Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
4 S3: Love's Romance Tantangan


__ADS_3

"Pres Dir??" James nampak sangat khawatir dengan sikap Davien yang aneh, dengan tiba tiba meninta membeli parfum yang kemudian diberikan kepada pegawai baru yang masih bersetatus sebagai pegawai magang.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" bibirnya terpaku ketika Davien menatap tajam ke arahnya. Dia menunduk menyesali sikap lancangnya.


"Maaf Pres Dir"


Mungkin kata katanya terlalu kasar, dan Davien mengakui itu. Tetapi mengingat bahwa Bunga memiliki hal sama yang juga dimiliki oleh Essie, Davien tidak bisa menghiraukannya begitu saja.


Sementara di luar di balik pintu, Bunga mendengus kasar. Tangannya mengepal menepuk dadanya yang terasa sesak dan memanas hingga hampir tak dapat bernafas karena menahan emosi.


Bunga beranjak pergi kembali ke pantri. Meletakkan paperbag itu dengan kasar hingga mengagetkan pegawai lainnya yang sedang beristirahat makan siang.


"Maaf" Bunga membuang senyumnya ke arah pegawai lain yang sedang menatap jengkel kepadanya.


"Bunga kamu baik baik saja?" Loria mendekatinya karena merasa khawatir. Tatapannya kini beralih ke paperbag di atas meja.


"Apa ini???" dia meraih parfum, matanya berbinar saat mendapati botol kaca dengan nama merk parfum mahal di sana. Pandangannya langsung mengerucut ke Bunga. Mendekatkan kepalanya kemudian berbisik.


"Apa ini dari Pres Dir?" mulutnya menganga ketika seakan bisa menebak isi pikirannya, hanya dengan melihat ekspresi wajah.


"Ya ampuuunnn, , apa sebenarnya hubungan kalian? dia sampai membelikan parfum mahal ini untukmu!, , aku pikir Pres Dir akan memarahimu. Aku jadi iri. Aku yang bekerja lama di sini saja"


"Ambil saja kalau memang Kak Loria mau! aku tidak membutuhkan itu!!" ucapnya memotong pembicaraan, Bunga beranjak berdiri melangkah pergi keluar dari pantri.


Sementara Loria masih memandangi parfum itu dengan kagum bercampur tak percaya, bahwa Bunga telah memberikan perfum pemberian Davien kepadanya.


Bunga berjalan dengan cepat menuju ke kantin sambil terus menggerutu, pikirannya yang terus fokus dengan ucapan Davien saat menghinanya membuat Bunga tak fokus dengan apa yang ada di depan matanya. Setelah masuk ke dalam kantin tak sengaja menabrak seseorang hingga membuat kegaduhan di dalam sana.


Brugh!!!


Prank!!!


Pyar!!!


Semua makanan berserakan di lantai, Bunga tidak sengaja menabrak seoranh staf lain yang baru saja mengambil jatah makan siangnya di kantin.


Semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Bunga. Memandang dengan tatapan aneh dan jengkel karena merasa terganggu.


"Kamu tidak punya mata?" ucap Olive, staf lama yang menjabat sebagai Manajer Personalia di D Entertaintment.


Bunga melihat ke sekitar, dia merasa tidak enak dengan situasi di mana saat ini dia seperti seorang tersangka yang telah melakukan kesalahan fatal. Semua orang masih memandang Bunga sembari berbisik bisik dengan teman di sebelahnya. Entah apa yang mereka bicarakan tetapi Bunga merasa tidak nyaman berada di sana.


"Maaf, , aku tidak sengaja. Aku akan membereskannya" Bunga bermaksud baik untuk membereskan sisa makanan sertar pecahan gelas yang menyebar di lantai.


Bunga berjongkok untuk mempermudahkan dirinya meraih pecahan gelas, tetapi Olive malah sengaja membanting nampan.

__ADS_1


Prang!!!


Bunga terhentak kaget, wajahnya semakin mererah karena malu. Dia mengangkat wajahnya menatap tajam Olive.


"Sepertinya aku harus mengajukan peraturan baru lagi, agar pegawai sepertimu tidak di perbolehkan masuk kemari!!, , membuat nafsu makanku menghilang!" Olive melangkah pergi, meninggalkan Bunga yang mulai beranjak berdiri dan mencoba menghentikan langkah Olive.


"Tunggu!!" Bunga berucap dengan lantang, seolah dia tak memiliki rasa takut sedikit pun kepada staf yang jabatannya lebih tinggi.


Olive memaku langkahnya, membalikkan badan menghadap Bunga.


"Apa kamu bilang!" olive menatap sengit, Bunga yang jauh lebih pendek pun harus sedikit menengadah ketika membalas tatapan Olive.


"Aku sudah bilang maaf!!, , kenapa kamu masih tidak mau terima??" Bunga beeucap dengan lantang tanpa ada rasa keraguan sesikit pun.


"Kau pegawai baru kan?" Olive mendekat kemudian berbisik.


"Jangan cari masalah!, , atau aku bisa membuat Pres Dir memecatmu hari ini juga!" geramnya dengan nada pelan, Olive tidak bisa mendapat kekalahan, terlebih lagi dari pegawai yang jauh lebih rendah darinya.


"Aku tidak mencari masalah, aku sudah mengaku salah!, , dan aku juga sudah meminta maaf. Apa itu kurang?? setidaknya bersikap sopanlah kepada sesama" Bunga tak memandang jabatan apa yang di duduki oleh Olive, dia hanya ingin sebagai pegawai harus saling menghargai. Tak perlu memandang randah seseorang hanya dari pekerjaannya.


Olive tersenyum sinis, tangannya bersedekap kemudian kembali berucap.


"Aku baru melihatmu bekerja hari ini!!, , jangan sampai besok aku sudah tidak bisa melihatmu lagi!!, , "


Bunga tidak ingin memperpanjang masalah, kini dia lebih memilih diam dan kembali membersihkan makanan yang berserakan.


"Kamu baik baik saja?" ucap salah seorang pegawai laki laki yang baru saja masuk dan sempat melihat Bunga beradu mulut dengan Olive.


Bunga mengangkat kepala, matanya langsung menatap sepasang mata laki laki bernama Roland, CEO di D Entertaintment.


Laki laki itu membantu Bunga membersihkan pecahan kaca sementara bunga sibuk memperrhatikan wajah Roland. Sesaat sempat terpana dengan Roland sejak pandangan pertama. Jantungnya berdegub dengan kencang hingga nyaris tak bisa bernafas.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku?" Roland mengulangi pertanyaannya untuk menyadarkan Bunga, dia tahu bahwa perempuan itu tengah terus memandanginya.


Bunga bergidik, mencoba mentralkan perasaannya dengan cepat.


"E, , maaf. Aku bisa melakukan ini sendiri"


"Tidak apa apa, , aku bisa membantumu. Kamu sekarang pergi ambil makananmu dan segera makan. Jam istirahat sebentar lagi selesai" Roland berucap dengan lembut, nadanya sangat menenangkan membuat Bunga yang sempat terbawa emosi kini telah hilang dan kembali tenang.


"Bunga!" suara Kak Loria membuatnya tersentak hingga langsung mengalihkan pandangan ke arah perempuan yang terlihat sangat tergesa gesa, seperti sedang terjadi sesuatu yang sangat mendesak.


"Pres Dir Sudah menunggu makan siangnya, kenapa kamu masih di sini??"


"Biarkan dia makan dulu Loria, Bunga belum sempat makan" namanya langsung terekam setelah mendengar Loria manggilnya.

__ADS_1


"Tapi Tuan Roland, Pres Dir bisa marah. Beliau paling tidak suka menunggu terlalu lama. Bunga bisa makan setelah mengantar makanan untuk Pres Dir" Loria mengarahkan pandangannya ke Bunga.


"Iya kan Bunga!!"


"E , iya, maaf aku permisi dulu" Bunga menganggukkan kepala dengan penuh rasa hormat.


"Terima kasih sebelumnya" dia beranjak pergi keluar dari kantin. Sementara Roland tersenyum, manatap punggung Bunga yang semakin manjauh.


♡♡♡


"Ini terlalu berminyak dan hambar!" Davien meletakkan kembali sendoknya, mendorong makanan yang telah sengaja khusus di pesan oleh Bunga di tempat biasa Davien memesan makanan.


"Maaf Pres Dir, ,makanan itu pesan di tempat biasa. Dan bukan aku yang memasak, sehingga aku tidak bisa mengatur rasa serta kadar minyak di dalamnya!"


Ujung matanya langsung mengarah ke Bunga.


"Apa secara tidak langsung kamu ingin mengatakan bahwa masakanmu jauh lebih enak dari restoran di mana biasanya aku memesan makanan?"


"Mungkin"


Jawaban itu sungguh sangat mejengkelkan. Davien hampir saja melempar makanan itu ke arah Bunga. Tetapi dia masih bisa mengendalikan dirinya dengan baik, sehingga tak memperlihatkan sisi arogannya di deppan Bunga.


Davien menghela nafas untuk menetralkan perasaan.


"Kalau begitu, buatkan aku makana persis seperti ini!!, , jika kamu bisa membuatnya jauh lebih baik, aku akan mempertahnkanmu untuk tetap bekerja di perusahaanku!" Tak ada hal lain untuk membuat Bunga tetap bekerja di tempatnya. Davien hanya sengaja mencari kesalahan Bunga agar perempuan itu keluar dari perusahannya tanpa harus memecat dengan alasan yang tak masuk akal.


Davien hanya tidak sanggup jika setiap hari mencium aroma Bunga yang selalu akan mengganggu pikirannya.


Bunga sama sekali tidak tergoyahkan, tidak takut dengan tantangan yang di berikan oleh Davien.


"Aku akan segera menyiapkannya" tak ada sedikit pun rasa keinginan untuk berucap dengan baku kepadaa Davien, setidaknya dengan bersikap sedikit sopan itu sepertinya sudah cukup lebih cukup bagi Davien yang telah menghinanya.


"Satu lagi!!"


Bunga memaku langkahnya sebelum sampai ke pintu. Dia memutar tubuhnya kembali menghadap Davien.


"Pakai parfum yang sudah aku berikan kepadamu!!" penciumannya sangat tajam, bahkan tahu kalau Bunga tidak memakai parfum pemberiannya. Jika dilihat dari jarak mereka yang jauh saat berbicara tadi, seharusnya Davien tak bisa mencium aroma itu.


"Baik Pres Dir" Bunga menundukan kepala.


"Apa masih ada hal lain lagi yang ingin diucapkan sebelum aku keluar?"


Davien diam membisu, tak menghiraukan pertanyaan Bunga. Dia lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan map yang ada di atas meja.


Merasa tak dihiraukan Bunga pun akhirnya pamit undur diri.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku permisi. Dan mohon untuk bersabar, sebentar lagi aku akan membawa makanan untuk Pres Dir" Bunga berucap dengan tenang, tetapi Davien yang mendengarnya merasa sangat jengkel. Akhirnya Bunga menutup pintunya kembali setelah berhasil keluar dari ruangan.


Sementara Davien lebih memilih meletakkan kembali map yang sempat di pegangnya. Kini ujung matanya terarah ke pintu, di mana Bunga sempat berdiri di sana.


__ADS_2