
"Maaf"
Kata itu menggema di rongga telingga luna, seakan menambah rasa perih di dalam hatinya.
Belum bisa memaafkan dirinya karena telah menolak keinginan suaminya, ucapan barack malah menambah rasa perih yang tak bertepi.
Luna masih memeluk tubuhnya sendiri, ada keraguan di dalam hatinya saat akan mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah laki laki yang tengah duduk dan masih menunggu dirinya dalam ketidak pastian.
Barack menghela nafas panjang.
"Besiap siaplah, sementara aku menyiapkan sarapan. Aku akan menunggu mu di meja makan" ucap barack sambil mengecup kepala luna yang tertunduk.
Mata luna mengawasi langkah kaki barack yang berjalan menuju ke arah pintu.
Setelahnya dia masuk ke kamar mandi dan besiap siap sesuai keinginan suaminya.
♡♡♡
Luna keluar dengan nemakai dress berwarna kuning pucat, dengan kulitnya yang putih bersih memakai dress warna apa pun akan tetap terlihat cocok di tubuhnya. Rambut yang di kiuncir cepul ke atas dengan sedikit menyisakan layer rambut di sebelah kiri dan kanannya membuat dirinya terlihat tambah cantik.
Seketika mengalihkan pandangan barack yang sedang menyiapkan meja makan hingga memaku tangannya di udata saat akan meletakkan gelas.
Pipi luna bersemu merah, dia melihat ke arah barack yang sedang terpesona dengan kedatangannya.
Luna menyelidik ke arah dirinya seolah melihat apakah ada yang salah hingga barack melihat ke arahnya dengan begitu lekat.
"Tidak ada yang salah denga mu" ucapnya seolah bisa membaca pikiran luna.
"Kamu terlihat sangat cantik" tambahnya sambil menyiapkan kirsi untuk luna.
Dia sedikit menggerakkan kepalanya untuk memberi isyarat ke pada istrinya untuk duduk di kursi yang sudah dipersiapkan untuknya.
Pipi luna semakin memerah padam hingga terasa memanas. Dia berjalan ke arah kursi di mana barack telah menunggu.
Sementara barack mengitari meja untuk duduk di kursinya kemudian.
"Aku bukan laki laki yang pandai memasak, tetapi aku akan belajar untuk melakukan semua itu jika bisa membuat mu senang" ucapnya menenangkan luna.
"Kamu menyiapkan semua ini sendiri?" ucapnya dengan ragu, luna melihat banyak hidangan di atas meja yang tertata rapih layaknya hidangan dari restoran bintang 5.
"Dan kamu bilang kamu tidak bisa memasak??, , tapi kamu menyiapkan semua ini sendiri?, , ucapan dan sikap mu bertolak belakang" tambahnya.
"Mm" barack hanya mengangkat salah satu alisnya .
Luna menipiskan bibirnya, ada rasa keraguan lain, seolah dia tak sanggup merusak makanan yang sudah tertata rapih di tempatnya masing masing.
Dia menggigit bibir bawahnya seperti sudah tak tahan ingin menyambar semua hidangan di atas meja.
Mungkin hanya melihatnya saja sudah membuatnya kenyang, karena sayang untuk di makan.
"Jangan bilang kamu juga lupa kalau suka makan banyak" ucap barack seketika mengalihkan pandangan luna dari hidangan di depannya.
"Maksutmu aku rakus?" ucap luna memperjelas ucapan barack.
"Aku tidak mengatakan itu" barack berusaha menahan senyumnya.
Luna menggeleng pelan tanpa ragu dia langsung melahap satu persatu hidangan di atas meja.
Barack mengurungkan niatnya untuk makan, dia lebih senang melihat istrinya makan ketimbang mengisi perutnya.
Tangan luna memaku ketika menyadari barack hanya menatapnya dan tak menyentuh hidangan di depannya.
"Kamu tidak makan?" ucapnya dengan pipi yang mengembang karena penuh dengan makannan.
Barack menggeleng pelan, dia berjalan mengitari meja menyeret salah satu kursi di dekatnya untuk duduk berdekatan dengan luna.
Seketika luna langsung menelan mentah mentah makanan yang masih ada di dalam mulutnya dengan susah payah sebelum semat di kunyahnya.
Barack membungkuk, menyangga badannya dengan siku yang bertumpu pada ke dua pahanya.
__ADS_1
Matanya menatap lekat ke arah bibir luna sambil melempar senyum ke arahnya.
Membuat luna merasa gugub hingga menarik selembar tisu untuk membersihkan bibirnya.
Namun barack menahan tangan luna. Meraih tisu di tangannya dan meletakkannya di atas meja begitu saja.
"Biar aku yang menbersihkannya" ucapnya masih dengan menahan tangan luna.
Dia mendekati wajah luna dan melumat bibirnya yang terdapat sisa makanan di sana.
"Hangat? , , bibirnya terasa sangat hangat saat menyentuh bibir ku"
Luna masih memejamkan matanya ketika barack telah menarik kepalanya kembali.
Nampak luna menggigit bibirnya, dia seperti sedang menikmati manisnya bibir barack di saat matanya masih tertutup.
Barack tersenyum geli melihat luna memaku wajahnya, sepertinya dia tak sadar kalau barack telah menjauh dari hadapannya.
Barack meniup wajah luna dengan lembut.
Hingga membuat luna tersadar dan membuka matanya kembali.
Wajahnya terkejut pipinya bersemu mendapati barack sedang melihat ke arahnya dengan senyum sensualnya.
Luna menarik tangan yang masih di genggamnya. Dia berdehem untuk menetralkan rasa malunya.
"Kurang?" ucapnya menawarkan jasa untuk membersihkan mulut kepada luna.
Hingga membuat barack tak tahan saat harus menahan rasa gelinya, tawanya pecah seketika.
Luna menggeleng cepat.
"Cukup!" jawabnya spontan.
Barack berdehem berusaha menguasai perasaannya yang lepas kendali.
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat" ucapnya sambil menggandeng tangan luna beranjak dari kursi meninggalkan ruang makan.
"Kita mau kemana?" tanyanya penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu" senyum barack terlihat mencurigakan ke arah luna.
♡♡♡
Barack membawa luna pergi ke laut dimana meraka pernah pergi ke sana sebelumnya saat hari ulang tahun luna.
Luna masih tertidur, setelah kekenyangan melahap hampir semua makanan yang di siapkan oleh barack, di tambah perjalanan yang memakan waktu lama membuatnya sangat terlelap.
Barack melepas sabuk pengaman setelahnya mendekati tubuh luna.
Tangannya bergerak membelai rambutnya sesekali menyimpan rambut luna yang berantakan karena terpaan angin laut ke belakang telinga.
Dia berusaha selembut mungkin membelai kepala luna, namun sepertinya itu menggnggu hingga membuatnya terbangun dari tidurnya.
"Maaf kalau aku memngganggu tidur mu" ucapnya dengan lembut.
"Mm, , tidak apa apa" luna mengerjap ngerjapkan matanya, membuang pandangannya ke sekitar untuk memastikan keberadaannya.
"Aku ingat aku pernah ke sini" kening luna mulai berkerut halus.
Barack mengawasi ekspresi wajah luna seolah sedang berharap apakah dia akan mengingat sesuatu.
"Tapi, , untuk apa aku pergi ke sini?" ucapnya kemudian.
Barack menghela nafas panjang, dia nampak sedikit kecewa.
"Kita memang pernah pergi ke sini" barack berucap dengan lembut.
"Kita???"
__ADS_1
"Iya"
"Untuk apa?" luna bertanya seolah dia tidak yakin kalau dirinya pergi ke laut hanya berdua dengan barack.
"Untuk apa?"barack kembali berucap seolah tak percaya luna menanyakan hal itu.
"Untuk berlibur, , aku, , dan kamu. Kita berlibur berdua" tambahnya.
Pipi luna merona saat barack menyatakan kata 'berdua'.
"Kita juga menginap" barack memandang wajah luna dengan tatapan nakalnya.
Luna menelan ludah dengan susah payah.
"Mm, , la,lalu apa, , apa yang kita lakukan di sini?" ucap luna terbata, wajahnya terlihat sangat tegang kali ini.
Barack menyelidik ke arah wajah luna, dia sengaja menahan jawaban untuk menikmati ketegangan di wajah luna.
"Tidak ada" jawabnya kemudian.
"Tidak ada yang terjadi dengan kita, , kita hanya menginap dan paginya kita pulang" barack seolah tahu jawaban itulah yang di tunggu tunggu oleh luna.
Luna mengehela nafas penuh kelegaan di dalamnya.
Senyum barack hanya mengembang di ujung bibirnya.
"Turun sekarang??" ucap barack memberi tawaran kepada luna.
Luna mengangguk pelan.
"Aku akan membantumu membuka pintu" barack turun dari mobil dan mengitarinya lalu membukakan pintu untuk istrinya.
Barack membungkukan setengan badannya masuk ke dalam mobil untuk melepas sabuk pengaman luna yang masih melekat erat di tubuhnya.
Barack menengok untuk melihat ke arah wajah istrinya yang kini tepat berada di depan matanya.
Pipi luna bersemu padam, entah ke berapa kalinya dalam sehari dia merasa malu saat berdekatan dengan suaminya.
Barack memaku tubuhnya, bertahan untuk mengawasi wajah luna.
Bola matanya bergerak naik turun melihat mata dan bibir luna secara bergantian.
Mata luna nampak berlari ke sana ke mari menghindari tatapan mata barack yang membuatnya tersipu malu.
Wajah mereka sangat dekat hingga hidung mereka sampai menempel satu sama lain.
Nafas mereka beradu membuat hasrat untuk mencumbu istrinya selalu muncul dan bergejolak di dalam jiwanya bahkan dia sendiri tak bisa menahannya.
Barack mencium melumat bibir luna dengan sangat lembut, dia nampak menuruti keinginan barack.
Salah satu lututnya bertumpu pada kursi untuk menopang tubuhnya saat mencium luna.
Tangan barack bergerak ke samping menutup kembali pintu mobil, setelahnya menarik pengait kursi, mendorong tubuh luna mengikuti gerakan kursi yang kini sudah jatuh ke belakang hingga terlentang, membuatnya semakin nyaman saat mencumbu istrinya.
Kini ke dua lutut barack telah mengunci tubuh luna di atas kursi sepenuhnya.
Barack merangkup leher luna dengan ke dua tangannya yang kuat.
Luna sedikit melenguh membuat dirinya tersadar dan membuka matanya.
Barack menyadari hal itu, dia membuka matanya dan melihat mata luna tengah terbuka lebar.
Barack yakin kalau luna terus membuka matanya dia akan mendorong tubuh barack lagi agar menjauh dari luna.
Dengan cepat dia menutup ke dua mata luna dengan telapak tangannya.
Dengan begitu barack kembali leluasa melancarkan aksinya untuk terus melumat bibir luna.
♡♡ Jangan lupa baca juga novel author My Soul , yang semalam rilis.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jempol kalian di sana 😘😘😘♡♡♡