Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
40 S3: Love's Romance Semakin berani


__ADS_3

Bunga membanting tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit langit sembari mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.


Flash back on


"Jadi kalian sudah saling mengenal??" Laura semakin yakin bahwa Bunga tak akan membuka kedoknya di depan Marvel. Melihat perempuan itu hanya diam saja malah semakin membuat Laura berani berucap.


Marvel tersenyum melihat ke arah Bunga.


"Lumayan lama mah"


Laura meraih secangkir teh hijau kesukaannya, mencercap sedikit kemudian meletakkannya kembali ke tempat semula.


"Beberapa kali Putraku selalu membicarakanmu. Aku tidak mengira kalau Bunga yang dia ceritakan adalah kamu" bibirnya seketika terpaku. Jantungnya berdegub kencang ketika hampir saja membuka kedoknya sendiri dengan mengaku bahwa dirinya mengenal Bunga.


Marvel menoleh cepat melihat ke Laura.


"Apa sebelumnya Mamah mengenal Bunga?" ucapnya membuat Laura berkeringat dingin.


Tetapi perempuan itu pandai menyembunyikan perasaannya. Dia memamerkan senyum palsunya yang terlihat sangat manis di bibirnya.


"Tidak."


"Iya!!" sahut Bunga dengan cepat dan tenang. Wajahnya memerah karena menahan amarah yang menggebu.


Dari bawah meja, terlihat Laura meremas tangannya kuat. Seakan menahan gugub serta amarah ketika Bunga seolah ingin membuka semua rahasianya.


Marvel menyelidik, menilisik setiap perubahan ekspresi yang terjadi di antara mereka berdua.


Bunga bukan tak ingin melawannya tetapi dia benar benar lelah ketika menghadapi sikap serakah Ibunya yang tak akan pernah ada batasnya. Bisa saja Bunga mengakhiri semua ini di depan Marvel, tetapi jika dia melakukannya maka secara tak langsung Bunga juga akan menyakiti perasaan laki laki itu.


Marvel telah berjasa banyak dalam hidupnya, hal itulah kenapa Bunga masih bertahan untuk menutup rapat kebenarannya.


"Kalian sudah saling mengenal sebelumnya??" Marvel menatap ke Bunga.


Perempuan itu masih terlihat berfikir keras apa yang selanjutnya akan dia katakan kelada Marvel.


"Iya Kak, tapi sepertinya aku salah. Mamahmu mirip sekali dengn seseorang yang aku kenal. Tetapi ternyata Bukan!"


Laura menghela nafas panjang, merasa sangat lega ketika ternyata Bunga masih melindungi identitas aslinya.


"Hanya kali ini aku menolongmu!!, , jika lain kali melebihi batas kesabaranku. Maka jangan salahkan aku jika aku mengatakan yang sejujurnya kepada Putramu!!"


Bunga menatapnya tajam seraya ujung mata pisau yang siap menusuk mata lawannya.


"Lakukanlah apa semaumu Bunga!! aku yakin dan aku percaya. Kamu tidak akan tega menyakitiku! karena aku adakah Ibumu!"


Laura dengan sangat yakin bahwa Bunga tak akan sanggub membuka kedoknya.


Perempuan itu semakin merasa berada di atas angin.

__ADS_1


"Bunga, sepertinya Putraku Marvel sangat tertarik denganmu! bagaimana jika aku melamar kamu atas nama Putraku??"


Pipinya merona, Marvel tersipu malu mendengar Laura berucap. Namun ketika pandangannya dialihkan ke Bunga, ekspresi wajahnya berubah seketika. Marvel paham betul bahwa Bunga saat ini sedang marah, sekali pun dia hanya melihat dari ekspresi wajahnya, Marvel yakin Bunga tak menyukai ketika Laura meminta dia untuk menikah dengan Marvel.


"Bunga jangan hiraukan Mamahku!" Marvel berusaha mencairkan suasana. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya


Dadanya seakan di tusuk oleh ujung tombak yang langsung menancap tepat persis di tengah tengah dadanya. Terasa sangat sakit hingga Bunga tak bisa merasakan detak jantungnya yang semakin kencang.


Tawaran itu akhirnya terlontar kembali dari mulutnya, Laura paham betul bahwa Bunga tak bisa menolaknya di depan Marvel.


Bunga meraih cangkir dengan coffe late yang masih panas. Kemudian menegugnya hingga habis tak tersisa. Rasa panas yang membakar lidahnya seakan tak terasa ketika dibandingkan dengan rasa sakit yang menjalar di dalam hatinya.


Dia meletakkan cangkir dengan sedikit tekanan hingga terdengar bunyi keras ketika cangkir itu menyentuh permukaan cawan.


Prak!!


"Bunga!! minumanmu masih panas, apa mulutmu baik baik saja" Marvel terlihat begitu khawatir dengannya.


"Tenang Kak!! panasnya minuman ini tak sepanas apa yang sedang aku rasakan saat ini" Bunga beranjak berdiri.


"Maaf kak Marvel, hari ini tidak bisa berlama lama menemani kalian. Maaf sudah mengganggu waktu kalian" Bunga mengalihkan pandangannya ke Laura.


"Terima kasih atas jamuan keduanya ini" Bunga menundukkan kepala sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


Pandangan matanya mengikuti kepergian Bunga, marvel berusaha keras mencerna ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Bunga.


"Jamuan kedua??" keningnya berkerut kasar ketika berucap kepada Laura.


Pertanyaan Marvel menggantung begitu saja di udara. Laura sengaja tak menjawabnya karena dia lebih memilih diam menggelengkan kepala dan mengangkat sedikit pundaknya.


Falsh back off


Bunga meringkuk memeluk tubuhnya sendiri di atas ranjang kemudian menyembunyikan wajahnya di sela sela lutut.


Hening, hanya ada suara isakan tangis yang mencuat keluar dari dalam bibirnya. Tubuhnya terlihat bergerak sesunggukan menangis menikmati apa yang sedang terjadi di dalam hidupnya. Seakan takdir tak akan pernah membuatnya untuk hidup bahagia sedetik saja.


Sempat terbesit rasa untuk mengakhiri hidupnya ketika mengingat bayangan Laura yang seakan terus mengusik hidupnya. Tetapi mengingat kembali bagaimana perjuangannya dengan sang nenek saat melanjutkan hidup yang membekas di ingatannya, Bunga seolah mendapatkan kembali semangat hidupnya.


"Kenapa perempuan itu tak membiarkan aku hidup tenang!!"


Semalam suntuk Bunga meringkuk sambil menangis di sana, rasa lelah menyerangnya hingga tak terasa Bunga pun tertidur dalam tangisnya.


♡♡♡


Bunga mengusap matanya sembari melangkah masuk menuju lobi. Kedua matanya masih terlihat sangat bengkak karena sisa tangisnya semalam. Bunga tak menyadari bahwa Davien sedang berjalan menuju kearahnya karena dia lebih memilih sibuk untuk terus mengusap matanya.


Brugh!!!


Davuen sengaja membenturkan tubuhnya kepada Bunga, hingga tubuh perempuan itu terpental Namun dengan sigap Davie meraih pinggang dan membawa perempuan itu ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Bunga membuka matanya perlahan, matanya masih belum bisa melihat dengan jelas karena dia baru saja menekan dan mengusapnya kasar.


Bayangan wajah Davien masih belum terlihat jelas, Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengembalikan ketajaman penglihatannya. Dan ketika bisa melihat dengan jelas wajah Davien, Bunga membuka matanya lebar.


"Apa aku sedang bermimpi??, , tidak! ini pasti mimpi. Apa aku pingsan karena baru saja menabrak sesuatu??"


Bunga bergidik mengembalikan kesadarannya.


"Kamu tidak sedang bermimpi!!" suara Davien seketika menggema di rongga telinganya. Membuat Bunga akhirnya tersadar bahwa apa yang sedang dia alamai bukanlah mimpi.


Bunga mendorong dadanya agar laki laki itu menjauh, tetapi Davien malah sengaja membawa Bunga masuk ke dalam lift.


Davien menggunakan salah satu tangannya untuk menekan tombol agar pintunya segera tertubup.


Bunga menyelidik kesekitar sembari berusaha melepaskan diri dari Davien. Merasa tak nyaman sekakigus takut ketika tiba tiba ada orang yang ingin masuk dan akan melihat kedekatan mereka.


"Tenang saja ini masih pagi, tidak akan ada yang tahu kita ada di dalam lift!" Davien berucap seolah memberi signyal bahwa dia bisa melakukan lebih dari apa yang saat ini dia lakukan kepada Bunga.


"Dav, , m Pres Dir!! bukankah kamu seharusnya masih berada di Indonesia?, kenapa sekarang sudah"


"Kamu tidak suka jika aku pulang lebih awal??" Davien semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Bunga. Mendorong perempuan itu hingga terkunci tubuhnya tak bisa bergerak sedikit pun.


Sementara Bunga menarik punggungnya kebelakang menjauh, tetapi Davien terus mendekatinya hingga kening mereka saling menempel.


Davien masih menatapnya lekat, mengawasi ekspresi wajah Bunga yang terkejut dengan kedatangannya.


"Kamu habis menangis??" bisiknya dengan lembut, ujung hidung mereka kini saling menempel. Membuat Davien semakin memanas.


"Tidak!" jawabnya cepat.


"Kamu menangis karena merindukanku?"


"Itu tidak akan pernah terjadi!"


"Begitukah??" Davien menekan tubuh Bunga hingga perempuan itu tak bisa bergerak karena tembok lift di belakangnya.


"Aku tahu kamu merindukanku!" suaranya semakin terdengar lembut hingga membuat tubuh Bunga merinding.


Sementara dadanya berdebar dengan kencang, entah berapa puluh kali lipat dari biasananya karena Bunga sendiri sampai tak bisa merasakan detaknya. Kini yang dia rasakan adalah suhu tubuhnya yang memanas karena ulah Davien. Darahnya ikuat berdesir keseluruh tubuh ketika nafas panasnya menyapu wajah.


Bunga mengarahkan pandangannya ke bibir Davien yang kini telah menempel ke bibirnya.


Saat itu juga Davien sengaja berucap ketika bibir meraka sudah saling menempel hingga bergesekan.


"Aku sengaja pulang lebih awal karena ada yang merindukanku!!" bola matanya bergerak menurun perlahan. Sembari menikmati aroma nafas Bunga yang terasa segar pagi itu.


"Aku tidak!"


"Katakan sekali lagi kalau kamu tidak merindukanku!! maka aku akan melakukan lebih dari apa yang sudah pernah aku lakukan terhadapmu!" ucapnya dengan nada mengancam.

__ADS_1


Sayangnya Bunga tak merasa takut dengan hal itu, bahkan dia secara sengaja memancing Davien untuk melakukan apa yang akan dia lakukan jika Bunga berani mengulanggi ucapannya.


"Aku tidak merindukanmu!" Bunga berucap dengan lirih, membuat Davien tak bisa menahan rasa rindunya yang tertahan mulai semenjak hari pertama dia menginjakkan kakinya di Indonesia.


__ADS_2