
“Surprise!!”
Nyaris saja Davien meluapkan amarahnya tapi setelah melihat perempuan yang berdiri di depan pintu adalah istrinya, seketika rasa kesal dan emosi menghilang begitu saja. “A.apa aku bermimpi?”
Bunga tersenyum menghamburkan tubuhnya ke Davien yang tengah bertelanjang dada tanpa peduli koper miliknya. Dia melompat ke dalam gendongan suaminya lalu mendaratkan kecupan di kening. “Bagaimana? Apa dengan begini kau masih belum sadar kalau ini bukan mimpi?” ucapnya. “Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi!” Bunga memeluknya erat.
Davien yang masih belum menerima bahwa itu kenyataan dibuat bingung tidak percaya. Meskipun senang tapi masih ada rasa kesal dan penasaran. “Cium aku!” pintanya. Langkah kakinya bergerak menuju ke sofa dengan Bunga masih bertahan dalam gendongan.
Setelah duduk di sofa dengan mengambil posisi nyaman dan membuat istrinya duduk dalam pangkuan, Davien mulai menatap serius wajah perempuan yang posisi duduknya sedikit lebih tinggi. “Aku masih belum percaya kalau ini benar-benar dirimu! Terlepas dari kedatanganmu yang lebih cepat dari perkiraan... ada hal penting yang harus kau jawab!”
“Tunggu! Kau marah?” Bunga mengangkat kedua alisnya.
“Tidak!” sahutnya.
“Serius? Tapi kenapa dari tadi aku tidak mendengar kau memanggilku dengan sebutan sayang?”
“Mungkin sedikit! Mmm... bukan marah, hanya saja kesal! Kenapa kau tidak bisa dihubungi?” tatapannya berubah tajam penuh curiga disertai kerutan halus di kening.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Bunga mulai gelisah menghindari tatapan matanya.
“Apa yang terjadi di restoran saat kau bersama dengan Tuan Volker?”
“He? Haha... jadi kau kesal karena aku bersama dengan Tuan Volker di restoran?”
Davien menghela nafas panjang, menetralkan rasa kesal yang semakin menjadi karena Bunga malah menjawab dengan pertanyaan.
“Iya, iya aku jelaskan... tapi janji tidak boleh marah!”
“Hmm! Jelaskan sekarang? Aku akan mendengarkannya!”
Bunga mulai bercerita bagaimana dia bisa bertemu dengan Tuan Volker dan apa yang mereka lakukan di restoran. Semula Bunga merasa tidak nyaman dengan keberadaannya karena lelaki itu terlihat misterius dan tidak terlalu banyak bicara.
__ADS_1
Tetapi setelah Tuan Volker membantunya menyelesaikan laporan, penilaian Bunga terhadapnya mulai sedikit berubah. Laporan yang harusnya selesai besok pagi, bisa diselesaikan oleh Tuan Volker dalam hitungan jam.
“Kau serius?” tanya Davien tak percaya.
“Iya! Dia mengerjakan laporan di depan mataku... mana mungkin aku berbohong! Lagi pula kalau semua itu tidak benar saat ini mungkin aku belum bisa kembali ke sini menemuimu!”
“lalu bagaimana dia bisa tahu mengenai data perusahaanmu? Sementara menyelesaikan laporan itu dia harus mempelajari laporan tahunan, setidaknya membutuhkan waktu berhari-hari untuk mempelajarinya!”
Ekspresi wajahnya mulai berubah serius. Pasalnya Bunga juga mempertanyakan hal itu sejak tadi. “Itu juga yang aku bingungkan! Kau tahu Davien... Tuan Volker hanya membaca sisa data perusahaan yang aku bawa, itu pun dia hanya membaca sekilas. Tapi hebatnya Tuan Volker bisa menyelesaikan laporan dengan cepat dan benar. Saat presentasi tak ada satu pun direksi menemui kesalahan dalam laporan itu. Bagaimana bisa seperti itu? Bukankah Tuan Volker sangat Jenius? Sudah tampan, perilakunya sopan, kaya raya, terpandang... kenapa dia begitu sempur–,” ucapnya terputus ketika melihat Davien memamerkan ekspresi wajah muram marah. “E.mm... maaf!”
“Haruskah kau menyanjung lelaki lain di depanku?” ucapnya ketus.
“Oh, suamiku cemburu yaaa?”
“Tentu saja Bunga! Aku cemburu!” meskipun kesal Davien tetap berusaha mengutarakan perasaannya dengan cara lembut agar tidak menyakiti perasaan istrinya. “Siapa yang tidak kesal mendengar istrinya menyanjung lelaki lain?” tangannya mengusap kepala dengan lembut, kemudian merapikan rambut yang berantakan ke balik telinga. “Jika aku melakukan hal yang sama, menyanjung perempuan lain di depanmu... apa kau tidak marah?”
Bunga langsung cemberut, memeluk suaminya membenamkan wajah ke dada sebagai jawaban penolakan atas pertanyaannya.
Bunga menggeleng cepat. “Tidak! Aku tidak keberatan sama sekali. Tapi janji... kau hanya boleh bersikap baik pada mereka tapi jangan memperlakukan perempuan lain dengan manis! Aku tidak suka melihatnya!” ucapnya masih dalam keadaan wajah terpendam ke dada suaminya.
“Tapi sayang... ada perempuan lain yang aku perlakukan sama denganmu, maaf untuk satu itu aku tidak bisa memenuhi keinginanmu!”
“He??!!” cepat-cepat Bunga menarik tubuhnya ke belakang menjauh. Menatap mata suaminya dengan tajam penuh ketakutan. Ketakutan akan pikiran buruk suaminya yang sedang mencoba jujur bahwa ada sosok perempuan lain di hatinya, setidaknya itu yang ada di pikiran Bunga saat ini. “Siapa? Kenapa? Kau... memiliki perempuan lain? Bagaimana bisa Davien?!!!”
Hahahaha....
“Kenapa kau tertawa!! Aku sedang marah denganmu saat ini! Berhenti tertawa... katakan siapa dia!” Bunga tak bisa menutupi kekesalan dan rasa kecewa yang secara tiba-tiba menyerang dadanya, sampai matanya memerah dan berkaca.
“Eh, sayang kau jangan menangis.” Davien membantunya mengusap mata istrinya yang basah.
“Kau yang membuatku menangis! Kita baru jalan satu bulan hidup bersama... tapi kau bilang sudah ada perempuan lain saat ini! Bagaimana bisa aku tidak kesal mendengarnya!”
__ADS_1
“Sayangkuuuu... hahaha, kenapa kau sangat menggemaskan ketika sedang menangis tapi terlihat manja seperti ini di depanku!” setelah memeluknya dengan gemas, Davien tak lagi menahan keinginannya mengecup seluruh bagian di wajahnya. Terakhir setelah mengecup bibirnya lelaki itu berucap lagi. “Kenapa kau sedih? Apa kau cemburu dan tidak suka jika aku bersikap manis memberi perhatian kepada Juliet?”
Seketika Bunga yang sempat terisak-isak langsung berhenti. “Ju.juliet? Maksudmu perempuan yang sedang kau bicarakan dari tadi adalah Juliet??”
“Uhmm!!” Davien mengangguk sembari tersenyum lebar, menangkap istrinya cemburu karena ulahnya.
“Aaaaaaargh!!! Kenapa kau sangat menyebalkan Davien!! Jika perempuan itu Juliet putri kita, bagaimana bisa aku cemburu!! Kau pasti sengaja karena ingin membuatku kesal!”
“Tidak sayang, aku hanya senang menggoda dirimu. Kau terlihat menggemaskan ketika sedang cemburu, kemarilah!” Davien menarik lengannya meminta Bunga kembali bersandar dai dadanya. “Aku ingin kita selalu seperti ini, sayang! Aku tidak janji akan selalu membuatmu bahagia. Tapi aku akan berusaha untuk tidak menyakiti perasaanmu! Jadi jika ada sikap dan perilaku dariku yang tidak kau sukai... kau hanya perlu mengatakannya padaku, oke sayang?”
“Uhm!” Bunga mengangguk patuh.
Untuk sesaat suasana berubah hening dan sangat canggung. Davien mendaratkan kecupan di ujung kepala. Sementara perempuan yang berada dalam dekapannya itu tengah bersandar santai menikmati kehangatan tubuh suaminya yang tak tertutup sehelai benang pun di bagian dadanya.
Deg!deg!deg!
Bunga tersenyum tipis mendengar detak jantung suaminya yang tak beraturan. ‘Ini sangat lucu, baru kali ini aku mendengar detak jantungnya seperti ini, ternyata dia bisa gugup juga!’ batinnya.
“Sayang... kau pasti lelah, istirahatlah aku akan memesan makanan unt–,” ucapannya terhenti. Davien dibuat terkejut saat merasakan keanehan tepat di bagian dadanya. Rasa aneh seperti hangat, mungkin itu karena nafas Bunga yang menyapu permukaan kulitnya tapi kali ini rasanya berbeda. Terasa jauh lebih hangat bisa di bilang sedikit panas hingga menimbulkan rasa geli tepat bagian di ujung dada sebelah kanan. “Agh! Hak... hah!” lenguhnya menahan geli yang menjalar menyerang syaraf di tubuhnya. “Akh! Sayang!!” tak bisa lagi menahan geli, Davien refleks mendorong kepala istrinya menjauh. “Apa yang sedang kau lakukan, sayang?” pipinya merona begitu juga dengan Bunga. Sejenak kepalanya tertunduk melihat dada kanannya, sesuai dugaan bahwa Bunga sempat menyesap dadanya karena terdapat noda lipstik di sana.
Dengan ekspresi wajah genit dan nakal, Bunga tersenyum menatap nanar mata suaminya. “Bagaimana, Kau suka? Apakah aku harus berhenti?” sikapnya semakin nakal, sengaja membuat Davien terpancing dengan tingkahnya.
“Tentu saja aku sangat menyukainya, tapi... kau yakin tidak ingin istirahat terlebih dulu? Karena ketika aku memulainya, aku tidak yakin akan bisa berhenti!” suaranya mulai terdengar berat.
Glek! Bunga menelan ludahnya kesusahan. Membayangkan tubuhnya yang lumayan lelah akan mendapat serangan dari suaminya yang sudah dipastikan kalau Davien tidak akan melakukannya sekali, bisa jadi berkali-kali sampai tenaganya habis.
Ghm! “Kalau begitu lebih baik aku pergi mandi, hehe....” Bunga hendak beranjak dari pangkuannya, tapi tangannya di tarik paksa oleh Davien hingga jatuh dan terbaring di atas sofa. Tubuhnya tak bisa bergerak karena Davien telah menguncinya di bawah kurungan tubuhnya yang kekar.
“Setelah membangunkannya... kini kau berusaha lari dari tanggung jawabmu, sayang?”
“A.aku harus mandi Davien, kau... akan terganggu dengan tu.tubuhku yang berkeringat!” ucapnya terbata, dadanya berdebar kencang kini Bunga justru gugup setelah tadi sengaja menggoda suaminya.
__ADS_1
“Tenang sayang, aku sama sekali tidak keberatan dengan bau tubuh dan keringatmu.” Tubuhnya bergerak turun semakin dekat, kemudian berbisik tepat di telinganya. “Asal kau tahu... semua itu, aroma tubuhmu justru akan membuatku semakin bergairah!”