Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#159 Lampu kuning


__ADS_3

Barack melangkah turun dari mobil dengan wajahnya yang lusuh. Pikirannya dipenuhi oleh cerita Nathan di sana.


Dia berjalan masuk ke lobi dengan jas yang menggantung di lengannya. Sementara tangannya bergerak melonggarkan dasi.


Dia masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju ke ruang kerja.


♡♡♡


Barack membuka pintu, tatapan matanya langsung mengarah kepada Luna yang sudah lama menunggu kedatangannya.


Laki laki itu mempercepat langkah kakinya, dia ingin sekali memeluk perempuan itu dan menanyakan kabarnya. Apakah dia baik baik saja, apakah ada sesuatu yang terjadi dengannya, apakah Adrian menyakitinya. Semua pertanyaan itu meracau otak Barack.


Tidak!! barack tidak boleh memperlihatkan kekhawatirannya di depan Luna. Karena akan membuat perempuan itu berfikir yang tidak tidak. Dia harus bersikap seperti biasanya.


Laki laki itu memaku langkah kaikinya, dia mengurungkan niatnya untuk memeluk Luna.


"Kenapa kamu disini?" ucapnya kemudian.


"Kenapa aku di sini??, ,pertanyaan macam apa itu! bukannya kamu sendiri yang meminta aku datang ke Samnun" Luna berucap dengan nada galak.


"Lalu??, , kenapa kamu ada di sini? bukannya di Samnun?"


"Kamu bilang kita akan bertemu di Samnun, tetapi ketika aku datang kesana kamu tidak ada!, aku menunggumu lama di sana. Akhirnya aku berinisiatif untuk datang kemari. Dan seperti dugaanku. Kamu lupa kalau kamu membuat janji denganku kemarin" Luna menghela nafas panjang setelah nerocos tanpa titik koma.


Barack terdiam kemudian.


"Maaf aku lupa!" ucapnya tanpa rasa berdosa.


"Kamu bisa lanjutkan desainmu"


Laki laki itu berjalan ke arah mejanya. Menggantungkan jas dan melipat kedua lengan kemejanya sebelun akhirnya duduk di kursi.


Brack membenamkan punggungnya di sandaran kursi. Dia meletakkan kepalanya di sana. Memejamkan mata untuk menetralkan perasaannya yang sempat kalang kabut.


Luna melirik ke arah Barack, laki laki itu terlihat sangat kelelahan.


"Benarkah dia akan menikah dengan Helena??"


Luna terlihat murung, namun pandangan matanya tak bisa teralihkan dari Barack. Laki laki itu sangat berkharisma di matanya. Dia menyangga dagu dengan salah satu tangannya dan tersenyum kemudian.


Matanya menatap tubuh Barack dari ujung dagu hingga ke arah leher dan dada yang sedikit terekspos karena laki laki itu sempat membuka beberapa kancing bajunya. Dia seperti tak memperdulikan udara dingin di sekitarnya.


Bagi Barack masalah hari ini cukup membakar tubuhnya hingga memanas.


Barack menggerakkan tubuhnya, mengubah posisi yang semula menengadah kini kembali menatap layar digital didepannya. Namun seketika pandangan matanya tertuju ke arah Luna yang sedang melihat ke arahnya. Dia melihat perempuan itu tengah tersenyum manis.


"Apa kamu sedang mencari inspirasi dengan memandangiku seperti itu?" ucapnya dengan penuh kepercayaan diri. Dia pun tersenyum kemudian.


Luna bergidik untuk menyadarkan diri. Kini dia kembali fokus dengan melihat ke arah kertas putih di tangannya. Tangannya bergerak menari nari di atas kertas itu.


Sesekali matanya melirik ke arah Barack. Dia melihat laki laki itu tengah terlihat serius dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Luna merasa sedikit kecewa. Karena dia sudah terbiasa dengan Barack yang selalu mengganggu dirinya. Kini ketika melihat laki laki itu cuek dan labih memilih menyelesaikan pekerjaannya, Luna seolah merasa ada yang kurang hari itu.


Luna bergerak berpindah duduk, dia memilih sofa yang ada di seberang meja. Hingga dari posisi itu dia dapat melihat Barack dengan leluasa tanpa harus memalingkan wajahnya.


Barack menyadari hal itu, dia menggunakan tangannya untuk memijat keningnya perlahan. Namun sebenarnya dari tangan yang menutupi matanya, dia mengintip Luna melewati sela sela jari tangannya.


Laki laki itu menahan senyumnya ketika melihat Luna terus memandang ke arahnya.


Barack berdehem untuk mencairkan suasana. Tangannya meraih sebuah map dan membukanya. Di sela sela membaca isi berkas itu mata Barack kembali melirik ke arah Luna. Hingga akhirnya mata mereka bertemu di sana.


Luna terkejut, dia langsung mengalihkan pandangannya. Dan ketika melihat gambar di depannya, matanya semakin membulat.


Dia bukannya menggambar sebuah baju namun malah menggambar tubuh Barack dari posisi yang dilihatnya.


Tangan Luna langsung meremas kertas itu dan membuangnya ke lantai begitu saja.


Ujung matanya melihat Bayangan Barack yang bergerak mendekat ke arahnya. Luna semakin tidak nyaman, tubuhnya bergerak terus untuk mencari kenyaman di kursi itu.


Barack membungkuk untuk meraih kertas yang sebelumnya di buang oleh Luna.


Perempuan itu melihatnya dan langsung merebut kertas itu dari tangan Barack. Tetapi Barack terlebih dulu mengangkat kertas itu di udara. Luna bangkit dari kursi dia berjinjit untuk meraih kertas yang ada di tangan Barack.


"Berikan kertas itu!" pinta Luna.


"Aku dulu yang menemukan kertas ini!, , bukannya kamu sudah membuangnya!" ucap Barack, dia masih mengangkat tinggi tinggi kertas di tangannya.


Luna tidak kehabisan akal dia naik ke atas sofa dan berusaha merebut kembali kertas itu.


Laki laki itu mundur satu langkah agar Luna tak dapat meraihnya.


Namun yang ada Luna meloncat ke arah tubuh Barack.


Salah satu tanyannya bertahan di leher, sementara ke dua kakinya melingkar di pinggang Barack. Dan satu tangannya lagi dia angkatnya tinggi tinggi untuk meraih kertas itu.


Barack memaku tubuhnya, ketika menyadari bahwa tubuh Luna berada di dekapannya. Salah satu tangan Barack menahan pinggang Luna agar perempaun itu tak terjatuh.


Dan akhirnya Luna berhasil mendapatkan kertas itu dari tangan Barack.


Nafas Luna memburu seolah dia telah menghabiskan banyak tenaga hanya untuk merebut selembar kertas.


Luna menunduk, wajah mereka saling bertatapan. Luna tak menyadari bahwa posisi mereka saat ini seperti seorang sepasang kekasih yang siap untuk bercumbu.


Barack menengadah, dia tersenyum dan menatap mata Luna dengan lekat.


Kini kedua tangan Barack melingkar erat di pinggang Luna. Begitu juga dengan Luna, perempuan itu menjatuhkan kertas ditangannya dan melingkarkannya di leher Barack.


Mereka berdua saling bertatapan, tak peduli dengan tempat dimana mereka berada.


Helena yang tiba tiba masuk pun terkejut dengan pandangan yang ada di depan matanya. Perempuan itu menutup mulutnya rapat rapat dan perlahan kembali menutup pintunya.


"Sepertinya usahaku untuk membuat perempuan itu cemburu berbuah manis" Helana pun tersenyum dan melangkah meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Barack masih menatap Luna dengan lembut, dia berharap Luna akan berinisiatif menciumnya terlebih dulu.


Itulah yang ada di benak laki laki itu.


Dengan posisi tubuh mereka yang sangat mendukung, bukankah sangat mudah bagi Luna untuk mencium Barack, apa lagi jarak wajah mereka yang sangat dekat.


Hingga nafas Luna yang posisinya jauh lebih tinggi dari Barack pun menyapu laki laki itu.


"Ee, , Turunkan aku" ucap Luna dengan lembut, suaranya terdengar sangat lirih di telinga Barack.


"Mmm" Barack menggelengkan kepalanya


"Tapi aku, , , harus menyelesaikan desainku!" ucapnya lagi. Mata Luna pun tak pernah beralih dari bibir Barack.


"Mmm" Barack bergumam, dia masih menolak untuk melepaskan Luna.


Dada Luna semakin berdebar dengan kencang, hingga laki laki itu bisa merasakannya.


Barack tersenyum setelah mengetahui Bahwa Luna sangat gugub saat itu.


"Kamu takut?" bisiknya, Barack menaikkan lagi tubuh Luna yang hampir sempat turun ke bawah. Merapatkan tubuh Luna hingga melekat di pinggang bagian depan laki laki itu. Tubuh mereka menempel satu sama lain.


"Tidak!, , kenapa aku harus takut!"


Tiba tiba Luna teringat akan perkataan Helena, bahwa laki laki itu akan menikahinya.


Seketika wajah Luna langsung berubah masam.


"Turunkan aku!, , kalau Helena melihat kita bisa salah sangka dia!!"


"Kenapa??, , apa hubungannya dengan Helena?"


"Kamu akan menikahinya!!, , bagaimana mingkin dia bisa melihat kita seperti ini! dia pasti akan marah besar!!"


Kedua alis Barack terangkat


"Ya ampun!! aku lupa memberitahunya untuk membatalkan misi itu!"


"Biarkan dia salah sangka!" Barack malah mencoba semakin membuat perempuan itu cemburu.


"Jadi benar kalian akan menikah?" Luna terlihat sangat kecewa.


"Kenapa dengan wajahmu??, , kamu tidak ingin aku menikah dengan Helena?" bisiknya dengan lembut.


"Ya!!! aku tidak ingin melihat kalian bersama!!. Jangan menikah dengannya!!!" pinta Luna kemudian. Pipinya merona karena menahan rasa malu.


Barack pun tersenyum, dia seakan mendapatkan lampu kuning dari Luna.


Laki laki itu kini memendam wajahnya di dada Luna. Hingga membuat perempuan itu merasakan geli. Luna berusaha menahannya.


Namun Barack malah menggigit kecil dada Luna yang terbungkus kemeja putih itu hingga meninggalkan bekas di sana basah karena air liurnya.

__ADS_1


"Barack!!" Luna menyebut namanya dengan pelan, antara bisikan dan desahan dia sendiri tak dapat membedakannya.


__ADS_2