
"Apa kalian biasa melakukan hal ini bersama? Maksudku kau... dan Essie?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Bunga membuat Davien terdiam sesaat, dia mengingat bahwa dulu saat Essie masih hidup mereka sering melakukannya berdua. Namun Davien sengaja tak menceritakan hal itu karena tidak ingin merusak momen indah kebersamaan mereka.
“Mmm... tidak! Hanya sesekali kadang aku datang ke tempat ini sendirian!” Davien mencoba melihat bintang dari teropong dengan salah satu matanya, setelah selesai mengukur dan mengatur lenca dia meminta Bunga untuk melihat.
"Kemarilah" Davien meraih tangannya, meminta Bunga berdiri di depannya sementara Davien berada tepat di belakang membantu Bunga mengoperasikan teropong itu.
Davien meminta Bunga melihat bintang dengan satu mata, sementara Davien yang berada di belakangnya membantu mengatur jarak lensa dengan memutar suatu panel yang ada di bawah teleskop. Dengan begitu Davien terlihat seperti sedang memeluk Bunga dari arah belakang.
Bunga hampir tak bisa konsentrasi karena merasakan kedekatan tubuh mereka yang membuatnya bisa merasakan hawa panas yang disalurkan dari tubuh Davien.
"Kau melihatnya?" tanya Davien seketika memecahkan lamunannya.
“Em!” Bunga terkejut pura-pura melihat bintang yang dimaksud, padahal dia sama sekali tak melihat karena konsentrasinya buyar.
"Aku sudah mengaturnya bahkan jika ditarik dari garis sudut lintang kita bisa melihat meteor dari sini.” Davien mulai bercerita. “Pada zaman dulu kenapa semua hewan raksasa mati? Guru bilang karena meteor yang berjatuhan ke bumi. Aku sempat tertawa mendengar cerita itu, tapi beberapa para ahli terbaik di dunia akhirnya menemukan pecahan meteor itu. Mereka ingin aku melihatnya agar percaya.”
“Lalu... apa kau melihat pecahan meteor itu? Kau percaya?” Bunga mulai penasaran.
“Hmm... aku melihat pecahan meteor itu. Saat aku pergi keluar negeri beberapa hari yang lalu... aku meminta bantuan para pengrajin terbaik di dunia untuk mengubah batu itu menjadi sebuah liontin!” Davien meraih sesuatu dari dalam saku jaket.
"Untuk apa kau membeli meteor itu?" Bunga penasaran.
Tak lama Davien mengangkat tangannya menjatuhkan kalung tepat di depan mata Bunga. Perempuan itu terkejut melihat kalung menggantung di depannya dengan liontin berwarna hijau botol. Liontin itu tampak seperti batu meteor yang diceritakan Davien. Pecahan meteor diubah menjadi seperti bentuk tetesan air dengan ukiran indah di setiap sisinya.
Bunga tengah menatap liontin itu, nyaris tak percaya dia bisa melihat batu meteor yang jatuh dari langit.
"Aku akan membantumu memakainya" Davien meminta perempuan itu memutar tubuh memunggunginya.
“Tunggu! Kenapa? Kau mau apa dengan kalung itu?” Bunga kebingungan.
“Kau sepertinya tidak menyimak ucapanku... aku bilang, akan membantumu memakai kalung ini! Ayo cepat angkat rambutmu!” pintanya dengan lembut. Davien tidak sabar ingin segera melihat kalung itu menggantung di leher pemiliknya.
Masih dalam keadaan bingung dan tak percaya, Bunga perlahan meraih rambutnya dan mengangkat keatas agar Davien bisa memakaikan kalung itu di lehernya.
Ekspresi wajahnya datar masih terdiam sementara satu tangannya mulai menyentuh liontin yang kini menggantung di lehernya. "Davien ini–," Bunga tak dapat berucap. Masih terlalu syok saat mengetahui Davien sengaja membuat kalung dari pecahan meteor itu hanya untuk dirinya.
"Mungkin banyak liontin yang terbuat dari batu meteor seperti ini di belahan bumi lain... tapi, liontin dengan ukiran seperti ini hanya ada satu” jelasnya. Davie merangkup kedua pipinya kemudian mendaratkan kecupan di kening Bunga.
“Lalu... apa makna dari ukiran ini?"
Davien tersenyum gembira karena hal inilah yang dia tunggu-tunggu saat Bunga menanyakan tentang ukiran di liontin itu. “Kau penasaran?”
“Hm!” Bunga mengangguk cepat seolah tak sabar.
“Coba kau lihat lebih teliti, ada ribuan ukiran nama yang sama dengan huruf yang berbeda dalam penulisannya.”
__ADS_1
Bunga dibuat menganga mendengar penjelasan dari Davien. “Kau sebenarnya tidak memberi tahu padaku tentang apa ukiran di liontin ini? Kau bukannya menjelaskan malah membuat otakku berpikir lebih keras lagi!” Bunga kesal dibuatnya.
“Iya, iya! Aku aku beritahu... tapi, beri aku reward terlebih dulu, setelahnya akan aku beritahu tentang apa ukiran itu.”
“Tidak! Aku tidak mau!” sahutnya.
“Baiklah!” Davien membuang muka dengan tangan bersedekap. Terlihat sangat santai dan yakin kalau Bunga pasti akan lebih penasaran dengan liontin itu.
Benar saja perempuan itu tengah menunduk menatap liontin itu, rasa penasaran yang semakin menjadi membuat Bunga akhirnya menyerah. “Ya! Kau menang... apa reward yang kau inginkan?”
Tak perlu menunggu lama Davien sepertinya sudah merencanakan semuanya sejak awal. Lelaki itu sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya. “Hmm!” Davien mengangkat kedua alisnya, menunggu respons dari Bunga.
“Apa?”
“Bunga, jangan sok berlagak polos! Kau pasti paham maksudku!” Davidn menahan senyum saat melihat Bunga merona.
Perempuan itu kemudian mengecup pipinya.
“Hm!!!” Davien menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa itu bukan reward yang dia inginkan.
Bunga menghela nafas panjang, wajahnya terlihat kesal namun hatinya mengatakan hal yang berbeda. Dia hanya gugup dan malu jika harus berinisiatif mencium Davien terlebih dulu. Padahal sejak tadi Bunga mati-matian menahan diri agar tidak dianggap gampangan, menghamburkan tubuhnya dengan mudah ke setiap lelaki meskipun lelaki itu Davien yang sudah menyandang status menjadi kekasihnya.
“Harus berapa lama aku membungkuk seperti ini menunggu ciuman darimu? Hmm?” suaranya terdengar malas, Davien seperti sudah kehilangan semangat karena Bunga enggan menciumnya. “Baiklah! Sepertinya di sini hanya aku yang terlalu menginginkan dirimu!” Davien mulai sok memamerkan wajah sedih, padahal itulah cara dia memancing Bunga.
“He?” raut wajahnya bercahaya seperti mendapat angin segar seketika. Timbul keinginan untuk menggoda kekasihnya itu karena sudah membuatnya kesal dan sok jual mahal. “Ya sudah! Kau hanya perlu berjinjit saat menciumku!”
Bunga menuruti ucapannya, berkali-kali dia berjinjit bahkan melingkarkan kedua tangannya ke leher Davien menarik kepalanya agar Bunga bisa menciumnya.
Tetapi Bunga selalu gagal karena Davien sengaja agar perempuan itu berusaha lebih keras lagi.
Sayangnya tak ada tempat atau sesuatu sebagai pijakan kakinya untuk membuat tingginya setara dengan Davien.
Bunga berdiam diri berpikir keras mencari cara sembari menggigit kukunya gelisah.
“Secepat ini kau menyerah? Benar tidak ingin tahu tulisan apa yang terukir di liontin itu?” Davien mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.
Bunga sempat curiga kalau Davien memang sengaja mempersulit dirinya. Tetapi setelah melihat senyum tipis di bibirnya, Bunga yakin kalau Davien sengaja menggodanya.
Bunga berjalan sekitar tiga langkah menjauh darinya. “Kau siap?” serunya kemudian.
“Siap apa? Hei, Bunga! Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau berdiri di sana?” Davien dibuat bingung dengan tingkahnya.
Melihat Davien mendekat bermaksud menghampirinya, Bunga berseru sambil berlari kearahnya. “Kau sudah siap menangkapku Davien???”
“Apa?” tubuhnya terpaku melihat Bunga berlari kearahnya.
__ADS_1
Davien dibuat syok melihat perempuan itu melompat secara tiba-tiba ke tubuhnya. Reflek kedua tangannya merespons dengan cepat menangkap tubuh Bunga.
Hahahahaha.... tawanya lepas terlihat sangat puas karena akhirnya dia bisa menjangkau bahkan kini dia lebih tinggi dari Davien.
Tak peduli lagi cara apa yang dia gunakan untuk bertahan agar tidak jatuh. Yang pasti saat ini Bunga merasa puas akhirnya bisa menang dari Davien.
Di saat dia tertawa riang dalam gendongan kekasihnya, Davien justru dibuat gugup tak karuan dengan sikapnya. Memang benar Davien menginginkan Bunga yang agresif tapi tidak juga secara tiba-tiba seperti saat ini karena dia belum menyiapkan hatinya. Dia
Jantungnya serasa ingin meledak, kedua matanya menatap wajah Bunga yang berseri. Davien dibuat berdebar tak karuan kala bunga berada dalam gendongan dengan posisi yang tak terduga sebelumnya.
Posisi Bunga kini bahkan lebih tinggi dari Davien, tubuhnya berada tepat di tengah sela kedua kaki Bunga yang melingkar di pinggangnya. Sementara kedua tangannya bertahan di bahu sebagai penyeimbang tubuhnya agar tidak jatuh.
Meskipun demikian tidak mungkin Davien membiarkan Bunga jatuh, karena tangannya tengah menahan kedua pahanya kuat. Pastinya Davien juga ingin lebih berlama lagi dengan Bunga dalam posisi seperti itu.
“Nakal! Bagaimana kau bisa berpikir melompat naik dalam gendonganku seperti ini” Davien tersenyum melihat sisi lain dari Bunga yang belum pernah dilihatnya.
“Bukankah ini yang kau inginkan?” tebakannya benar, tapi Davien berusaha mengelak.
“Tidak! Aku hanya meminta reward darimu tapi kau menanggapinya terlalu serius.” Dan terjadi lagi hal yang tak terduga. Secara terang-terangan Bunga menggodanya.
Perempuan itu menundukkan kepala tepat di atas wajah Davien yang menengadah menatap matanya. Kemudian menyandarkan kepala ke dahinya.
Bunga tak berucap hanya tubuhnya yang bergerak aktif menggoda Davien. Dia tahu pasti setelah melihat senyumannya tadi, Davien memang sengaja melihat reaksinya . Setelah dahi mereka saling menempel Bunga berbisik menggoda.
“Kau menyukai sikapku yang berani seperti ini, bukan?” Bunga berucap dengan tatapan nakal sengaja dibuat-buat. Melihat reaksi Davien begitu terkejut seakan membenarkan jawaban atas pertanyaan darinya. “Baiklah, aku akan memenuhi keinginanmu!”
Matanya membulat saat Bunga begitu lihai memainkan bibirnya. Perempuan itu tak hanya sekali tapi berkali-kali menciumnya.
“Bagaimana? Kau sudah puas? Atau....” Bunga menggunakan tangannya menyentuh bagian lehernya sendiri, dengan gerakan menggoda tangannya bergerak turun menuju ke dada kemudian jari-jemarinya mencengkeram erat pakaiannya sehingga nyaris Davien melihat belahan dadanya.
Refleks Davien langsung menurunkan Bunga dari gendongan. Dia tampak gugup sampai berkeringat dingin.
Hahahahahaha.... lagi-lagi Bunga tertawa puas terbahak-bahak sampai tubuhnya punggungnya terdorong ke belakang.
“Kenapa kau terus tertawa, ha?!” Davien tak terima, Bunga seolah memergoki dirinya gugup saat menghadapi sikap agresifnya.
Hahahahah.... “Kau memancingku sejak tadi Davien, tapi ketika aku memenuhi keinginanmu kau malah menciut seperti ini!”
Sial! Umpatnya karena malu. Davien tidak bisa lagi menahan rasa malu. Sekali lagi melihat tawa Bunga begitu lepas itu membuatnya bahagia. “Baiklah! Kau menang kali ini!”
“Oke, lalu katakan padaku... tulisan apa yang terukir di liontin ini?” Bunga menghela nafas sambil mengatur ritme detak jantungnya kembali normal.
“Juliet Fladimer!” ucapnya seketika.
Senyum yang sejak tadi memenuhi wajahnya menghilang perlahan berganti dengan ekspresi datar berusaha menerka-nerka siapa pemilik nama itu. Bunga sangat terkejut mendengarnya. Tetapi bertanya kepada Davien siapa itu Juliet Fladimir, Bunga seakan belum sanggup untuk mendengar jawaban yang nantinya mungkin akan membuatnya kecewa.
__ADS_1