
"Setelah tinggal di Amerika selama dua bulan dan kemarin pulang langsung menemui Davien?, , lupa sama Mamahmu ini?" ucap Koyoko kepada Putrinya yang baru saja keluar sari kamarnya.
"Mana mungkin aku lupa mah, ," Keiko berucap sembari mengecup kening Koyoko. Perempuan itu baru saja datang menjenguk putrinya.
"Lalu, , apa perlu Mamah melamar Davien untukmu?" Koyoko mencoba menggoda Keiko.
"Maaaah," ucapnya dengan nada memohon. Untuk tidak mengungkit ungkit hal itu.
"Kenapa??, , bukannya kamu menyukainya" Koyoko duduk di kursi meja makan. Matanya menyelidik ke Keiko yang yang sedang memilih salah satu buah yang ada di atas meja, kemudian mengambil apel dan menggigitnya.
"Mamah tahu kan, , ,kalau Davien belum bisa melupakan Essie. Aku tidak mau mendapatkan raganya jika tidak dengan jiwanya Mah."
Koyoko beranjak dari kursi kemudian menghampiri putrinya. Tangannya mengusap lembut ujung kepala dan mengecupnya.
"Sabar sayang, , semua pasti ada saatnya"
"Iya, aku pasti sabar menunggunya" Keiko tersenyum, meraih tangan Mamahnya kemudian mengecup punggung tangannya.
♡♡♡
"Apa?" suaranya terdengar lirih. Matanya masih mengawasi ekspresi wajah Davien yang berubah. Laki laki itu tersenyum. Tetapi seperti ada yang di sembunyikan di dalamnya.
"Menjadi milikku!" ucapnya dengan bersungguh sungguh.
Wajahnya terpaku, jantungnya seketika seakan berhenti berdetak. Kedua matanya menatap Davien dengan lekat. Bunga masih membisu, tak tahu harus menjawab apa.
"Bunga!, , katakan sesuatu, jangan diam!" tambahnya ketika Bunga tak bergeming. Davien melangkah perlahan kemudian meletakkan Bunga agar duduk di atas meja. Menggunakan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri yang bertumpu di atas mejam untuk mengunci tubunh bunga agar perempuan itu tak bisa bergerak.
Bunga menarik sedikit tubuhnya kebelakang menjauhi Davien.
" Maaf Pres Dir, , apa hari ini anda salah minum obat??" tentu saja Bunga tak mudah percaya, baginya laki laki itu seperti sedang melihat Essie dalam dirinya.
"Bunga aku sedang tidak main main. Dan aku juga tidak pernah bercanda!!" Davien berucap dengan tenang namun tersirat sebuah ketegasan di dalamnya. Dia menggerakkan tangannya, meraih rambut Bunga dan menyimpannya ke belakang telinga.
"Tidak Davien! yang kamu lihat pasti bukan aku!!"
"Aku juga tidak bercanda Pres Dir, , maaf aku harus kembali bekerja" Bunga mencoba menggerakkan badannya agar terlepas dari Davien.
Tetapi laki laki itu malah menggerakkan kepalanya mengikuti kemana Bunga bergerak, mencoba menghadang perempuan itu.
"Bunga!" ucapnya dengan lirih.
"Aku membutuhkanmu!"
Bunga kembali terdiam, menatap matanya dalam dalam.
"Ya, , kamu membutuhkanku. Sebagai tempat untuk pelampiasan!!"
Bunga tak mau menjadi bodoh untuk yang kesekian kalinya. Jika memang harus menerima Davien maka hanya akan menyakiti diri sendiri. Di samping Bunga tak mengerti dengan perasaannya sendiri, dia tak ingin jika nanti malah bayang bayang Essie semakin melekat pada dirinya.
"Ada Nona Keiko Pres Dir, apa kamu tidak ingat! aku bukan siapa siapa, dan sepertinya aku juga tidak pantas berada di sampingmu!" ucapnya merendah.
"Pantas atau tidak bukan kamu yang menilai!!" sahutnya, Davien tak suka ketika Bunga menyebut nama Keiko di antara mereka.
Sejenak mereka terdiam, saling menatap satu sama lain.
Davien tak pernah bersikap manis seperti ini dengan perempuan lain semenjak kepergian Essie. Hanya Bunga yang bisa merubahnya, hanya dia yang bisa menggerakkan hatinya kembali.
"Jangan pernah lagi berdekatan dengan Roland!"
"Itu hakku Pres Dir!" Bunga menatapnya lekat.
"Aku mohon jangan seperti ini. Hidupku sudah susah! jangan membuatku semakin tertekan dengan sikapmu" Bunga tidak ingin menjadi munafik, siapa yang tidak mau menjadi kekasih seorang Pres Dir?. Hanya saja Bunga tak yakin dengan perasaannya. Terlebih lagi jika semua orang tau, Bunga memiliki hubungan dengan atasannya apa yang akan mereka katakan mengenai dirinya.
Pasti Bunga akan mendapat sanksi sosial, hujatan yang jauh lebih berat ketimbang cobaan dalam hidupnya.
Davien mendorong tubuhnya mendekati Bunga, menggerakkan kepalanya kemudian berbisik.
"Bagaimana pun juga aku pasti bisa mendapatkanmu"
Tok tok tok!!!
__ADS_1
Mendengar suara ketukan pintu, dengan cepat Bunga mendorong Davien agar menjauh, kemudian segera melompat dari atas meja.
James terpaku melihat ketengangan di wajah dua orang yang ada di depan matanya.
"Mm, , maaf Pres Dir. Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?" ucapnya gugup.
Davien berdehem mencoba menetralkan perasaan. Kemudian melangkah dan duduk dukursi.
"Tidak James!, ,katakan ada apa?"
Bunga akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
James menatap Bunga saat perempuan itu melangkah menuju pintu dan keluar.
"Pres Dir, apa kalian baik baik saja?" ucapnya dengan ragu.
Davien tak bergeming, dia hanya diam menatap tajam James yang berdiri di seberang meja.
"Maaf Pres Dir jika saya lancang" James tertunduk.
"Kenapa datang kemari?, , apa aku memanggilmu?" Davien mengalihkan pandangannya ke meja, meraih secangkir kopi dan mencercapnya.
"Ini, , mengenai kontrak kerja dengan perusahaan Feng dari China" ucap James kemudian.
Davien memaku tangannya, dengan cangkir yang masih menempel di bibirnya.
"Maaf Pres Dir, ini sebelumnya tidak pernah terjadi. apa Pres Dir sedang memikirkan sesuatu ketika menandatangani kontrak kerja itu?. Karena setelah saya teliti lebih lanjut. Isi kontrak sangat merugikan kita" Jame masih menunduk menghindari tatapan matanya.
Davien tak pernah melakukan kesalahan sedikit pun dalam pekerjaannya. Tetapi kali ini dia melakukan kesalahan yang fatal. Laki laki itu menunduk memijat kecil keningnya. Ini pasti karena pikirannya dipenuhi oleh Bunga akhir akhir ini.
"Berikan berkas kontrak kerjanya kepadaku! aku akan melihatnya sekali lagi. Setelahnya kita lihat akan mengambil langkah seperti apa!" Davien menarik tubuhnya kebelakang, memendam punggungnya ke sandaran kursi kemudian
"Baik Pres Dir" James menunduk, laki laki itu melangkah menuju pintu dan keluar.
♡♡♡
Banyak yang terjadi di luar dugaan hari ini. Mulai dari pagi dikejutkan dengan mendapat apartement beserta isinya secara gratis tanpa pajak sepeser pun, kini Bunga juga dikejutkan dengan sikap Davien yang semakin aneh. Sikapnya berubah 180%. Bunga masih tak yakin dengan permintaan Davien, baginya itu bukan seperti sebuah ungakapan perasaan tetapi lebih ke sebuah perintah.
"Jadilah milikku!"
Brugh!!
Roland sengaja menabrakkan dirinya kepada Bunga. Membuat perempuan itu hampir terjatuh tetapi Roland dengan cepat menarik tangannya.
"Maaf!" Bunga menatapnya.
Laki laki itu terkekeh melihat Bunga yang sempat sempoyongan.
"Kamu baik baik saja kan?"
"Roland?, , maaf aku?"
"Aku yang minta maaf" Roland memotong pembicaraan.
"Karena malam itu membatalkan kencan kita!"
"Ee, , tidak perlu minta maaf!, aku sudah melupakannya"
Di sisi lain Davien dan James keluar dari ruangan, mereka berjalan menuju ke lift namun langkahnya terhenti ketika melihat bunga sedang berbincang dengan Roland di depan sana.
"Kita bisa melakukannya di lain waktu, kamu masih mau kan?" Roland meraih tangan Bunga kemudian menggenggamnya.
"Kita masih bisa kencan di lain hari, karena malam itu aku banyak pekerjaan" tambahnya.
Bunga terpaku, terdiam membisu. Matanya masih menatap tangannya yang di genggam erat oleh Roland.
♡♡♡
James melirik ke arah Davien yang terdiam membisu. Matanya masih menatap pandangan tak menyenangkan di depan sana.
"Pres Dir?" ucapnya lirih, mencoba menyadarakan laki laki itu dari lamunan.
__ADS_1
"Sudah saatnya kita harus pergi"
Davien melanjutkan langkahnya, tetapi tak lama dia kembali berhenti tepat di mana Bunga dan Roland berada.
"Pres Dir?" Roland menganggukkan kepalanya.
Sementara Davien menatap sengit ke arah tangan Bunga yang masih di genggamnya. Bunga tahu kemana arah pandangan laki laki itu. Dengan cepat Bunga menarik tangannya kembali.
"Kamu tahu kan!, , di perusahaanku tidak boleh ada yang saling jatuh cinta!, , jika melanggar maka salah satu dari kalian harus mengundurkan diri!"
Roland terpaku mendengar peraturan yang sama sekali belum pernah di dengarnya.
"Pres Dir?, tapi"
"Kalau tidak mau mengundurkan diri, maka akan di keluarkan secara sepihak dan tidak akan mendapatkan pesangon sepeser pun sesuai dengan seharusnya! kamu pahamkan?" ucapnya kepada Roland. Tak lama Davien melanjutkan langkahnya menuju lift meninggalkan mereka berdua.
Bunga terdiam, matanya masih menatap punghmgung Davien yang menghilang di balik tembok.
James tersenyum ketika mengetahui bahwa Davien cemburu melihat Bunga sedang bersama dengan Roland. Dia yang telah lama ikut dengan Davien pun tak pernah mendengar peraturan seperti itu. Bahkan yang James tahu kalau ada dua pegawai di dalam perusahaannya yang menikah, maka perusahaan akan memberikan lebih sebagai hadiah dari perusahaan.
"Apa yang sedang kamu tertawakan??, , apa ada yang lucu?!" Davien berucap dengan nada dingin, sementara tatapannya terus tertuju kepada pintu lift.
James berdehem mentralkan perasaannya yang sempat lepas kendali hingga menarik perhatian Davien.
"Maaf Pres Dir"
"Berhenti meminta maaf!!, , membuat telingaku sakit!" sahut Dvien.
James tersenyum mendapati laki laki itu bertingkah tak seperti biasanya.
"Jangan berfikir yang aneh aneh!!" Davien memperingatinya, seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh James.
♡♡♡
Bunga masih terduduk di sofa, perempuan itu sendiri berada di dalam pantri karena Loria sudah pulang terlebih dulu. Sementara Bunga harus menunggu Davien karena laki laki itu masih berada di ruang kerjanya meneliti berkas kontrak kerja dengan Grup Feng.
Setelah selesai, Davien beranjak keluar dari ruangan. Dia terlihat sangat kelelahan.
Laki laki itu Berjalan menuju lift sambil sesekali terlihat menggerakkan kepalanya untuk merenggangkan otot leher agar merasa lebih nyaman di bagian sana.
Setelah keluar dari lift Davien melangkah menuju lobi, baru beberapa langkah tubuhnya terpaku. Matanya melirik ke arah pantri di mana pintunya masih terbuka lebar.
Davien teringat bahwa Bunga tak akan pergi sebelum dirinya pulang dari kantor.
Davien melangkah menuju pantri, mendekat perlahan dan menyelidik ke arah dalam. Matanya melihat perempuan itu sedang tertidur pulas di atas sofa.
Davien mendekatinya menatap wajahnya sesaat, kemudian membungkuk mendekati wajah Bunga.
Laki laki itu tersenyum tipis, senyum yang sudah lama menghilang. Sementara matanya tertuju kepada bibirnya yang mungil.
Jantungnya berdetak kencang ketika Davien bergerak semakin mendekat hingga ujung hidung mereka saling menempel.
"Bodoh!!"
Davien ingin sekali mengecup bibirnya, tetapi merasa bhawa caranya telah salah. Tak seharusnya Davien mencium perempuan itu dalam keadaan tertidur pulas. Terlebih lagi Bunga belum menjadi miliknya.
Davien tak akan melakukan kesalahan lagi dengan mencium Bunga tanpa permisi.
Davien menggerakkan tangannya meraih pipi Bunga dan mengusapnya lembut. Jarinya terpaku ketika melihat kerutan tipis di dahinya.
Sepertinya Bunga tengah bermimpi buruk saat itu.
"Bunga??" ucapnya lirih.
Perempuan itu terisak, kilauan bening mencuat dari ujung matanya. Davien menggerakkan jarinya mengusap air mata yang mulai mengalir melewati pelipisnya.
"Mah?"
Davien terpaku, mendengar Bunga mengigau memanggil Orang tuanya.
"Neneeeek" Bunga merengek pelan, seketika tangisnya pecah memenuhi ruangan.
__ADS_1
"Bunga?" Davien sekali lagi mencoba membangunkan perempuan itu.
Dalam tangisnya, Bunga seketika membuka sedikit matanya kemudian memeluk Davien dengan erat.