
"Aduh!"
Tubuh Aileen menabrak David yang sedang duduk di sofa, saat dia beranjak sepatu hils yang di pakainya tak bisa diajak kerja sama dengan baik. Dia hampir terjatuh namun David menolongnya, menarik pinggang perempuan itu hingga terduduk dinoangkuannya. Kini kedua kaki Aileen berada di sela sela kaki David.
Wajah mereka saling berdekatan, mata Aileen bergerak menatap mata David dengan sangat lekat.
Jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga terasa nyeri dan memanas di bagian sana.
David mengencangkan tangannya yang melingkar di pinggang Aileen. Menarik mendekatkan tubuhnya hingga dada mereka saling menempel.
"Perempuan ini??"
David sempat menyelidik ke arah wajah Aileen sebelum akhirnya tersenyum, mengetahui bahwa perempuan di depannya itu adalah orang yang dia temui di mini market.
Sementara Aileen membulatkan matanya ketika menyadari dirinya berada di dekapan seorang pria.
Abell dan Jacq terpaku melihat David yang seolah terpesona dengan perempuan di pangkuannya. Mereka sudah terbiasa dengan sikap David yang selalu mencoba untuk menghoda seorang wanita. Tetapi kali ini tatapan mata David terlihat sangat berbeda.
"Kita lihat, dalam hitungan berapa detik dia akan terpikat oleh David??" bisik Jacq kepada Abell yang ada di sebelahnya.
"Melihat ekspresi wajah perempuan itu, sepertinya dia tak akan tertarik dengan David!" ucap Abell, sambil menegug habis sisa wine di gelasnya.
♡♡♡
"Lepas!!" Aileen berucap dengan nada rendah. Dia berusaha melepaskan tangan David yang bertahan di pinggangnya. Sementara salah satu tangannya masih memegang erat wine itu.
David tidak bergeming, dia juga terlihat masih tetap mempertahankan senyum manisnya.
Aileen meletakkan wine itu di atas sofa, dengan penuh keraguan kedua tangannya menyentuh dada David, setelahnya mendorong kuat agar tubuhnya bisa terlepas dari laki laki itu.
Kekuatan Aileen memang tak sebanding dengan kekuatan David, dia tak kehabisan akal untuk bisa lepas darinya.
Kini Aileen lebih memilih untuk membenturkan kepalanya kekening laki laki itu.
Seketika David melepaskan tubuh Aileen dan mengusap kasar keningnya yang terasa sakit.
"Sial!!" Dia meringis menahan sakit di keningnya.
Sementara kedua temannya nampak tertawa terbahak bahak menikmati pemandangan yang sama sekali tak pernah dilihat sebelumnya.
Aileen beranjak dari pangkuan David, dengan raut wajah jengkelnya dia melangkah keluar dari ruangan itu.
"Apa yang kalian tertawakan!!, , ini sama sekali tidak lucu!!" David berucap kearah Abell dan Jacq yang masih tak bisa mengontrol rasa gelinya.
Mereka terus tertawa hingga tak terasa ujung mata mereka berair.
"Hadduuhhh gila!!, , tahu gitu aku tadi sudah merekamnya" Abell kembali tertawa lagi.
__ADS_1
"Aku belum pernah melihatmu mendapat penolakan dari seorang perempuan. Dan sekalinya di tolak langsung sakit sampai kedalam hati!!" Jacq pun sama, dia berucap sambil tertawa.
"Puas kalian!!, , dia sama saja seperti yang lain. Hanya egonya terlalu besar. Dia terlalu jual mahal. Lihat saja aku pasti bisa membuatnya bertekuk lutut di hadapanku nanti" David berucap dengan penuh keyakinan, sesekali dia masih terlihat mengusap keningnya.
Tawa Abell seketika langsung menghilang setelah mendengar ucapan David.
"Taruhan??" Dia mengulurkan tangannya ke arah David.
"Yaah !!, , kalian mulai lagi kan!" Jacq berucap sembari meraih wine yang ada di atas sofa.
"Deal!!" David membalas uluran tangan Abell.
"Aku yakin kali ini aku akan menang, dan sebagai taruhannya, , . Kamu harus memberikan sahammu 5%" ucapnya dengan menaikkan kedua alisnya secara cepat kearah David.
"Gila!!, , aku tidak mau" David menyesap segelas wine yang baru saja diberikan oleh Jacq padanya.
"Kamu takut kaaannnn" Abell benar benar bisa menebak ketakutan yang terlihat jelas di wajah David.
"Aku tidak pernah takut dengan apa pun, 2% iya atau tidak?" ucap David, dia memberi pilihan lain.
"Deal!!" Abell langsung menyaut, dia tidak akan melewatkan taruhan kali ini. 2% saham yang nantinya akan di pertaruhkan David merupakan saham dengan nilai penjualan tertinggi. Hanya dengan 2%, Abell bisa mendapat untung miliyaran setiap bulannya. Maka dari itu ketika David menawarkannya, dia langsung menyetujuinya.
"Kalian benar benar seperti anak kecil!!" ucap Jacq.
Sementara David kini mulai terlihat membenamkan tubuhnya ke dindin sofa, dia seperti sedang memutar otak untuk mencari cara agar bisa mendapatkan perempuan yang telah melukai keningnya.
"Kamu yakin ingin membuat perempuan itu menjadi milikmu??" ucap seorang wanita yang sedari tadi duduk di sampaing David.
"Menyingkir dariku!!, ," Dia merasa sedang tidak dalam moodnya.
♡♡♡
Aileen nampak berlari kearah loker, dia berusaha menata hatinya yang sempat kalang kabut.
Nafasnya juga terdengar memburu saat itu.
"Dia bukannya om om yang aku temui tadi siang di mini market??, , "
Aileen menyandarkan punggungnya ke loker yang ada di belakangnya.
Seketika tubuhnya terpaku, dia teringat bahwa orang yang baru saja dia lukai adalah penghuni ruang VVIP.
"Aduh bagaimana ini??, , " Aileen memegangi kepala dengan kedua tangannya, dia terlihat frustasi karena terus berfikir bahwa orang itu pasti akan mengadu kepada Ibu kepala.
Aileen terlihat berjalan mondar mandir.
"Bagaiman ini??, , bisa bisa posisi Koyoko nanti terancam karena kelakuanku!!, , addduuuhhh, , kenapa jad begini?? niat ingin menolong malah memberi masalah baginya"
__ADS_1
Aileen menghela nafas untuk menenangkan diri. Dia berfikir keras untuk mencari jalan lain agar laki laki itu tak mengadu ke atasannya.
"Apa aku harus kembali dan menemuinya untuk minta maaf??, , tidak tidak. Itu tidak mungkin. Hiiihhh ya ampuuun, , bagaimana ini"
Ceklek!!
Suara pintu yang di buka dari arah luar seketika membuat Aileen terkejut dan mengalihkan pandangan ke arah sana.
Matanya membulat, tubuhnya bergetar ketika melihat Ibu kepala masuk ke ruang itu dan berjalan mendekat kearahnya.
"Ee Ibu kepala?, , " gumamnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Bos VVIP menghubungiku, memintamu untuk mengantar kudapan pesanannya!!" Ibu kepala berucap dengan bijak.
Aileen terpaku, dia berfikir bahwa Ibu kepala akan datang dan marah marah karena laki laki itu telah mengeluh padanya.
"Dia memintaku untuk mengantar kudapan??, , tapi Ibu kepala, apa tidak ada orang lain yang bisa mengantar kes"
"Dia yang memintamu. Dan harus kamu yang mengantar ke sana!" Ibu kepa memotong pembicaraan.
"Ayo cepat, atau dia akan marah karena sudah membuatnya menunggu" Ibu kepala kembali berucap setelah melihat Aileen hanya berdiam diri.
"E, , iya iya. Aku akan mengantarnya!" perempuan itu melangkah keluar dengan ragu.
Kini dia berjalan ke arah ruang VVIP dengan sebuah nampan dipenuhi kudapan di atasnya.
Aileen menghela nafas panjang sebelum meraih gagang pintu dan membukanya.
Setelah berhasil masuk, matanya nampak menyelidik ke arah dalam.
Ruangan itu kini sangat sepi, para wanita dan dua orang lelaki yang sebelumnya berada di sana tak terlihat batang hidungnya. Mata Aileen hanya menemukan sesosok tubuh laki laki yang sedang berdiri di depan kaca, dia sedang memandang jauh pemandangan kota di malam hari sambil memunggunginya.
"Sekaya apa dia, sampai bisa memboking tempat ini untuk dipakai sendiri??, , sombong!!"
Aileen melangkah dengan sangat perlahan. Rencananya setelah meletakkan kudapan di atas meja dia ingin langsung pergi dari tempat itu, namun matanya bertemu dengan mata David di bayangan kaca itu.
Aileen terkejut, dia akhirnya memilih untuk tetap di tempat.
"Kudapan Anda Om" seketika Aileen membungkam mulutnya rapat rapat dengan tangannya sendiri. Dia tanpa sadar telah memanggil laki laki itu dengan sebutan Om lagi.
"Tuan, , ya maksudku Tuan, kudapan Anda sudah ada di atas meja" Aileen kembali mengulangi ucapannya.
"Aku tidak membutuhkan kudapan itu!" David memutar tubuhnya, dia berjalan kearah sofa. Menyandarkan punggungnya, menyilangkan kedua kakinya dan bersedekap. Seolah dia sudah siap beradu argumen dengan Aileen yang masih terus berdiri.
Perempuan itu terlihat memutar bola matanya kesana kemari, seolah dia tak menganggab David berada di sana, perempuan itu berusaha mengihindari tatapan mata laki laki yang sedang duduk melihat kearahnya.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu" ucap Aileen kemudian.
__ADS_1
"Apa aku mengijinkanmu keluar!" David berucap untuk menghentikab langkah kaki Aileen. Perempuan itu belum belum sempat melangkah keluar, bahkan tangannya pun hanya sempat menyentuh gagang pintu.
Aileen menarik kembali tangannya, dia menelan ludahnya dengan susah payah sebelum akhirnya memutar kembali tubuhnya ke arah David.