Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
27 S3: Love's Romance Memperbaikki hubungan


__ADS_3

Bunga mendorong tubuhnya bersandar ke tembok, meremas kaos bagian dadanya dengan kuat. Brusaha menanahan dadanya yang terasa sakit hingga rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya. Jantungnya serasa ingin meledak saat mengingat kembali bahwa baru saja dia menghadapi perempuan yang saat ini paling dibenci olehnya.


Bunga memejamkan matanya, berusaha mengatur nafas agar kembali normal seperti semula.


Ting!!


Pintu lift terbuka, Bunga kembali membuka matanya. Melangkahkan kakinya keluar dari lift kemudian kembali ke apartementnya.


♡♡♡


Bunga melangkah keluar dari lobi, membawa kantong dengan jaz milik Davien di dalamnya. berniat ingin membawanya ke loundry sebelum mengembalikannya. Saat itu pandangannya menyelidik ke sekitar halaman.


Ada sedikit rasa kekecewaan karena tak melihat Davien berada di sana. Biasanya laki laki itu akan standby di halaman lobi untuk menjemputnya setiap pagi.


Bunga mendengus kasar.


"Bukankah aku sendiri yang melarangnya untuk menjemput! kenapa sekarang aku merasa kesal ketika dia memenuhi permintaanku!!"


"Minta maaflah Bunga!, mungkin kamu sudah keterlaluan. Dia bahkan sudah menolongmu semalam"


"Semangat Bunga!, , bersikaplah baik dengannya. Bersikaplah baik dengannya!" gumamnya sembari melangkah perlahan.


Sebelum berangkat kerja dia menyempatkan untuk pergi ke tempat loundry, memilih untuk membersihkan jas milik Davien di tangan yang sudah ahlinya. Melihat dari brand yang tertulis kecil di bagian lehernya sepertinya jas itu sangat mahal, mungkin saja gajinya selama setahun tak akan bisa mengganti jas milik Davien jika rusak sedikit saja.


Makanya dia lebih memilih untuk membawanya ke tempat loundry.


Bunga melangkah ke kasir setelah memberikan jas itu kepada salah satu pegawai.


"Bisa lihat tagihanku?" ucapnya kemudian.


"Iya sebentar" perempuan itu memberika struk tagihannya kepada Bunga.


Betapa terkejutnya ketika melihat nominal di struk itu hanya untuk tagihan satu jas saja.


"Enam digit??, astaga!!, , sepertinya aku membawa ketempat yang salah. Tahu begini aku cuci saja sendiri!"


"E, , permisi," Bunga berucap dengan ragu.


"Iya?"


"Apa ini tidak salah?" senyum getir terlihat mewarnai wajahnya. Dia benar benar malu ketika ingin menanyakan hal itu.


"Tidak Nona. Jas ini masuk dalam VIP. Sabun, pembersih dan juga menggunakan mesin khusus untuk membersihkannya. Kita tidak bisa sembarangan mencucinya" perempuan itu tersenyum kemudian.


"******!!, , mana gaji bulan ini baru cair nanti siang!, , bagaimana ini?"

__ADS_1


Bunga nampak gelisah, tetapi tak ada cara lain selain bernegosiasi dengan pemilik tempat loundry.


"Mm, , boleh kah aku bertmu dengan pemilik loundry ini"


Perempuan itu tersenyu manis.


"Boleh saja Nona. Kebetulan aku pemilik tempat ini. Ada yang bisa aku bantu?" dia terlihat menyelidiki ekspresi wajah Bunga yang terlihat syok. Bunga seakan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi pagi itu.


"M, ,aku sebenarnya. Aduh bagaimana aku harus mengatakannya ya?" Bunga mulai gelisah.


"Kamu bisa membayar uang mukanya terlebih dulu jika kamu tidak keberatan" kasir itu berucap seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Bunga.


Seketika raut wajahnya berubah cerah, membayar uang muka dulu itu lebih baik. Dia bisa mencari sisanya nanti untuk melunasinya ketimbang harus lunas saat itu juga, karena kebetulan Bunga hanya menyimpan uang sisa tabungannya yang tak seberapa.


Bunga segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Memberikannya kepada kasir, setelah mendapat nota sementara Bunga menganggukkan kepalanya kemudiana melangkah keluar dari tempat itu.


Bunga mendengus kasar melegakan dadanya setelah berhasil menutup pintu. Setelah beberapa saat raut wajahnya terlihat senang, kini kembali terlihat pucat dan lesu.


"Sekarang bagaimana aku harus mencari uang untuk melunasi sisanya?" Bunga melangkah pergi, tak jauh dari sana dia menghentikan langkahnya di tempat mesin pengambilan uang. ATM mini lebih tepatnya.


Bunga berharap saat itu gajinya sudah cair, sehingga dia bisa mengambilnya untuk melunasi tagihan loundry.


"Tapi jika aku melunasinya saat ini juga, sisa gajiku tidak akan cukup untukku hidup selama satu minggu" Bunga merengek di depan mesin ATM seperti anak kecil meratapi nasibnya.


"Tidak!!, , bahkan ini tak akan cukup untuk 3 hari. Ya ampuuunn! bagaimana ini"


Bunga menggerakkan tangannya untuk menghitung berapa nilai yang tertera di sana.


"Tidak!, , ini terlalu banyak!" Bunga menggunakan kedua tangannya untuk membungkam mulutnya karena terkejut dengan jumlah uang yang sudah masuk di rekeningnya.


"Ini, , , sepuluh kali lipat dari gajiku yang sudah di sepakati bersama! apa aku salah lihat?" Bunga kembali menggunakan tangannya untuk menghitung nilai nominal uang itu.


"Benar!!, , ini pasti ada kesalahan!" Bunga menekan salah satu tombol. Setelah kartu itu keluar,dia segera mengambinya dan bergegas pergi.


♡♡♡


Davien beranjak turun dari mobil, setelah menutup pintu tubuhnya terpaku seketika. Pandangannya terarah kepada Bunga yang sedang berlari ke arahnya. James yang juga baru saja turun dari mobil terlihat berdiam diri melihat ke arah di mana Davien memandang.


Perempuan itu terlihat terengah engah karena harus berlari.


Bunga terdiam melihat Davien yang masih berdiri di sana. Dadanya masih terlihat bergerak cepat ketika sedang berucaha mengatur nafas.


"Dav" bibirnya terpaku seketika saat ingin memanggil namanya. Mengingat bahwa saat ini sedang berada di tempat kerja Bunga kemudian mengurungkan niatnya.


"Pres Dir" Bunga menundukkan kepalanya memberi hormat.

__ADS_1


Tetapai laki laki itu tak membalasnya, dia hanya menatapnya sebentar. Setelahnya melanjutkan langkah kembali masuk ke lobi.


Bunga mengangkat kepalanya, melihat ke Davien yang sama sekali tak menghiraukannya. Bunga hanya diam menikmari rasa aneh yang menggerayangi dadanya. Bunga pun berlari mengejar Davien.


Mendahuluinya kemudian membantu menekan tombol lift.


Bunga tersenyum ke arahnya. Bersandingan dengan Davien menunggu pintu lift terbuka.


Laki laki itu hanya diam tak bergeming. Dia benar benar memenuhi keinginan Bunga untuk menjauh. Bahkan saat ini laki laki itu terus menatap ke depan, menganggap Bunga seolah tak ada di sampingnya.


Sementara James menoleh ke Bunga yang sedang sibuk menatap Davien. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke pada laki laki yang kini masih berdiam diri mematung di depannya. James berdehem mencoba mencairkan suasana yang terasa hening di antara mereka.


"Pres Dir?" Bunga berucap lirih kemudian.


Namun Davien lebih memilih diam seolah tak mendengarnya. Kini dia sibuk menekan tombol karena pintu tak kunjung terbuka.


"Pres Dir?" Bunga kembali berucap memanggil namaya. Dan ketika mulutnya sudah kembali terbuka karena bersiap untuk berucap lagi, Davien malah melangkah masuk meninggalkannya setelah pintu terbuka.


James yang mengikuti Davien dari arah belakang hanya bisa terkekeh pelan saat melihat Bunga terpaku layaknya patung dengan mulut sedikit terbuka.


Bunga mengerucutkan matanya ke arah James yang masih terus tersenyum geli. Dia kemudian segera berlari masuk setelah melihat Davien sengaja menekan tombol untuk kembali menutup pintunya.


Bunga menghela nafas lega. Setelah berhasil berdiri di samping Davien, dia kembaki mengalihkan pandangannya. Menggerakkan tubuhnya mendekati Davien kemudian berucap.


"Pres Dir?" suaranya terdengar begitu jelas. Karena ruangan tertutup rapat membuat suara lirih yang keluar dari mulut Bunga menggema di setiap sudut.


Laki laki itu masih terdiam tak menghiraukannya. Mengingat semalam Bunga memintanya untuk menjauh, Davien pun berusaha untuk mengabulkan permintaannya walau pun sebenarnya itu sungguh sangat sulit baginya.


"Nona?" ucap James perlahan mengalihkan perhatiannya.


Bunga kini mengalihkan pandangannya ke James yang berdiri di belakang davien.


"Ya?"


James menatap ke leher Bunga yang memerah. Tangannya pun bergerak menunjuk lehernya sendiri sebagai bahasa isyarat kepasa Bunga.


"Lehermu??, ," bisiknya perlahan. Sengaja agar Davien tak mendengarnya.


Tetapi sayangnya Davien mendengar dengan sangat jelas. Dia menoleh menatap Bunga dengan lekat, pipinya seketika merona. Teringat bahwa tanda merah itu akibat ulahnya semalam.


Bunga mengalihkan pandangannya, sedikit menengadah ketika melihat Davien yang lebih tinggi darinya. Kini Bunga menggunakan satu tangannya untuk menutupi tanda merah itu. Dia pun merona ketika Davien menatap ke arahnya.


James bisa membaca apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Dan jika tebakannya tidak salah tanda merah itu sesuai dugannya pasti karena ulah atasannya. James sangat yakin pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan karena Davien akhir akhir ini bertingkah aneh.


"Beberapa hari yang lalu memintaku membeli apartement!!, , semalam juga menghubungiku hanya untuk memintaku menghubungi pihak HRD untuk mengubah sistem kontrak milik Bunga. Dan meminta mengubah gajinya menjadi 10 kali lipat"

__ADS_1


James mengerutkan keninganya ketika memikirkan hal yang menurutnya di luar nalar. Karena Davien tak pernah memperhatikan serta memberi perhatian kepada seorang perempuan sampai seperti itu.


Selain kepada Essie, Davien tak pernah melakukannya kepada perempuan lain.


__ADS_2