya.


Kening barack berkerut.


"Obat??" tanyanya penuh akan kebingungan.


"Iya obat perangsang" ucap leo dengan lantang dan tak merasa bersalah sedikit pun.


"Sinting!!! apa kamu sudah gila?" barack menggeleng pelan seolah saran dari leo itu tidak masuk akal.


"Bicaramu ngawur!!" tambahnya sambil menutup panggilan dari leo.


Barack menghela nafas panjang, entah ke berapa kalinya dia melakukan hal itu.


Dia teringat kalau luna telah masuk ke dalam kamar.


Segera dia beranjak berjalan ke arah kamar untuk menghampiri luna.

__ADS_1


Namun saat berusaha mendorong pintu, wajahnya tiba tiba memaku karena luna telah mengunci pintunya dari arah dalam.


__ADS_2