Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
# Aryo dan Cici


__ADS_3

Aryo meraih cardigan milik Cici yang ada di bangku, dia berlari keluar dari carfe mencari keberadaan temannya itu.


Setiap sudut ruang yang dia masuki tak ada yang luput dari pandangannya. Matanya selalu mengawasi setiap orang yang dilihatnya.


Pikiran jelek mulai meracau otak Aryo. Dalam pengaruh obat itu Cici bisa melakukan apa saja, bahkan meminta orang yang tak di kenal untuk memuaskan hawa nafsunya.


"Bertahan ci, aku akan segera membantumu!! eh bushet, , aku ngomong apaan sih" Aryo memukul mulutnya sendiri.


Dia terus berlari dari satu cafe ke cafe lain hingga sampai ke belakang tempat yang sempit dia datangi takut kalau kalau Cici sampai tak bisa mengendalikan pengaruh obat hingga melakukan hal yang tidak senonoh dengan orang lain di tempat yang tidak memungkinkan.


Nihil!! dia tidak menemukan Cici di mana pun. Ke semak semak dekat penginapan pun dia cari, siapa tahu dia sudah terbaring di sana.


"Apaan coba, kenapa aku cari dia sampai ke tempat sperti ini, ayo Aryo berfikir berfikir!! kemana tempat yang memungkinkan akan dia datangi di saat seperti ini"


Aryo mengusap wajahnya dengan kasar. Dia berjalan melawati rentetan pemginapan di tepi laut, berharap bisa menemukan CiCi.


Langkahnya memaku ketika mendengar suara desahan dari arah dalam kamar yang baru saja di lewatinya.


Desahan perempuan itu sangat kencang hingga sampai terdengar keluar padahal pintu dan jendela tertutup tapat.


Bahkan tak ada sela yang bisa di lewati oleh suara itu.


Wajah Aryo nampak memerah padam karena menahan emosinya. Rahangnya menguat kepalan tangannya sudah siap untuk menghajar laki laki yang sedang bersama Cici di pikirannya.


Dia mendobrak paksa pintu kamar itu dengan sekuat tenaga. Hanya dengan sekali tendangan pintu sudah terbuka.


Entah karena memang dia kuat atau karena emosinya hingga membuat tenaganya bertambah berkali kali lipat.


"Brengsek!!!" Aryo mengumpat ke arah laki laki yang sedang menind** seorang perempuan.


"Kamu yang brengsek!! keluar dari sini!!" teriak laki laki separuh baya itu sambil melempar bantal ke arahnya.


Aryo nampak terkejut ketika melihat perempuan itu ternyata bukanlah Cici.


"Mampus lo yo yo!! sorry om sorry, aku salah kamar" Aryo segera berlari keluar dari kamar itu dengan cepat, berharap laki laki itu tidak mengejarnya.


Ya pastilah dia tidak akan mengejar Aryo, posisinya kan sedang telanjang.


Aryo masih terus berlari, kini langkahnya terhenti lagi dia meremas cardygan milik temannya itu sambil berusaha mengatur nafasnya yang terengah engah.


Seketika wajahnya memaku. Hanya ada satu tempat lagi yang kini terfikir olehnya kalau sampai dia tidak ada di sana entahlah Aryo sudah buntu jalan pikirannya.


Aryo berlari menuju penginapan Cici dia melihat pintu kamarnya tidak menutup dengan rapat.

__ADS_1


Perlahan tangannya maraih gagang pintu dan mendorongnya.


Matanya mengawasi setiap sudut ruang kamar namun dia tak melihat Cici di sana.


Mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi Aryo pun berjalan mendekatinya.


Pintu kamar mandi juga tidak tertutup rapat, ada sedikit celeh Bagi Aryo untuk memastikan ke adaan di dalam.


Sesekali dia memejamkan matanya karena tak sanggup harus melihat pemandangan yang seharusnya tak dilihatnya.


"Rejeki yo, jangan di tolak"


Belum sempat membuka pintu, dari arah dalam Cici terlebih dulu menarik pintunya.


Mata Aryo membulat penuh, melihat pemandangan di depan matanya.


Cici nampak terlihat sangat segar setelah menyiram dirinya dengan air dingin karena suhu badannya yang meninggi.


Kulit putih bersihnya terlihat sangat mulus tak ada cela sedikit pun di sana.


Memang Cici masih nemakai handuk untuk menutupi bagian dada ke bawah tubuhnya namin di mata Aryo dia sudah cukup menggugah kelelakiannya.


Aryo mengusap wajahnya gusar, tangannya tertahan untuk menutupi mulutnya, rambutnya tak seluruhnya basah hanya bagian bawah yang menempel di punggungnya saja yang basah sehingga membuat dia semakin terlihat sangat sexi.


Bagian bawahnya sudah tak bisa di kendalikan ada rasa ngilu dan berdenyut yang teramat.


Aryo menelan ludah dengan susah payah.


Kakinya melangkah mundur saat Cici berjalan ke arahnya.


Matanya melihat ke arah aryo dengan sangat sensual.


Aryo nampak bergidik pasalnya Cici tak pernah melihatnya dengan tatapan nakal seperti itu, yang ada dia selalu galak dengannya.


Aryo terus berjalan mundur seiringan dengan langkah kaki Cici yang terus mendekat ke arahnya.


Sesekali Aryo menengok ke belakang untuk memastika kalau dirinya tak menabrak apa pun.


Matanya tertuju ke arah pintu yang masih terbuka, dia terus melangkah mundur menuju ke arah tangannya yang bergerak ke arah belakang berusaha menutup pintu.


Dia masih menghadap ke arah Cici untuk tetap mengawasinya sementara tangannya kini masih berusaha keras mengunci pintu.


Maksud hati bukan karena dia ingin melakukan hal senonoh dengan Cici namun takutnya akan ada yang melihat ke adaan Cici ketika dia lepas kendali. Bukankah itu artinya sama saja.

__ADS_1


"Bodoh!!"


Aryo berusaha menarik tangannya kembali setelah berhasil mengunci pintunya namun yang ada cici malah meraih meraba dadanya mendorong tubuh Aryo ke arah pintu.


Dia belum sempat menarik tangannya, kekuatannya seolah menghilang entah kemana ketika Cici mendekati wajahnya dan mendengus lembut di pipinya.


Tubuh Aryo nampak bergetar. Dia memejamkan matanya menahan rasa gejolak di dalam dadanya yang terus memburu dan memaksanya untuk segera melampiaskan hasrat kelelakiannya.


Aryo mengumpulkan kembali sisa sisa kekuatannya untuk membungkuk dan menggendong Cici, lalu membawanya ke atas ranjang dan menjatuhkan tubuh temannya itu dengan kasar


Berharap Cici bisa tersadar dari pengaruh obat.


Namun Cici malah mendesah kesenangan.


"Mmhh, , kamu suka yang kasar kasar ya?" ucapnya dengan nada sensual yang sangat menggelitik di rongga telinga Aryo.


"Idiiihh!!! sadar Ci" Aryo marauk bantal dan membuangnya ke arah wajah Cici namun dengan sigap Cici menangkapnya dengan gerakan nakalnya.


"Ya ampuunn!!!, , biasanya dia galak seperti singa kenapa kini dia terlihat sangat menggemaskan??, , amupuuunnn Tuhaaannn!!"


Aryo menjerit di dalam hatinya pikirannya sungguh kosong dan buntu.


Cici semakin liar dia merangkak meraih tengkuk Aryo dan dengan cepat dia melumat bibirnya hingga Aryo tak dapat mengelaknya karena gerakannya terlalu cepat, Cici pun menyerangnya di saat Aryo sedang lengah memikirkan cara lain untuk menghadapi Cici.


Aryo kehabisan akal dia membiarkan Cici melumat habis bibirnya, sementara tangannya bergerak melepas ikat pinggangnya.


Menariknya dengan kasar dan setelah ikat pinggangnya terlepas dia meraih tangan Cici mendorong tubuhnya ke atas ranjang dan mengunci tubuhnya dengan mengapit ke dua kakinya di sela ke dua lututnya yang bertumpu di atas ranjang.


Aryo manyatukan tangan Cici mendorongnya kuat ke ranjang hingga Cici tak dapat menggerakkan tangannya, sementera satu tangannya lagi berusaha mengikat tangan cici dengan ikat pinggangnya.


Selesai mengikat ke dua pergelangan tangan Cici, kini ke dua tangan aryo bertumpu di atas ranjang di sebelah kana dan kiri pundak Cici untuk menopang tubuhnya.


Nafasnya terdengar sangat kasar. Dia memberi jarak antara dirinya dengan Tubuh Cici untuk mengawasi raut wajah Perempuan yang kini sudah bertambah ganas dan memerah padam pipinya.


Untuk Cici yang berada di bawah kendali obat dia seperti tak kehabisan akal. Pergelangan tangannya memang terikat rapat namun lengannya masih bisa membuka dia kini mengunci leher Aryo di pelukannya menariknya merapatkan wajah mereka dengan cepat dan sangat dekat.


Leher Aryo memaku menahan dorongan lengan Cici yang sangat kuat.


"Sadarlah Ci!!" ucapnya dengan lembut matanya pun berbinar binar saat melihat ke dua mata Cici dari arah dekat.


Jantungnya berdegub kencang bukan karena nafsunya kepada cici namun lebih ke arah perasaan anehnya terhadap perempuan yang kini sudah berhasil menarik perhatiannya.


♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2