
Luna terlihat sedang menghadiri acara yang diisi oleh orang orang penting yang sangat berpengaruh di balik dunia fashion.
Mereka para desainer ternama dan tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan itu. Luna termasuk salah satu yang sangat beruntung, karena baru saja mendapat pekerjaan dan sekarang dia bisa mengikuti seminar besar itu.
"Apa yang sudah kamu dapatkan? Maaf aku sedikit terlambat" Adrian yang baru datang langsung menarik kursi dan duduk di samping Luna.
"Banyak" ucap Luna, sementara matanya mengawasi setiap sudut. Memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang.
"Apa saja?"
"Pengalaman dan teman tentunya" Luna melempar senyum ke arah laki laki itu.
Adrian terkekeh mendengar jawaban dari Luna.
Selama mengikuti pertemuan itu Luna dan Adrian semeja dengan rekan bisnis lainnya. Adrian nampak antusias saat mengenalkan Luna kepada mereka.
"Dia salah satu desainer terbaik yang aku miliki saat ini, banyak projek yang ingin aku kembangkan bersamanya nanti" Adrian benar benar menyanjung aluna di setiap perbincangannya.
"Pak Adrian tidak perlu selalu menyanjungku terus menerus. Saya jadi"
"Aku bilang cukup panggil namaku saja" ucap Adrian. Adrian memotong pembicaraan.
"Mm, baiklah, A, , Adri, , Adrian" ucap perempuan itu dengan terbata karena merasa tidak enak dan belum terbiasa ketika harus memanggil Bosnya dangan smenyebut nama depannya saja.
Adrian tersenyum manis saat mendengar Luna memanggil namanya.
"Setelah acara ini selesai kita akan mengunjungi temanku di kota S, kamu tidak keberatan kan?" ucap laki laki itu dengan tatapan mata yang lekat ke arah Luna.
"Mm?, , tidak masalah anak buah harus mengikuti kemana pun Bosnya pergi" perempuan itu melirik ke arah Adrian sebelum kembali melihat ke selebar kertas putih yang ada di tangannya.
♡♡♡
Barack terlihat masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya, dia mengecek satu persatu laporan perusahaan Ayahnya selema beberapa hari terakhir.
Dia membacanya dan menandatangani sebagian laporan yang ada di atas meja, namun sesekali ujung matanya melirik ke arah ponsel yang berada di sebelah laptop.
Berharap Luna mengirim pesan atau menelponnya.
Belum ada sehari mereka berpisah namun bagi Barack itu sudah sangat cukup menyiksanya. Dia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana nanti malam akan tidur sendirian tanpa memeluk Istrinya.
Laki laki itu menghela nafas sebelum menarik tubuhnya bersandar di dinding kursi untuk menetralkan perasaannya.
♡♡♡
Luna dan Adrian melakukan perjalanan menuju kota S untuk menemui temannya.
"Sudah berapa lama kamu menikah dengan Barack?" Adrian mencoba untuk memecah keheningan di dalam mobil itu.
"Hm??" mata Luna berputar, seolah dia berfikir dengan keras untuk menjawab pertanyaan laki laki itu. Pasalnya dia memang tidak bisa mengingatnya.
"Maaf tapi, aku tidak tahu"
__ADS_1
Kening Adrian berkerut mendangar jawaban dari perempuan yang saat ini sedang memandang keluar dari balik kaca mobil.
"Kamu tidak mengingatnya?"
"Ee, , itu, aku pernah mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatanku?" Luna nampak ragu saat jarus memceritakan hal itu.
"Oooh, maaf aku tidak bermakaud untuk membuatmu"
"Tidak masalah, tapi aku juga selalu berusaha mengingatnya" Ucapnya memotong pembicaraan.
Adrian mengangguk pelan seolah dia merasa tidak enak karena telah menanyakan hal itu.
Dua jam melakukan perjalanan ke kota S akhirnya mereka berdua sampai. Adrian pun menemui temannya di sebuah restoran.
Ada tiga orang teman Adrian yang sudah menunggu kedatangan mereka di sana. Adrian sengaja menarik kursi untuk perempuan yang datang bersamanya.
"Terima kasih" ucap Luna, setelah berhasil duduk di kursi.
Mereka berbincang bincang hangat sambil menghabiskan waktu makan siang.
Adrian tersenyum saat menanggapi perbincangan yang terjadi di meja itu. Ujung matanya melirik ke arah bibir luna.
Tangan Adrian meraih tisu untuk membersihkan noda di sekitar bibir Luna, namun perempuan itu menyadarinya saat Adrian mengulurkan tangan ke arahnya.
Luna sedikit menghindar karena dia terkejut.
"Bibirmu" Adrian seakan memberitahu kepada Luna kalau ada noda di bibir perempuan itu.
♡♡♡
Menjelang malam akhirnya Adrian mengantar Luna kembali ke hotel, membiarkan Luna lembali ke kamarnya untuk beristirahat sementara dirinya masih harus pergi menyelesaikan urusan lain.
Luna mengambil kartu akses untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah kuncinya terbuka dia melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintunya.
Dia terkejut saat ada seseorang yang mencengkeram lengannya mendorong tubuhnya ke tembok dan mengunci kepalanya dengan menahan tengkuknya erat.
Dia meronta dan memukuli orang itu, Luna tidak bisa memastikan wajahnya, karena lampunya belum sempat dia nyalakan. Namun jika di lihat dari postur tubuhnya bisa di pastikan kalau dia seorang laki laki.
Pikiran Luna kacau, dia berusaha melepaskan diri dari orang itu. Yang ada di pikirannya adalah orang itu akan berbuat jahat padanya.
Sementara luna sedang sibuk dengan pikirannya, laki laki itu kini telah berhasil mencium bibir Luna.
Tangan Luna memaku, seketika dia berhenti meronta setelah merasakan bibir laki laki yang kini melumat bibirnya habis habisan, setelahnya laki laki itu berpindah menciumi leher Luna.
Dia yakin kalau itu pasti Suaminya apa lagi setelah mencium aroma tubuh yang tak asing menyeruak ke dalam hidungnya.
Akhirnya perempuan itu yakin kalau orang yang sedang melumat habis lehernya adalah Barack.
Tangan Luna bergerak meraba dinding tembok untuk meraih saklar lalu menyalakan lampunya.
Dan ketika lampu menyala terang, Barack menghentikan ciuman di leher Istrinya itu.
__ADS_1
"Luna" ucap Barack dengan frustasi, suaranya terdengar sangat rendah dan serak. Dia membenamkan wajahnya di pundak Luna untuk menghirup aroma wangi tubuh perempuan itu yang memberikan sensasi kenyamanan tersendiri di dalam hatinya.
Luna meraih rambut Barack dan meremasnya.
"Kamu kenapa ada di sini?" tanyanya dengan penuh rasa penasaran.
Barack menarik kepalanya, nafasnya pun terdengar sangat kasar.
"Aku tidak bisa jauh darimu!" mata laki laki itu terlihat sendu karena menahan rindu yang teramat kepada Luna.
Luna terkekeh senang, melihat bahwa Suaminya itu benar benar sangat mencintai dirinya. Kini Luna menatap Barack dengan penuh keheranan.
"Tidak sulit bagiku untuk mendapatkan akses masuk ke kamarmu ini" Barack seakan menjawab pertanyaan yang masih tersimpan di benak Luna.
"Kamu rindu padaku?" tak perlu menjawab pertanyaan Istrinya, Barack langsung membungkuk dan meraih kaki Luna. Dia menggendong tubuh Istrinya dan meletakkannya di atas ranjang.
Barack memposisikan dirinya di atas, mengunci tubuh Luna dengan ke dua kakinya yang bertumpu di atas ranjang. Sengaja memberi jarak antara tubuhnya dan tubuh Istrinya untuk bisa mengamati ekspresi Luna.
"Aku tidak bisa tidur sendirian, sejak kamu berangkat aku selalu menyibukkan diri dengan semua pekerjaanku di kantor. Kamu tahu betapa kerasnya usahaku untuk mengalihkan pikiranku darimu?" Barack menghentikan ucapannya untuk menghela nafas.
"Tapi percuma, aku tidak bisa tidak menahan keinginanku untuk selalu dekat denganmu" tambahnya.
Luna tersenyum saat mendengar ucapan suaminya, tangannya bergerak meraih pipi Barack, menariknya lalu mencium bibir suaminya dengan lembut.
Perempuan itu mengambil alih atas tubuh Barack. Dia duduk di paha Suaminya dan membuka kancing kemaja putih yang membalut tubuh Barack.
Luna hanya membuka beberapa kancingnya saja.
Sementara Barack menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Istrinya.
Luna mencium dada Barack yang bidang itu, menggigit kecil dan menyesapnya. Dia tersenyum saat berhasil membuat tanda merah di dada Suaminya.
"Aku sudah bisa melakukannya" ucapnya dengan penuh kegembiraan, seakan dirinya telah memenangkan lotre.
Barack terkekeh melihat ekspreai Istrinya yang menggemaskan. Kemudian matanya melihat ke arah dadanya sendiri untuk memastikan bekas ciuman Luna di sana.
Laki laki itu kini memgubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang.
"Mm, tidak terlalu buruk" melihat kerja keras Istrinya yang berusaha keras membuat kiss mark di tubuhnya, membuat Barack semakin gemas dengan sikap Luna.
Barack meraih tengkuk Luna bermaksud untuk mencium bibirnya sebagai reward seperti yang sudah pernah dia janjikan padanya, namun baru saja bibir mereka saling menempel suara bell kamarnya memaksa Barack untuk menghentikan aktifitasnya.
"Siapa?" ucap Brack, dia mengalihkan pandangan matanya ke arah Luna setelah melirik ke arah pintu masuk.
"Aku tidak tahu, mungkin roomservice" Luna turun dari pangkuan Suaminya.
"Tunggu! biar aku yang membukanya, kamu mandi saja" Barack menyempatkan untuk mengecup bibir Luna sebelum turun dari ranjang.
Laki laki itu berjalan ke arah pintu masuk sambil mengancingkan kemejanya kembali. Namun saat dia mengintip dari lubang pintu memastikan siapa yang bertamu malam malam, Barack sekejap memaku tubuhnya.
Kini tangannya malah kembali membuka semua kancing kemejanya yang tadi sudah sempat di kancingkan lagi.
__ADS_1
Barack kemudian membuka pintu dan sengaja memperlihatkan bekas merah di dada agar terekspose ke pada Laki laki yang sedang berdiri di depannya.