
Keluarga besar Bu Cokro menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga sambil menonton TV.
Mereka bercanda gurau, menghabiskan waktu bersama. Moment yang sangat jarang bagi mereka untuk bisa berkumpul seperti sekarang.
"Sayang di mana David?" ucap Luna kepada Aileen.
Perempuan yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya pun menoleh.
"Aku tidak tahu Tante, terakhir lihat di teras belakang tadi" Aileen mengalihkan pandangan kearah lain. Dia baru sadar kalau David memang tidak ada di ruangan itu karena dia sibuk mengirim pesan singkat kepada Orang tuanya.
"Mulai sekarang panggil mamah ya?" Luna mengusap lembut kepala Aileen.
"Iya mah, , " Aileen merasa senang, mendapatkan keluarga yang baik dan selalu memberinya kehangatan. Bersama dengan mereka Aileen bisa merasakan kebahagiaan.
"Iris, , kamu tahu di mana Kakakmu?" Luna masih belum merasa tenang jika belum bisa melihat Putranya ikut berkumpul dengan bersama.
"Tidak mah" Iris yang sedang duduk sambil mengobrol dengan Kenzi pun celingukan mencari keberadaan David.
"Paling sedang menyapa saudara yang lain, nanti juga kesini kan?" Barack mencoba menenangkan Istrinya yang masih terlihat gelisah.
Aileen hanya diam, tetapi matanya selalu bergerak mencari keberadaan laki laki itu.
"Apa yang sedang dia lakukan sebenarnya??"
Aileen mencoba menghubunginya, tetapi David tak mengangkat. Perempuan itu kemudian menghela nafas panjang. Perasaanya mulai tak karuan ketika mengingat David sedikit aneh hari ini.
Tak lama karena semakin larut semua orang meninggalkan ruang keluarga satu persatu.
"Sayang aku pamit ya" Kenzi mengecup kening kekasihnya, kemudian melangkah keluar diikuti oleh Iris dari arah belakang. Perempuan itu mengantar Kenzi sampai ke depan pintu.
"Oh ya, Mamahmu kapan sampai sayang?" Luna beranjak dari kursi, berjalan mendekati Aileen yang masih duduk di sofa.
"Mamah bilang setelah Papah menyelesaikan pekerjaannya akan langsung datang kemari Mah" Aileen terlihat memaksakan senyumnya kepada Luna, dia masih merasa sedikit sedih karena tak melihat David.
"Ya sudah, ini sudah larut malam. Mamah masuk ke dalam kamar duluan ya?, , kamu jangan bergadang terlalu lama, calon pengantin tidak boleh terlalu kecapean. Nanti kantung matanya kelihatan loh" Luna mencoba menggoda Aileen yang terlihat sedikit murung, kemudian dia mengecup ujung kepala Aileen sebelum masuk ke dalam kamar bersama Suaminya.
Ruang keluarga sudah mulai sepi, hanya tinggal Aileen dan beberapa orang yang kadang masih berlalu lalang.
Aileen mendengus kesal, beberapa kali dia mencoba menghubungi David tetapi ponselnya tetap tidak diangkat.
Tak lama Aileen melihat David berjalan dari arah pintu yang langsung menghubungkan ke ruang tamu. Nampaknya laki laki itu seperti baru saja pergi keluar.
David memalingkan wajahnya ke Aileen yang masih duduk, perempuan itu memperlihatkan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Kamu belum tidur?" ucapnya tanpa mendekati Aileen.
Sementara Aileen masih diam, menatap David dengan tatapan malas. Ekspresi wajahnya pun tak terbaca.
"Kenapa diam?" David hanya menatap sambil mengerutkan dahi, seolah dia merasa bingung dengan tatapan Aileen.
"Kamu dari mana?" Aileen berucap dengan tenang, mencoba menyembunyikan perasaannya yang sedikit kecewa karena sikap David.
David akhirnya duduk tetapi dia sengaja memberi jarak antara dirinya dengan Aileen. Biasanya David tak seperti itu. Apa lagi jika melihat suasana sepi, David pasti akan meloncat dan mendekati Aileen.
Laki laki itu malah meraih remot lalu mengganti acara Tv.
"Aku baru saja menyapa saudara Nenek yang datang dari luar kota, mereka ada di luar" David berucap tanpa memalingkan wajahnya keAileen. Kini dia memilih fokus dengan layar di depannya.
"Kamu tidak membawa ponselmu?, , aku beberapa kali mencoba menghubungimu, kenapa kamu tidak mengangkatnya??" Aileen memfokuskan semua perhatiannya kepada David.
Tetapi laki laki itu terlihat acuh seperti tak menganggap Aileen ada di sampingnya.
"Aku lupa menaruh ponselku di mana"
"David ada apa denganmu?" Aileen mencoba melontarkan pertanyaan yang mulai mengganghu pikirannya, dia merasa David berubah begitu cepat.
__ADS_1
"Aku tidak apa apa memangnya kenapa?" David menatap dingin, dia bahkan menggeser tubuhnya lagi kesamping menjauh dari Aileen untuk mencari kenyamanan di sana.
Biasanya David pasti akan menyuruh Aileen mendekat. Tetapi kali ini David malah sengaja menjauh. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh laki laki itu.
Aileen menghela nafas panjang.
"Apa aku melakukan kesalahan?" suaranya terdengar sangat rendah, seolah merasa ada yang terluka di hatinya karena sikap David.
Pertanyaan itu membuat David tersenyum tipis.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?"
"David bisakah kamu melihat kearahku?, , aku sedang berbicara denganmu!" Aileen menaikkan sedikit nada bisaranya. Membuat David akhirnya mau menatap Aileen.
"Ini sudah malam Aileen. Masuklah ke kamar" laki laki itu malah mengalihkan pembicaraan, membuat Aileen semakin yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi dengannya.
"Ada apa dengan laki laki ini??"
Perasaannya seperti ada yang meronta ronta ingin David kembali seperti semula, David yang mesum, David yang suka mencuri cium, David yang suka menggodanya. Aileen ingin Davidnya kembali seperti biasa.
"Apa ini karena Nenek memaksamu untuk mempercepat pernikahan kita?" Sejenak Aileen berhenti berucap, menatap tajam, menunggu laki laki itu untuk menjawab pertanyaannya.
"Aileen!, , kenapa kamu membahas itu? memangnya ada apa dengan Nenek yang mempercepat pernikahan kita?, , apa ada masalah?" bukannya menjawab, David malah membalikkan pertanyaan.
"Masalah ada padamu!!, , David!!! ada apa denganmu? kamu juga belum menjawab pertanyaanku!, , apa aku melakukan kesalahan??"
"Tidak, , kamu tidak melakukan kesalahan. Benar apa kata kamu!. Kesalahan itu ada padaku" David menarik tubuhnya kebelakang, menyandarkan punggung kesandaran kursi. Kemudian menghela nafas panjang.
Kerutan di kening Aileen semakin dalam, ujung matanya mengerucut kearah David. Seolah merasa gemas dia ingin sekali mengetahui peasalahan apa yang sedang di hadapi David.
"Kesalahan apa yang kamu buat?, , David? kamu tidak sedang merencanakan untuk membatalkan pernikahan ini kan?" raut wajah Aileen memucat, dia terlihat sangat khawatir dengan sikap David yang tiba tiba berubah aneh.
David beranjak berdiri, tangannya mengusap ujung kepala Aileen.
Melihat David melangkah masuk ke dalam kamar, dengan perubahan sikapnya yang sangat drastis, dada Aileen terasa sesak hingga sulit ketika hanya untuk bernafas.
Aileen merasa tidak tenang ketika belum bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Dia beranjak dari sofa dengan rasa jengkel, berjalan menuju kamar di mana David berada.
Aileen membuka pintu, kemudian melangkah masuk kearah dalam setelah menutup pintunya kembali.
Aileen naik keatas ranjang lalu duduk di sana.
"David!!" dia menepuk pundak laki laki yang sedang berbaring memunggunginya.
"Ai, kembalilah ke kamarmu!" David berucap dengan nada berat, di selipi sedikit geraman untuk membuat Aileen percaya bahwa dirinya sedang tidak bercanda.
"Aku tidak mau kembali ke kamar, sebelum kamu menjawab. Kenapa kamu berubah??"
"Aku tidak berubah, aku masih tetap seperti ini" David masih memunggungi Aileen, tak mau memutar tubuhnya sedikit pun.
"Aileen pergilah!"
"Aku tidak mau!" Aileen berbaring di ranjang, menelusupkan kedua tngannya kepinggang kemudain memeluk David dari arah belakang. Menghisup aroma tubuh David dari punggungnya yang hangat.
David merinding ketika merasakan nafas hangat Aileen yang masuk menembus hoodie menyapu punggungnya.
"Aileen pergi dari sini!" David berucap sembari menutup kepalanya dengan bantal.
"Aku tidak mau" Suaranya tak terdengar jelas, karena Aileen memendam wajahnya dalam dalam.
David menarik bantal yang menutupi kepalanya
"Kenapa kamu tidak mau pergi dari kamarku!"
__ADS_1
Aileen menarik kepalanya mundur, sedikit menjauh ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut David
"Aku tidak mau jauh darimu!!" Aileen kembali memendam wajahnya ke punggung David.
"Aku ingin Davidku kembali, ,aku menyukai Davidku yang nakal, , , aku ingin Davidku yang mesum. Aku menginginkan David yang selalu menciumku setiap saat. Aku, , merindukan perlakuan manismu terhadapku!" Aileen melepaskan pelukannya saat David bergerak memutar tubuhnya kebelakang.
Kini David menghadap ke wajah Aileen, senyum lebar pun menghiasi wajahnya.
Perempuan itu berkaca kaca, bagaimana dirinya bisa menahan rasa malu untuk mengucapkan hal itu secara gamblang di depan seorang laki laki yang sangat dicintainya.
"Apa kamu bosan denganku?, , kenapa kamu tak menghiraukanku lagi?"
David mengusap mata Aileen dengan ibu jarinya.
"Aku tidak mungkin bosan denganmu!" David mengecup keningnya.
"Itu tidak akan pernah terjadi" David sejenak berhenti berucap untuk menghela nafas. Kemudian kembali berucap dengan lembut dan penuh perhatian.
"Kamu tadi bilang apa? kamu tidak bisa jauh dariku?" Aileen mangangguk.
"Kamu menyukai aku yang nakal?" Aileen mengangguk lagi.
"Kamu menginginkan aku selalu menciummu?" anggukan kepalanya semakin kencang di barengi dengan gerakan dadanya yang cepat saat mengambil nafas karena Aileen mulai terisak isak. Dia sempat ketakutan kalau David akan benar benar berubah.
"Aku tidak pernah berubah Ai, ,aku hanya ingin memastikan, apakah hanya aku yang terlalu sangat membutuhkan dirimu. Dan kini kau tahu ternyata kamu pun juga sebaliknya, aku merasa lega dan sangat bahagia"
Aileen merasa jengkel, dia merasa telah di permainkan oleh David. Dia menghujani laki laki itu dengan pukulan di dadanya bertubi.
David kemudian merangkup pipi Aileen, mengecup keningnya kemudian.
"Kamu menyukaiku yang nakal kan?" bisiknya dengan lembut, hingga nafasnya yang hangat menyapu wajah Aileen.
Aileen menatap David dengan lekat, entah apa yang akan di lakukan oleh David nantinya.
David tanpa aba aba menggerakkan tangannya meraba dada Aileen.
"David!!" perempuan itu menarik dadanya, hingga punggungnya melengkung kebelakang.
"Bukannya kamu suka aku yang nakal" Dia menaikkan kedua alisnya secara bersamaan.
"Tunggu!" David menyelidik kearah dadanya.
"Kenapa dadamu yang sebelah terasa sedikit lebih besar??, , kemarin kemarin tidak sebesar ini?? apa karena aku sering menyentuh di bagian sana?"
"Mesum!!" teriak Aileen seketika, dia memeluk tubuhnya sendiri untuk melindungi bagian dadanya.
"Kenapa??, , bukannya kamu bilang suka aku yang mesum!!" David menyeringai senang.
"Iya tapi!, , "
David berguling hingga kini posisinya berada di atas tubuh Aileen. Menggunakan kedua tangannya yang bertumpu di ranjang untuk menopang tubuhnya, sengaja memberi jarak antara dirinya dangan Aileen.
David mendekatkan wajahnya, menempelkan kening mereka kemudian.
Laki laki itu mengecup bibir Aileen, David sengaja membiarkan bibir mereka saling bersentuhan ketika berucap.
"Aku akan membantu memijat yang sebelahnya lagi, agar terlihat sama dan tidak besar sebelah"
Aileen terkekeh.
"Tanganmu tidak akan mempengaruhi besar kecilnya, , " ucapan Aileen terputus, tiba tiba bibirnya membeku ketika ingin meneruskan kalimat terakhirnya.
David tersenyum.
"Kita tidak akan tahu kalau belum mencobanya, ,bukankah kamu menyukai sikapku yang nakal dan mesum??, , inilah saatnya. Aku akan memenuhi keiinginanmu!"
__ADS_1