Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
105. Side Story 5 Kesal Menahan Rindu


__ADS_3

“Nyonya, silakan!” Antonio meminta Bunga masuk ke dalam hotel yang sudah disiapkan.


Di dalam kamar, Bunga tampak mulai sibuk dengan laptopnya. Belum lagi laporan yang menumpuk di atas meja. “Ah, aku lapar!” dia memutuskan keluar dan pergi ke restoran yang terdapat di lantai bawah, sembari membawa laptop karena bermaksud mencari suasana lain agar pikirannya kembali segar dengan begitu mungkin Bunga akan segera menyelesaikan laporannya.


Bunga hampir saja lupa kalau dia harus memberi kabar kepada suaminya. Setelah keluar dari lift dia langsung mengirim pesan kepada Davien. Karena terlalu fokus dengan ponselnya, tanpa sengaja Bunga menabrak seseorang yang datang dari arah lain dan juga sedang menuju ke restoran.


Brugh!


Laptopnya terjatuh nyaris membentur lantai, beruntung lelaki yang sempat dia tabrak refleks menangkap laptopnya.


“Astaga!” serunya terkejut.


“It’s oke, laptopmu aman Nyonya!” sapa lelaki itu. Dia tampak sangat tinggi dan gagah, mengenakan setelan jas hitam pekat dengan tatanan rambut yang sangat rapi. Warna jasnya yang sangat pekat membuat kulitnya terlihat lebih putih. Bukan, ini tidak hanya putih tapi lebih kearah pucat.


“Tuan Volker??” Bunga tak menyangka akan bertemu dengannya di sana. Mereka sempat bertemu ketika peluncuran produk serta iklan yang dibintangi putrinya.


“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda di sini Nyonya Davien!” Tuan Volker menundukkan kepala hormat.


“Oh, i.iya saya juga.” Bunga dibuat canggung dengan sikap Tuan Volker yang sangat sopan. “Maaf, terima kasih!” dia berusaha mengambil laptop dari tangan Tuan Volker tapi lelaki tampan itu menolak memberikan alat digitalnya kepada Bunga. “He?”

__ADS_1


“Anda ingin ke restoran? Mari, saya akan membantu membawakan laptop Anda!” Tuan Volker melangkah terlebih dulu menuju restoran.


“Silakan Nona!” ucap pengikutnya. Lelaki yang selalu melayani Tuan Volker sejak dulu, mempersilakan Bunga jalan terlebih dulu.


***


“Apa yang sedang dia lakukan? Sejak tadi baru mengirim satu pesan!” Davien menatap layar ponselnya sembari berbaring di atas ranjang. Berguling ke sana-kemari menunggu kabar. Hah! “Apa dia sengaja melakukannya?” maksud hati ingin melakukan panggilan video call tapi takut Bunga masih sibuk.


Aarrghhh! “Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin sekali segera bertemu dengannya!!” Davien memendam wajahnya dalam-dalam ke bantal. Gemas kesal karena merindukan istrinya.


Dreet! Dreet!


Mendapati ponselnya bergetar secara cepat dia memastikan. Bibirnya tersenyum melihat pesan masuk dari Bunga, tapi tak lama kemudian senyumnya menghilang. “Apa maksudnya? Dia di restoran bersama Tuan Volker??” setelah beberapa saat tengkurap di ranjang kini Davien kembali berbaring menatap langit-langit. Melamun memikirkan keadaan Bunga yang sedang bersama dengan Tuan Volker. “Bagaimana bisa mereka bertemu di sana? Apakah Tuan Volker ikut dalam pertemuan penting?” Davien mengubah posisinya duduk, pikirannya tidak tenang meskipun tahu Tuan Volker pernah menjadi kliennya. Entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang aneh setiap mengingat wajahnya.


Menunggu kabar lagi darinya membuat waktu terasa begitu lama, Davien akhirnya memilih keluar jalan-jalan sendiri menghabiskan waktu. Hingga waktu tak terasa telah berlalu, sudah lebih dari 4 jam dia menghabiskan waktunya di luar. Selama itu Davien belum lagi mendapat kabar.


Ribuan kali dia memeriksa ponselnya menunggu pesan, sampai akhirnya Davien berinisiatif menghubunginya terlebih dulu.


Tut! Tut! Tut!

__ADS_1


“Apa-apaan ini? Kenapa menyambungkan?” Davien mencoba mengirim pesan dan langsung terkirim tapi belum di baca oleh Bunga. “Mungkin masih sibuk?”


Langit berubah gelap pesannya belum juga dibaca. Sembari berjalan kembali menuju ke hotel Davien berusaha menghubungi nomornya lagi.


“Nomor yang Anda tuju....”


“He? Ponselnya tidak aktif??” kembali Davien memeriksa pesan yang dikirim sebelumnya, dan sesuai dugaan kalau Bunga belum membaca pesannya. “Ada apa denganmu Bunga?? Kenapa kau tidak bisa dihubungi? Jangan membuatku khawatir!!” ucapnya kesal.


Setelah sampai di hotel Davien melempar ponsel ke ranjang sembarangan. “Sepertinya aku harus mendinginkan kepalaku!”


***


Setelah berenang di kolam yang tersedia di hotel Davien kemudian berendam di bathup dengan air hangat. Entah bagaimana lagi caranya menghabiskan waktu agar pikirannya tidak tertuju kepada Bunga.


Sembari menyandarkan kepala memejamkan mata, bibirnya selalu bergumam. “Bunga, are you oke?”


Ting tong! Terdengar bunyi suara bel kamar hotel.


“Aku merasa tidak memesan layanan service! Untuk apa mereka datang malam-malam begini?” tak ada niatan untuk beranjak dari bathup tapi, bel kamar berbunyi terus menerus seperti tak sabar meminta untuk segera dibuka pintunya.

__ADS_1


“Astagaa!!! Ya, ya aku mendengar belnya!” seru Davien dengan nada tinggi. Setelah mengambil handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, dia bergegas membuka pintu dengan keadaan rambut masih basah kuyup.


“Pas sekali aku ingin mengamuk!” tangannya bersiap membuka pintu dan setelah terbuka dia berucap tanpa peduli siapa yang berada di sana, karena dalam pikirannya yang kalut dipengaruhi amarah Davien tak bisa lagi berpikir jernih. "Aku tidak membutuhkan lay–,” ucapnya terhenti setelah melihat orang yang berdiri di depan pintu bukanlah pihak dari hotel seperti yang dia pikirkan. "Kau???"


__ADS_2