
Bunga terbatuk terkejut mendengar pertanyaan Marvel.
Uhuk uhuk uhuk!!
"Kau baik-baik saja?" Marvel mengulurkan tangan dengan sebuah gelas berisi air. "Minumlah!"
Bunga menutup mulut ketika sedang terbatuk sementara tangannya tengah meraih gelas kemudian meminumnya. Setelah merasa tenggorokannya agak membaik Bunga mengembalikan gelas ke atas meja, dia nampak gugup menyadari bahwa Marvel terus menatapnya dengan tatapan aneh tapi sebisa mungkin Bunga bersikap tenang.
Ghm! Dia berdehem menetralkan perasaan. "Tidak, aku hanya sempat bertemu dengannya beberapa kali. Memangnya kenapa?" Bunga mengembalikan pertanyaan, dia benar-benar merasa ketakutan jika lelaki yang duduk di hadapannya itu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Bunga berusaha menyembunyikan kebenaran hanya karena tidak ingin hubungan pertemanan di antara mereka menjadi hancur karena Laura, ibu kandungnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya melihat kalian sepertinya akrab, ya! aku senang melihat hal itu. Lanjutkan makanmu setelah ini aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu kak, aku masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan jadi kak Marvel kembalilah ke kota terlebih dulu aku nanti bisa naik bis" Bunga mencoba menolak dengan halus.
"Kau yakin, sebenarnya hari ini aku juga ada rapat aku benar-benar minta maaf kalau aku tidak bisa menemanimu."
"Tidak apa-apa Kak, aku mengerti" setelah menghabiskan makanannya, Bunga mengantar kepergian Marvel.
Sisa-sisa hujan serta uap yang keluar dari jalan mengiringi perjalanan mobil Marvel menuju ke kota.
Hujan sudah berhenti tetapi angin semakin terasa dingin. Untung Marvel meminjamkan mantel bajunya kepada Bunga sehingga setidaknya membuat tubuh kecil mungil itu sedikit merasa hangat.
***
"Jadi semua ini yang mengerjakan adalah Bunga?" Davien melemparkan berkas ke meja hingga map itu berantakan di atas sana.
2 pegawai perempuan yang sebelumnya meminta tolong kepada Bunga sontak terkejut melihat Davien marah tepat di depan mata mereka. Kedua perempuan itu nampak saling menatap satu sama lain dengan ekspresi wajah ketakutan.
"Pres-," ucapnya terputus ketika Davien Memotong pembicaraan.
Lelaki itu berucap dengan nada tenang namun terdengar sangat mengintimidasi. "Kau pikir perusahaanku ini untuk main-main! Kau pikir laporan ini untuk candaan! Perusahaanku mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk merekrut orang-orang sepertimu, dan sekarang kau membuatku kecewa hanya dengan laporan sepele seperti ini kalian tidak bisa menyelesaikannya sendiri?!" ucapnya penuh dengan amarah membuat dua orang yang menciut nyalinya semakin tersudut di ujung meja.
__ADS_1
Mereka tertunduk ketakutan meremas tangannya tak berani melakukan pembelaan.
"Kalian pikir kelakuan kalian ini tidak akan ada yang tahu?" Davien menghela nafas melegakan dadanya yang sesak karena menahan emosi. "Aku tidak habis pikir pekerjaan sengampang ini kalian meminta tolong kepada seorang OB!! Sepertinya aku salah menempatkan kalian di bagian ini" ucapnya dengan meremehkan.
"Presdir kami benar-benar sangat menyesal, tolong maafkan kami. Kami akan memperbaiki kesalahan kami."
"Ya! kalian memang harus memperbaiki kesalahan kalian" Davien menegakkan tubuh karena sesaat dia sempat membungkuk menggunakan kedua tangan yang bertumpu di atas meja saat memarahi mereka.
"James, siapkan seragam baru untuk mereka!"
Lelaki yang sejak tadi setia berdiri di belakangnya menganggukkan kepala penuh hormat. Setelahnya James mengambil 2 buah setel baju.
Perempuan itu menatap baju yang sedang dibawa oleh James, saling menatap satu sama lain dengan pandangan tak percaya bahwa ternyata pakaian yang dibawa oleh James ada seragam untuk OB.
"Presdir ini tidak benar, seharusnya tidak seperti ini. Presdir pasti bisa memberikan kesempatan kepada kami lagi. Kami mohon pengertiannya" ucap perempuan itu penuh harap, mencoba meminta belas kasih dari Davien agar memberinya satu kesempatan lagi.
Tapi sepertinya mereka tidak mengenal lelaki itu, bagi Davien sekali dia memberikan kesempatan dan saat itu juga mereka membuatnya kecewa maka takkan ada kesempatan kedua.
James melangkah mendekati dua perempuan yang kini sedang memperlihatkan ekspresi pucat tak percaya. Mereka benar-benar sangat menyesal bahwasanya mereka ingat ketika ingin masuk kedalam D Entertainment itu benar-benar sangat sulit tetapi karena sebuah kesalahan yang tak bisa dimaafkan mereka harus menanggung resiko untuk diturunkan jabatannya.
Dengan wajah memelas mereka hanya bisa pasrah menerima apa yang sudah menjadi keputusan Davien. James meletakkan pakaian itu di atas meja tepat di depan mereka berdua.
"Kalian akan di pindah di tempat yang pantas" ujung matanya menatap dua perempuan yang sejak dari tadi tertunduk tak berani menatap matanya. "Ambil pakaian itu dan keluar dari sini sekarang juga!" geramnya.
Setelah mereka berdua keluar pandangan Davien berubah kosong. Lelaki itu duduk di kursi bersandar menenangkan pikiran.
Sesaat memejamkan mata mengingat kembali pertengkaran malam itu, lebih lagi dia dibuat khawatir oleh Bunga yang sampai detik ini tak kunjung ada kabarnya. Davien mengambil ponsel yang terletak di dalam saku jas. Tatapan matanya nampak sayu ibu jarinya mengusap layar ponsel berulang kali. Ingin sekali menghubunginya mendengar suaranya, tapi nampak wajahnya dipenuhi keraguan.
Beberapa detik setelahnya ekspresi wajah Davien bercahaya saat ponselnya menyala dan dia melihat Bunga mengirim pesan singkat kepadanya.
Dengan cepat dan rasa tak sabar Davien membuka, membaca pesannya. "Kau sudah makan? Kalau kau sedang sibuk luangkan waktu untuk makan. Maaf aku tidak bisa membuatkan kopi untukmu hari ini" pesan singkat itu mampu membuat ekspresi wajah Davien berubah seketika, bahkan perasaannya terasa berbunga-bunga seolah lupa dengan masalah yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Ujung bibirnya nampak terangkat senyum tipis pun menghiasi wajahnya. James yang sejak tadi mengawasinya pun berdehem.
Ghm!
Davien menyadarinya kemudian melirik memicingkan mata ke arahnya. "Kenapa kau masih ada di sini!" ucapnya kemudian.
"Maaf presdir tapi Anda tidak menyuruh saya untuk keluar" James berucap dengan sedikit menundukkan kepalanya, dia menahan senyum saat melihat sikap Davien yang terlihat lucu baginya.
Kini bergantian Davien yang berdehem menetralkan suasana, dia sengaja tidak ingin membalas pesan singkat dari Bunga karena ingin memberi pelajaran kepada perempuan itu.
***
Bunga yang tengah berdiri di halte menunggu kedatangan bis menatap layar ponsel di tangannya. Keningnya berkerut ketika menunggu pesan balasan dari Davien. "Apa-apaan ini? Dia hanya membaca pesanku. Bagaimana ini sepertinya dia masih marah besar." Bunga menekuk wajahnya, mengalihkan pandangan ke cincin yang melingkar di jari manisnya. Akhirnya dia memutuskan untuk memakai cincin pemberian Davien.
Tak lama bis pun datang Bunga segera ke dalam bermaksud kembali ke kota.
Perjalanan lumayan lama. Sepanjang jalan dia hanya tersenyum menatap cincin di jarinya sehingga tanpa terasa dia sudah sampai di Kota.
Bunga turun di halte dan ternyata hari sudah menggelap. Dia dikejutkan dengan keberadaan Marvel yang ternyata dengan sengaja menunggu dirinya di sana.
"Astaga Kak Marvel?? Kau... kau menungguku di sini?" Bunga tak menyangka, matanya membulat tak percaya melihat Marvel sengaja menunggu dirinya.
Lelaki itu tersenyum berdiri bersandar di tiang halte bus dengan kedua tangan bersedekap. "Aku sengaja menunggu di sini."
"Ya ampun Kak! Kak Marvel tidak perlu melakukan ini. Kau jangan membuatku semakin tidak enak hati!" Bunga merona.
"Tidak apa-apa Bunga, aku senang melakukannya" Marvel kemudian membuka pintu mobil, mempersilahkan perempuan itu untuk masuk ke dalam.
Tepat di saat itu juga dari arah lain mobil Davien melintas.
Davien yang ada di dalam ternyata melihat ketika Bunga tengah masuk ke dalam mobil Marvel. Bahkan dia melihat jelas raut wajah Bunga terlihat sangat gembira saat sedang bersama lelaki itu.
__ADS_1
Meskipun terlihat tenang, jika kita bisa melihat bagian isi di dalam dadanya mungkin saat ini detak jantungnya bagai bom waktu yang siap meledak kapan saja.