Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
66. Jabatan Baru Untuk Bunga


__ADS_3

Bukan rahasia lagi kedekatan mereka, kini sudah menjadi konsumsi publik. Bunga akhirnya berani mengekspos hubungannya dengan Davien di depan karyawan lain.


Setelah beberapa hari yang lalu Davien dengan sengaja memamerkan kemesraan mereka, Bunga memenuhi keinginannya turun dari mobil di depan lobi setiap berangkat atau pun pulang kerja.


Lelaki itu turun dari mobil berjalan ke sisi lain mempersilahkan Bunga untuk keluar setelah membuka pintunya. Kharismanya semakin terpancar saat menggandeng tangan Bunga, mereka berdua berjalan beriringan masuk ke arah dalam.


Tetapi setelah sampai di depan pantry Davien sengaja tak melepaskan tangannya. Dia terus berjalan membawa Bunga bersama dengannya.


Perempuan itu terkejut kebingungan. "Tunggu Davien, pantrinya terlewat, aku harus mengganti seragamku dulu!" ucapnya.


Davien hanya membalas dengan senyuman, tangannya masih bertahan menggenggam erat tangan Bunga memaksa perempuan itu masuk ke dalam lift dan ikut naik ke lantai atas ke ruang kerjanya.


Perempuan itu duduk di seberang meja sementara Davien menuju ke kursi kebanggaannya, menyilangkan kaki sementara satu tangannya menyangga dagu di atas bibir kursi, memperlihatkan betapa dirinya sangat berkuasa di tempat itu.


Bunga yang masih kebingungan dengan sikap Davien hanya diam tak berucap sepatah kata pun. "Jadi, benarkah kau yang menyelesaikan laporan ini?" Davien meraih map dari tumpukan di sisi meja. Meletakkannya ke meja yang kosong lalu mendorongnya ke arah Bunga.


Melihat map itu sama dengan map milik pegawai yang kemarin dia bantu, Bunga terperanjat. Wajahnya terpaku terbesit di pikirannya ingin mengelak tapi, sepertinya Davien sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Bunga saat itu hanya dengan melihat ekspresi wajahnya. "Aku... sebenarnya aku."


"Iya! Atau tidak!" sahutnya tegas memotong pembicaraan. "Aku tidak butuh jawaban yang lain, Bunga!" tambahnya. Terlihat kilatan tajam di matanya seperti sebuah isyarat kalau dia akan marah besar jika Bunga mengelak.


Tak ada pilihan lain dengan berat hati Bunga pun menganggukkan kepalanya ragu.


"Jadi, mulai saat ini kau aku berhentikan menjadi OB di perusahaanku!."


Bunga membulatkan mata dia tak percaya setelah mendengar ucapan Davien. Dia tidak menyangka kalau membantu pegawai lain menyelesaikan pekerjaannya adalah suatu kesalahan. "Kau... memecatku? Hanya karena aku membantu menyelesaikan laporan ini? Ayolah Davien! Ini bukan sebuah aib. Aku akan menutup mulut. Aku tidak akan menceritakan kepada siapa pun kalau aku yang menyelesaikan laporan ini aku jamin tidak akan ada seorang pun yang tahu. Tapi tolong jangan pecat aku. Aku membutuhkan pekerjaan ini" Bunga terus berucap membela diri tanpa memberi kesempatan kepada Davien untuk menjelaskan.


Ujung bibirnya terangkat Davien tersenyum manis ke arahnya.


"Kau tersenyum? Di bagian mananya yang lucu?" Bunga sedikit emosi melihat sikap Davien yang seakan menyepelekan hal itu.


"Iya, aku memang memecatmu sebagai seorang OB. Tapi," Davin sengaja berhenti berucap dia sedang mengawasi ekspresi wajah Bunga yang terlihat kebingungan dan cemas. "Tapi mulai saat ini kau akan mengisi kekosongan di bagian CEO yang akan mengurus perencanaan strategi penjualan dan pemasaran di perusahaanku. Bahkan di jaringan Inovasi dan jaringan narasumber aku akan menyerahkan kepadamu. Aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik."


Melihat dari kerapian dalam membuat sebuah laporan yang terbilang cukup sulit, mengetahui Bunga bisa menyelesaikannya dengan cepat di mana jika orang lain akan membutuhkan waktu berjam jam bahkan bisa lebih dari sehari untuk menyelesaikannya, Davien yakin bahwa Bunga memiliki kemampuan di bidang itu. melakukannya.


"Kau memintaku menjadi CEO? Apa kau sudah gila Davien!" nada bicaranya terdengar melemah di akhir kalimat karena takut akan ada yang tiba-tiba masuk dan mendengar saat dia mengumpat kepadanya.


"Kenapa kau memelankan suaramu? Kau berteriak pun tak akan ada yang mendengarnya!"


"Aku tahu! Davien, aku saja tidak yakin dengan diriku. Kau malah memberiku jabatan menjadi seorang CEO? Aku tidak mau! Aku ingin tetap menjadi OB!" Bunga benar-benar ragu, dia tak yakin bisa melakukannya.

__ADS_1


Ya, walaupun dia menguasai hal itu tetapi Bunga belum memiliki pengalaman di bidang itu.


"Kau lakukan apa yang aku katakan atau kau tidak boleh bekerja lagi di sini, di perusahaan lain bahkan di perusahaan Marvel! Aku jamin tidak akan ada yang menerimamu lagi jika kau bersikeras menolak tawaranku!" Davien sengaja berucap dengan lambat agar Bunga mendengarnya dengan jelas. Nada bicaranya bahkan terdengar tenang tetapi penuh dengan ancaman.


"Kau... benar-benar keterlaluan! Tidak ada cara lain apa? Kenapa kau selalu mengancam!"


"Karena hanya itu yang bisa menghentikanmu!" Tak mau mendengar lagi bantahan, Davien kemudian meminta James untuk mengantar Bunga ke ruang kerjanya.


Di sana James menjelaskan bagaimana, apa, dan seperti apa pekerjaan yang akan dilakukan oleh Bunga. Sekali James memberitahu kepada Bunga, perempuan itu langsung bisa merekamnya di kepala dengan baik.


James tersenyum, dia merasa kalau Davien tak salah memilih orang untuk menempatkan Bunga di sana. "Jika Nona membutuhkan bantuan, Nona bisa menghubungi saya. Dengan senang hati saya akan membantu, Nona" ucapnya dengan sopan.


Bunga masih terlihat gugup dalam sekejap kehidupannya berubah antara tak percaya, bingung dan sangat tidak masuk akal. Bunga mulai berusaha untuk menyesuaikan diri di tempat barunya.


Tok tok tok!!!


Perempuan itu menoleh ke arah pintu melihat Loria melangkah masuk membawa nampan dengan secangkir teh hijau di atasnya.


Temannya itu tersenyum lebar bahkan dia sangat gembira saat melihat Bunga duduk di kursi di mana seharusnya Bunga berada. "Aku benar-benar bangga melihatmu bisa duduk di sini Bunga, aku tidak menyangka kalau ternyata otakmu encer juga" Loria tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di ruangan itu, namun saat sadar bahwa dia tertawa di tempat yang tidak seharusnya, Loria seketika membungkam mulut dengan tangannya.


"Kak! ini sebenarnya ada apa? Kenapa bisa seperti ini?"


Bunga terkejut ekspresi wajahnya terlihat tak percaya. "Dari mana Davien tahu kalau aku yang membantunya?" Bunga dan Loria seketika terdiam, mereka terlihat sedang berpikir keras namun tak lama mereka berdua secara bersamaan menoleh menatap kearah pojok ruangan bagian atas. Di sana mereka melihat kamera CCTV terpasang rapi.


Bunga dan Leria ternganga, mereka lupa bahwa setiap sudut ruangan di mana mereka bekerja terpasang CCTV. Dengan gugup bercampur ketakutan Loria segera bangkit berdiri mengembalikan kursinya ke tempat semula.


Merasa seakan sedang diawasi, Loria menundukkan kepala ke arah Bunga kemudian berbisik. "Bekerjalah dengan baik, kalau ada waktu, nanti pulang kerja kita makan-makan jangan lupa ya, traktir aku!" ucap Loria.


Bunga tertawa lirih dia mengangguk cepat mengiyakan permintaan Loria.


***


Bunga masih sangat gugup, Ini pertama kali baginya mengikuti rapat di perusahaan Davien. Lelaki itu meminta Bunga duduk di sampingnya sementara James duduk di sisi lainnya.


Semua orang melihat kearahnya dengan tatapan aneh, dia sudah bisa menebak apa yang ada di dalam otak mereka. Tetapi yang dilakukan oleh Davien kini adalah berusaha menguatkan perempuan itu.


Davien menatap layar di depannya, menyimak seorang pegawainya yang sedang melakukan presentasi. Namun tangannya tengah sibuk menggenggam tangan Bunga di balik meja. Jari jemarinya saling bertautan, mengusap lembut kemudian meremas pelan.


Bunga terdiam menatap kearah tangannya yang sedang dimainkan oleh Davien, kemudian pandangannya beralih menatap wajah lelaki itu.

__ADS_1


Davien menoleh melempar tersenyum kearah Bunga, seakan memberi semangat kalau Bunga pasti bisa melakukannya.


Beberapa jam kemudian rapat pun selesai semua pegawai meninggalkan ruangan. Di sana hanya tersisa Bunga, Davien dan James.


Lelaki itu memunggungi sekretarisnya, mengubah posisi duduk menghadap ke Bunga. Menggunakan 1 tangannya menyangga dagu di atas meja, sementara satu tangannya masih setia menggenggam erat tangan Bunga. "Jadi, malam ini kau ingin mentraktir Loria?" kedua alisnya terangkat ketika melemparkan pertanyaan padanya.


"Jika kau tidak mengizinkan, aku tidak akan pergi malam ini" Bunga gugup, dia takut Davien tak akan memberinya ijin keluar menghabiskan waktu bersama temannya.


"Aku tidak bilang kalau kau tidak boleh pergi dengannya, hanya saja... kalau kau pergi James harus ikut bersamamu!" ucapannya membuat Bunga terkekeh geli.


"Davien, kau pikir aku anak kecil? Aku bisa pergi sendiri" Bunga berusaha menolaknya secara halus.


"Ini bukan permasalahan kau masih kecil atau kau sudah dewasa. Hanya saja... ketika kau jauh dariku, aku akan merasa nyaman jika ada orang yang selalu menjagamu." ujung matanya mengerucut terlihat mengawasi ekspresi wajahnya.


"Bilang saja kalau kau menyuruh James untuk mengawasiku" gumamnya kesal.


"Aku masih bisa mendengar apa yang kau ucapkan, Bunga!" sahut Davin.


Ghm! Bunga berdehem menetralkan suasana. "Oh ya, boleh aku meminta sesuatu kepadamu, Davien?" Bunga berusaha mengalihkan pembicaraan. Tetapi dia juga ragu kalau Davien akan menerima permintaannya.


"Apa pun! Apa pun yang kau inginkan, katakan... kau ingin aku melakukan apa?" Davien menatapnya lekat membuat Bunga tersipu malu.


Perempuan itu menunduk menyembunyikan wajahnya. "Bukan begitu maksudku, aku hanya... maksudku... bolehkah malam ini aku tidur di apartemen?" suaranya terdengar lirih, sehingga Davien hampir tak bisa mendengarnya dengan jelas.


Tetapi Davien paham apa yang di ucapkan Bunga. Ekspresi wajahnya berubah ketika mendengar permintaan yang tak terpikir olehnya. Davien yakin kalau ini pasti ada hubungannya dengan kejadian semalam.


Lelaki itu melepaskan genggaman tangannya. Tubuhnya bergerak ke belakang bersandar di kursi lalu menghela nafas dengan kasar. Ekspresi wajahnya berubah cepat menggambarkan suasana hatinya saat ini. "James!!" satu kata yang keluar dari mulut Davien dengan nada tinggi mampu membuat James mengerti apa yang diinginkan oleh Tuannya.


James beranjak berdiri melangkah keluar dan kembali menutup pintunya.


Bunga dibuat bingung, bahkan Davien belum mengucapkan kalimat perintahnya. Melihat ekspresi wajah Davien berubah muram, Bunga kemudian menyusun kalimat di otaknya. "Hanya semalam, besok kita akan bertemu lagi di tempat kerja. Tapi, jika kau tidak mengizinkan, aku–," ucapannya terputus saat Davien menatapnya dengan tajam.


"Apa ini karena semalam?"


Deg!!!


Jantungnya berdetak sangat cepat darahnya berdesir terasa memanas, bahkan Bunga merasa kesulitan ketika menelan ludahnya.


"Jika memang ini karena kejadian semalam, maka aku berjanji akan menjaga jarak darimu jika kau memang takut aku akan menyentuhmu lagi" Davien merona saat bayangan wajah Bunga di ranjang semalam melintas dengan jelas di benaknya.

__ADS_1


__ADS_2