Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
16 S3: Love's Romance Lagi


__ADS_3

"Bunga?"


Suara Davien seketika membuat Bunga terperanjat, membalikkan tubuhnya menatap gugup ka arah laki laki yang sudah berdiri di dekatnya.


Davien bisa melihat ketegangan yang melingkupi Bunga dari raut wajahnya. Kemudian menoleh melihat Marvel yang sedang melangkah masuk ke dalam lift. Davien berfikir bahwa Bunga pasti ada sesuatu bubungan dengan perempuan yang saat ini sedang bersama dengan Marvel.


"Kamu baik baik saja?" ucapnya sembari kembali mengalihkan pandangannya ke Bunga.


"Maaf Davien!, bukankah kemarin aku sudah bilang kepadamu kalau aku bisa berangkat sendiri?" Bunga mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sepertinya kamu juga lupa bahwa kemarin aku sudah mengatakan kalau aku akan menjemputmu!" Davien membalas ucapannya dengan nada penuh penekanan.


Bunga terdiam menatap lekat ke arah Davien.


"Bersikaplah baik!, , dan menurut kepadaku!!" perintahnya tak terbantahkan. Davien meraih tangan Bunga memaksa perempuan itu masuk ke dalam mobil.


♡♡♡


Aileen meraih cangkir dengan teh hijau di dalamnya, mencercapnya sedikit kemudian mengembalikannya ke atas meja. Dia, Keiko dan Koyoko sedang berbincang mengenai suatu hal siang itu di sebuah restoran.


Aileen meletakkan kembali cangkirnya.


"Jadi kamu menyukai Davien sejak lama" senyumnya melebar sambil melihat ke arah Keiko.


"Mm, , i, iya begitu Tante" perempuan itu tersipu malu.


"Sejak lama Putriku menyukai Davien. Tetapi aku memang sengaja belum mau membahasnya denganmu karena aku pikir, ," Koyoko menoleh menatap Keiko.


"Mereka hanya bercanda"


Keakrapan di antara mereka sejak kecil membuat semua orang tak menyangka bahwa Keiko menyukai Davien. Tak ada seorang pun yang akan mengira hal itu terjadi.


"Jadi Aileen, , , bagaimana kalau kita menjodohkan mereka? aku yakin Davien pasti setuju karena sudah sangat mengenal Keiko. Jadi tidak perlu pendekatan lagi di antara mereka" Koyoko meraih tangan Putrinya kemudian menggenggamnya erat.


Sementara Keiko membalasnya dengan sebuah senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


Senyum yang semula nemenuhi wajahnya, kini terlihat sedikit demi sedikit memudar. Aileen tak bisa memutuskannya saat itu. Ketika mengingat bahwa Davien sepertinya memiliki perempuan lain yang telah mengisi hatinya.


Aileen mengela nafas menetralkan perasaannya.


"Kita akan membicarakan hal ini lebih lanjut nanti, di mana dua keluarga akan berkumpul dan membahasnya bersama" Aileen meraih pundak Keiko, mencoba menenangkan perempuan itu.

__ADS_1


"Tanang ya, Davien pasti mengerti perasaanmu" perempuan itu tersenyum manis. Setelahnya kembali menghela nafas, raut wajahnya berubah seketika seolah dia merasa bahwa sepertinya hal ini tidak akan berjalan dengan baik.


♡♡♡


Davien terlihat sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Namun sesekali pandangannya mengarah ke jam yang melingkar di tangannya. Harusnya Bunga beberapa menit lagi baru mengantarkan minuman untuknya, tetapi Davien merasa sudah tak sabar ingin segera melihat perempuan itu datang ke ruangannya.


Davien berdecak jengkel, membuang pena ke atas meja sembari menarik tubuhnya kebelakang kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


Karena sudah tak sabar menunggu lama, Davien memutuskan beranjak dari kursi dan melangkah menuju pintu kemudian keluar menemui Bunga di pantry.


Di sisi lain Bunga terlihat tengah sibuk membuat minuman untuk Davien, setelah menyiapkan cangkir dia mengambil gula dan menakarnya.


Tak lama Davien tiba dan berdiri di tengah pintu, menyimpan kedua tangannya di saku celana. Pandangannya mengawasi Bunga yang sedang sibuk di depan sana.


Bunga terpaku saat merasakan seseorang berjalan mendekatinya dari arah belakang.


Bukan Loria. Mencium dari aroma wangi yang menyeruak ke dalam hidungnya, Bunga bisa menebak bahwa orang itu tak lain lagi adalah Davien.


Dengan cepat dia memutar tubuhnya ke belakang dan betapa terkejutnya Bunga ketika saat itu juga Davien mengunci Bunga. Menggunakan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja di sisi kanan dan kiri agar Bunga tak bisa menghindar.


Davien mendorong tubuhnya mendekat sementara Bunga menarik punggungnya kebelakang menjauh dari Davien.


"Apa yang sedang anda lakukan di sini?"


Davien tersenyum tipis kemudian berucap dengan lembut.


"Menemuimu"


Dadanya berdebar, terlihat naik turun dengan cepat saat mendengar Davien berucap.


"Baru saja aku akan membuatkan minuman untukmu, jadi bisakah kamu menjauh sidikit?, , aku akan menyiapkannya!" Bunga meminta Davien untuk menjauh, karena porsisi mereka yang berdekatan seperti saat ini membuat dirinya tak bisa bergerak sesikit pun.


Davien menundukkan kepalanya menyandarkan keningnya di kening Bunga. Nafasnya terasa hangat ketika menyapu wajah perempuan itu.


Bunga menelan ludahnya dengan susah payah, dia kembali lemah ketika sedang di hadapkan dengan sikap Davien yang melembut.


"Pres Dir aku mohon" suaranya melemah. Darahnya memanas saat Davien menggunakan satu tangan untuk merangkup pipinya. Sementara satu tangan lagi meraih pinggangnya, mendorong tubuh Bunga agar tak menjauh dan semakin mendekat.


Bunga menggunakan kedua tangannya yang di letakkan di dada Davien untuk menahan laki lak itu agar tak terlalu menekan tubuhnya.


"Pres Dir!. Apa yang sedang kamu lakukan?" Bunga mencoba mendorongnya. Tetapi kekuatan yang ada di tangannya seolah tak berguna. Bahkan ketika Bunga menggunakan seluruh kekutan untuk mendorong laki laki itu. Davien sama sekali tak bergerak sedikit pun.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya!, , apa yang sedang kamu lakukan terhadapku!!"


Bunga menarik kepalanya mundur. Matanya menyelidik ke wajah Davien. Laki laki itu terlihat frustasi dan tak berdaya.


"Memang apa yang sudah aku lakukan terhadapmu?, aku merasa tidak melakukan apa pun denganmu Pres Dir! aku benar benar tidak mengerti dengan ucapanmu!"


Davien memaksa perempuan itu menghadap kearahnya setelah beberapa saat dia tertunduk.


"Kamu selalu menggangguku!," nafasnya semakin tak terkendali ketika menatap bibir mungilnya yang berwarna pink muda. Davien menelan ludahnya dengan susah payah. Mencoba mengendalikan diri dengan mengalihkan kembali pandangannya ke mata Bunga.


Tatapan mata mereka bertemu, saling memandang satu sama lain hingga Bunga yang merasa malu akhirnya memimilih untuk menghindar.


"Bunga jadilah milikku!!" ucapnya seketika. Ini kali kedua Davien mengucapkan hal itu.


Bunga kembali menatapnya tajam.


"Apa itu sebuah perintah, Pres Dir??, , atau sebuah pengakuan cinta?" dengan berani tanpa keraguan sedikit pun Bunga kembali melanjutkan ucapannya.


"Jika itu pengakuan cinta!, , aku sama sekali tidak melihatnya di matamu. Yang aku lihat saat ini ada seseorang lain di sana!" Bunga tak bisa memungkiri bahwa dia tahu masih ada perempuan lain di hatinya. Bunga tak ingin terlalu berharap dengan perasaannya. Dia juga tak ingin hubungan itu berlanjut lebih jauh.


Cukup dengan kehilangan ciuman pertamanya Bunga sudah merasakan sakit yang tak bertepi, apa lagi jika dia memaksa untuk menerima Davien yang masih selalu nemikirkan perempuan lain. Bunga tak ingin terlalu berharapa lebih jauh. Dia memilih untuk berhenti saat itu juga. Saat di mana Davien pertama kali menciumnya.


"Maka dari itu bantu aku melepaskannya, ," Davien semakin mendekatkan kepalanya hingga ujung hidung mereka saling menempel.


"Aku pikir hanya kamu, , kamu yang bisa membantuku melupakannya" Davien berucap dengan lembut.


Dadanya berdesir ketika Davien berucap. Aroma sisa coffe late yang keluar dari mulutnya tercium bebas oleh Bunga hingga memenuhi bagian rongga paru parunya. Bunga menutup matanya ketika menikmati aroma coffe itu.


Sesaat Bunga sempat terlena dengannya, tetapi tak lama kemudian bergidik menetralkan perasaannya serta mengembalikan akal sehatnya.


"Maaf Pres Dir aku"


Davien membungkam bibirnya untuk tak berucap lagi, dia menciumnya dengan lembut.


Bunga terpaku menikmati permainan bibirnya yang terasa sangat lembut. Untuk sesaat, lagi, dia kembali tak bisa melawan laki laki itu. Tangannya mencengkeram erat kerah jas ketika ciuman itu semakin dalam. Bunga semakian menikmatinya hingga tak sadar kini Bunga yang tak berpengalaman dalam berciuman pun membalasnya. Bunga menggerakkan kepalanya ketika bergantian menciumi bibirnya.


Davien membuka sedikit matanya ketika menyadari Bunga mulai membalas ciumannya. Dia membiarkan Bunga mengambil alih ciuman itu, Davien kembali menutup matanya untuk menikmati permainannya. Ketika bibir mereka masih saling berpagutan, Davien sengaja berucap dengan lirih.


"Kamu menikmatinya Bunga???"


Seketika bibirnya terpaku, Bunga membuka kedua matanya lebar kemudian.

__ADS_1


__ADS_2