
Terlihat Helena sedang mengendarai mobil menuju ke BS, dia melirik ke arah ponsel yang ada di depannya ketika layarnya terlihat menyala.
perempuan itu mendapat panggilan dari Barack.
"Ya hallo?" Helena memasang handsfree ke telinganya
"Kamu msih di jalan?" Barack berucap dengan nada berat dari seberang sana
"Ya,"
"Bisakah kamu lewat Sekolah A untuk menjemput Pitraku"
Ssssiiiitttt!!!
Helena menhinjak rem mobilnya seketika.
"Putramu??" ucapnya dengan nada tinggi, Helena membulatkan matanya. Dia terlihat sangat terkejut mendengar permintaan Barack.
"Kamu sudah bertemu dengannya?, ,"
"David, , dia Putraku!"
"Tuh kan!! apa aku bilang. Kalian terlihat sangat mirip. Tapi aku juga tidak tahu kalau dia benar benar Putramu. Baiklah aku akan menjemputnya" Helena mematikan ponsel. Dia membanting stir dan memutar balik arah mobilnya.
♡♡♡
Helena turun dari mobil, pandangannya mengawasi ke arah gerbang sekokah.
Dia menyandarkan tubuhnya di mobil sembari menunggu David menyelesaikan jam sekolahnya.
"Aku berharap Anak itu bisa di ajak kompromi!" Helena sudah merasa patah semangat dulu sebelum bertatap muka dengan David.
Tak lama kemudian, dia melihat David keluar dari pintu gerbang. Terlihat David sedang berdiri sambil menatap ke arah lain. Seperti sedang mencari seseorang.
"Hei Anak kecil!!" Helena berseru ke arah David.
Sementara David hanya melirik ke arah Helena. Dia tak menggubris perempuan dewasa itu. David kini memilih untuk berjalan ke arah lain, arah yang berlawanan dengan keberadaan Helena.
"Hhhiiihhhh!!!, , aku sudah menduganya kalau Anak itu pasti akan mengacuhkanku!" Helena pun berlari mengejar David.
"Hei!, , Anak kecil!, , kamu mendengarku tidak!, , aku sedang berbicara dengamu!" Helena menaikkan nada bicaranya.
David terdiam, dia menghentikan langkah kakinya.
"Hei perempaun dewasa!" dia memutar tubuhnya.
Mata Helena membulat, mulutnya menganga ketika David memanggilnya dengan lancang.
"Kenapa kamu berteriak kepadaku!!" David berucap dengan tegas.
"Karena kamu tidak mendengarku!" Helena berucap dengan menghardik Anak itu.
"Itu juga, barusan kamu memanggilku dengan sebutan apa?, , "
"Perempuan dewasa!" David mengulanginya lagi dengan perlahan, agar Helena mendengarnya dengan jelaa.
"Yaa!! aku punya nama. Panggil aku tante Helena!, , kamu dengar"
"Aku juga punya nama. Namaku David"
__ADS_1
Ujung mata Helena mengerucut, dia merasa Anak kecil itu sedang menirukan dirinya. Ya tentunya karena orang dewasa pasti menjadi panutan anak kecil.
Helena menghela nafas panjang, dia mempersiapkan diri untuk bersikap lebih baik di depan David.
"Oke David, , bisakah kamu ikut pulang bersama dengan Tane, ,Ayah tadi menelpon tante untuk meminta tolong menjemputmu" Helena mencoba bersikap manis di depan Anak itu. Bahkan memamerkan senyum termanisnya.
Sementara David hanya diam dan bersedekap, seolah dia menolak ajakan Helena.
Helena menggertakakn gigi, hingga terlihat barisan giginya yang putih dan bersih di sana.
"Kalau David mau ikut pulang dengan Tante, nanti Tante belikan Es krim"
David menggelengkan kepalanya.
"Dua es krim?" Helena mengarahkan dua jarinya ke arah wajah David. Namun Anak kecik itu masih tetap menolaknya.
"Sabar Helena!!"
"Tiga es krim?" tambahnya.
"Tiga es krim, dua batang coklat ukuran jumbo dan satu paket mainan limited edition. Iya atau aku tidak akan ikut denganmu"
Helena menganga mendengar permintaan dari David.
"Dari mama dia belajar untuk memeras seseorang!!"
"Mimpi apa aku semalam, , bisa bisanya hari ini aku berhadapan dengan Anak kecil ini. aaaarrrggghhhh ya ampun!!!" gumamnya.
"Aku mendengarmu Tante!" ucap David.
"Ah, , itu Tante hanya sedang berfikir, hari ini kenapa cuacanya sangat panas ya!!"
"Panas??, , salju masih bertebaran di mana mana Tante? dan kamu bilang cuaca hari ini panas??"
"Okey!!, , kita beli es dan coklat dulu, setelahnya kita ke toko mainan"
Helena berusaha keras memamerkan wajahnya yang manis ke arah David ketika hatinya sebenarnya merasa jengkel saat itu.
"Baraaaaacckkk!!! Anakmu memang menggemaskan . Tapi di satu sisi dia juga sangat menjengkelkan!!"
♡♡♡
Setelah memenuhi keinginan David, Helena mengantar Anak itu kepada Barack.
"Kita akan makan siang bersama, setelah itu Ayah akan mengantarmu pulang" Barack menghadiahi putranya itu sebuah kecupan di keningnya.
"Bolehkah aku ikut dengan Ayah?" David melingkarkan ke dua tangannya di leher Barack yang sedang berlutut di depannya.
"Dengar sayang, Ayah ada pekerjaan penting setelah ini. Bisakah kamu memenuhi permintaan Ayah?" ucap Barack dengan nada menutut kepada David.
Anak itu terlihat kecewa, namun dia berusaha mengerti keadaan Ayahnya.
"Baiklah, , "
"Nanti malam Ayah akan menjemputmu di tempat Mamah. Oke??" Barack nerucap untuk menenangkan David.
Anak kecil itu sebenarnya masih ingin berlama lama dengannya.
Barack tahu, tetapi pekerjaan ini juga sangat penting baginya. Karena menyangkut masa depan kebahagiaan mereka.
__ADS_1
♡♡♡
Barack, Helena dan Satya nampak melangkah turun dari mobil. Mereka bertiga berjalan memasuki lobi. Setelahnya masuk ke dalam lift.
Satya dan Helena saling melempar pandang ketika berdiri di belakang Barack. Mereka berdua mengalihkan pandangannya ke arah Barack yang sedang berdiam diri dengan tatapan lurus ke depan.
Barack sedikit memalingkan wajahnya ke arah samping kanan. Di ujung matanya dia melihat Satya.
"Jalankan sesuai rencana!" gumamnya.
Sementara Satya hanya mengangguki perintah dari Barack.
Mereka bertiga melangkah keluar dari lift setelah pintunya terbuka. Belum melangkah terlalu jauh meninggalkan lift, Barack menghentikan langkahnya, di ikuti dengan Helena dan Satya.
Barack berhenti di depan sebuah ruang, ruang itu adalah ruang kerja milik Luna. Ya, mereka sedang ada di Perusahaan Grub Dirga, sesuai dengan rencananya kemarin bahwa dia akan melobi beberapa pemeganga saham di Grub itu.
Barack memalingkan pandangan matanya, tak sepenuhnya dia mengarahkan wajahnya ke arah ruang kerja Itu. Hanya ujung matanya yang melirik ke arah dalam, pintu tak sepenuhnya tertutub. Dia masih bisa melihat Luna sedang duduk di kursi dengan sebuah pensil di tangannya.
Perempuan itu terlihat semakin memepesona ketika sedang menuangkan pikirannya ke dalam selembar kertas putih di atas meja. Laki laki itu teringat ketika Luna selalu menghabiskan waktunya untuk menggambar dulu.
Barack tersenyum kemudian, namun seketika juga senyumnya langsung memudar. Saat melihat Luna memalingkan wajahmya ke arah samping, dia terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang di sana.
Barck menggerakkan kepala agar ke dua matanya dapat melihat dengan jelas, dengan siapa perempuan itu berbicara. Bahkan dia melihat Luna tengah tersenyum manis ke pada orang itu.
Barack memaku wajahnya ketika bayangan Adrian terlihat jelas, laki laki itu kini berdiri di dekat Luna. Dia sedang memperhatikan perempuan kesayangannya dengan lekat.
Keningnya mulai berkerut ketika melihat tangan Adrian bergerak menyimpan anak rambut yang bergelayut menutupi kening Luna.
Barack menghela nafas panjang, dia brusaha menetralkan perasan. Baginya ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu.
Namun dadanya seperti tersulut api ketika melihat Adrian menyentuh perempuan itu, walau pun itu hanya ujung rambutnya.
Helena dan Satya nampak menyelidik ke arah Barack dari belakang punggung laki laki itu.
Mereka berdua pun hanya saling mengangkat bahu satu sama lain.
Barack memutuskan untuk melanjukan langkahnya. Mereka bertiga bergerak masuk ke dalam ruang rapat.
Sementara di ruang kerja Luna. Adrian mengalihkan pandangannya ke arah pintu, seolah dia baru saja melihat bayangan seseorang di sana. Pandangannya terlihat mengawasi pintu itu dari arah dalam.
"Kamu kembalilah ke ruang kerjamu!, , karena aku harus menyelesaikan ini" Luna berucap dengan nada memohon, agar laki laki itu segera pergi dari hadapannya.
"Baiklah" Adrian melangkah ke arah pintu, namun seketika dia menghentikan langkahnya, memutar tubuh dan melihat ke arah Luna.
"Ada apa?" Luna berucap lagi, dia merasa penasaran kenapa Adrian tak kunjung keluar dari tempat itu.
"Apakah nanti siang kita" Adrian menghentikan ucapannya. Ketika melihat tanda merah di bawah telinga perempuan yang sedang memalingkan wajahnya karena dia sedang mengambil sebuah map dari arah laci yang ada di bawah mejanya.
Luna menggerakkan tubuhnya, hingga mempermudah Adrian melihat tanda merah itu.
"Lupakan!, , semalam kamu kemana? aku datang ke rumahmu. Tetapi Lilis bilang kalau David menghilang??, , , kenapa tidak menghubungiku untuk meminta bantuanku mencarinya"
Luna mengarahkan pandangannya ke arah Adrian dan memerkan senyum palsunya.
"Aku, , ee, , semalam" Luna bingung ketika harus menjawab pertanyaan Adrian.
"Kalau tidak ingin menjawabnya juga tidak apa apa. Aku tidak memaksamu" Adrian melempar senyum manis ke arah Luna.
"Lanjutkan kembali kerjamu!"
__ADS_1
Laki laki itu keluar dari ruangan. Tangannya menutup pintu dengan perlahan. Dia berdiri di balik pintu, sementara tatapan matanya menatap jauh dengan sangat tajam seketika.
Adrian tahu, kalau Luna menginap di rumah Barack semalam.