Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
62. Perdebatan


__ADS_3

Bunga beranjak berdiri keluar dari bathup, tangannya bergerak meraih handuk kecil untuk membungkus rambutnya yang panjang dan basah kemudian memakai handuk berukuran besar menutupi sebagian tubuhnya. Setelah selesai dia keluar dari kamar mandi, seketika kakinya terpaku tepat di depan pintu betapa terkejutnya dia saat melihat Davien sedang berdiri tepat di depan pintu. Seolah memang sengaja menunggu dirinya keluar.


Matanya yang merah menatap lekat nan tajam, dipenuhi dengan segala berbagai macam pertanyaan yang berputar di kepalanya sejak pagi tadi. Belum lagi cemburu melihatnya bersama dengan Marvel, menambah deretan kekesalan yang ditujukan pada perempuan itu. Ditambah sekelebatan kemarahan yang terpendam kala Davien dengan sinis membuang pandangannya kearah lain.


"Astaga Davien!! Kau membuatku terkejut!" Bunga berusaha mengatur nafasnya yang memburu karena terkejut. Setelah sadar kalau dia hanya mengenakan handuk, secara cepat menyilangkan kedua tangannya tepat di dada. Seolah memberi perisai terhadap dirinya tepat saat lelaki itu mulai menatapnya lagi dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya.


Pandangan Davien bergerak menurun menelisik setiap inci dari bagian tubuhnya sampai ke bagian kaki. Mata tajamnya semula terlihat sinis kini berubah lembut, melihat buliran air menuruni permukaan kulitnya yang putih.


Tetapi entah kenapa Bunga merasa tidak nyaman dengan pandangan itu. Baginya Davien sekilas memang seperti anak kucing yang membutuhkan belaian kasih sayang, tapi saat memandang ke tubuhnya yang hanya tertutup handuk di bagian dada ke bawah sampai pertengahan paha raut wajahnya berubah, seperti seekor singa yang tengah memindai mangsanya, hanya tinggal menunggu waktu tepat untuk menerkam.


Bunga tampak gugup tak berani membalas tatapan matanya. Suasana di ruang kamar masih hening, belum ada percakapan di antara mereka. Bunga sampai bisa mendengar suara detak jantungnya yang menggema di rongga telinga, sangat kencang.


Melihat sikap Davien sedikit aneh, wajah dan kedua matanya memerah serta nafas yang tak beraturan disertai penampilannya yang berantakan membuatnya berpikir harus bersikap waspada. Namun ada kalanya Davien terlihat seperti seorang lelaki yang baru saja kehilangan istri sehingga tak ada yang mengurusnya.


Perlahan Bunga melangkah mundur ketika matanya menangkap gerakan kecil dari bawah sana. Davien menggerakkan kakinya perlahan, berjalan mendekat kearahnya.


Detak jantungnya bekerja lebih cepat dari sebelumnya, pandangannya semakin waspada melihat Davien masih terus melangkah. Bersamaan dengan Davien yang semakin dekat, Bunga memalingkan wajah menghindari tatapan matanya disertai gerakan kaki melangkah mundur teratur.

__ADS_1


Deg! deg! deg! Sialnya Bunga merasa dadanya seperti akan meledak, berdesir panas secara tiba-tiba detakkannya semakin kencang saat tubuhnya terpaku sudah tak dapat bergerak lagi karena pintu di belakangnya.


Davien semakin mendekat pipinya memerah padam memanas akibat pengaruh alkohol.


Dilihat dari tubuhnya yang tak bisa berdiri dengan tegap seperti biasanya, serta bau alkohol yang benar-benar sangat menusuk ke dalam hidungnya, Bunga bisa memastikan kalau lelaki yang kini berdiri tepat di depannya itu sedang mabuk berat. "Kau, Davin apa kau mabuk?" ucapnya gugup. Arah pandangannya tak menentu karena Bunga tak berani menatap kearah matanya.


Lelaki itu terus menatap tanpa sedikitpun mengalihkannya ke yang lain membuat Bunga semakin merasa tertekan. "Kenapa? di saat aku sedang berjuang untuk mendapatkanmu dan meyakinkanmu... kau malah membuangku, berencana memberikanku kepada perempuan lain! Kau pikir aku ini barang??" suaranya parau, Davien berbicara dengan nada rendah dan sedikit kesulitan untuk berucap karena cegukan.


"Davien? Bersihkan tubuhmu... aku akan menyiapkan minuman untuk menetralisir alkoholnya."


Bibirnya kelu tak dapat berucap, Bunga hanya bisa diam mendengar ucapannya. Dia tahu kalau yang sedang di bicarakan Davien adalah Marvel.


Davien meletakkan satu tangan di pintu sebagai tumpuan saat menyangga tubuhnya yang sedikit membungkuk, mengurung Bunga agar tak bisa pergi menghindar.


Bunga menunduk karena posisi wajah Davien terlalu dekat, apa lagi kini dia sengaja mendekatkan kepalanya membuat Bunga semakin tak bisa bergerak bebas untuk menghindar dari tatapan matanya. "Kenapa? Kenapa kau melakukan itu padaku?" nada suaranya mulai melemah di akhir kalimat.


Bunga yakin kalau Davien semakin kesal melihat dirinya bersama Marvel. Beberapa kali berusaha mengendalikan detak jantungnya agar kembali normal, tapi yang ada justru semakin berdebar.

__ADS_1


Wajah mereka sudah tak berjarak lagi, sangat dekat sampai ujung hidung mereka saling menempel. Bunga sampai bisa mencium bau alkohol yang keluar dari mulutnya. "Davien kau sedang mabuk! Lebih baik kau mandi aku akan menyiapkan baju untukmu" usahanya mengalihkan perhatian tak berhasil, lelaki itu tidak terpengaruh sama sekali.


"Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku, Bunga! Jawab! Kenapa kau melakukan ini padaku... apa kau sengaja melakukannya?" intonasi suaranya tak terkendali, tentu saja itu karena dia mabuk berat. "Apa kau memang sengaja ingin mempermainkanku! Jika memang itu yang ingin kau lakukan. Kau berhasil Bunga! Kau berhasil melakukannya!" pandangannya mulai kabur, tak menentu. Akhirnya Davien memilih memejamkan mata menikmati rasa sakit di kepala seperti ditusuk dengan pisau.


"Tidak Davien, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya–," ucapannya terputus karena Davien memotong pembicaraan.


"Hanya apa?" Davien kembali membuka mata, kedua bola matanya semakin nampak terlihat merah. "Hanya ingin memastikan kalau aku bersungguh-sungguh dengan hubungan ini? Atau kau ingin lebih meyakinkan bahwa aku memang sedang tidak main-main?" Davien menarik tangannya menegakkan tubuh sembari melangkah ke belakang menjauh. "Kalau memang itu tujuanmu... sepertinya aku sudah mendapatkan jawabannya Bunga! Atau kau belum yakin bahwa aku memang benar-benar menyukaimu?" tangannya bergerak membuka kancing kemeja satu persatu, entah apa yang akan dia lakukan tetapi Bunga mulai sedikit takut dengan sikapnya.


"Davien! Sempat aku memang ragu, tapi kini aku yakin kalau sepertinya aku bisa–," ucapannya terputus, tapi kali ini karena Bunga melihat Davien telah berhasil membuka kemejanya.


Bunga tercengang dengan leluasa bisa melihat tubuhnya yang terekspos tepat di depan mata. "Davien, kau harus pergi mandi, aku akan menyiapkan minuman hangat untukmu."


Davien seakan tak menghiraukan ucapannya, tak peduli lagi perempuan itu berkata apa. Kini yang dia lakukan adalah kembali melangkah mendekat.


Dengan cepat kedua tangannya merangkup wajah Bunga membungkam perempuan itu dengan ciuman, Davien melakukannya dengan kasar. Memainkan bibirnya lihai bahkan ketika di bawah pengaruh alkohol, nalurinya sebagai lelaki tak berkurang sama sekali.


Nyatanya tubuh Davien justru mudah bereaksi dengan cepat, tepat saat bibirnya bersentuhan dengan bibir milik Bunga.

__ADS_1


__ADS_2