Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
2 S3: Love's Romance Aroma wangi


__ADS_3

Pandangannya menyelidik ke laki laki yang baru saja turun dari mobil. Bunga sedikit terkejut ketika melihat wajah laki laki itu.


"Tampan"


Bunga tertegun dengan ketampanan Davien yang kini sudah berdiri tepat di depannya.


"Kamu!!" Suara Davien menggema di rongga telinganya, membuat Bunga tersadar dari lamunan.


Bunga bergidik mengembalikan konsentrasinya yang sempat hilang karena terus fokus dengan Davien.


Davien berucap dengan nada tenang, berusaha tetap menahan diri untuk tidak terbawa emosi.


"Siapa berdiri di tengah jalan, dan sekarang mau menyalahkan Sekretarisku karena hampir menabrakmu!" Davien menatap tajam bercampur sinis. Melihat sikap Bunga yang menyalahkan orang lain sebelum mengoreksi dirinya sendiri sehingga membuatnya semakin jengkel.


Bunga mulai memperhatikan, melihat ke sekitar untuk memastikan apakah memang benar dia yang bersalah. Wajahnya merona karena malu, saat mengetahui bahwa memang dirinyalah yang salah.


"Oke!, , tapi tidak dengan mengagetkanku seperti tadi kan!! supirmu bisa membunyikan klakson mobilnya!!, , tanpa harus lewat persisi tepat di sebelahku. Jantungan tahu!!"


"Nona?" James ingin menyela pembicaraan, tetapi Davien menolehkan sedikit kepalanya. Meminta sekretarisnya itu untuk diam dan masuk kembali ke mobil.


James mencoba mengikuti perintah atasannya, dia berbalik dan melangkah masuk kembali ke mobil.


"Hei!!" teriak Bunga kepada James.


"Berapa yang kamu butuhkan?" Davien mengeluarkan sebuah dompet, kemudian mengambil beberapa lembar uang.


"Ini cukup?" ucapnya sembari mengulurkan uang itu ke arah Bunga.


"Apa maksudmu??" Bunga mengerucutkan matanya, dahinya berkerut saat Davien bermaksud mengganti rugi karena kejadian itu.


"Jangan membuang waktuku!, , hanya untuk hal sepele seperti ini!, , ambil dan pergi ke Dokter untuk memeriksakan jantungmu!!" Davien meraih tangan Bunga, memaksa perempuan itu menerima uang pemberiannya.


Bunga dibuat menganga dengan ucapan Davien, laki laki yang terlihat tampan itu telah berhasil mematahkan penilaian Bunga terhadapnya. Dan seketika rasa kagum yang sebelumnya dirasakan oleh Bunga kini berubah menjadi jengkel yang tak bertepi.


"Kamu!!" suaranya tersekat oleh nafas yang memburu karena menahan amarah.


Davien terlanjur pergi kembali ke dalam mobilnya, meninggalkan Bunga berdiri di jalan sambil menikmati rasa kekalahan yang membuatnya semakin marah. Ingin rasanya saat itu juga dia melempar kembali uang pemberian Davien ke arahnya. Tetapi mengingat bahwa saat ini kondisi keuangannya begitu buruk, Bunga pun mengurungkan niatnya.


Bunga sempat mengangkat tangannya ketika sudah siap membuang uang itu.


"Tunggu!!, , "


Matanya berbinar menatap lembaran uang yang ada di tangannya. Mulutnya kembali menganga saat melihat betapa banyak uang yang di berikan oleh Davien.


"Ya ampuuun!!, , banyak sekali!!" matanya kini beralih ke arah mobil yang sudah pergi menjauah.


"Hilangkan harga dirimu kali ini Bunga!!, , dengan ini kamu bisa menghidupi dirimu sendiri sampai kamu bisa mendapat pekerjaan!, , nanti kalau sudah berhasil mengumpulkan uang yang banyak. kamu bisa mengembalikan uang ini kepada laki laki sombong itu!!" gumamnya dengan jengkel.


♡♡♡


Sebelum pulang ke rumah Bunga pergi ke sebuah kedai untuk membeli makanan. Sejak pagi hingga sore ini dia belum sempat mengsisi perut. Karena sibuk memikirkan interview.


Bunga memilih kedai di pinggir jalan, karena harganya pasti lebih murah, tak perlu makanan mewah, bagi Bunga yang terpenting dia bisa mengisi perutnya setiap hari.


Pandangannya teralihkan kepada tiga orang yang sedang berbincang di sebelah sembari menikmati makanan mereka. Karena tak sengaja mendengar kata pekerjaan, Bunga semakin berniat mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan, Bunga menyimpan rambutnya ke belakang telinga agar lebih jelas ketika mendengarkan.


"Salah satu anak buahku menikah dan dia memilih untuk berhenti bekerja, aku jadi bingung siapa yang mau menggantikannya!"


"Kenaoa tidak meminta orang yang mau berhenti bekerja itu untuk mencari pengganti?? kenapa juga kamu harus repot mencarinya?"


"Itu sudah tanggung jawabku, , atasan bisa marah kalau sampai masalah sepele seperti ini terdengar ke telinga PresDir, , memang pekerjaannya OG tetapi dia harus terlatih karena hanya melayani PresDir di perusahaan. Maka dari itu aku benar benar bingung kemana aku harus mencari penggantinya"


Matanya membelalak dan bersinar terang ketika berhasil mencerna apa yang dia dengar. Dengan cepat setelah membayar semua tagihan Bunga segera mendekati mereka. Dengan wajah tanpa rasa berdosa dia berdiri di seberang meja.


"Permisi, " pipinya merona ketika semua mata yang duduk di bangku itu terutuju ke arahnya.


"E , , maaf kalau tidak salah dengar tadi kamu sempat mengatakan kalau perusahaanmu sedang membutuhkan karyawan" Bunga nampak tak sabar menunggu jawaban.


Mereka bertiga menatap lekat ke arah Bunga, perempuan cantik dan manis membuat mereka bertiga sempat terpana.

__ADS_1


Tak lama salah satu dari mereka bertiga yang duduk di bangku kemudian berucap.


"Eh, , iya perusahaanku sedang membutuhkan seorang OG, tapi" orang itu sekali lagi menatap Bunga dari ujung kaki hingga kepala.


"Kamu yakin mau bekerja menjadi OG??, , tidak malu?"


"E, , tidak tidak!" Bunga menggerakkan kedua tangannya ke arahnya. Untuk lebih memastikan lagi kepada perempuan itu bahwa dia benar benar tidak malu dengan pekerjaannya sebagai OG.


"Aku , aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Boleh aku mencoba melamar di tempatmu bekerja?" tambahnya untuk lebih meyakinkan.


"Aku tidak yakin kamu sanggup melakukannya!" orang yang bekerja sebagai kepala bagian OB itu nampak tak yakin kalau Bunga bisa melewati masa training yang berat. Pasalnya jika di lihat dari postur tubuh serta raut wajahnya, Bunga lebih cocok untuk bekerja sebagai sekretaris. dia tidak cocok dengan pekerjaan kasar seperti OG.


"Aku bisa melakukannya, kamu bisa memecatku jika dalam sehari pekerjaanku tidak ada yang beres. Ah, ,tidak aku akan mengundurkan diri jika aku tidak bisa melakukan pekerjaanku dengan benar"


Perempuan itu menghela nafas panjang.


"Aku tidak tahu kamu bisa melakukannya atau tidak. Tapi tidak ada salahnya jika dicoba" dia mengeluarkan sebuah kartu nama perusahaan tempat di mana dia bekerja. Setelahnya memberikan kartu itu kepada Bunga.


"Besok datanglah ke sini, pukul 6 tepat tidak boleh telat satu menit pun. Selama satu minggu kamu bisa masuk tanpa telat sedetik pun, aku akan merekomendasikan dirimu untuk menjadi karyawan retap"


Bunga menganga mendengar ucapannya, dia merasa seperti mendapat hadiah kaget.


Dengan senang hati Bunga menerima kartu namanya, kemudian menyimpannya ke dalam tas.


"Terima kasih kaaa"


"Loria" perempuan itu memperkenalkan diri sendiri.


"Kamu bisa langsung menemuiku besok di kantor. Kebetulan aku kepala OB di sana"


"Baik! baik!, , " Bunga dengan cepat mengangguk berulang kali ke arah Loria. Betapa sangat besar rasa terima kasih yang ingin dia perlihatkan karena telah memberi kesempatan kepada dirinya untuk bisa masuk ke dalam perusahaan, tempat di mana Loria bekerja.


♡♡♡


Hari masih sangat pagi, matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya. Sebisa mungkin Bunga bergerak cepat pagi itu, naik bus dan berganti kereta bawah tanah satu kali untuk menuju ke perusahaan D Enterteintment. Sesuai dengan nama yang tertera di kartu.


Bunga belum terbiasa dengan tempat serta jam jam lalu lintas padat di kota, maka dia lebih memilih untuk datang satu jam lebih awal dari jam yang sudah di tentukan.


Dari kejauhan seorang satpam terlihat berjalan menghampirinya.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" matanya mengawasi Bunga yang nampak asing baginya.


Sementara Bunga masih berusaha keras untuk menetralkan nafasnya, dadanya masih bergerak cepat naik turun ketika mengghela nafas.


"Aku pegawai baru di sini" ucap Bunga setelah bisa menguasai dirinya dengan baik.


"Id card??" ucap satpam kepada Bunga karena tak melihat kartu itu menggantung di lehernya.


"Maaf sebenarnya aku"


"Pegawai baru!!" teriak Loria dari arah lain, membuat Bunga dan satpam itu mengalihkan pandangan seketika ke arahnya.


"E, , iya kak" Bunga menganggukkan kepala kepada satpam sebelum pergi menghampiri Loria.


♡♡♡


Setelah selesai mengganti pakaiannya dengan seragam khas OG, Bunga tengah bersiap mendengar semua ucapan Loria. Baik tugasnya untuk melayani PresDir, apa yang dia suka, apa yang dia tidak suka apa yang dia minum setiap pagi, siang hingga sore kadang bahkan malam kalau PresDir mereka lembur karena banyak pekerjaan.


"Dan ingat!!, , kamu tidak boleh pulang sebelum PresDir pulang" Loria berucap dengan tegas. Sebagai kepala OB dia tidak mau ada anak buahnya yang berbuat kesalahan. Terlebih lagi OG yang khusus melayani atasannya.


"Kak bagaimana aku tahu kalau PresDir kita sudah pulang?" rautnya wajahnya terlihat muram, kebetulan OG khusus yang melayani PresDir mereka memang tak jauh dari lantai ruang kerjanya. Tetapi untuk memastikan apakah PresDir mereka sudah pulang atau belum Bunga harus memastikannya sendiri. Kalau pun harus naik turun lift berkali kali, Bunga harus tetap melakukannya.


"Pastikan sendiri dia sudah pulang atau belum!, , kamu bisa kan menemui sekretarisnya"


"Iya kak, , maaf"


"Semangat Bunga, , jangan sia siakan kesempatan ini!!"


"Dan satu hal lagi, setiap hari ketika membersihkan ruang kerjanya jangan sekali kali menyentuh hiasan kaca yang ada di sana!!" Loria berucap dengan sungguh sungguh. Seolah benda itu memang terlarang untuk di sentuh.

__ADS_1


"Hiasan kaca?" keningnya berkerut, pikirannya melayang membayangkan hiasan kaca yang di maksud oleh Loria.


"Pokoknya seperti yang sudah aku bilang!, , jangan menyentuhnya seujung jarimu pun jangan sampai. Kalau bisa, , bersihkan debu di sekitarnya tanpa menyentuh hiasan kaca itu. Apa kamu mengerti Bunga!! kalau sampai Pres Dir tahu kamu menyentuhnya, dia akan memarahimu habis habis. Atau hal buruk lainnya yang bisa terjadi padamu kamu akan di pecat!"


"Iya kak, aku mengerti"


Loria melirik jam yang melingkar di tangannya.


"15 menit lagi Pres Dir datang, kamu siap siap dan ingat setiap pagi dia minum apa? jangan sampai tertukar!"


"Iya Kak" Bunga segera bergerak membuat kopi pahit seperti arahan Loria.


"Jangan terlalu kental, jangan terlalu kental" gumamnya sembari melangkah ke pantri.


♡♡♡


Bunga menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam ruang kerja atasannya. Jantungnya berdegub kencang karena takut akan melakukan kesalahan nantinya.


Setelah merasa sedikit tenang, Bunga akhirnya melangkah masuk perlahan.


Pandangannya menyapu setiap sisi ruangan.


"Sepi??, , belum datangkah dia??"


Bunga berjalan lebih ke arah dalam, setelahnya memindahkan secangkir kopi itu dari nampan ke atas meja.


Sebelum melangkah keluar, Bunga sempat melirik ke sisi lain di mana di sana ada sebuah hiasan kaca persis seperti apa yang di ceritakan oleh loria.


Bungga mengangkat kedua pundaknya seolah merasa bahwa dia memang tak akan menyentuh benda itu.


♡♡♡


Suasana perusahaan D Entertaintment sudah semakin riuh, banyak ruangan yang tadinya kosong kini telah terisi penuh.


Davien dan James melangkah masuk ke lobi, mendekati lift khusus untuk Pres Dir menuju ke ruang kerjanya.


James menekan tombol untuk membuka pintu, setelah liftnya terbuka dia mempersilakan Davien untuk masuk terlebih dulu ke dalam.


James selalu berada di sisinya, sebelum Davien duduk tenang di ruang kerja maka dia belum bisa kembali ke ruang kerjanya.


"Silakan Pres Dir" James telah membukakan pintu ruang kerjanya, dan mempersilakan Davien untuk masuk.


Baru beberapa langkah Davien masuk ke dalam, seketika dia memaku tubuhnya. Berdiam diri mematung seperti ada yang sedang mengganggu pikirkannya.


James yang melihatnya pun mulai kebingungan.


"Pres Dir?" James mengawasi atasannya yang masih terdiam.


"Sebentar lagi ada rapat, saya akan menyiapkan semua berkas terlebih dahulu"


James sesaat terdiam ketika melihat Davien hanya berdiam diri tanpa menghiraukannya. Tetapi akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke ruang kerja dan menyiapkan semua berkas yang diperlukan untuk rapat.


Davien mencium aroma tubuh yang sangat dia kenal. Aroma wangi yang selama beberapa tahun tak pernah di ciumnya lagi kini merebak ke dalam hidungnya.


Wangi tubuh Essie, ya sangat khas. Aroma yang kini sedang dinikmati oleh Davien mirip dengan aroma tubuh perempuan yang dicintainya.


Mereka berdua memang hanya sebatas saling memcintai tanpa harus menyentuh, tetapi Davien sangat mengingat jelas setiap apa yang ada pada diri Essie.


Davien hanya berfikir bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam ruang kerjanya.


Kini matanya tertuju kepada sebuah cangkir, dengan kepulan asap tipis yang melayang di atasnya.


Pikirannya tertuju kepada OG yang pastinya belum lama keluar dari ruangan.


Davien berlari dengan cepat menuju lift, menekan tombol angka yang akan membawanya ke pantri.


Raut wajahnya terlihat gusar, segera ingin mengetahui siapa pemilik aroma tubuh yang dangat mirip dengan Essie.


"Apa dia seorang laki laki??, , tapi aroma ini terlalu lembut jika seorang pria yang memilikinya"

__ADS_1


Davien mengusap wajahnya gusar. Sudah tidak sabar ingin memastikan siapa pemilik Aroma tubuh yang mengganggu pikirannya.


__ADS_2