
Barack kembali berjalan masuk ke dalam lobi. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara klason mobil dari kejauhan di sertai suara benturan yang sangat keras dari jalan lingkar di depan perusahaannya.
Tin tin tin tiiiiiiiiiiiiiinnn!!!
Brrrruuukkkk, , klaraaaaaaaaaakkk!!!
Barack membalikkan tubuh, perasaannya secara tiba tiba berubah menjadi tidak enak, kehawatiran menyelingkurpi tububnya.
Melihat satpam dan orang orang yang berada di sekitarnya berhamburan berlari ke arah jalan lingkar utama untuk menyaksikan kecelakaan antara mobil sedan dengan truk bermuatan besar, yang menabraknya dari arah samping hingga membuat mobilnya terdorong terental hingga menabrak pembatas jalan.
Beruntung supir bisa mengendalikan dan membanting stir truk ke arah lain hingga tak menabrak kembali mobil sedan itu hingga ringsek.
Nafas barack memburu, jantungnya sarasa mau copot perasaannya menjadi tidak karuan ketika mendengar suara tabrakan itu.
Barack berlari secepat mungkin ke jalan lingkar di depan perusahaannya.
Menyingkirkan orang orang yang menghalangi jalannya satu persatu sambil terus berlari ke tempat kejadian yang lumayan jauh dari pintu masuk perusahaannya, tak peduli air hujan yang mangguyur tubuhnya dengan deras serta petir yang menggelegar menemani stiap langkahnya, barack lebih ingin memastikan agar firasat buruk yang menghantui pikirannya tidak terjadi.
Barack berhenti ketika melihat mobil sedan yang remuk di bagian sebelah kanannya, dia menenangkan dirinya bahwa mobil sedan itu bukan milik istrinya.
Langkahnya terasa sangat berat, ketika semakin dekat dengan pintu mobil yang sudah ringsek.
Barack masih berdiri sambil sesekali menyeka wajahnya yang basah karena air hujan yang begitu deras.
Tangannya memaku di udara sebelum sempat mencoba membuka paksa pintu mobil, ketika melihat ada darah mengalir dari bawah mobil itu.
Darah segar mengalir deras bercampur dengan air hujan.
Barack memaksa membuka pintu, kacanya yang remuk membuatnya tak bisa melihat sisi dalam mobil.
Dia terus memaksa menarik pintu mobil itu, namun apa daya pintunya tak mau terbuka.
Hingga bantuan datang mobil polisi maupun ambulance sudah memenuhi bagian sisi jalan.
Sebagian menolong supir truk yang kakinya terjepit.
Sebagian membantu barack untuk membuka pintu mobil secara paksa.
Beberapa polisi menyuruh barack untuk menjauh dari tempat kejadian, namun barack berulah melepaskan diri dari tiga orang polisi yang menahannya.
Sementara beberapa orang berpakaian warna biru lengkap dengan perlengkapannya berhasil membuka pintu mobil sedan hitam itu.
Tubuh barack memaku, nafasnya memburu. Dia memang tidak melihat wajah perempuan berambut panjang yang berlumuran darah itu, tubuh perempuan iti juga langsung terlunglai ketika pintu mobil berhasil di buka paksa.
Namun dia yakin dengan dress yang di pakainya itu sudah menunjukkan kalau perempuan di dalam mobil itu adalah istrinya.
Tubuh barack melemas tak bertenaga, kakinya tak kuat menopang badannya hingga berlutut di atas aspal, seolah sudah siap mendapat hukuman mati untuk di penggal kepalanya agar bisa membantunya mengatasi rasa sedih di dalam hatinya saat ini. Tatapannya kosong melihat ke arah tubuh istrinya yang kini sudah terbaring di ranjang dorong yang kemudian di bawa masuk ke dalam ambulance.
__ADS_1
Hujannya semakin deras hingga airnya mengalir mengantarkan darah istrinya sampai ke kaki di tempat barack yang sedang berlutut.
Barack berusaha menggenggam erat darah yang sudah bercampur air itu berkali kali, nalarnya tak bisa berjalan dengan baik, hingga membuatnya terlihat sangat frustasi dan memukul aspal dengan tangannya berkali kali.
Flash back off
Setitik kilauan bening karena pantulan cahara dari jendela terlihat di ujung mata barack.
Air matanya keluar ketika mengingat kejadian naas yang menimpa istrinya.
Dia mengusapnya cepat, dan kembali mengawasi wajah luna dengan lekat.
"Kapan kamu akak bangun luna, aku merindukan senyummu" ucapnya dengan nada berat hingga tak dapat menahan tangisnya yang memburu.
Air mata yang menghalangi pandangannya dari wajah luna di usapanya dengan cepat karena mangganggu penglihatannya.
Pandangan mata barack tak pernah berubah dari wajah luna hingga ketika jari telunjuk luna memberikan respon dan mengalihkan pandangannya sejenak.
Barack tak percaya, namu dia memastikan sekali lagi untuk lebih membuat dirinya lebih percaya.
Memang jari luna bergerak sedikit hingga membuat barack menekan tombol darurat untuk memanggil perawat segera datang ke dalam ruang rawat.
♡♡♡
Semua orang tengah berkumpul, bu cokro dan bu bowo, aryo yang baru saja sampai dari jepang beberapa jam yang lalu sengaja untuk menjenguk keadaan luna.
Kebahagiaan sangat kental terasa di ruang itu, melihat luna tengah sadar, namun dia belum bisa membuka matanya. Beberapa hari setelah kecelakaan itu dia mendapat operasi di bagian matanya karena ada serpihan kaca mobil masuk ke dalam matanya.
Barack duduk di tepian ranjang di samping luna, salah satu tangannya melingkar untuk membantu menyangga tubuhnya dari belakang.
Dokter menyuruh luna untuk membuka perlahan matanya.
"Perlahan saja, tidak usah buru buru"
Tangan kanan luna meraba berusaha mencari tangan seseorang yang berada di sampingnya lalu menggenggamnya dengan erat.
Sementara satu tangannya lagi meraba wajahnya sendiri.
"Bisakah aku membukanya sekarang?" suara luna terdengar serak, terlihat kalau dia berusaha keras hanya untuk berbicara karena sudah lebih dari dua bulan dia koma.
Luna menundukkan kepalanya, membuka sedikit matanya perlahan.
Terasa sangat perih di ke dua bola matanya.
"Tidak usah di paksa kalau memang masih sakit" ucap barack berusaha menenangkan luna.
Luna menengok ke arah samping di mana suara itu berasal, keningnya berkerut masih berusaha membuka matanya untuk melihat laki laki yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Saat matanya berhasil terbuka sepenuhnya, kini pandangan luna sedikit berkabut, berbayang dan belum jernih untuk bisa melihat wajah laki laki di sampingnya.
Matanya berair.
"Aku tidak bisa melihat dengan jelas" ucapnya sambil membuang pandangan ke sekitar dan mengerjapkan mata untuk mengembalikan penglihatannya.
"Tidak apa apa, itu hanya sementara" ucapan dokter menenangkan semua orang yang berada di dalam ruang.
Tak bisa di pungkiri ketika luna bilang kalau dia tidak bisa melihat semua orang nampak sangat tegang.
Luna masih terus mengerjap pelan, sampai akhirnya bisa melihat dengan jelas walaupun belum sepenuhnya jernih.
Luna menengok dan melihat ke arah laki laki di sampingnya.
Ekspresi wajah luna nampak kaget, keningnya berkerut dia menarik tubuhnya menjauh kebelakang dari barack.
Barack nampak kebingungan dia menyimpan kembali tangannya yang sempat memeluk luna dari belakang.
Semua orangoun nampak kebingungan melihat ekspresi wajah luna yang terlihat tidak suka ketika melihat barack berada di sampingnya.
"Kenapa kamu di sini?" ucapanya dengan galak, matanya mengerucut menyelidik ke arah barack yang kini sudah berdiri sambil melihat ke arahnya dengan tatapan penuh kebingungan.
Barack nampak saling lempar pandang dengan dokter yang berdiri di seberang ranjang.
Dokter mengangguk pelan seolah meminta barack untuk tetap tenang.
Mata luna melihat ke arah mamahnya yang sedang berdiri sambil menahan tangisnya.
"Mamah?"
Mendengar suara luna, seperti memberi angin sejuk kepada bu cokro setelah beberapa bulan seperti kesusahan walaupun hanya untuk bernafas ketika melihat kondisi putrinya dulu.
"Luna" bu cokro memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat sambil berlinang air mata dia terus menahan tangisnya, berusaha tak membuat luna khawatir karena baru saja sadar dari komanya.
Luna kembali membuang pandangannya ke arah laki laki yang berdiri jauh lurus di depannya. Dia melihat aryo dengan tatapan sengit ke arahnya.
"Kamu juga kenapa ada di sini?" ucapnya dengan nada penuh kebencian.
Aryo tak menjawab dia hanya diam sambil melirik ke arah barack yang masih juga terlihat sangat kebingungan.
Sementara luna mulai mengalihkan pandangannya melihat sosok laki laki yang sangat membuatnya merasa bahagia ketika melihatnya berdiri di belakang barack.
Luna tersenyum manis, senyum itulah yang ingin di lihat oleh barack selama ini, namun dia tahu senyum itu bukan untuknya.
"Kamu tidak ingin memelukku?" ucapnya kemudian sambil membuka tangannya seolah menunggu leo untuk segera memeluknya.
♡♡♡
__ADS_1