
Hari ke 3, Aileen semakin terlihat tak bersemangat. Dia selalu menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan setiap hari. Setiap menitnya terasa hampir satu jam ketika dia melewatinya.
"Kenapa??, , murung terus?" Koyoko yang sedang sibuk memasak di dapur mulai meracau pikiran Aileen. Perempuan itu duduk termenung di meja makan sembari menyangga kepalanya di atas meja.
Aileen mengeluh kesal dia melirik layar ponsel yang ada di sampingnya. Tak lama setelah itu Aileen membenamkan wajahnya di meja makan kemudian berucap.
"Aku merindukan laki lali itu"
Koyoko memaku tangannya di udara ketika ingin meraih sendok untuk mencicipi masakannya. Perlahan dia memutar tubuhnya menghadap Aileen. Memandangi sahabatnya yang tengah terpuruk lemas di atas meja. Koyoko bergerak maju mendekatinya.
"Aileen?"
"Hm??," perempuan itu mengangkat wajahnya kemudian melihat kearah Koyoko yang sudah berdiri di depan matanya.
"Apa kamu tidak merasa aneh dengan hubungan kalian yang terjalin dengan terlalu cepat?" Koyoko nampak meragu ketika ingin berucap. Semenjak kemarin dia sedikit mendengar pembicaraan David dengan Abell di depan pintu, Koyoko merasa ada yang tidak beres. Tidak semuanya dia mendengar, tetapi dari sebagian yang dia dengar Koyoko bisa menyimpulkan bahwa David tak serius dengan hubungan mereka.
Ujung mata Aileen mengerucut kearah Koyoko.
"Apa maksud ucapanmu??, , aku tidak paham!"
"Aku hanya merasa," Koyoko memaku bibirnya, dia tak sanggub berucap ketika melihat sahabnya itu sedang di landa rasa rindu yang hebat.
Koyoko pun mengerutkan dahinya ketika merasakan sedikit pusing dan merasa mual.
"Koyoko kamu baik baik saja??, , kamu terlihat pucat?" Aileen beranjak dari kursi. menggerakkan tangnnya untuk menyentuh pipi Koyoko, memastikan bahwa perempuan itu baik baik saja.
"Aku baik baik saja, jika kamu rindu dengannya. Kenapa tidak datang kerumahnya? mungkin tidur di kamarnya bisa sedikit mengobati rasa rindumu!"
Aileen tersenyum, Koyoko seperti memberi angin kesejukan baginya.
"Bisakah aku melakukannya?"
"Kenapa kamu tidak mencoba?"
Tanpa berfikir panjang Aileen bergegas pergi menuju ke rumah David.
Sementara Koyoko terdiam sambil mengusap lembut perutnya.
♡♡♡
"Nona?" sapa seorang pelayan setelah membukakan pintu untuk Aileen.
"Mmm, ,bolehkah aku masuk bi?" Aileen tersipu malu ketika berucap, dia tidak yakin apakah pelayan akan membiarkannya masuk ketika David tak ada di rumah.
"Silahkan Nona, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu" dengan senyumya yang manis, pelayan semakin membuka pintunya dengan lebar.
__ADS_1
"Maaf kalau aku mengganggu kalian" Aileen melangkah masuk kearah dalam.
"Tidak Nona, kami selalu merasa senang ketika Nona ada di sini" Pelayan itu menggandeng lengan Aileen sambil menuntunnya kearah kamar David.
"Silahkan masuk Nona, sebentar aku akan menyiapkan teh hangat untukmu"
"Terima kasih bi" Aileen tersenyum.
"Sama sama" Pelayan kemudian meninggalkan Aileen di dalam itu kamar sendirian.
Sementara Aileen mulai berjalan kearah dalam. Dia duduk di tepi ranjang, meraih bantal kemudian memeluknya.
Beruntung pelayan belum mengganti sprei dan sarung bantalnya, jadi Aileen bisa menghirup aroma tubuh david dari sana. Perempuan itu tersenyum saat menghirup aroma yang sudah beberapa hari tak pernah hinggap di rongga hidungnya, dan itu sedikit mengurangi rasa rindunya kepada David.
Tak lama dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tangannya meraih ponsel ketika merasakan getaran di sana.
Saat itu juga dia mendapatkan panggilan video dari David.
"Hai" ucapnya sembari menatap kearah layar ponselnya.
Laki laki itu terlihat tersenyum lebar. David menyelidik kearah ranjang yang sedang di tiduri oleh Aileen. Dia merasa tak asing dengan bed cover yang ada di sana.
"Apa kamu berada di kamarku?" ucapnya kemudian.
Aileen berguling mengubah posisinya dengan tengkurap, menggunakan satu tangan untuk menyangga kepalanya di atas ranjang.
"Aku ingin segera pulang, , kemudian menikmati ranjang itu bersamamu" David melayangkan sebuah ciuman melewati udara.
Perempuan itu tersipu malu.
"Di mana kamu menyimoan foto masa kecilmu?, , aku ingin melihatnya"
"Jangan, , kamu nanti akan semakin jatuh cinta dengan ketampananku saat aku masih kecil" David memamerkan senyum termanisnya kearah Aileen.
"Narsis!!, , dasar!, , cepat katakan di mana kamu menyimpannya?" Aileen semakin tidak sabar ingin melihat album kenangan milik David ketika laki laki itu masih kecil.
"Pergilah keruang kerjaku. Aku menyimpan semua di sana. Di bawah meja kerjaku"
Aileen melompat dari kamar, dia berlari dengan tidak sabar menuju keruang kerja.
"Sayang??, , kamu nikmati melihat lihat fotoko, aku harus kembali meeting dulu oke?, , nanti aku akan menghubungimu lagi, mmmmmmmmuah" David menutup panghilannya setelah mendapat balasan ciuman dari Aileen.
♡♡♡
Perlahan Aileen mendorong pintu ruang kerja, dia melangkahkan kakinya masuk kearah dalam setelah menutup kembali pintunya.
__ADS_1
Matanya langsung tertuju kepada meja kerja.
Aileen berlari kecil dengan senyum lebar di wajahnya. Dia merasa sudah tidak sabar ketika ingin melihat wajah David saat masih kecil.
Aileen sejenak duduk di kursi, membenamkan tubuhnya di sana. Membayangkan bahwa David pasti juga akan melakukan hal itu ketika menghabiskan waktu untuk berkerja di ruangan itu.
Setelah merasa puas menikmati kursinya, Aileen bergerak sedikit membungkuk untuk membuka almari kecil yang ada di bawah meja.
Senyumnya semakain melebar ketika melihat sebuah album foto yang berukuran lumayan besar dan tebal ada di dalam sana.
Aileen meraihnya, setelahnya menutup kembali pintu almari kemudian membawa album foto itu ke atas meja.
Dia sempat menggesaer sebauh map kearah lain sebelum menaruh album itu di atas meja.
Aileen semakin tidak sabar ingin melihatnya, perlahan dia membuka album itu. Senyum manis kembali menghiasi bibir perempuan itu.
Aileen sejenak lupa dengan rasa rindu yang bergelayut di hatinya. Kini dia sedang fokus dengan foto kekasihnya.
Terkadang Aileen terkekeh ketika melihat foto David di moment tertentu yang saat itu terlihat lucu.
"Laki laki ini memang sudah tampan sejak lahir!, , dasar. Pantas saja kalau dia selalu narsis dengan dirinya sendiri!!"
Hampir berjam jam Aileen menghabiskan wkatu di ruangan itu. Karena dia selalu mengulanginya dari awal ketika sudah melihatnya hingga lembaran terakhir.
Tok tok tok !!!
Aileen mengalihkan pandangannya kearah pintu, di sana dia melihat Pelayan membawa sebuah cangkir teh untuk Aileen.
"Aku mencarimu kemana mana Nona. Yernyata kamu ada di sini"
"Maaf bi sudah membuatmu repot" Aileen menutup album fotonya.
"Jangan berkata seperti itu Nona, aku senang ketika kamu merepotkanku" pelayan menaruh cangkir itu di meja.
"Benarkah??" Aileen tersenyum kemudian menyesap teh itu perlahan.
"Baiklah Nona. Saya akan kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Jika Nona membutuhkan sesuatu. Panggil saja saya"
"Iya terima kasih Bi" Aileen memutuskan untuk membawa album foto itu ke kamar.
Ketika dia beranjak ujung matanya melirik kearah sebuah map yang sempat dia singkirkan sebelumnya. Kemudian Aileen meraih map itu untuk disimpannya di almari bawah meja.
Ketika Aileen harus membungkuk untuk membuka Almari kecil itu, tanpa sengaja dia menjatuhkan map itu hingga lembaran yang ada di dalam mencuat keluar berserakan di lantai.
"Astaga!!" Aileen terkejut, dia meletakkan album foto ke lantai. Kemudian menata lembaran yang berserakan itu agar kembali rapih seperti semula.
__ADS_1